
Assalamu'alaikum para pembaca setiaku.....
i'm back!!!
Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah membuat menunggu selama ini.... ๐๐
Author tdk bermaksud untuk membuat kalian menunggu. Beberapa waktu lalu, Author tak sengaja menghapus aplikasi NT ini dari HP Author, pas download ulang akun author tak kembali dan menjadi akun baru. Parahnya Author lupa dulu masukkan email apa dan password nya apa. Alhasil, Novel ini jadi terkatung-katung.
Tapi setelah beberapa kali mencoba akhirnya author bisa masuk ke akun ini kembali๐ค.
Terima kasih buat para pembaca yang masih menaruh perhatian lebih pada cerita ini.
sekali lagi, Mohon maaf yah....
Happy Reading again..."
Turun dari sebuah Taksi, Rachel langsung mengayunkan langkahnya menyusuri bangunan rumah sakit di pinggiran sungai East, yang merupakan selat pasang di New York City.
Dengan langkah tergesa-gesa, Rachael langsung menghambur ke bagian Nurse center yang merupakan pusat informasi. Menanyakan keberadaan kamar perawatan pasien bernama Mr. Alister.
"Sorry madam, we can't tell at the request of the patient's family." (Maaf nyonya, kami tak bisa memberitahukan atas permintaan keluarga pasien)
Kening Rachel langsung mengerut. "I am his wife!" Ucapnya lantang. "I can sue you for hiding my husband!" (saya bisa menuntut kalian bila menyembunyikan suami saya.) lanjutnya dengan intonasi mengancam, membuat dua perawat itu saling pandang.
"Sorry madam." Perawat itu menunduk meminta maaf, kemudian memberitahukan letak kamar perawatan lelaki bernama Mr. Alister.
"Thankyou!"
Begitu mendapatkan informasi yang diinginkan. Bergegas Rachel mengayunkan langkahnya masuk ke dalam lift.
Rachel menggigit kuat-kuat bibir bawahnya. Jantungnya berdebar kencang seakan meronta ingin keluar dari rongga dada-nya. Sementara kedua bibirnya bergerak-gerak merapalkan berbagai doa agar semesta bisa mempertemukan dirinya dengan ayah dari bayi yang di kandungnya.
'Ting'
Lift terbuka. Tanpa melihat sekitarnya, Rachel langsung melangkah menuju ke sisi koridor yang telah ditunjukkan oleh seorang perawat di bagian informasi tadi. Memfokuskan pandangan mencari keberadaan kamar perawatan yang dimaksud. Dirinya begitu diliputi kecemasan, kebahagiaan, kerinduan dan kepanikan yang melebur menjadi satu. Berharap sepenuh hati bisa melihat orang yang begitu dirindukkannya.
Akan tetapi saat Rachel telah sampai di tujuannya, ia langsung mematung. Kembali keningnya mengernyit dengan dalam mendapati pintu ruangan kamar perawatan yang nampak sepi. Pikirannya langsung dipenuhi perasaan yang tak terjabarkan. Bila kamar itu memang kamar Mahavir, pastinya akan ada penjagaan di sekitarnya. Bukan malah sepi seperti itu.
Atau mungkin karena mereka pikir kalau ia tak akan mungkin datang menyusul ke Amerika?
Rachel menelan ludahnya. Menarik napas panjang guna menyiapkan dirinya. Dengan tangan gemetar dan jantung yang semakin berdentum dengan keras, ia menyentuh handle pintu dan membukanya.
Kosong.
Tak ada apapun dan siapapun sejauh matanya menyapu ke seluruhan sudut ruangan itu. Bahkan sebuah brankar pun tak ada disana. Dengan ragu dan kaki yang bergetar ia melangkah masuk. Berlari memeriksa ke kamar mandi yang juga kosong tak berpenghuni.
Tubuh Rachel tertegun sejenak. Kepalanya mendadak pening dengan penglihatan yang berputar-putar. Rasa kecewa membanjiri seluruh jiwanya. Tak pelak, ia langsung menjatuhkan tubuhnya terduduk di lantai. Airmatanya merembes tanpa bisa dikendalikan. Apa ia terlambat lagi? Apa memang ia tak punya kesempatan sekecil apapun? Apa ia harus menerima hukuman seberat ini?
