Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 66.Manjanya Rachel.


__ADS_3

Sejak turun dari mobil, wajah Rachel tak henti-hentinya merona malu, saking malunya ia hanya mampu menyembunyikan wajahnya kedalam ceruk leher Mahavir. Kedua tangannya melingkar sempurna di leher Mahavir, dengan tubuhnya yang berada dalam rangkulan kedua tangan laki-laki itu. Yang menggendongnya ala Bridal style.


"Vir....! Kita sudah di lift. Aku baik-baik saja. Turunkan aku sekarang."


"Aku sudah bilang, aku akan turunkan kamu kalau sudah sampai di unit penthouse kita"


"Tapi kita kan sudah di lift. Aku berat, kamu nanti lelah. Turunkan yah."


"Badan kurus begini dibilang berat. Kalau hanya menggendongmu, sampai kemanapun aku sanggup."


"Vir..... "


"Kenapa? malu?"


Rachel mengangguk pelan.


"Malu dengan siapa? kita hanya berdua disini. Ini juga bukan pertama kalinya kan aku angkat kamu seperti ini?"


"Tapi aku tidak nyaman."


"Buat nyaman saja."


"Vir... Aku bukan orang yang sakit keras, aku masih bisa jalan. Berlari pun aku sanggup."


"Berlari? Memangnya kamu mau berlari kemana?"


Rachel berdecak kesal, "Seandainya! maksudku seandainya disuruh berlaripun aku masih sanggup sayangggg...." Ucapnya dengan ketus. Ia melepaskan rangkulan tangannya saking kesalnya. Hanya karena wajahnya terlihat pucat, Mahavir langsung memperlakukannya seperti orang yang sakit berat.


Mahavir tersenyum-senyum, secara tidak sadar Rachel kembali memanggilnya 'sayang'.


"Memangnya siapa yang menyuruhmu berlari?" Mahavir semakin menggoda Rachel. "Aku tidak bakalan menyuruhmu berlari.


"Astaga...." Rachel menepuk keningnya dan menjatuhkan wajahnya ke bahu Mahavir. Ia pasrah, lebih baik dia diam dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Semakin berbicara, semakin membuatnya gila.


"Pegangan sayang, nanti kamu jatuh."


Rachel menghela nafas, dan cuma bisa menurut.


Lift melesat dengan cepatnya, bergerak naik menuju lantai teratas gedung modern yang dibangun tepat diatas sungai Thames. Setelah beberapa detik, lift pun terbuka. Dengan cepat Mahavir berjalan ke arah pintu unit mereka. Di lantai itu hanya ada satu unit penthouse, yakni penthouse mereka. Hanya saja memang dibuatkan pintu khusus lagi agar lebih privasi, hingga begitu keluar dari lift tidak langsung di dalam unit mereka.


"Buka sandinya sayang." Pintar Mahavir, saat mereka sudah berada di depan pintu.


Rachel tak bergeming, ia membuang muka ke belakang sambil memeluk leher Mahavir erat-erat.


"Sayang...tanganku lagi sibuk mengangkatmu."


Rachel memutar bola matanya, dia masih sangat kesal.


"Sayanggg....."


"Buka saja sendiri. Siapa suruh mau menggendongku. Pokoknya aku tidak akan bergerak sedikitpun, sekalian angkat saja aku terus sampai besok."


Mahavir tertawa kecil, sungguh menggemaskan baginya bila Rachel dalam mode ngambek seperti itu. Akhirnya, tanpa melepaskan gendongannya, Mahavir menjulurkan jari jempolnya dan men-scan sidik jarinya agar pintu terbuka.


'Tililit....' pintu penthouse terbuka. Dengan cepat Mahavir masuk dan membawa Rachel dalam gendongannya.


"Ingatkan aku untuk nanti memasukkan sidik jarimu dan sidik jari Bryan juga di pintu."


"Tak usah, kan sudah ada sandinya. Pakai sandi yang biasa saja."


"Untuk lebih amannya sayang..." ujarnya, melangkahkan kakinya ke ruang keluarga.


"Terserah..."


"Ya, sudah kamu duduk dulu disini." Mahavir hendak menurunkan Rachel di sofa di ruang keluarga, namun Rachel justru mengeratkan pegangannya dan berusaha bertahan dengan bergelayut manja.


"Jadi betulan kamu tidak mau turun?"


"Kan kamu ngotot mau gendong aku? Makanya gendong saja terus."


"Kita makan malam dulu, kamu pasti tidak makan siang tadi."


Rachel menggeleng manja.


