Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 117.Dimana dia?


__ADS_3

Suara pengumuman informasi penerbangan dan waktu keberangkatan tujuan London kini menggema ke seluruh penjuru terminal keberangkatan luar negeri. Menginfokan kepada para penumpang tujuan London lengkap dengan nomor maskapai penerbangan untuk segera melakukan Boarding pass.


Mendengar itu bergegas Rachel berpamitan seraya memeluk erat kedua orang tuanya bergantian cukup lama. Setelahnya ia beralih pada Raya dan Rey.


Raya segera menubrukkan tubuhnya memeluk sahabatnya itu dengan sendu. "Baik-baik disana yah..."


Rachel mengangguk pelan sembari membalas pelukan sahabatnya itu. "Kamu juga, yang baik sama Rey. Saling menyayangi dan jangan lagi egois padanya." Nasehat Rachel pada Raya, mengingat sahabatnya itu mempunyai sifat yang sedikit mirip dengannya.


Sementara Rey menghampiri Lily dan mengulurkan tangannya seraya tersenyum. Lily pun balas tersenyum dan menerima uluran tangan Rey.


"Terima kasih yang sebesar-besarnya, berkatmu aku bisa mendapatkannya." Ucapnya dengan melirik ke arah Raya yang terlihat kembali berpelukan dengan Rachel.


"Santai aja, kalau memang jodoh tak akan kemana. Terkadang memang orang ketiga dibutuhkan untuk menyadarkan cinta seseorang. Seandainya saja dia menolak. Aku yang mengejarmu." Kelakar Lily dengan setengah terkekeh. "Ra, boleh gak suamimu aku peluk?" Izinnya pada Raya.


Raya menoleh dan tertawa kecil. "Peluk aja kalau dia-nya mau."


Rey secepat kilat berkelik, "Sorry, my body and my heart are only for Raya..." Potongnya dengan menaik turunkan alisnya.


"Dasar bucin!" Olok Lily menepuk lengan Rey. Rey tertawa kecil merespon candaan Lily, kemudian matanya tak sengaja melihat Bryan yang tampak gelisah. Segera Rey menghampirinya dan menepuk kasar bahu pemuda itu seraya tersenyum miring.


Bryan terkesiap sesaat. Tidak menyangka Rey akan menegurnya duluan sejak kejadian dimana Rey memukulinya karena peristiwa yang terjadi antara dirinya dan Risya.


"Sebenarnya aku masih marah padamu karena perbuatanmu pada adiku. Tapi tak tahu mengapa aku juga tak bisa berlama-lama marah padamu." Ucapnya kemudian menarik pemuda itu dan memeluknya sekilas. "Belajar yang rajin dan jangan macam-macam disana." Imbuhnya.


Bryan tersenyum canggung dan mengangguk pelan. Netranya mengedar kesegala arah seakan mencari seseorang.


"Dia tak datang. Dia hanya menitipkan ini." Rey mengeluarkan kertas berwarna merah muda beraroma permen yang dilipat berbentuk persegi dan langsung memberikannya pada Bryan. "Dia masih enggan bertemu denganmu. Yah, Itu hukuman untukmu."


Bryan menghela napas pelan, menerima surat di tangan Rey itu dan langsung memasukkannya ke dalam waistbag Eigernya. "Kak Rey, aku titip dia. Mohon jaga dia untukku."


"Titip? Gak salah?" Rey menaikkan kedua alisnya memandangi Bryan dengan heran. "Heh, dia itu adikku." tambahnya.


"Tapi dia itu tunanganku." Ngotot Bryan. Kembali keduanya terlibat pertengkaran kecil dan sama-sama tak mau mengalah.


"Hmm" pak Wijaya berdehem kuat, membuat Bryan langsung mengatupkan bibirnya. Rey pun ikut terdiam. Sementara Raya menepuk gemas melihat tingkah laku dua laki-laki itu.


Keduanya bersitatap sesaat, kemudian akhirnya saling tertawa.