"Vir.... Kamu dimana? Aku sudah datang. Kenapa kamu tak ada disini?" Teriaknya dengan suara bergetar. Menekan dadanya kuat-kuat. Merasa sesak dan perih sekaligus.
Bola matanya bergerak nanar memperhatikan sekitar. Akan tetapi ia langsung menyeka dengan cepat airmatanya dan langsung bangkit berdiri saat matanya bisa melihat jejak-jejak alat medis di sekitarnya yang sepertinya baru saja dilepas. Itu berarti pasien yang sebelumnya berada di ruangan itu mungkin belum lama pergi.
Tanpa membuang banyak waktu, Rachel langsung berlari ke luar kamar menuju meja counter perawat. Menanyakan pasien di kamar perawatan VIP yang telah kosong.
"Sorry madam, the patient on behalf of Mr Alister has just been referred to another hospital." (maaf nyonya, pasien atas nama tuan alister baru saja dirujuk ke rumah sakit lain.)
__ADS_1
"Which hospital?" (Rumah sakit mana?) tanyanya dengan suara bergetar.
"Looks like he was transferred abroad. because the patient had just been brought upstairs to take the helicopter to the airport. (Sepertinya beliau dipindahkan ke luar negeri. karena pasien baru saja dibawa ke atas untuk naik helikopter ke bandara.)
"What?" Rachel memekik, dan langsung berbalik setengah berlari menuju lift. Satu tangannya terus menahan perutnya, menyalurkan kekuatan agar anaknya bisa bertahan dan ikut berjuang mencari keberadaan Ayahnya.
'TING'
Pintu lift terbuka. Tapi Rachel dibuat terkejut oleh sosok yang baru saja akan melangkah keluar dari dalam sana. Orang tersebut pun sama terkejutnya dengannya.
"Rachel?" Tegur lelaki itu dengan wajah yang benar-benar terkejut seraya menoleh ke kanan dan kiri seakan mencari keberadaan seseorang. "Sejak kapan kamu ada di Amerika? Apa kamu sudah bertemu dengan Vir? Dimana dia? Bagaimana keadaannya?" Tanyanya beruntung dengan tidak sabar.
"Tak ada waktu untuk menjelaskan, Rey." Rachel kembali mendorong Rey masuk ke dalam lift. Menekan angka lantai paling teratas di bangunan rumah sakit itu.
Rey mengamati keseluruhan penampilan Rachel yang terlihat gusar. Tubuhnya bahkan terlihat gemetaran hebat. Sisa-sisa airmata masih berjejak di wajah cantiknya.
"Ada apa? Apa yang terjadi. Apa kamu belum bertemu dengan Vir?"
Rachel hanya menggelengkan kepalanya. Menarik napas dalam-dalam untuk menekan rasa sesak di hatinya.
"Bagaimana kamu bisa kemari?" Tanya Rachel tanpa menoleh sedikitpun ke Rey. Mengigiti ujung jempolnya yang nampak gemetaran. Tubuhnya bergerak gelisah dengan mata yang terus mengamati tanda panah di atas pintu lift yang menunjukkan pergerakan lift tersebut.
"Aku mendapat panggilan tak terjawab di ponselku dari nomor yang tak dikenal. Aku menghubungi balik dan mengetahui kalau panggilan itu berasal dari rumah sakit di Manhattan. Aku pikir itu pasti Mahavir. Aku berkali-kali menghubungimu, tapi tak terhubung. Aku telepon Bryan tapi ia juga tak tahu menahu. Bocah itu justru menjadi panik dan ingin ikut ke Amerika. Aku telepon ke kantormu, katanya kamu ke Paris. Jadi aku memutuskan langsung berangkat ke New York saat itu juga. Lalu, kenapa kamu ada disini?"
Rachel melirik sekilas. Satu tangannya menekan-nekan pelipisnya untuk mengurai rasa pening di kepalanya. "Sama sepertimu. Aku juga mendapat panggilan dari rumah sakit ini dan langsung bergegas kesini."
"Lalu, mana Vir? Bukankah ia dirawat disini?" Rey bertanya bersamaan dengan lift yang telah sampai di tujuan.
Ting'
Pintu lift terbuka dan Rachel langsung berlari keluar tanpa menunggu Rey yang masih nampak kebingungan.
"Rachel, pelan-pelan. Ingat kandunganmu." Rey ikut berlari menyusul di belakangnya.
