Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 115.Aku nikahin kamu!


__ADS_3

Di kediaman Dokter Manaf,


Tampak Pak Wijaya dengan wajah gusarnya berjalan mondar mandir sambil menekan-nekan pelipisnya dengan kasar. Rasa marah, khawatir dan kecewa tampak menjadi satu dalam pikirannya.


Acara pernikahan Rey dan Raya telah usai berjam-jam yang lalu. Namun sebagian dari keluarga Rey dan keluarga dari Rachel masih betah berlama-lama di kediaman dokter Manaf itu.


Mereka semuanya masih tetap tinggal di tempat itu bukan tanpa alasan. Saat ini wajah mereka semua terlihat gusar dan sedikit panik. Pasalnya anggota keluarga mereka menghilang sejak acara berlangsung hingga kini tanpa ada kabar apapun.


"Gimana nak?" Tanya Pak Wijaya pada Rachel yang terus-menerus menghubungi nomor ponsel Bryan.


"Gak aktif, dad."


Pak Wijaya kembali menggaruk pelan pelipisnya lalu mengalihkan pandangannya pada Rey yang juga tak henti-hentinya menghubungi nomor adik kecilnya yang sering membuatnya sakit kepala.


"Sama paman, nomor Risya juga tak tersambung." Ucap Rey menjawab tatapan Pak Wijaya padanya.


Semua orang terlihat menghela nafas kasar namun memilih terdiam.


"Kira-kira mereka pergi berdua?" Tanya Dokter Manaf pada Rey, menantunya.


"Sepertinya begitu..."


"Memangnya mereka dekat yah?" Tanya Dokter Reinhard yang langsung membuat Pak Wijaya merasa tak enak hati pada dokter senior spesialis bedah saraf itu.


"Lumayan kak, soalnya kan Risya numpang di rumah Mahavir waktu di London. Mereka jadi dekat sejak itu. Ditambah beberapa hari ini Risya juga nginap di rumah paman Wijaya, jadi mungkin mereka semakin dekat." Rey mencoba menjelaskan pada kakaknya.


Dokter Reinhard manggut-manggut tanda mengerti.


"Me.. Mereka pacaran." Ucap Raya terbata-bata membuat Pak Wijaya, Dokter Reinhard serta yang lainnya mengangkat kedua alisnya terkejut. Tak terkecuali Rachel dan Lily yang langsung mendekat kepada Raya.


"Kata siapa, Ra?" Tanya Rachel lirih dengan wajah yang nampak pucat dan kelelahan.


"Tadi mereka berdua mengakui padaku kalau mereka sudah pacaran. Awalnya aku kira mereka bercanda, tapi Risya kemudian mencium pipi Bryan didepanku." Terang Raya, mengatupkan bibirnya dan memandangi semua orang bergantian.


Sontak Rey dan Dokter Reinhard kompak menepuk keningnya, merasa malu dengan kelakuan adiknya. Rey sudah menduga sejauh mana sebenarnya hubungan Bryan dan Risya, melihat bagaimana dekatnya dua remaja itu. Sementara Pak Wijaya langsung menunduk, nampak bingung harus bersikap bagaimana.


"Yah, yang namanya remaja pasti sedang di masa-masa pubernya." Dokter Manaf menengahi sembari menepuk pelan punggung kedua lelaki yang berada di sisi kiri dan kanannya yang terlihat saling tak enak hati.


"Maafkan Putra saya yang membawa adik anda dan menghilang sampai sekarang, Dok." Ujar Pak Wijaya merasa bersalah.


Mengetahui Prof Wijaya sang Guru besar di salah satu Universitas ternama yang begitu tersohor akan kebijaksanaan terlihat tak enak hati padanya membuat Dokter Reinhard segera mengulas senyumnya.