"Makan dulu yah? setelah makan aku kembali menggendongmu lagi. Aku janji..."


Rachel kembali menggeleng. Dia ingin membalas kejahilan Mahavir.


Mahavir menghela nafas, akhirnya ia menggendong Rachel menuju dapur. Walau kesusahan, Mahavir berusaha meraih peralatan makan dan meletakkannya satu persatu ke atas meja dengan lengan yang kini menjadi penumpu menahan paha Rachel agar tidak jatuh dari gendongannya.


Makan malam sudah rapi tersaji di atas meja, uapnya masih sedikit mengepul. Menandakan makanan itu belum lama di setelah dimasak. Mungkin Bik inah sudah menyiapkannya sebelum pulang.

__ADS_1


Mahavir lalu menarik kursi menggunakan kakinya dan duduk disana dengan Rachel yang kini ada dalam pangkuannya.


"Mau disuapin juga?"


Rachel mengulum senyum dan mengangguk. Saking gemesnya Mahavir malah langsung menyambar bibir Rachel dan menciuminya.


"Mmmppp... Vi..mmmpp.. Vir..." Rachel mendorong wajah Mahavir agar berhenti menciuminya. "Nanti dilihat Bik Inah."


"Bik Inah sudah pulang, pagi tadi aku menyuruhnya pulang saja bila telah selesai menyiapkan makan malam." Ucapnya lalu kembali menciumi Rachel.


Rachel kembali menahan wajah Mahavir. "Nanti Bryan dan Risya melihat kita."


"Mereka masih lama pulangnya, aku menyuruh Bryan membawanya belanja." Kembali menciumi Rachel, namun Rachel kembali mendorong wajahnya. "Apa lagi?"


"Katanya mau makan? Nanti keburu dingin."


Mahavir menyengir, keasyikan menciumi Rachel malah membuatnya lupa kalau sedang berada di meja makan.


Masih dalam pangkuan Mahavir, Rachel mengisi satu piring dengan berbagai macam lauk dengan menu alas western, lalu menyerahkan sendok dan garpu ke tangan Mahavir. "Suapin..." Ucapnya manja.


"Dengan senang hati sayang...." Mahavir segera meraih makanan yang ada di atas piring dan menyuapi Rachel serta dirinya secara bergantian.


Mahavir meraih kentang goreng, menggigit ujungnya dan mengarahkannya ke bibir Rachel.


Rachel pun menggigit ujungnya, namun Mahavir tidak puas karena bibir mereka tidak saling bertemu. Kembali Mahavir melakukan hal yang sama. Rachel tersenyum jahil, lalu dengan cepat menggigit kentang itu bersama ujung bibir Mahavir.


"AWWW... Sakit sayang..." Mahavir menjulurkan lidahnya, menjilati bibirnya yang tergigit.


Tawa lepas lolos keluar dari mulut Rachel, Mahavir memandangi Rachel lekat-lekat. Hatinya menghangat melihat keceriaan itu dan mengundang senyum kebahagiaan di wajahnya.


Mahavir lalu membalas dengan menggelitik pelan perut Rachel, membuat istrinya itu menggeliat geli dalam pangkuannya.


"Ampun-ampun...! Geli...Vir....Kita gak jadi-jadi makannya kalau begini terus."


Mahavir mengecup cepat pipi Rachel, membuat Rachel langsung menepuk pundaknya.


"Kenapa?"


"Astaga mulutmu bekas makanan sayang, pipiku jadi bau kentang nih,..!" Keluh Rachel sambil mendengus-dengus aroma di pipinya.


Mahavir terkekeh, lalu mengusap pipi Rachel dengan lembut. "Mau sekalian pipi yang sebelah satunya?"


Kedua mata Rachel melotot, diikuti bibir yang mengerucut.


Dalam satu hari ini, mereka telah dua kali makan sepiring berdua dengan disuapi oleh Mahavir.


Setelah makan malam, Mahavir membawa Rachel naik ke lantai dua hendak ke kamar, namun saat di ruang santai, Mahavir langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa bersama dengan Rachel yang ikut terhempas di pangkuannya. Nafasnya terlihat terengah-engah.


Rachel mengulum senyum puas. "Katanya aku ringan, katanya tidak bakalan lelah. Katanya masih sanggup mengangkatku kemanapun..." Ejeknya.


Mahavir kembali terkekeh sambil menormalkan nafasnya, tangannya terangkat menarik hidung Rachel. Rachel membalas dengan menarik kedua pipi Mahavir.


"Sepertinya aku butuh nafas bantuan sayang...." Ucapnya lalu menarik tengkuk Rachel dan menciuminya, Rachel tersenyum dan membalas ciuman Mahavir.