"Tak ada waktu, Rey. Atau kita tak akan pernah bertemu dengannya." Teriak Rachel seraya mendorong kasar pintu berdaun dua di depannya.
BRAKK...
Pintu terbuka lebar dan langsung menampilkan pemandangan yang menambah kepanikan Rachel.
Mata Rachel membulat penuh melihat brankar yang diangkat naik kedalam helikopter dari kejauhan.
Saat Rachel mengayunkan kedua kaki berlari ke arah sana, pintu helikopter sudah ditutup dan bersiap terbang. Rachel pun bisa melihat segerombolan pengawal serta seorang lelaki paruh baya yang amat sangat dikenalnya. Berjalan menjauhi helikopter yang siap landas itu.
"TIDAK... TIDAK... JANGAN PERGIIII...!" teriaknya berlari mengejar helikopter itu. Tapi suaranya teredam oleh bisingnya dengungan baling-baling yang berputar cepat dan membuat angin di sekitarnya berembus kencang.
"Rachel, bahaya. Jangan mendekat." Rey langsung berlari dan menarik lengan Rachel yang masih ngotot ingin mendekati benda yang baling-balingnya sudah berputar sangat cepat. Menerbangkan apapun yang mencoba mendekat. Bahkan angin yang berputar kencang hampir mendorong Rachel terjatuh kalau saja tak ada Rey yang memeganginya.
"Tidak, Rey. Lepas. Aku harus mengejarnya. Dia membawa Vir. Dia membawa Vir-ku....!!" Jerit nya berusaha melepaskan pegangan Rey dilengannya. Rachel meronta seperti orang kesetanan. Airmatanya berjatuhan tanpa diminta.
"VIR.....AKU DISINI...!! JANGAN PERGIII....!!" teriaknya sekuat tenaga sampai perutnya menegang dan mendadak Rachel merasakan sakit yang luar biasa di bawah perutnya.
"Awwww....." Pekiknya, meringis menahan sakit.
"Ada apa, chel? Kau baik-baik saja?"
Wajah Rachel mendadak memucat. Penglihatannya menggelap dengan embusan napas yang terputus-putus.
__ADS_1
Aksi Rachel yang meronta dan menjerit-jerit itu akhirnya mengundang perhatian orang-orang yang berdiri tak jauh darinya. Terutama lelaki paruh baya yang menatap kehadirannya dengan tatapan tak suka. Ia kemudian berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya kearah Rachel diikuti para pengawal.
"Tak kusangka kau bisa seberani ini menampakkan wajahmu di sini!" Ucapnya ketus dengan sorot mata tajam yang menyiratkan ejekan yang kental begitu telah berdiri di hadapan Rachel dan Rey. "Nyalimu ternyata besar juga." Lanjutnya mencemooh.
Suara lelaki itu hanya terdengar samar si telinga Rachel. Bahkan Rachel sudah tak bisa melihat dengan jelas siapa lelaki itu. Pikirannya teralihkan pada rasa sakit yang menjalar di perutnya.
"Rachel, kau baik-baik saja?" Rey langsung menahan kedua bahu Rachel begitu melihat tubuh wanita itu terhuyung ke samping. "Rachel, Rachel..." Panggilnya lagi mencoba menyadarkan Rachel yang sudah sangat pucat pasi.
Laki-laki paruh baya yang berdiri di hadapan mereka malah menyunggingkan senyum penuh ejekan. "Tak usah berakting di depanku. Apapun yang kalian lakukan tak akan bisa mengubah apapun. Sudah ku katakan jauh sebelumnya bukan? Akan aku ulangi sekali lagi, mungkin kau lupa akan ucapanku yang dulu. Sekali kau mengecewakan putraku, maka kau tak akan pernah bisa lagi melihatnya. Menangis darah pun, kau tak akan bisa menemuinya!" Ucapnya lantang dan tegas. Sama sekali tak terbantahkan dan tanpa keraguan dalam nada suaranya. Kembali menyunggingkan senyum menghina dan mengayunkan langkahnya yang seirama dengan pergerakan tongkatnya.
Rachel tak menggubris sama sekali perkataan yang hanya terdengar seperti suara mendengung di telinganya. Kedua telapak tangannya yang sedingin es meraba-raba perutnya.
"Anakku, Rey. Anakku..." Rachel memegangi dengan kuat perutnya yang terasa kram dan melilit.
