Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 111.A whole new World.


__ADS_3


Kedua mata Risya melebar dan berbinar-binar, diikuti dengan mulut yang tak henti-hentinya berdecak kagum melihat pemandangan yang tersuguhkan di hadapannya.


Penampilan kota terlihat begitu kecil dari tempatnya berada saat ini. Kerlap kerlip lampu dari kejauhan tampak seperti gugusan bintang-bintang.


"Kak Bry... Rumah Risya yang mana kalau dilihat dari sini?"


"Aku saja belum tahu rumahmu dimana!" Ucap Bryan dengan menggelengkan kepalanya dan menahan senyumnya.


Keduanya kini terduduk pada tepian tebing di atas bukit yang menampilkan pemandangan kota.


Setelah berkeliling tak tentu arah, Bryan akhirnya membawa motornya pada tempat dimana dulu biasa dia habiskan saat merasa kesepian.


"Kalau begitu rumah kak Bry yang mana?"


Bryan menoleh, memandangi gadis manis yang duduk di sebelahnya. Rambutnya sudah berantakan dan beterbangan kemana-mana. Tapi senyumnya tak pernah luntur sejak tadi.


Bryan kembali mengalihkan pandangannya ke depan, lalu menunjuk asal. "Mungkin yang itu." Jawabnya.


"Sekolah Risya yang mana?"


Kembali Bryan menunjuk asal.


"Kalau hotel tempat kakak Rey yang mana?"


Mendengar kata Rey, Bryan terdiam. Menekuk kedua lututnya lalu menumpukan dagunya di sana.


Merasa tak ada respon, Risya berbalik, melihat Bryan dengan raut wajah yang sendu dan akhirnya tersadar kalau sudah mengingatkan pemuda itu kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu.


"Sorry kak Bry. Risya gak bermaksud....."


Bryan memiringkan wajahnya, masih menumpu di atas kedua lututnya. Tersenyum dan menggeleng. "Tak apa." Ucapnya dengan tangan yang terjulur memperbaiki anak-anak rambut Risya yang beterbangan.


"Berantakan yah kak?"


"Hmm... Tapi masih cantik kok."


"Ihh... Kak Bry juga masih cakep biarpun sedang sedih." Balasnya dengan terkekeh pelan. Memperlihatkan gigi ginsulnya yang semakin membuatnya terlihat manis.


"Ku bantu rapikan?" Tanyanya melihat Risya kerepotan memegangi rambutnya.


"Risya gak bawa ikatan rambut kak Bry!"


Bryan mengangkat kepalanya dari kedua lututnya. Mengubah posisi duduknya menjadi bersila dan sedikit menggeser duduknya mengahadap ke Risya.


"Berbalik."


"Hah?"


"Balik sana." Menarik kedua bahu gadis itu dan memutarnya agar ikut berbalik. Lalu kedua tangannya dengan lincah bergerak menyatukan keseluruhan rambut gadis itu ke belakang. Tangan satunya bergerak menarik akar tanaman di sekitarnya lalu menggunakannya untuk mengikat rambut gadis itu.


"Kak Bry make apaan ikatnya?"


"Bahan alami yang gak ada ditoko manapun."


"Ih, bukan yang aneh-aneh kan?" Tanyanya sembari menjulurkan tangannya kebelakang untuk mencari tahu benda apa yang mengikat rambutnya itu.


"Jangan di pegang. Nanti terlepas. Pokoknya cantik kok."


Risya menyengir, berbalik dan tersenyum manis di depan Bryan. "Makasih kak Bry..."


Bryan mengangguk dan tersenyum. Kemudian dering pada ponselnya membuat senyumnya kembali luntur begitu melihat nama id 'My Sweetheart' pada tampilan layar.


"Siapa kak? Kok gak diangkat?" Risya menggeser duduknya sedikit lebih merapat guna melihat id sang pemanggil. "Kak Raya?"


Bryan mengangguk pelan.


"Kenapa tak diangkat?"


"Kak Bry marah padanya?"


"Kalau begitu, masalah kalian gak akan selesai. Angkat dan bicara kak."


Bryan terdiam sesaat, namun pada akhirnya menerima panggilan tersebut.


"Yah... Aya... Ada apa?"


"...."

__ADS_1


"Sedang di luar..."


"...."


Bryan terdiam sesaat. "Maaf untuk apa?"


"...."


Bryan memejamkan matanya, terdiam mendengar wanita diujung sana itu berbicara padanya. Berkali-kali jakun pemuda itu bergerak naik turun menelan ludahnya.


Risya ikut terdiam di sisi Bryan. Kedua kakinya tertekuk. Kedua tangannya terlipat di atas lututnya dan menopang wajahnya, dengan pandangan mengarah kepada Bryan. Sangat penasaran dengan apa yang mereka perbincangkan tapi sebisa mungkin menahan diri agar tidak ikut campur.


Lagi-lagi Bryan menarik nafas panjang.


"Tak apa, aku mengerti. Aku memang sudah mempersiapkan diri sejak awal. Aku tahu kok kalau akhirnya kalian akan bersama. Aku turut bahagia. Jadi jangan merasa bersalah begitu."


".... "


"Benar. Aku gak papa Kak. Eh, aku panggil kakak kembali yah? Gak sopan soalnya sama kak Rey."


".... "


"Iya, gak papa. Serius. Aku ikut senang mendengarnya."


"...."


"Jadi kapan?"


".... "


"Wah, kak Rey betul-betul bergerak cepat." Ucapnya dengan terkekeh, berusaha terdengar gembira.


"...."


"Astaga, aku gak papa. Aku kan tinggal cari penggantinya lagi."


"...."


"Iya... Aku pasti akan datang. Iya, jangan khawatir. Kalau perlu aku akan langsung bawa pacar baru. Hehehh..."