Mahavir pun menciumi Rachel dengan liar. Melesatkan ujung lidahnya dan menjelajah lebih dalam lagi. Ciuman itu semakin panas, diikuti tangan Mahavir yang sudah merambat kemana-mana, menyusup masuk ke balik dress Rachel dan mengusap lembut di sana. Membuat Rachel menggelinjang dengan hebatnya.


Tanpa melepaskan tautan bibirnya, Mahavir membaringkan Rachel ke atas sofa dan menindihnya. Mencumbu Rachel dengan sedikit agresif hingga desahan demi desahan dan lenguhan panjang Rachel terdengar mengisi keheningan penthouse itu.


Hingga bunyi sesuatu benda terjatuh dari lantai bawah menyapa telinga mereka dan membuat aktifitas mereka terhenti.


Mahavir langsung bangkit dan menengok keadaan di lantai bawah. Namun hanya menemukan beberapa paper bag dan kantong belanjaan yang tergeletak di atas lantai marmer. Mahavir menahan senyum lalu kembali ke lantai atas.


"Siapa? Bryan dan Risya?" Rachel bertanya sembari memperbaiki dressnya yang tadi sudah hampir lolos dari tubuhnya.


"Sepertinya. Tapi mereka kembali keluar."


"Astaga, apa mereka melihat kita?"


"Tidak, sepertinya Bryan cukup peka dan langsung kembali keluar." Ujar Mahavir, memeluk Rachel lalu mengecup keningnya. "Mandi dan istirahatlah." Imbuhnya.


Kedua alis Rachel terangkat, seakan meminta penjelasan.


"Aku sangat ingin melanjutkannya, tapi keadaanmu masih tidak memungkinkan." Kembali mengecup kening Rachel, lalu kembali berucap. "Aku tak ingin membuatmu kelelahan, besok dan tiga hari kedepannya masih menjadi hari yang sibuk untukmu. Aku akan bersabar hingga kesibukanmu berakhir."


Kembali Rachel mengulum senyumnya. Ia lalu mengecup pipi Mahavir kiri dan kanan serta mengecup bibirnya sekilas. "Mau mandi bersama?" Ucapnya menggoda Mahavir, belum sempat Mahavir bereaksi, Rachel langsung berlari masuk ke kamar.


"Sayangggg.....!!!" Mahavir mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan hasratnya, lalu mengusap wajahnya. Kembali ia membaringkan tubuhnya ke atas sofa lalu memainkan ponselnya agar pikiran liarnya menghilang. Ia baru akan kembali masuk ke kamar saat Rachel sudah tertidur.


* * * *


"Ris, kamu cari apaan lagi?" Tanya Bryan yang sudah lelah menemani Risya mengelilingi Mall Harrods, salah satu mall terlengkap yang terletak di Brompton Road, Knightsbridge. Di kedua tangannya sudah penuh dengan belanjaan Risya. "Memangnya ini belum cukup?"

__ADS_1


Risya tak menghiraukan keluhan Bryan, ia masih sibuk mencari sesuatu.


"Hei bocah, itu kawasan mainan. Cari apaan disana?"


"Ih, kak Bry berisik. Diam aja kenapa? kan bukan pake duit kak Bry juga."


"Tapi aku capek Ris."


Risya melirik Bryan dan mengulum senyumnya. "Sekali-kali kak, Risya kan gak selamanya di sini."


Bryan menghela nafas panjang. "Baiklah, belanja sana sepuasmu."


"Nah, gitu dong. Saranghae Oppa." Risya lalu membentuk tanda Cinta dengan menaikkan kedua tangannya dan menekuknya di atas kepalanya. kemudian kembali berbalik. Saat matanya menangkap apa yang di carinya, matanya langsung berbinar dan berlari kesana. Bryan melangkah panjang menyusulnya.


"What?" Bryan membulatkan matanya, "Barbie?


"Kenapa?"


"Kamu masih main ginian?"


"Memangnya gak boleh?" Tanyanya, sembari melompat-lompat ingin meraih kotak barbie yang ada pada rak teratas. "Kak Bry ambilin yang pakai dress ungu sama yang biru itu." Pintanya sambil menunjuk Barbie Rapunzel dan barbie Cinderella.


"Astaga, Bocahhh...!" Bryan memekik tak percaya. "Seriusan kamu masih main ginian?" Maju selangkah lalu mengambilkan dua kotak Barbie di rak teratas yang ditunjuk Risya.


