Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 50.Berbohong tuk terakhir kalinya...


__ADS_3

Sebelum baca, please tekan tanda like 👍


Kalau bisa tinggalkan komen dan Vote kalian yah... 🙏🤗


Happy Reading All... 🥰


* * * *


Setelah keluar dari kantor Rachel, mereka pun melanjutkan perjalanannya. Senyum Rachel yang berseri-seri membuat Mahavir kembali mengingat obrolannya bersama Granny siang tadi.


Dan kini Mahavir terduduk lemas dibalik kemudi, permintaan Granny masih terngiang-ngiang di telinganya. Saat ini dia betul-betul terperangkap dengan kebohongannya sendiri. Harusnya saat ini dia sudah bisa jujur kepada Rachel tentang siapa dirinya, mengingat Rachel sudah mau membuka diri untuknya. Apalagi kemarin wanita itu sudah mengucapkan kata cinta untuknya. Tapi permintaan dan perkataan Granny membuka matanya, membuatnya harus membuang pikiran itu jauh-jauh.


Apa bisa aku selamanya berbohong padanya?


Apa ini adalah jalan yang terbaik?


Batin Mahavir terus berkecamuk. Berkali-kali ia menghela nafas panjang untuk mengeluarkan rasa sesak di dadanya. Pikiran yang jauh membawa nya berkelana membuatnya tidak menyadari bahwa Rachel yang berada di sampingnya terus mengamati perubahan raut wajahnya.


"Virr...." Panggil Rachel setelah dua puluh menit lamanya Mahavir hanya terdiam. Netranya hanya fokus kedepan mengamati jalan.


"Hmm?" Berguman pelan tanpa menoleh, kedua tangannya sibuk memegangi stir mobil dan menggerak-gerakkannya.


"Memikirkan apa?" tanyanya sambil memain-mainkan anak rambut Mahavir.


"Apa?" Menoleh dan mengangkat kedua alisnya.


"Aku tanya, kamu lagi memikirkan apa? Sepertinya sejak kita pulang dari rumah Granny siang tadi kamu lebih banyak diam. Bicara apa saja dengan Granny tadi? Apa ada perkataan Granny yang menyinggungmu?"


Sejenak terdiam, lalu mengusap tengkuknya. "Tak ada, Granny cuma menyuruhku untuk menjaga dan membahagiakanmu."


"Lalu?"


Mahavir kembali menoleh, meraih tangan Rachel dan mengecup punggung tangannya. "Aku cuma memikirkan bagaimana cara membuatmu bahagia."


Rachel tersenyum sembari menepuk pundak Mahavir dengan lembut. "Tak usah berfikir jauh-jauh. Kamu cukup seperti sekarang ini, jangan pernah berubah. Maka aku akan bahagia."


"Aku janji tidak akan pernah berubah, jika suatu hari kamu merasa aku berubah tampar aku sekeras-kerasnya, ingatkan aku bahwa aku yang mengejar-ngejarmu." ujarnya sambil menepuk-nepukkan telapak tangan Rachel di pipinya.


"Harus sampai seperti itu?"


Mahavir mengangguk-angguk. "Terus bagaimana kalau suatu hari kamu yang berubah? atau membenciku? Aku harus bagaimana?"


"Jangan tinggalkan aku. Tetaplah bersamaku, tetaplah disisiku, kamu harus bisa membuatku kembali mencintaimu."


"Baiklah, Aku akan ingat kata-katamu ini." Kembali mengecup-ngecup punggung tangan Rachel. membuat Rachel menjadi geli dan menarik paksa tangannya.


"Jadi sekarang kita mau kemana?"


"Aku akan membawamu ke suatu tempat." Melajukan kendaraannya sedikit lebih cepat kemudian berhenti dan memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Dengan cepat Mahavir turun dan berlari kecil memutari mobil lalu membukakan pintu untuk Rachel.


"Memangnya kita mau kemana?"


"Kita jalan-jalan dulu."


"Jalan? Terus kakimu? Bagaimana kalau kram lagi? Bryan nginap di rumah Granny, aku gak bisa bantu kalau kamu tiba-tiba kesakitan lagi. Kalau tiba-tiba kamu sakit la..... " Ucapan Rachel terhenti karena Mahavir tiba-tiba mengecup bibirnya.