"Tidak Prof, saya sama sekali tidak menyalahkan putra anda. Justru putra anda adalah pemuda yang terkenal pandai, sementara adik saya itu anaknya... yah...." Dokter Reinhard menghela nafas berat, susah meneruskan perkataannya mengingat adiknya itu yang terlewat dimanja hingga seringkali susah diatur.


"Kalau putra saya kembali, saya akan menanyakan secara langsung hubungan mereka. Saya tak bisa membiarkan dia membawa seorang gadis keluar seperti ini dengan sembarangan. Maaf, sebenarnya saya juga dengar dari asisten rumah tangga saya kalau semalam mereka juga keluar bersama hingga larut malam dan baru pulang pukul satu malam. Saya belum sempat membicarakannya dengan putra saya sampai kejadian ini terulang kembali. Yah, kalau mereka memang saling menyukai, dan Dokter Reinhard sekeluarga berkenan, bagaimana kalau kita tunangkan saja mereka. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Pak Wijaya dengan kepala yang berdenyut pusing memikirkan tingkah Bryan.


Dokter Reinhard nampak terkejut sesaat, kemudian menepuk dan mengusap pelan punggung Pak Wijaya. "Kami justru merasa tersanjung bila Prof menerima adik kecil kami itu sebagai pendamping putra anda. Justru saya pribadi merasa tidak enak hati karena adik kami itu memiliki banyak kekurangan. Saya sekeluarga menyerahkan sepenuhnya saja pada anda Prof, bagaimana baiknya menurut anda."


Pak Wijaya mengangguk pelan, masih memijit pelan pelipisnya. "Berapa usia adik anda itu? Bila usianya sudah cukup umur saya malah ingin langsung menikahkan mereka saja. Saya sangat malu dengan kelakuan putra saya itu."


Dokter Reinhard tersenyum tipis. "Saya hanya was-was kalau terjadi sesuatu pada mereka di jalan atau apa." Lanjutnya lagi.


"Sudah, sudah, sekarang kita positif thinking saja. Semoga mereka baik-baik saja. Mungkin ponsel mereka kehabisan daya sehingga tak mengabari kita." Kembali Dokter Manaf menenangkan kegusaran mereka semua.


"Iya, dad. Mungkin sebentar lagi mereka pulang." Rachel ikut menenangkan Pak Wijaya, namun sedetik kemudian penglihatannya berputar hingga sedikit terhuyung.


"Astaga nak, kamu baik-baik saja?" Pak Wijaya bergegas menopang tubuh putrinya.


"Sepertinya kak Rachel kelelahan." Ujar Lily yang diangguki oleh yang lainnya.


Rachel menggeleng pelan dan melepaskan rangkulan daddy-nya. "I'm fine. Aku tak apa-apa."


Pak Wijaya hanya mengangguk dan melepaskan topangan tangannya dari pundak putrinya. Tapi sepersekian berikutnya tubuh Rachel langsung ambruk. Beruntung Pak Wijaya dengan sigap kembali menangkap tubuh Rachel sebelum sempat terjatuh ke lantai.


Sontak semua yang ada di tempat itu panik dan mengerumuni Rachel. Hingga ponsel mereka yang bergantian berdering sudah tak dipedulikan lagi.


Segera Pak Wijaya membaringkan tubuh Rachel ke sofa yang ada. Dokter Reinhard dan dokter Manaf yang notabene seorang dokter senior bergerak cepat hendak memeriksa keadaan putri rekan mereka, namun urung dilakukannya saat Raya lebih dulu memonopoli Rachel.


Raya bergerak cepat memeriksa denyut nadi Rachel dengan seksama. "Nadinya berdenyut lemah." Ucapnya memandangi para pria paruh baya di sekelilingnya.


Tiga wanita paruh baya pun tergopoh-gopoh berjalan dari arah belakang begitu mendengar keributan dari ruang depan.


"Ada apa?" Tanya Ny Amitha melihat kepanikan pada suaminya, lalu pandangan matanya terjatuh pada tubuh Rachel yang terbaring lemah di sofa. "Ada apa dengan Rachel?" Tambahnya mempercepat langkahnya menghampiri Rachel lalu berjongkok memeriksa keadaan putrinya.