Rey menepuk pelan pundak Bryan. "Tenang saja. Dia akan baik-baik saja. Dia akan ikut tinggal bersamaku dan Raya. Kamu fokus saja dengan kuliahmu. Empat tahun itu akan terasa singkat kalau kamu serius menjalani semuanya. Saat kalian bertemu kembali, dia sudah menjadi gadis yang lebih dewasa yang siap untuk kamu nikahi."


Bryan mengangguk sembari mengulum senyumnya. Membayangkan empat tahun kedepannya baru bisa melihat tunangannya itu.


"Bryan..." Panggil Raya sembari berjalan mendekat, namun dengan cepat Rey meraih pinggang istrinya sebelum lebih dekat pada Bryan, menarik istrinya itu menempel di sampingnya. Membuat Bryan menahan senyumnya melihat kelakuan posesif Rey pada Raya.


"Aku boleh memeluk kak Raya?" Goda Bryan.


"Cari mati?" Ketus Rey dengan semakin menarik pinggang Raya. Rey masih mengingat betul rasa sakit hatinya dulu saat melihat Raya mengecup Bryan di tempat itu, dan sungguh ia masih trauma bila harus melihat Raya dan Bryan berdekatan.


"Bercanda! dia kan sudah jadi kakakku juga." Bryan menepuk pelan lengan Rey. "Kalian yang langgeng yah..." Ucapnya dengan tulus.


Raya dan Rey saling memandang lalu tersenyum dan mengangguk bersamaan.


"Kami tunggu kalian honeymoon ke London." Sela Rachel.


"Iya, sekalian mampir dan kenalan dengan Granny kami." Imbuh Lily.


Raya dan Rey kembali kompak mengangguk dan tertawa kecil.


Pak Wijaya dan Nyonya Amitha hanya diam menyimak pembicaraan anak muda itu.


Kembali suara informasi kedua terdengar menggema, memaksa mereka untuk segera mengakhiri perjumpaan siang itu.


Kembali Rachel dan Bryan bergantian memeluk kedua orang tua mereka sebelum akhirnya beranjak untuk check-in penerbangan mereka.


"Rachel..." Panggil Rey kembali sembari berlari cepat menghampiri Rachel yang sudah berada di ambang pintu masuk keberangkatan. "Kalau kamu mendengar kabar Mahavir, tolong kabari aku juga. Aku juga akan mengabarimu kalau mendengar kabar darinya."


Rachel mengulum senyumnya dan mengangguk cepat. "Pasti. Aku akan berusaha keras mencari tahu kabarnya." Ucapnya getir sembari mengusap lembut perutnya.


Rey pun menyadari gerak-gerik dari wanita cantik di depannya itu. Netranya melirik sekilas perut ramping Rachel dan kembali memandangi Rachel seraya menaikkan alisnya seakan meminta penjelasan.


Menyadari arti tatapan mata Rey, Rachel kembali mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Mata Rey membulat dan langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya selama sepersekian detik. "Kalau begitu aku akan mati-matian mencari tahu. Kalau perlu aku akan langsung ke Amerika kalau sudah mengetahui pasti lokasi dimana ia berada." Ucapnya bersemangat. "Mohon jaga dia dengan baik untuk sahabatku." Tambahnya lagi.


Rachel hanya mengangguk dan tersenyum, lalu berbalik dan kembali melangkah.


Setelah Rachel bersama Lily dan Bryan menghilang dari pandangan mereka, mereka pun juga beranjak dari tempat itu.


"Rey, sepertinya aku mau ke toilet dulu." ujar Raya melepas rangkulan Rey dari pinggangnya.


"Aku temani."


"Gak usah. Tunggu di sini saja." Raya bergegas berlari ke arah toilet bandara, namun beberapa meter kemudian seorang lelaki menggunakan hodie berwarna navy dengan topi senada serta masker hitam yang menutupi separuh wajahnya menabrak Raya dengan keras. Membuat Raya terhuyung hingga terjatuh terduduk di lantai. Laki-laki itu menatap tajam Raya sesaat sebelum akhirnya berlari menjauh.