"...."


Begitu sambungan itu terputus, Bryan langsung menyembunyikan wajahnya diantara lututnya. Rasa sakit hatinya sudah tak bisa lagi dibendungnya. Tak ada suara yang terdengar, tapi bahunya terlihat bergetar naik turun. Yah, pemuda itu menangis dalam diam.


Gadis yang sedari tadi memandanginya kini memilih berbalik memunggungi pemuda itu. Memberikan kesempatan pada pemuda itu untuk meluapkan kesedihannya. Dia yang biasanya cerewet dan penuh rasa penasaran, saat ini berusaha keras mengerem mulutnya.


Karena itu dia memilih bernyanyi kecil agar mulutnya tak bertanya macam-macam.


A whole new world


A new fantastic point of view


No one to tell us, "No"


Or where to go


Or say we're only dreaming


A whole new world


A dazzling place I never knew


But when I'm way up here


It's crystal clear


That now I'm in a whole new world with you. . . .


Bibir tipis gadis manis itu terus bersenandung pelan dengan lembut, melantunkan A whole new World, yang merupakan soundtrack dari film Aladin. Lagu lembut namun mampu membangkitkan semangat orang yang mendengarnya.


Bryan yang tadinya diliputi kesedihan perlahan mengurai tangisannya. Mengusap wajahnya dengan cepat. Sedikit terkekeh mendengar nyanyian gadis yang sedang memunggunginya. Ternyata gadis cerewet itu pintar juga menghibur seseorang tanpa harus membuat orang itu merasa malu.


Tangan Bryan akhirnya terangkat mengacak pelan puncak kepala Risya. "Ayo pulang, sudah larut malam. Besok ada acara penting yang harus kita datangi."


Risya berbalik, tersenyum dan mengangguk tanpa berniat bertanya lebih lanjut. Keduanya kembali naik ke atas motor.


Bryan membuka jaketnya, menyisakan kaos lengan panjang di tubuhnya. Jaketnya lalu digunakannya untuk mengikat tubuh Risya menyatu dengan tubuhnya.


"Buat apa kak?"

__ADS_1


"Takut kamu jatuh."


"Jatuh? Risya kan bisa pegang."


"Jaga-jaga kalau kamu ketiduran. Tadi waktu nyanyi kamu menguap berkali-kali kan?"


Risya terkekeh dan menyengir. "Aku akan bilang kalau mau tidur kok!" Ucapnya melingkarkan tangannya ke perut Bryan dan kepalanya muncul di balik pundak pemuda itu.


Bryan mengangguk. Mempererat pelukan gadis itu padanya lalu menjalankan motornya. Baru beberapa meter, ternyata gadis itu betul tertidur.


"Yah, udah teler juga nih bocah...." Gumamnya ketika merasakan pelukan gadis itu merenggang dan kepalanya yang terjatuh bersandar pada punggungnya.


Di pelankannya laju motornya. Satu tangannya memegang penuh kendali motor, sementara tangan satunya memegangi kedua tangan gadis itu agar tetap berada di perutnya.


Sembari melajukan motornya, pemuda itu melanjutkan nyanyian gadis tadi...


I can show you the world


Shining, shimmering, splendid


Tell me, princess, now when did


You last let your heart decide?


I can open your eyes


Take you wonder by wonder


Over, sideways and under


On a magic carpet ride


A whole new world


A new fantastic point of view


No one to tell us, "No"


Or where to go


Or say we're only dreaming


A whole new world


A dazzling place I never knew


But when I'm way up here


It's crystal clear


That now I'm in a whole new world with you. . . .


Bryan terus bersenandung lirih hingga sampai di kediamannya pada jam setengah dua dini hari. Semua penghuni rumah itu sudah tertidur, kecuali Bik Sumi yang masih terjaga menunggunya di pintu belakang yang terhubung dengan garasi. ART yang selama ini menjaganya sejak ia masih kecil.


"Aduh, Mas Bryan dari mana saja?"


"Mommy sama daddy sudah pulang?"


"Belum, tadi Nyonya nelfon katanya sekalian besok pagi pulangnya. Takut pak Maman kecapean dan ngantuk di jalan."


"Kak Rachel nyariin?"


"Iya, nyariin nona Risya-nya tapi. Memang dari mana mas Bryan-nya? Bawa anak orang lagi."


"Mau ceramah sampai pagi Bik?"


Bik Sumi geleng-geleng kepala. "Ya sudah masuk cepat." Ujarnya membantu Bryan menahan tubuh Risya saat pemuda itu turun dari motor. Bryan akhirnya menggendong gadis itu di punggungnya. Tak ingin mengganggu tidur Rachel ataupun Lily, Bryan akhirnya membawa Risya ke kamarnya. Membaringkan tubuh gadis itu perlahan di ranjangnya dan menyelimutinya rapat-rapat hingga sampai ke bagian leher.


Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan memandangi wajah polos gadis itu yang tertidur pulas. Di usapnya lembut pipi gadis itu.


"Terima kasih sudah ada untukku malam ini...."


Setelahnya, Bryan mengambil satu bantal dan meletakkannya di atas karpet di lantai, diikuti tubuhnya yang ikut berbaring disana.


"Selamat tinggal cinta pertamaku...." Lirihnya sebelum akhirnya terbuai ke alam mimpi.


***


Sorry bab ini agak pendek sedikit, bonus hari ini karena kemarin-kemarin otor lama up-nya🤭😅

__ADS_1


yang rindu Mahavir dan tanya kabarnya, sabar yah.... untuk saat ini dia masih koma dan belum siuman. Nanti dia baru sadar dengan ikatan batin yang ada pada Rachel, so tungguin kejutan berikutnya yah... 😉


__ADS_2