Melihat itu, dokter Sally yang merupakan mama Raya segera mengambil minyak angin dan alat medisnya kemudian menyerahkannya pada suaminya yang lebih paham dengan struktur tubuh manusia dibanding dirinya yang hanya dokter gigi.


Dokter Manaf memeriksa Rachel dengan seksama, lalu kemudian sedikit tersenyum walau terlihat samar.


Rachel sedikit mengernyit merespon aroma minyak angin hingga perlahan-lahan membuka matanya dengan sangat lemah.


"Apa yang kamu rasakan, Chel?" Tanya Raya.


"Aku hanya sedikit pusing." Jawabnya seraya menekan pangkal keningnya.


"Sepertinya kamu kelelahan dan mungkin terlambat makan." Dokter Manaf menjeda sejenak, memandangi Pak Wijaya kemudian kembali melihat Rachel. "Saya belum bisa memprediksi terlalu jauh dan masih terlalu awal juga untuk menyimpulkannya. Untuk saat ini kamu jangan terlalu banyak pikiran dulu dan cobalah makan tepat waktu." Terang dokter Manaf, bangkit dari duduknya di tepian sofa tempat Rachel berbaring lalu menepuk pelan pundak Pak Wijaya dan berbisik sesuatu padanya.


"Sebaiknya kita pulang dan menunggu di rumah saja. Bryan pasti pulangnya ke rumah." Ujar Ny Amitha yang langsung diangguki oleh suaminya dan Lily.


Segera semua yang ada di situ berpamitan kepada Dokter Manaf beserta istrinya dan sang pengantin baru. Raya dan Rey pun mengantar mereka semuanya sampai ke halaman rumah.


Begitu mobil mereka semua menghilang dari pandangan, Raya langsung berbalik begitu saja seakan mengabaikan keberadaan Rey.


"Sayang..." Panggil Rey dengan cemberut namun Raya terus saja melangkah.


"Sayang...." panggilnya lagi. l


Raya berbalik dan mengernyit heran "Apa sih?"


"Kamu tidak lupa kan kalau aku sudah jadi suamimu?"


"Hah?"


Rey tersenyum kecut. "Kenapa rasanya kamu masih dingin padaku, yah?"


Raya seketika menepuk keningnya lalu tersenyum sedikit terkekeh. "Astaga, Maaf...maaf, aku tadi banyak pikiran." meraih lengan Rey dan merangkulnya. "Maaf yah...."


Rey tersenyum, menarik pinggang Raya hingga tubuh istrinya itu semakin menempel padanya. "Kamu tidak lupa juga kan kalau malam ini adalah malam pertama kita?" Bisiknya sedikit sensual di telinga Raya lalu mengecup ringan pipi istrinya itu.


Raya membelalakkan matanya, seketika terlintas bayangan akan apa yang terjadi diantara dirinya dengan Rey bila sudah masuk ke kamar mereka. Mendadak wajahnya memerah dan tersipu malu dengan jantung yang berdebar gila-gilaan.


Melihat itu, Rey semakin merapatkan pelukannya. Mengangkat dagu Raya dan menatap manik matanya sesaat sebelum akhirnya wajahnya perlahan mendekat ingin meraih bibir ranum yang merah merekah itu.


"Hmmm!!" Dokter Manaf tiba-tiba muncul dan mengintrupai kegiatan mereka. Sontak Raya cepat-cepat mendorong dan melepas pelukan Rey dari tubuhnya. "Bermesraannya di kamar saja, tidak sadar kalau sudah mulai hujan?" Lanjutnya dengan menunjuk menggunakan sorot matanya pada tetesan hujan yang mulai terjatuh, lalu langsung berbalik dan meninggalkan keduanya yang kembali salah tingkah dan saling tersenyum canggung.