Raya tertegun di posisinya. Sedikit syok dengan laki-laki itu. Bukan karena ditabrak kasar dan tak dibantu berdiri, tapi karena tatapan matanya yang tidak asing baginya.


"Sayang..." Rey berlari menghampiri Raya dan membantunya berdiri. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya melihat wajah istrinya yang mendadak pias.


"Dia... dia..." Raya masih menatap lurus ke arah dimana laki-laki itu menghilang.


"Ada apa? dia siapa?" menoleh mengikuti arah pandang Raya.


"I...itu, o...orang yang menabrakku barusan." Raya terbata-bata dan menelan kasar ludahnya.


Rey mengernyit memandangi Raya.


"Dia mirip Dirga. Tatapannya itu, tatapan tajam dan mesum itu mirip seperti tatapan mata Dirga."


"Astaga, aku kira kamu kenapa-kenapa sayang." Rey menghela napas seraya merangkul bahu Raya. "Itu tak mungkin dia. Dirga itu sudah jauh dan dikurung dalam penjagaan yang sangat ketat di dalam rutan."


"Tapi... tapi...." Raya menggaruk asal pelipisnya. Apa ia salah lihat? tapi selama ini ia cukup baik mengingat wajah orang. Terbukti saat pertama kali melihat Mahavir yang langsung diyakininya mirip dengan Dirman.


"Sudah jangan dipikirkan lagi. Ayo." meraih tangan Raya dan menggenggamnya. "Bukannya kita ingin mencari perabot untuk mengisi rumah kita?"


Raya mengangguk dan akhirnya mengabaikan apa yang dilihatnya barusan. Tanpa mereka sadari laki-laki tadi mengamati mereka dari kejauhan.


***


Pukul satu siang pesawat komersil tujuan London itu kini lepas landas meninggalkan bandara Soekarno-Hatta. Dengan menggunakan penerbangan firstclass, Rachel, Lily dan Bryan duduk saling bersebelahan dengan posisi Bryan ditengah-tengah diantara dua wanita cantik itu.


"Dasar bocah..." Umpat Rachel dengan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menoleh memandangi awan tebal yang tampak dari kaca jendela kabin pesawat. Menerawang jauh keluar sana dengan pikiran yang terus-menerus memikirkan keadaan Mahavir.


Langit mulai menggelap, para penumpang pesawat tampak sudah beristirahat pada sofa kabinnya masing-masing yang sudah di ubah posisinya menjadi berbaring, namun Rachel sendiri tampak masih bergeming di posisinya dan masih terpaku memandang ke arah jendela.


"Kak..." Tegur Bryan, mencondongkan tubuhnya mendekat pada Rachel. "Belum tidur?"


"Belum ngantuk...." Jawabnya lirih tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari jendela.


Bryan menghela nafas seraya meraih dan mengenggam tangan kakaknya itu.


"Jangan banyak pikir. Kak Vir pasti baik-baik saja dimanapun dia berada saat ini. Saat ini kak Rachel fokus sama kesehatan dan kandungan kakak dulu."


"Bagaimana kalau aku tak bisa bertemu lagi dengannya?" Tanyanya lirih.


Bryan menggeleng cepat. "Kalian ditakdirkan untuk bersama. Cepat atau lambat kalian akan bersama kembali. Don't ever give up. Ini hanya salah satu ujian cinta kak Rachel untuk kak Vir. Bertahanlah kak. Ingat kalau perjuangan kak Mahavir dulu jauh lebih berat dari apa yang kak Rachel rasakan saat ini."


Rachel tertegun sejenak, hingga kemudian mengangguk membenarkan ucapan adiknya itu. Segera Rachel menyeka sudut matanya yang sudah hampir menitikkan kristal bening yang sudah ditahannya sekuat hati, dan kembali memantapkan hati untuk bisa lebih tegar lagi.


