
"Ian... Ngapain?"
Bryan yang sedang serius mengetik di MacBook-nya refleks berbalik, memandangi wanita peranakan Arab itu sesaat lalu mengulas senyum tipis. "Eh, Aya...."
"Kerja tugas lagi?" Tanya Raya pada Bryan yang terduduk sendiri di pinggir kolam renang rumahnya sesaat setelah makan malam dengan tumpukan buku-buku di sekitarnya.
Bryan kembali mengulas senyum dan mengangguk. "Yang lain mana?"
"Tuh lagi asyik main monopoli sama Risya." Raya menunjuk dengan sorot matanya ke arah ruang keluarga yang berjarak beberapa meter dari jarak mereka sekarang, sembari mendudukkan tubuhnya pada kursi rotan di sisi Bryan.
Bryan mengikuti arah pandang Raya lalu beralih memandangi Raya dengan begitu lekat. Keduanya beradu pandang selama beberapa detik hingga akhirnya Bryan memutus tatapan itu saat bayangan Raya dan Rey yang tak sengaja berciuman di kamarnya kembali terlintas di ingatannya. Dengan cepat Bryan mengalihkan kembali pandangannya pada layar Macbook di depannya. Berusaha fokus pada apa yang dikerjakannya.
Namun Bryan tak bisa fokus sama sekali dan akhirnya tanpa sadar menghela nafas panjang.
Raya mengernyit lalu turun di sisi Bryan yang duduk di lantai beralaskan karpet dengan sebuah meja kecil dan MacBook yang menyala di atasnya.
"Tugasnya susah yah?" Tegurnya, mengira kalau Bryan kesusahan dalam mengerjakan tugasnya.
Bryan menyunggingkan senyumnya, menggeleng pelan lalu menoleh dan memandangi Raya yang kini hanya berjarak beberapa centi darinya.
Raya yang tidak memperhatikan Bryan terus saja memajukan wajahnya mendekat pada layar MacBook Bryan, penasaran dengan apa yang kekasih mudanya itu kerjakan.
"Bukannya tadi Rey sudah menjelaskannya yah? Apa masih ada yang belum jelas?" Tanyanya dengan mengamati layar MacBook Bryan.
"Aya...."
"Hmm?" Refleks Raya berbalik, wajahnya dan wajah Bryan kini begitu dekat. Hingga keduanya bisa saling merasakan terpaan hembusan nafas di permukaan kulit mereka masing-masing.
Kembali Bryan memandangi Raya, mengunci pandangan wanita itu dengan menatap kedua bola matanya dengan begitu dalam. Mencari arti dirinya pada wanita yang seumuran dengan kakaknya itu.
Sejujurnya Bryan begitu memuja wanita itu. Bahkan sejak ia masih sangat begitu muda. Keramahan dan senyuman lembut wanita itu kala pertama kali memberinya permen dulu, masih terekam jelas di ingatannya.
Bisa dikatakan kalau wanita itu adalah cinta monyetnya. Cinta masa kecilnya.
Saat kembali berjumpa dengannya setelah sekian lama, perasaan itu kembali muncul. Apalagi mendengar candaan Raya waktu di kafe saat itu,
"Bryan mau jadi pacar kakak tidak?"
Satu lontaran pertanyaan candaan dari wanita itu yang malah membuat jiwa kelaki-lakiannya bangkit. Membuat Bryan tak ingin membuang kesempatan yang ada. Memberanikan diri mendekatinya hingga akhirnya berhasil menjadikannya kekasih hatinya.
Namun Bryan sadar. Sebenarnya bukan dirinya yang ada di dalam hati wanita itu. Ada seseorang yang menempati ruang hatinya yang terdalam. Dan wanita di depannya itu masih belum mau mengakuinya.
Haruskah Bryan turun tangan untuk membantunya menyadari perasaannya sendiri? Walau akhirnya mungkin akan sedikit menyakiti hatinya?
Bryan menurunkan pandangannya pada bibir merekah Raya, bibir yang pernah di kecupnya beberapa bulan yang lalu. Lalu perlahan memajukan wajahnya hendak menggapai bibir itu. Mencoba mencari jawaban di sana.
Sesuai prediksinya. Dengan cepat Raya menarik wajahnya dan memalingkan pandangannya. Menghindari sentuhan bibir darinya. Menolak ciuman darinya.
Bryan menyunggingkan senyumnya lalu kembali di posisinya. "Kenapa menghindar?"
Raya tersenyum canggung, matanya bergerak-gerak mencari alasan.
"Ah, ehm...tidak enak nanti di lihat daddy dan mommy-mu." Jawabnya asal.