***


Bryan menatap lurus langit-langit bercat putih dengan satu bohlam lampu yang berpendar kekuningan di atas sana dengan sesekali menoleh memandangi Risya yang berbaring santai di sampingnya dan tak bisa diam sejak tadi. Terus berceloteh dan bercerita panjang kali lebar. Walaupun terdengar bising di telinganya tapi entah mengapa dia suka mendengar suara gadis itu.


Bryan memutar tubuhnya, berbaring miring menghadap Risya dengan satu tangan yang menopang kepalanya. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman memandangi gadis itu yang nampak menguap berkali-kali menahan kantuknya. "Diam dan tidurlah..." Ucapnya.

__ADS_1


Kepala Risya menoleh sesaat, "Kak..."


"Hmmm?"


"Kalau gini kita seperti pasutri yah..." Ujar gadis itu berkelakar.


Sontak Bryan terkekeh pelan. "Tapi pasutri yang asli tidak mematung begini."


Risya menahan senyumnya lalu memutar tubuhnya berbaring miring menghadap Bryan. "Mereka pasti berpelukan dan berciuman kan?" Tanyanya dengan bergidik geli.


TAKK'


Bryan menyentil kening Risya dengan jarinya.


"Ihh, apa sih kak Bry! Sakit tahu!" Sungutnya membalas memukul lengan Bryan lalu mengusap keningnya.


"Makanya, kalau masih bocah jangan pikir mesum-mesum. Anak kecil tapi bicaranya vulgar begitu."


"Isshhh, Risya kan hanya bilang cium dan peluk."


"Kenapa? Mau di cium dan di peluk juga?"


"Isshhh, najis!" Mendelikkan matanya pada Bryan. Bryan kembali terkekeh melihat wajah menggemaskan yang masih sangat polos itu.


"Kak Bry..."


"Apa?"


"Risya boleh nanya gak?"


"Tumben minta izin, biasanya nge-gas aja langsung."


"Ck, Risya serius."


"Iya, mau nanya apa?"


"Itu... Kak Bry udah pernah ciuman dengan kak Raya? Kalau sudah dimana? Berapa kali? Siapa yang duluan memulai? Ciuman yang seperti apa? Ciuman pipi atau bibir? Terus kak Ra...."


TAKK'


Kembali Bryan menyentil kening Risya.


"Iihhhh, Sakit tau kak!" Gerutunya, mengusap keningnya dengan bibir yang mengerucut.


"Ris....."


"Apa?" Tanyanya ketus, masih menatap kesal Bryan.


"Jadi pacarku, mau?"


"Ogah!"


"Kenapa?"


"Yak kali Risya pacaran sama mantan pacar kakak ipar sendiri."


"Memangnya kenapa? Kan kak Raya taunya kita sudah pacaran?"


"Tetap aja. Risya ogah. Kak Bry terlalu petakilan. Risya mau cari pacar yang seumuran aja yang lebih asyik. Disekolah banyak yang naksir Risya." Terangnya dengan diiringi menguap panjang.


"Kok gitu?"


"Enggak kok, kali ini aku serius."


"Mana ada cowok yang baru putus langsung nembak cewek lain."


"Ada, aku! Mau yah, Ris...?"


"Ogah!"


"Yah, mau yah?"


"Iihhh... Najis...!!"


"Yah... yah?"


"Gak mau kakak Bryan-ku yang cakep dan gantengggg...."


"Yakin nolak aku? Aku tampan loh Ris, gak bakalan malu-maluin kamu."


"Risya juga cantik kok, cantik banget malah..."


Bryan terkikik geli. "Iya, iya, kamu cantik. Jadi kita bakalan serasi."


"Cihh..." Risya mencebik kesal. "Emang kak Bry suka sama Risya?" tanyanya sembari menguap berkali-kali.


"Kamu sendiri memangnya gak suka padaku?"