"Sekarang kakak istirahat yah..." Bryan segera mengatur posisi sofa kabin Rachel menjadi tempat tidur lalu menyelimuti kakaknya itu. Rachel pun akhirnya mencoba mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


Kurang lebih enam belas jam lamanya pesawat yang mereka tumpangi mengudara di langit luas sampai akhirnya landing dengan selamat pada pukul lima subuh waktu setempat.


Kota London masih diselimuti salju putih saat Rachel bersama Lily dan Bryan tiba di bandara Heathrow. Langit masih sangat gelap dan udara dingin begitu menusuk hingga ke sendi.


Dari bandara Heathrow, mereka langsung menuju penthouse mewah milik Mahavir dengan mengendarai taksi hitam khas daerah disana. Sebenarnya Bryan dan Lily sudah berkali-kali membujuk Rachel untuk pulang ke rumah Granny saja, tapi Rachel bersikeras untuk kembali ke rumah suaminya itu.


Rachel tersenyum getir begitu menginjakkan kakinya kembali ke dalam penthouse yang setiap sudutnya menyimpan banyak kenangan antara dirinya dan Mahavir.


Di matanya kini ia melihat bayangan Mahavir menjemputnya. Saat melewati pantry, ingatan Mahavir sedang memeluknya dari belakang saat memasak kembali terlintas. Pun begitu melewati ruang-ruang lainnya. Bak roll film yang memutar ulang semua hal yang terjadi antara dirinya dengan laki-laki romantis itu.


Airmatanya yang sudah ditahan-tahannya akhirnya tumpah ruah saat ia sudah masuk ke dalam kamar tidurnya. Sama sekali tak ada yang berubah disana. Bahkan surat yang sengaja ditinggalkannya untuk Mahavir di atas ranjangnya terakhir kali masih ada disana dan tak terjamah sedikitpun.


Kedua lutut Rachel melemas dan akhirnya luruh terduduk dilantai disamping ranjangnya. Menjatuhkan kepalanya ke tepian ranjang dan menangis sejadi-jadinya disana.

__ADS_1


Vir... Aku sudah kembali....


Aku sudah kembali ke rumah kita...


Aku berjanji tak akan pergi lagi...


Kini giliranmu Vir...


Pulanglah...


Pulanglah ke rumah kita....


Aku akan bersabar menunggumu disini...


***


Mahavir mengerjap-ngerjapkan matanya sesaat, merasakan cahaya yang berpendar menyilaukan matanya. Hidungnya yang sudah terbebas dari alat bantu pernapasan bisa menghirup aroma kuat karbol desinfektan lisol yang cukup menyengat menyeruak ke indera penciumannya.


Matanya memicing sesaat, sampai akhirnya terbuka perlahan dan langsung diedarkannya pandangannya mengamati keadaan sekitar dengan susah payah dikarenakan di lehernya yang masih terbebat alat Cervival Collar yang berfungi menopang tulang lehernya.


Netranya menangkap tampilan ruangan bersih serba putih yang sangat luas tanpa adanya gerombolan alat-alat medis serta bunyi nyaring yang sayup-sayup didengarnya sebelum-sebelumnya. Di sudut kanan ruangan itu terdapat satu set sofa tamu di mana seorang wanita cantik terduduk sambil membuka-buka halaman majalah Mode dimana wajahnya sendiri yang menjadi profil sampul majalah tersebut.


Mahavir memejamkan kembali matanya, berusaha mengumpulkan seluruh kepingan ingatannya. Sampai saat sosok wajah cantik berlumur darah yang terakhir kali netranya itu rekam terlintas dalam ingatannya, membuat matanya terbuka dengan lebarnya.


"Rachel...." Panggilnya, namun suaranya tercekat di kerongkongannya yang sangat terasa kering.


Diangkatnya tubuhnya dengan paksa walau kepalanya berdenyut sakit dengan pandangan berputar.


"Rachel...." Panggilnya lagi, mengira wanita yang tengah duduk itu adalah wanita yang dicarinya.


"Ra.....chel......" Panggilnya sekali lagi sembari membuka paksa alat penyangga lehernya dan langsung melemparnya begitu saja ke lantai.