"Bicara lagi, aku cium lagi..." Ancam Mahavir.


Bola mata Rachel melebar, diusapnya bibirnya menggunakan punggung tangannya dan melirik kesal. "Kita lagi di jalan, malu dilihat orang..."


"Lupa kalau kita lagi di London? Ini bukan Indonesia, disini orang-orang sudah biasa dengan kecupan seperti itu. Itu yang sana bahkan lebih parah." Menunjuk pada sepasang pemuda pemudi yang sedang berciuman mesra di sebuah kafe pinggir jalan.


"Ck.. Ck.. Ck.." Rachel menggeleng-geleng melihat pasangan itu.


"Kenapa? Iri yah?...." Terkekeh menggoda Rachel lalu merangkul pinggulnya.


"Aku? Iri dengan yang seperti itu? Jangan harap." Melepas rangkulan tangan Mahavir dari pinggulnya dengan kasar dan berjalan cepat ke depan.


Mahavir kembali terkekeh. "Aku akan memberikan ciuman sebanyak yang kamu mau, jadi jangan iri."


Rachel mendelik kesal. "Ihh, siapa juga yang iri." Ketusnya dengan semakin mempercepat langkahnya.

__ADS_1


Kembali Mahavir tertawa kecil, rasanya sangat puas bila dapat menggoda istrinya itu. Masih dengan tertawa Mahavir menyusul Rachel yang sudah beberapa langkah didepan, ditariknya tangan Rachel lalu menggenggamnya dan memasukkannya kedalam saku longcoat-nya bersama dengan tangannya.


Mereka pun berjalan beriringan di bawah pohon-pohon yang tampak menghias di sepanjang jalan yang mereka lewati. Melewati beberapa orang yang terlihat hilir mudik. Pada awal musim gugur ini kebanyakan warga London menggunakan sebagian waktunya untuk menikmati kehangatan matahari yang masih tersisa. Beberapa sudut-sudut bahkan taman kota selalu penuh saat sore hari dikarenakan banyaknya yang ingin menikmati musim gugur yang romantis.


Mahavir mengeratkan genggamannya di dalam saku longcoatnya dengan pandangan fokus ke wajah Rachel.


"Kamu mau tahu bagaimana aku pertama kali melihatmu di London ini?"


Rachel mengangguk-angguk, manik matanya terlihat berbinar-binar dengan senyum yang terpatri di bibirnya. Sudah lama dia penasaran dengan hal ini.


Mahavir tersenyum lembut. Bila memang dia harus menutup jati dirinya selamanya, berarti dia harus meyakinkan Rachel dengan awal mulai ia melihatnya dan jatuh hati padanya di kota London ini.


Kembali Mahavir menghela nafas, berharap kebohongannya kali ini adalah yang terakhir kalinya.



"Saat itu tanpa sengaja aku melihatmu di sana." Menunjuk pada sebuah bangunan berwarna pink di sudut jalan, bangunan yang terlihat paling menonjol dibandingkan gedung-gedung di sekitarnya.


Rachel memicingkan matanya, ia mengenali tempat itu, beberapa kali dulu dia pernah kesana. "Lalu?"


Mahavir memandangi Rachel sekilas. Walaupun berat berbohong, akhirnya mulutnya kembali berucap.


"Saat melihatmu duduk menikmati cake disana, pandangan ku tak bisa berpaling. Aku langsung jatuh hati padamu. Tanpa sadar aku mengambil beberapa potretmu. Kemudian suatu hari daddy mu datang mengunjungi ayahku, daddy mu banyak bercerita tentangmu dan berniat menjodohkan aku denganmu. Setelah itu aku penasaran dan mencoba mencari tahu semua tentangmu, dan ternyata gadis manis yang kulihat di toko cake itu adalah orang yang mau dijodohkan denganku." Menjeda sejenak dengan menghela nafas kemudian melanjutkan ucapannya. "Tapi kamu terlalu susah untuk digapai, aku hanya bisa diam-diam mengamatimu. Hingga saat kamu tiba-tiba muncul ke Hotel Alister dan terlibat dengan insiden penipuan itu, menjadikan satu-satunya kesempatan buatku mendekatimu dan menikahimu." Terang Mahavir sedikit berbohong.