Risya menggeleng cepat. "Risya kan udah anggap kak Bry kakak sendiri." Gumamnya pelan dengan pancaran mata yang tersisa lima watt.


"Kalau aku tidak menganggapmu adik, gimana?" Tanyanya dengan wajah serius dan menatap dalam mata Risya yang sudah tampak sangat mengantuk.


Sejenak mereka saling beradu pandang selama sekian detik. Lalu pandangan Bryan pun jatuh pada bibir mungil gadis itu. Entah mengapa setiap melihat bibir yang selalu cerewet itu ia ingin selalu mengecupnya. Seakan ada magnet yang selalu menarik dirinya.


"Ris..."


"Hmm?" gumannya dengan mata yang mulai terpejam.


"Ris, apa aku bisa menciummu?" Pintanya lirih. Namun Risya sudah tak merespon karena matanya sudah terpejam sempurna.


"Ris....." Panggilnya pelan.


"Kamu udah tidur?" Tak ada jawaban. Hanya terdengar dengkuran halus dari gadis itu.


Bryan menghela nafas, bibirnya melengkung membentuk senyuman. Kemudian tangannya terjulur mengusap lembut puncak kepala gadis itu. "Have a nice dream, Risya..." Lirihnya lalu segera memutar tubuhnya berbalik memunggungi Risya.


Bryan pun mencoba ikut tidur. Namun semakin mencoba terlelap matanya tak jua dapat terpejam. Rasa lengket dan serbuk-serbuk pasir yang melekat ditubuhnya membuatnya gelisah di tambah kaki Risya yang tak henti-hentinya menendangnya.


Brian mengangkat tubuhnya terduduk, memandangi Risya yang bahkan tidurpun tak bisa diam dengan rok yang tersingkap naik ke atas perutnya dan menguasai keseluruhan ranjang berukuran sedang itu.


Astaga, tak mau lihat tapi terpampang nyata di hadapan...!!


Ya Ampun Mommy...


mata anakmu sudah dikotori oleh gadis ini. Batinnya mendengus kesal. Betul-betul menguji keimanannya.


Dengan cepat Bryan memperbaiki rok gadis itu. Menutupi pengaman segitiga berenda berwarna putih yang sangat dikenalinya, karena Bryan sendiri yang membelikannya di London saat gadis itu mendapatkan menstruasi pertamanya.


Bryan menggeleng geli lalu menepuk keningnya karena tak menyangka bisa terjebak dalam situasi seperti ini. Akhirnya Bryan memutuskan untuk mandi saja, sekaligus mendinginkan pikirannya.

__ADS_1


Bryan membersihkan pakaiannya yang penuh pasir, lalu mengangin-anginkannya kemejanya di dekat jendela kamar dan hanya memakai celana bahannya kembali walau masih belum terlalu bersih dari pasir, karena tak mungkin hanya memakai handuk disaat ia sedang bersama dengan seorang gadis.


Sembari menunggu kemejanya sedikit mengering, Bryan kembali membaringkan tubuhnya di samping Risya dengan terus menjaga mata dan pikirannya agar tetap berakal sehat, sampai akhirnya kantuk menyerangnya dan membuatnya terlelap.


Malam semakin larut. Suasana kamar begitu hening. Hanya terdengar suara hujan yang semakin turun dengan lebatnya di luar sana.


Rasa dingin akibat angin yang menyusup masuk di sela-sela jendela membuat Risya merapatkan diri pada Bryan mencari kehangatan. Mendusel-ndusel kan kepalanya di punggung Bryan yang saat ini bertelanjang dada.


Merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhnya, Bryan langsung terbangun dan terkejut mendapati gadis itu memeluknya erat dari belakang.


"Ris..." Panggilnya mencoba membangunkan gadis itu.


"Ris, lepas Ris. Bahaya....." Imbuhnya namun Risya tak bergeming sama sekali.


"Ris...please, lepas Ris...!" Mencoba berbalik dan melepaskan tangan Risya yang melingkar di perutnya.