Wanita yang terduduk manis itu sontak mengangkat wajahnya karena terkejut. "Astaga, Vir..." Teriaknya seraya melempar majalah di tangannya itu ke sembarang arah, refleks bangkit berdiri dan langsung berlari menghampiri Mahavir di brankar-nya.


"Jangan bangun dulu, kamu baru sadar." Hanna mendorong tubuh liat yang masih pucat itu untuk kembali berbaring.


Mahavir memandangi wajah wanita itu lekat-lekat dengan pandangan yang masih mengabur, mencoba menyamakan wajah wanita yang ada dalam ingatannya. "Rachel?"


"Aku Hannah, Hannah Barbara your bestfriend..."


Mahavir sontak mencengkram bahu Hannah dan menatapnya tajam. "Mana Rachel? Mana dia? Dia baik-baik saja kan? Dimana dia sekarang? Aku ingin melihatnya. Aku ingin bertemu dengannya." Cecarnya dengan mendorong kasar tubuh Hannah menjauh darinya, menarik paksa infus yang terpasang di punggung tangannya. Kemudian berusaha turun dari brankar-nya dan mengabaikan segala rasa sakit pada tulang punggungnya.


Kembali Hannah menahannya, memaksa lelaki itu untuk kembali berbaring sambil berteriak meminta bantuan pada orang-orang yang berjaga didepan pintu.


Mahavir tetap memberontak, kembali mendorong Hannah dengan sekuat tenaga. Membuat wanita bertubuh proporsional itu tersungkur ke lantai. Dengan cepat Mahavir menurunkan satu kakinya, namun satu kakinya lagi yang tergips terasa berat dan tak bisa digerakkannya sama sekali. Tapi walaupun begitu, laki-laki itu masih memaksakan diri menyeret tubuhnya untuk bangkit berdiri.


'BRAKK....'


Kakinya yang tak kuat menopang tubuhnya membuatnya terhempas dengan keras ke lantai.


Beberapa laki-laki berjas hitam berlarian masuk ke ruangan itu dan berusaha membantunya. Tapi Mahavir semakin memberontak dengan sisa-sisa tenaganya.


"Vir... Kumohon tenanglah dulu." Hannah kembali mendekat berusaha membantu laki-laki itu. Namun lagi-lagi didorong oleh Mahavir.


"DIMANA DIA? KATAKAN DIMANA DIA? DIA BAIK-BAIK SAJA KAN?" teriaknya.


Hannah terdiam, menutup mulutnya dengan punggung tangannya sambil terisak pilu memandangi sahabatnya itu.


"KATAKAN DIMANA DIA?" mahavir kembali berteriak menuntut jawaban dari orang-orang yang mengelilinginya, namun tak ada seorang pun yang memberikan jawaban.


Hannah bangkit berdiri, menekan cepat tombol nurse call kemudian memberi isyarat mata pada para laki-laki berpakaian rapi itu. Mereka mengangguk patuh dan langsung mengangkat paksa Mahavir kembali berbaring di brankar-nya sambil terus menahan tangan dan kaki Mahavir yang masih berusaha keras untuk bangun.


Seorang dokter serta dua perawat yang juga berlari masuk keruangan itu, terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya.


"GIVE A SEDATIVE!!" Teriak dokter itu pada perawatnya untuk segera menyiapkan suntikan penenang. Perawat itu segera berlari keluar dan kembali sambil membawa suntikan berisi cairan Benzodiazepine.


"LET ME GO!!!! PLEASE, LET ME GO!" teriak Mahavir memelas, berusaha melepaskan pegangan orang-orang yang menahannya.


"PLEASE....i want to see...." Ucapan Mahavir terhenti seiring kekuatannya yang ikut melemah begitu obat penenang itu bekerja ditubuhnya.


Setetes airmata terjatuh dari kedua sudut matanya sembari memanggil nama 'Rachel' sebelum akhirnya matanya terpejam dan kesadarannya menghilang.

__ADS_1


*****


__ADS_2