"Waktu di bandara dulu, Aya tak malu menciumku. Bahkan banyak orang yang melihat kita saat itu."
"Hah?" Raya mengernyit. Kembali matanya berputar-putar mencari alasan.
"Aku mengerti...." Ucap Bryan dengan seulas senyum di bibirnya. "Tak usah dijelaskan. Aku mengerti." Ucapnya lagi menyadari wajah tak enak dari Raya.
Raya hanya mengangguk dan menyengir canggung. Sungguh dirinya seperti seorang bocah bila berdekatan dengan Bryan. Sosok pemuda tampan dengan aura dingin dan cuek yang kadang membuatnya salah tingkah. Tapi apakah ia mencintainya? Entahlah, ia juga belum bisa menafsirkan perasaannya pada pemuda itu.
"Tadi Aya bertanya kan, apa masih ada yang belum jelas padahal kak Rey sudah menjelaskannya padaku?" tanya Bryan, mengalihkan topik pembicaraan.
"Hm?" Raya mengangkat kedua alisnya lalu mengangguk. "Iya, apa dia tak menjelaskan semuanya?"
Bryan menggeleng lalu kembali memandangi keseluruhan wajah Raya. Ingin melihat reaksi wanita itu setelah apa yang akan dikatakannya saat ini.
__ADS_1
"Kak Rey tidak menjelaskan apa-apa tadi."
"Lalu tadi kalian....?"
"Kak Rey hanya beralasan. Sebenarnya dia ingin mencari tahu semua hal tentang kak Lily." Ujar Bryan berdusta.
Kedua alis Raya kembali terangkat. "Lily? Kenapa dengannya?" Tanyanya yang belum menangkap arah pembicaraan Bryan.
"Sepertinya kak Rey tertarik pada kak Lily. Rencana besok kak Rey akan menembak kak Lily saat mengantar kak Rachel mengunjungi makam ibunya kak Vir besok."
"Hah?" Raya terkejut sesaat lalu dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya. "Oh...."
"Katanya, kalau kak Lily menerima dirinya, kak Rey akan langsung melamar kak Lily dan menikahinya."
"Hah?" Kembali Raya terpekik dengan wajah yang terlihat begitu terkejut. Bahkan terkesan syok. "Se... Serius?"
"Iya, kak Rey sendiri yang mengatakannya tadi saat di kamarku." Dustanya.
Raya tertegun. Diam mematung di posisinya. Pikirannya berlarian entah kemana. Dan ekspresi nya itu terlihat jelas oleh Bryan. Membuat Bryan semakin yakin akan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Aya...." Panggilnya namun Raya masih diam tertegun.
"Aya..." Panggilnya sekali lagi.
"Hah?" Raya menoleh dan tersenyum kikuk. "Oh, sorry Ian. Ada apa? Tadi kurang jelas."
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Oh..."
"Aya...?"
"Hm, yah?"
Bryan meraih tangan Raya. Menggenggam dan sedikit meremasnya dengan pelan. "Jangan bohongi kata hati. Bila suka bilang suka. Bila sayang bilang sayang. Bila cinta katakan cinta. Jangan gengsi dengan perasaan sendiri. Penyesalan itu selalu datang belakangan. Jangan sampai Aya baru menyadarinya saat orang itu sudah dimiliki oleh orang lain." Ucapnya sembari menatap kedua manik mata Raya lekat-lekat
Raya tertegun sejenak, tapi dengan cepat menguasai perasannya. "Apa sih? Siapa yang suka siapa?" Keliknya.
Raya melepaskan tangannya dari genggaman Bryan, lalu menepuk lengan pemuda itu. "Kamu ini bicara apa sih? Di hatiku? Yah pasti kamulah."
"Yakin?" Bryan semakin menatap Raya dengan begitu dalam. Raut wajahnya begitu serius hingga terlihat begitu dewasa. Bahkan tak nampak kalau umurnya masih 18 tahun.
Raya sedikit gelagapan menerima tatapan mata yang terkesan dingin itu.
"Apa sih? Mungkin otakmu panas akibat terlalu banyak belajar. Sudah. Ayo, kita gabung bersama mereka." Ajaknya sembari bangkit berdiri dari sisi Bryan. Berusaha bersikap normal seperti biasanya.
Bryan menggulum senyumnya. Mematikan MacBook-nya dan menutupnya, lalu ikut bangkit berdiri. Mengikuti langkah Raya untuk bergabung dengan yang lainnya di ruang keluarga.
***
Hari begitu cerah. Awan biru menggantung menghiasi cakrawala. Rey terduduk di balik kemudi. Melajukan kendaraan dengan begitu gagahnya menembus jalan-jalan berliku melewati beberapa bukit dengan pemandangan persawahan yang tersusun dengan rapinya.