Langkah Lelaki paruh baya yang masih berada tepat di belakang mereka itu mendadak berhenti. Kedua alisnya bergerak dan menyatu di pangkal hidung. Saling bertaut dengan kening yang mengerut. Mempertajam pendengarannya menyimak pembicaraan wanita yang masih berstatus sebagai menantunya.
"Anakku Rey... Anakku..." Rachel menjerit histeris. Detik kemudian ia merasakan ada sesuatu yang basah keluar dari kewanitaannya. Diangkatnya bawahan dress-nya, dan langsung panik melihat darah mengalir di sela pahanya.
Mendengar suara penuh kepanikan, kepala lelaki tua itu menoleh diikuti pergerakan tubuhnya yang ikut memutar. Memposisikan tubuhnya menghadap ke wanita yang tampaknya benar-benar sedang kesakitan. Tapi bukan hal itu yang membuat atensinya teralihkan. Kata 'Anakku' yang membuat jantungnya langsung berdetak kencang. Dilihatnya Rey_sahabat putranya itu langsung mengangkat tubuh Rachel dan berlari melewatinya yang berdiri mematung dan terpaku tanpa mengerti apa sebenarnya yang telah ia lewatkan sejauh ini. Mata Hazelnya yang tadinya menyorot tajam mendadak suram melihat titik-titik darah yang terjatuh ke lantai seiring dengan langkah Rey yang membawa menantunya kembali masuk ke dalam lift.
"What happened?" Tanyanya lirih dengan suara yang tertahan di ujung kerongkongannya. Begitu merasa tercekat.
Sementara di dalam lift yang melaju turun dengan cepat, Rachel terus saja memekik kesakitan.
"Rey, anakku Rey. Selamatkan anakku." Lirih Rachel berucap dengan wajah yang semakin memucat serta tubuh yang bergetar dan sedikit menggigil dalam gendongan Rey.
"Bertahan, Chel. Anakmu pasti baik-baik saja." Rey berucap dengan wajah yang tak kalah paniknya.
"Awwww...." Rachel kembali menjerit.
"Tahan, Chel. Kumohon bertahanlah!"
Rachel tak lagi merespon. Pandangannya semakin berputar dan menggelap dengan airmata yang semakin merembes tak terkendali, giginya mengatup rapat dengan bibir yang sudah tak ada aliran darah nampak disana. Wanita itu mengerjap pelan, Menyerukan satu nama yang amat sangat dirindukannya, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
"Chel? Chel? Kamu baik-baik saja kan?" Rey mempercepat langkahnya begitu keluar dari dalam lift.
"HELP ME, PLEASE HELP ME!" teriaknya membuat semua mata memandang ke arahnya.
Perawat yang ada disekitarnya langsung mendekat. Salah satunya langsung menarik brankar kosong dan mendorongnya ke arah Rey. Rey pun membaringkan Rachel di atas brankar dengan sangat hati-hati, lalu memegangi tangan Rachel yang sangat dingin membekukan. Terus memegangnya kuat seraya ikut berlari di samping brankar yang didorong cepat oleh para perawat.
"Sorry sir, you just got here." (Maaf tuan, anda sampai disini saja.) Salah satu perawat langsung menahan langkah Rey yang ingin ikut masuk ke ruang IGD.
"Please, I have to make sure it's ok." (Tolong, saya harus memastikannya baik-baik saja.)
"Are you her husband?" Tanya perawat itu memandangi Rey.
"Hah?" Rey mengangkat kedua alisnya, seakan tidak paham maksud perawat itu.
"Are you her husband, Sir?" Ulang perawat itu.
Kepala Rey langsung mengangguk. "Yes... Yes, I'm her husband!" Jawabnya lantang. Terpaksa berdusta agar dipersilahkan menemani Rachel di dalam sana. Ia tak mungkin membiarkan istri sahabatnya itu sendirian diliputi kesakitan tanpa ada seorang pun yang tak dikenalinya.
Rey pun akhirnya terus mendampingi Rachel yang tak sadarkan diri di periksa oleh dokter-dokter asing.
Sementara jauh di luar ruangan itu, laki-laki paruh baya yang baru beberapa menit yang lalu bersikap angkuh tanpa belas kasihan, kini terpaku dengan perasaan kacau. Segala macam emosi bergejolak melingkupi keseluruhan dirinya.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like-nya ๐