Yah, ceritanya sebagian besar bukanlah kebohongan. Sebab Pak Wijaya memang sudah berniat menjodohkan mereka sejak lama. Hal itu sempat dia dengar saat Pak Wijaya mengucapkannya kepada Ayahnya sewaktu dia masih terbaring dirawat di rumah sakit. Dan memang benar juga setelah sadar dari komanya dulu, untuk pertama kalinya Mahavir melihat Rachel lagi di toko cake itu secara kebetulan. Saat itu dia masih berpenampilan sebagai Dirman dan sedang duduk menunggu Stuart di cafe yang berada di seberang toko cake itu.


Rachel sedikit terperangah mendengar cerita Mahavir. "Jadi sudah selama itu?"


Sebenarnya jauh lebih lama lagi sayang.....


Guman batin Mahavir.


"Iya, sudah selama itu." Menyunggingkan senyum hangatnya pada Rachel kemudian kembali berucap. "Setelah itu aku berusaha dekat dengan keluargamu, daddy, mommy, Granny dan Bryan. Dan ternyata Bryan anaknya sangat menyenangkan, kami bisa cepat akrab layaknya saudara."


Mendengar penuturan Mahavir membuat Rachel sedikit terharu, hatinya tiba-tiba terasa hangat. Ingin rasanya langsung menghamburkan dirinya kedalam pelukan suaminya itu.


Setelah langkah mereka sampai di depan bangunan berwarna pink itu, Mahavir menarik Rachel memasukinya dan menempati sebuah meja yang masih kosong.



Tak lama kemudian seorang pelayan berpakaian serba pink datang membawa cupcake tray holder berisi beberapa cupcake yang ditunjuk Mahavir tadi.


"Makanlah, ini kesukaanmu kan?"


Melihat jenis cupcake yang dipilihkan oleh Mahavir lagi-lagi membuat Rachel kembali terperangah, dia teringat dengan masa-masa saat kuliah dulu. Saat itu beberapa kali dia mendapat kiriman cupcake yang persis sama dengan yang ada di hadapannya saat ini. Setiap menerima kiriman itu orang yang mengantar hanya berkata bahwa ada seorang pengagum rahasia yang menitipkannya dan meminta untuk diberikan padanya. Rachel sempat mencari tahu bersama salah seorang teman kuliahnya dulu, tapi hasilnya nihil. Tak ada jejak sama sekali dari orang itu. Selama ini Rachel juga penasaran akan sosok pengagum rahasia itu? Mungkinkah orang itu adalah Mahavir? Kalau benar dia, maka terjawablah sudah semua rasa penasarannya.


".... Chel.. Rachel..."


Panggilan Mahavir menyadarkan Rachel dari lamunannya. Dengan cepat Rachel menyadarkan dirinya. "Vir, aku boleh tanya sesuatu?"


"Tanya saja sayang..., kenapa harus minta izin?"


"Apa kamu yang dulu menjadi pengagum rahasia ku?" Tanya Rachel ragu-ragu sambil sedikit menggigit bibir bawahnya.


Melihat ekspresi Rachel membuat Mahavir terpesona, wajah malu-malu istrinya itu sungguh membuatnya ingin langsung menariknya kedalam pelukannya. "Menurutmu?"


"Aku bertanya karena ingin memastikannya, jadi jangan bertanya balik padaku." Lagi-lagi Rachel mendelik kesal.


"Sayang, kalau saat ini kita sedang dirumah pasti aku akan langsung menggigitmu."


"Jangan mengalihkan pertanyaanku, jawab saja."


"Yah mungkin bisa jadi itu aku, atau juga orang lain."


"Maksudnya?"


"Pengagum rahasiamu itu banyak, aku hanya salah satu yang beruntung bisa menikahimu."


Rachel mendengus kesal. Perkataan Mahavir tidak salah, karena dulu memang banyak yang mengaku sebagai pengagum rahasianya.


"Sudahlah jangan berfikir macam-macam lagi. Mari kita habiskan cupcake ini lalu kembali berkeliling." Ujar Mahavir menyodorkan cupcake strawberry ke depan mulut Rachel.