Di sampingnya terduduk Lily yang sedari tadi asyik mengagumi keindahan pemandangan yang tersaji di sepanjang jalan yang mereka lewati. Sementara di kursi penumpang belakang, terduduk Raya dan Rachel.
Yah, Raya memutuskan untuk ikut bersama mereka karena semalaman tak bisa tidur memikirkan perkataan Bryan. Pikirannya dipenuhi bayangan bagaimana Rey melamar Lily. Sekuat apapun Raya mengabaikan perasaannya tapi hatinya semakin terusik. Tak ikhlas dan tak rela bila Rey di miliki oleh wanita lain.
Tapi wajar saja bukan kalau Rey memilih wanita lain? Toh dia dan Rey tak ada hubungan apapun. Apalagi selama ini ia juga mati-matian menjauh dari laki-laki itu. Tapi kenapa kini ia malah merasa takut kehilangan?
Seperti saat ini, Raya tak henti-hentinya mengamati interaksi antara Rey dan Lily di depannya. Dengan ramahnya Rey menjelaskan daerah yang mereka lewati pada perempuan blasteran disampingnya itu. Keduanya terlihat begitu akrab, terlihat begitu dekat.
Cemburu? Apakah saat ini ia cemburu?
Dengan cepat Raya menggelengkan kepalanya, menghalau pemikirannya. Memilih membuang muka pada kaca jendela disampingnya. Memandangi persawahan yang terhampar luas di luar sana. Tapi otak dan hatinya tak saling sinkron. Berkali-kali pun pikirannya mengelak, tapi hatinya selalu berhasil membimbing organ tubuhnya untuk kembali memperhatikan laki-laki di depannya itu.
Oke, Raya akui kalau saat ini ia sedikit cemburu. Apalagi saat tadi Rachel singgah membeli bunga untuk Ibu Mahavir, Raya melihat Rey juga membeli setangkai bunga mawar. Pastinya bunga itu untuk diberikannya pada Lily nanti, bukan?
Raya menghela nafas panjang. Menyandarkan punggungnya ke jok mobil dan memilih memejamkan matanya. Hatinya tak kuat melihat keakraban antara Rey dan Lily yang sepanjang jalan terus mengobrol tanpa henti.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Raya, Rachel yang terduduk di sebelahnya kini tersenyum. Diam-diam mengedipkan matanya pada Rey dan Lily yang melihatnya dari pantulan cermin depan. Seakan memberi isyarat pada keduanya.
Beberapa jam perjalanan yang cukup melelahkan itu akhirnya berakhir di depan tanah lapang yang sangat luas dengan banyaknya gundukan-gundukan di dalamnya.
Rachel bergegas melangkah menuju salah satu gundukan yang berada sedikit jauh di atas bukit kecil di depan sana. Kali ini ia sudah memakai sepatu datar yang memudahkannya untuk berjalan. Di tangannya memegang satu buket bunga anyelir persis seperti yang Mahavir pilih waktu itu, dimana saat itu dia malah lebih memilih mawar putih.
Senyum Rachel terkembang bersama setetes bulir bening yang terjatuh di sudut matanya, kala mengingat kejadian saat ia dan Mahavir melewati jalan dimana kini ia melangkah.
Mengingat bagaimana kasarnya ia melempari Mahavir dengan sepatu heels-nya saat itu. Bahkan teriakan kesakitan Mahavir dan wajah kesalnya saat itu masih terekam sempurna dalam ingatannya.
Rachel terhenti sejenak. Menunduk melihat jalan setapak di depannya. Dimana saat itu Mahavir berjongkok memakaikan sepatunya pada kakinya disana. Airmatanya kembali menitik dengan senyum yang terulas di bibirnya. Dengan cepat Rachel mengusap sudut matanya.
Kembali Rachel melangkahkan kakinya kedepan satu persatu. Melewati jalan bebatuan dimana Mahavir menuntunnya berjalan dengan menggunakan sepatunya yang kebesaran. Dimana Mahavir saat itu begitu kerepotan dengan barang-barangnya. Slingbag-nya yang tergantung pada leher Mahavir, tangan besarnya yang menenteng heels serta buket bunga, serta satu tangannya lagi memegang erat tangannya.
Rachel memutar ulang semua memory saat berada di tempat itu bersama Mahavir. Mengingat bagaimana wajah kesalnya dengan kening yang saling tertaut dan dahi yang berlipat-lipat namun masih mengkhawatirkan dirinya dengan terus berucap, 'Hati-hati jalannya, nanti jatuh. Jalanannya licin.'