"Dingin kak...." Guman Risya meracau tanpa membuka matanya. Semakin merapatkan diri dan meraba-raba punggung hangat Bryan.


Astaga ya Tuhan.....Jangan uji aku seperti ini...


Bryan menarik paksa tangan Risya yang melingkar di perutnya lalu mendorong tubuh kecil itu menjauh darinya. Tapi usahanya sia-sia karena Risya kembali mendekat.


Berkali-kali Bryan melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang. Sampai ia terjatuh beberapa kali dari ranjang karena berusaha menghindar dari sentuhan gadis itu.


Bryan mengacak rambutnya kasar dan berdecak kesal seraya bangkit dari atas lantai dan naik kembali ke ranjang.


"Sekali lagi mendekat dan memelukku sembarangan, aku tak akan segan-segan menciummu!" Ketusnya memandangi Risya yang tak terganggu sedikitpun, kemudian kembali berbaring karena sudah sangat lelah berkelahi melawan gadis yang tidur dengan serampangan.


Baru saja akan terlelap, kembali Bryan merasakan tangan Risya yang melingkar di perutnya, diikuti kaki mulus gadis itu yang kini berada di atas pahanya, sedikit lagi menyentuh sesuatu yang sekuat tenaga ditahannya sejak tadi agar tak ikut bangkit.


"Astaga, bocah ini!" Umpatnya kesal mendorong kaki Risya. Tapi sekian detik kemudian kembali kaki mulus itu naik ditubuhnya. Paha mulus dan putih yang terekspos bebas itu kini berada di atas perutnya.


Naluri kelaki-lakiannya akhirnya membimbing tangannya bergerak menyentuh paha mulus itu. Dan dengan nakalnya mengusap-usapnya perlahan.


Astaga Bryan, jaga akal sehatmu....!!


Bryan segera menarik tangannya dan mengepalkannya kuat agar tak bergerak diluar kendali lagi.


"Ris....." Panggilnya dengan suara serak menahan hasratnya.


"Ris...." Panggilnya sekali lagi sembari mendorong perlahan gadis itu.


"Hmmm,....dingin kak!" Racaunya manja yang sialnya semakin membangkitkan hasrat Bryan.


Bryan menggeram sekuat tenaga menahan diri, tapi bagaimanapun dia tetaplah laki-laki muda normal yang memiliki libido tinggi serta sedang dalam masa-masa penuh luapan gairah.


"Maafkan aku Ris, kalau melakukan ini padamu. Tapi kamu yang sudah memancingku." Lirihnya memandangi wajah Risya dengan pandangan berkabut, lalu dengan cepat menyambar bibir gadis itu. Mengecup dan menyapu keseluruhan bibir mungil gadis itu.


Risya melenguh panjang merasakan bibirnya seperti dihisap kuat oleh sesuatu. Matanya terbuka perlahan dan langsung melebar sempurna mendapati Bryan berada di atasnya dengan bertelanjang dada dan menciuminya dengan liar.


"Mmmmpppp....mmmpp..." Risya memukuli dada Bryan, mencoba membuat pemuda itu tersadar dan berhenti menciuminya.


Bukannya berhenti, Bryan malah menurunkan ciumannya di leher gadis itu. Menggigit serta menghisapnya kuat hingga meninggalkan ruam merah keunguan di permukaan leher gadis itu.


"Kak...hiks...hiks...Sakitttt....." Isak Risya, meringis merasakan perih di lehernya sembari terus mendorong dada Bryan.


Mendengar isakan tangis Risya, Bryan akhirnya tersadar dan kembali menguasai dirinya. Diangkatnya tubuhnya cepat dari atas Risya lalu menarik Risya yang masih terlihat syok itu kedalam pelukannya.


"Astaga, Ris. Maafkan aku. Maafkan aku, Ris." Mengusap lembut punggung gadis itu yang gemetar ketakutan.