"Gak dimainin sih, hanya di koleksi ajah. Biasa juga keponakan Risya yang mainin kalau datang ke rumah."


"Yah, sama saja kali." Menyerahkan dua kotak itu pada Risya, masih dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kenapa liat-liat Risya kayak gitu?"


"Bocah, kalau beginiankan ada juga di Indonesia. Ngapain jauh-jauh beli disini."


"Kalau beli disini kan dijamin ori kak, lagian mumpung gratiskan. Kalau belinya di jakarta kemahalan, pasti dipotong pakai uang jajan Risya."


"Kamu sudah punya keponakan?"


"Yup, sudah ada..." Risya menghitung jari-jarinya.


"Ada sepuluh, empat anak cewek dan enam anak cowok."


"Banyak amat Ris? Itu dari berapa induk?"


Risya tertawa lepas, memperlihatkan gigi gingsulnya. "Risya itu sembilan bersaudara kak, Risya itu anak bungsu, kakak Risya ada delapan. Yang pertama sampai yang ke tujuh sudah menikah dan punya anak. Sisa kak Rey yang belum mau menikah. Katanya kak Rey gak bakalan mau menikah kalau bukan dengan cinta-cintanya yang sudah dia kejar-kejar sejak SMA, tapi sampai sekarang belum berhasil." Risya menggeleng-geleng lalu menepuk keningnya.


Bryan menyimak.


"Kak Rey itu kalau sudah suka sama satu hal, dia tak akan berpaling. Sepertinya kak Rey-nya Risya yang tersayang itu bakal jadi bujang lapuk. Soalnya kak Rey bilang kalau ceweknya itu sudah punya pacar." Lanjutnya dengan terkekeh-kekeh.


"Sepertinya kamu sangat menyayangi kakakmu itu yah..."


"Kakak Rey itu kakak yang paling Risya sayangi, orangnya baik, lembut, penyayang, suka manjain Risya. Bahkan wallpaper ponsel dan laptopnya semua foto Risya. Semoga saja saat ini Tuhan menyiapkan jodoh terbaik buat kak Rey." Cerocos Risya panjang lebar.


Mendengar perkataan Risya, aliran darah Bryan terasa berdesir. Ada rasa sesak dan rasa bersalah yang dalam seketika menancap di hatinya. "Kamu tahu siapa nama cewek yang disukai kakamu itu?"


"Kalau tidak salah Diraya Sabillah. Orangnya cantik, kayak pernakan Arab gitu."


"Kamu kenal? Pernah bertemu?"


Risya menggelengkan kepalanya. "Risya lihat Foto-fotonya. Foto-foto waktu SMA dan kuliah cewek itu memenuhi Rak hias yang ada di kamar kak Rey."


Bryan menelan ludahnya susah payah, lalu melangkah dengan terdiam. Ia sudah tak lagi menyimak celotehan Risya. Sepanjang perjalanan pulang pun Bryan terus terdiam sambil menyetir dengan kecepatan penuh hingga sesampainya di penthouse.


"Kak Bry, bantuin Risya bawa belanjaan dong." Rengek Risya yang kelimpungan dengan tumpukan paperbag-nya saat keluar dari dalam lift.


Bryan tak menanggapi, ia terus berjalan dengan bermacam-macam pikiran yang berkecamuk dalam otaknya.


"Kak Bry....tungguin Risya." Berlari kecil menyusul Bryan dengan menyeret-nyeret paperbag belanjaannya.


Bryan membuka sandi penthouse lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan terus melangkah menuju tangga. Tapi suara-suara aneh menghentikan langkah Bryan menapaki anak tangga. Bryan melebarkan telinganya, namun langsung membekap mulutnya sendiri tatkala sadar akan apa yang didengarnya. Buru-buru Bryan kembali turun.


Sementara Risya yang kelelahan langsung meninggalkan belanjaannya di dekat pintu masuk, lalu berlari ke dapur, mengambil gelas dan menuangkan air dingin ke dalam gelasnya. Belum sempat meraih gelas itu, Bryan langsung membekap mulut Risya dari belakang dan menariknya keluar.


"Mmppp..." Risya memberontak, tanpa sengaja tangannya menyambar hiasan yang ada di atas meja hias di dekat pintu hingga terjatuh dan mengeluarkan bunyi yang menggema.


.


"Ckkk!" Bryan berdecak kesal atas kecerobohan Risya, tanpa pikir panjang Bryan mengangkat Risya dan membawanya keluar penthouse secepat mungkin.


* * * *


Happy Reading....🥰😍

__ADS_1


Salam sayang selalu dari kk Author... 🤗😚


__ADS_2