Mengingat itu membuat Rachel tak bisa lagi menahan tangisnya. Seketika isak tangisnya pecah. Rachel menjatuhkan tubuhnya berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di antara lututnya.
Vir....
Aku merindukanmu...
Aku merindukanmu... Vir...
Rachel terus menyerukan nama Mahavir. Menangis sejadi-jadinya di sana.
Lily, Raya dan Rey yang berjalan sedikit jauh di belakangnya bergegas menghampirinya. Raya ikut berjongkok di sisi kirinya dan Lily di sisi kanannya, sementara Rey berdiri tepat di belakang punggung Rachel. Sedikit menepuk-nepuk pelan punggung Rachel untuk menenangkannya.
"Chel....."
Airmata Raya ikut menitik melihat kesedihan sahabatnya itu, begitupun dengan Lily.
"Chel...." Panggilnya lagi.
Menyadari dua wanita di sisi kanan kirinya ikut bersedih melihatnya, Rachel dengan cepat mengusap kedua pipinya yang basah lalu mengangkat kepalanya. Mengulas senyum getirnya lalu bangkit berdiri dengan dibantu Raya dan Lily yang memegangi kedua lengannya.
"I'm fine... I'm good. Thank's...." Lirihnya, memperbaiki suasana hatinya dan kembali tersenyum.
Raya pun melepaskan pegangannya pada Rachel dan mengusap sudut matanya.
"Rachel... Kita sama-sama merindukannya. Jangan bersedih seorang diri." Ucap Rey di belakang Rachel dengan menahan tangisnya. Sejujurnya Rey juga merindukan sahabatnya itu. Mengkhawatirkan keadaannya dan berharap kesembuhannya.
Rachel berbalik, tersenyum getir pada Rey. Senyum dengan banyak kepedihan di dalamnya. Membuat Rey langsung menarik wanita rapuh itu kedalam dekapannya. Membawa kepala Rachel menumpu di pundaknya. Memberikan wanita itu bahu kokohnya untuk sekedar bersandar meluapkan kesedihannya.
Kembali isak tangis Rachel pecah di sana. Menggumankan nama Mahavir dan menyerukan kerinduannya. Dua wanita lainnya ikut mendekap Rachel dari sisi sampingnya hingga membuat Rey seakan tenggelam dengan tiga orang wanita.
Menyadari hal itu, dengan cepat Rey berdehem dan tersenyum canggung. Mimpi apa semalam hingga ia bisa memeluk dan dipeluk oleh tiga bidadari yang begitu cantik? Apa ini mimpi? Ah membayangkan hal ini saja tak pernah ia lakukan sepanjang hidupnya.
"Hei, kalau ada yang melihat kita pasti akan mengira aku laki-laki yang sudah menyakiti hati tiga orang wanita." Candanya seraya melepaskan pelukannya. "Padahal satu pun aku tak punya." Lanjutnya dengan melirik Raya sekilas.
Lily sontak tertawa mengikuti arah pandang Rey dan merangkul gemas lengan lelaki itu. Raya yang melihat itu langsung mengalihkan pandangannya.
Rachel pun ikut terkekeh pelan dan memukul gemas lengan Rey. Lengan kokoh sahabat dari suaminya. Yang saat ini juga ia tahu alasan mengapa Mahavir bisa begitu akrab dengan laki-laki yang tadinya tak begitu dianggapnya. Laki-laki yang ternyata memiliki empati yang begitu besar.
Rachel menoleh ke arah Raya dengan mengulum senyumnya. Dasar gengsian!! Sangat bodoh bila kamu menyia-nyiakan laki-laki ini Ra...' guman batinnya.
Raya menaikkan kedua alisnya, seakan menanyakan maksud dari tatapan sahabatnya. Tapi Rachel hanya menggeleng, tersenyum dan mengalihkan pandangannya.
"Sekarang aku baik-baik saja. Biar aku sendiri yang kesana." Ucapnya lalu kembali melangkah menuju pusara Ibu Mahavir.
Lily, Raya dan Rey yang berdiri diantaranya hanya terdiam memandangi punggung Rachel yang berjalan semakin jauh ke depan, berjalan menaiki bukit kecil menuju satu pusara yang berada di atas bukit itu.
***
Maaf yah kalau akhir-akhir ini sering telat Up-nya ๐ soal nya otor juga punya novel di lapak lain yang sedang berjalan. jadi Up-nya selang seling sama yang di sana๐
Dan Terima kasih pada readers ku yang masih setia disini๐ค๐ peluk cium untuk kalian...
__ADS_1
otor sayang kalian... jangan ngambek yah kalau kelamaan...
๐ฅฐ๐ค๐