"Hiks... hiks...Kak Bry....Apain Risya?" Tanyanya dengan sesunggukan dalam tangisnya.


"Maaf Ris, maaf. Aku khilaf. Maaf...."


"Hiks...hiks..Sakit kak, kak Bry apain leher Risya?" Ulangnya sembari menyentuh lehernya yang masih terasa perih. Wajahnya yang menempel sempurna di kulit Bryan membuatnya tersadar kalau pemuda itu tak memakai atasan. "Kak Bry kenapa gak pakai baju? kak Bry mau apa dengan Risya?" lanjutnya lagi dengan semakin terisak.


Bryan semakin memeluk erat Risya, mengecupi puncak kepala gadis itu berulang kali. Sangat merasa bersalah karena tidak bisa menguasai dirinya.


"Kak Bry jahat...hiks...hiks...Risya kan masih kecil...hiks...hiks...kalau Risya hamil gimana?"


"Hah?" Bryan terperangah, menggaruk asal kepalanya. Merasa bingung menjawab pertanyaan polos gadis belia itu. "Gimana ceritanya bisa hamil?"


"Kan ka Bry udah apa-apain Risya..."


"Astaga, Ris. Aku hanya khilaf menciummu, gak lebih. Sumpah Demi Tuhan aku belum menyentuhmu."


"Gimana ceritanya belum sentuh Risya, ini saja rasanya masih perih. Kata teman-teman Risya kalau disentuh laki-laki rasanya sakit." terangnya dengan tersedu-sedu.


Bryan mengacak-acak kepalanya sendiri. Merasa gemas sekaligus frustasi pada gadis di depannya itu.


"Ris, gini yah. Kan di sekolah diajarin tuh sistem reproduksi manusia. Proses terjadinya pembuahan seperti apa. Pembuahan terjadi kalau...."


"Pelajaran Risya belum sampai situ." ujarnya menyela dengan cepat.


Kembali Bryan menggaruk-garuk kepalanya. "Yah intinya kamu gak bakalan hamil deh."


"Kalau hamil?"


Astaga ya Tuhan, kenapa nih bocah polos amat???


"Ya udah, aku nikahin kamu." Tegasnya yang sontak membuat tangis gadis itu pecah.


"Astaga, Ris. Kok makin nangis sih?"


"Risya gak mau nikah, Risya masih kecil. Risya masih mau sekolah. Kak Bry jahat. Risya benci kak Bry!" berangnya memukuli dada Bryan membabi buta.


Bryan tak menghindar sedikitpun, membiarkan gadis itu meluapkan semua emosinya.


"Udah?" Tanyanya begitu Risya sudah berhenti memukulinya.


"Risya benci kak Bry!" mendorong kasar Bryan lalu bergerak menjauh dari pemuda itu.


"Ris..." mencoba meraih tangan gadis itu.


"Jangan mendekat. Jangan sentuh Risya! Risya jijik sama kak Bry!" melompat turun dari ranjang lalu berjongkok meringkuk di sudut ruangan dan menatap tajam Bryan.


Bryan membuang nafas kasar. Beringsut dari ranjang dan segera meraih kemejanya, memakainya walau masih sedikit lembab. Berjalan menghampiri Risya namun masih menyisakan jarak diantara mereka, lalu ikut duduk di lantai dan memandangi gadis yang masih terisak itu.


Keduanya saling terdiam cukup lama. Sampai Risya kembali tertidur dalam tangisnya.


Bryan bergerak perlahan, mengangkat dan memindahkan gadis itu kembali berbaring ke ranjang. Sementara ia kembali ke lantai, terduduk menyandar pada dinding sambil membentur-benturkan kepalanya saking merasa bersalahnya.


Kak Vir....


Maafkan aku kak...


aku sudah berbuat kesalahan...


Semoga saja Risya gak membenciku seperti kak Rachel membenci kak Vir...

__ADS_1


***


__ADS_2