__ADS_1


Dengan tersenyum-senyum jahil, Rachel malah menggigit jari Mahavir.


"Aww...." Teriak Mahavir, meringis kesakitan sambil mengibas-ngibaskan jarinya. "Tunggu saja aku akan membalasmu."


"Coba saja, akan ku gigit dengan lebih keras lagi." Ucap Rachel sambil memperlihatkan deretan giginya dan memperagakan gerakan mengigit.


Dengan gemasnya Mahavir mencubit pipi Rachel, membuat pipi putih nan mulus itu memerah. "Bagaimana kalau kita pulang saja, melihatmu seperti ini membuatku ingin memakanmu." Ucap Mahavir dengan kerlingan khasnya.


Dengan cepatnya raut wajah Rachel berubah pias, bulu kuduknya meremang mendengar perkataan Mahavir. Tanpa banyak bicara lagi Rachel mengunyah Cupcake nya sedikit demi sedikit mengikuti pelannya pergerakan jarum jam.


Hari sudah berganti senja. Langit mulai berubah warna menjadi orange bercampur pink dan ungu yang sangat indah. Piringan matahari secara keseluruhan tampak mulai menghilang dari cakrawala.


Dari Toko cake itu mereka pun kembali ke mobil dan meneruskan perjalanan, berkeliling melewati kompleks gedung parlemen Inggris dan menara big ben. Hingga kemudian singgah pada salah satu restoran mewah untuk makan malam.


Dari restoran itu, mereka menuju ke wahana London eye. Di sana Mahavir menyewa satu kapsul yang muat untuk dua puluh orang hanya untuk mereka berdua.


Segera setelah memasuki salah satu kapsul, dengan perlahan mereka pun bergerak naik hingga ke puncak tertinggi. Rachel bahkan tak berkedip memandangi pemandangan dibawah sana. Pantulan cahaya di permukaan sungai membuat London Eye seperti tengah bercermin.


"Sayang, yang sana itu Penthouse kita." Menunjuk ke arah bangunan tinggi dan megah diseberang sungai. "Kalau yang sana Alister Hotel." kembali menunjuk ke bangunan yang tidak jauh dari bangunan Penthouse yang ditunjuknya tadi.


Rachel memicingkan matanya guna melihat lebih jelas. "Semua gedung terlihat dari sini yah..."


"Memangnya kamu belum pernah kesini sebelumnya?" Tanya Mahavir yang melihat Rachel terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya.


"Belum, ini yang pertama kalinya."


"Heran, kamu bertahun-tahun di London cuma mengeram di rumah saja ya?"


Rachel tertawa kecil dengan pertanyaan Mahavir, "Yah tidaklah... Aku tidak punya waktu berkeliaran kemana-mana, lagipula tak pernah ada yang mengajakku. Kamu sendiri?"


"Aku juga baru pertama kali." Mendekat pada Rachel dan membelai rambut panjangnya.


Rachel mencibir, "Cihh...Berarti kita sama saja!"


Mahavir hanya tersenyum, perlahan kedua tangannya melingkar di pinggang Rachel dengan dagunya yang dijatuhkannya pada bahu istrinya itu. "Aku hanya malas, aku lebih suka mengamatimu dari jauh..."


"Mengamatiku? Kurang kerjaan saja..."


"Bagiku kamu lebih indah dibandingkan apa yang ada diluar sana......" Ucap Mahavir, menyibak rambut panjang Rachel lalu menciumi leher jenjangnya. Membuat Rachel bergigik geli merasakan hembusan nafas yang menyapu permukaan kulitnya.


"Sayang, kamu mau Honeymoon tidak?"


"Honeymoon?"


"Iya..., mau tidak?"


Rachel mengangguk pelan. "Kemana?"


"Kamu maunya kemana?"


Sejenak Rachel berfikir mengingat beberapa tempat. "Aku mau ke Praha, Ceko."


"Baiklah kita akan kesana setelah fashion show mu selesai." Memegang bahu Rachel dan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengannya. "Bagaimana?"


Rachel pun mengangguk dan tersenyum, lalu....


CUP'....


Kecupan singkat dari Mahavir mendarat di bibirnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Rona merah kembali menghiasi wajahnya.


Selama beberapa detik mereka saling pandang. Hingga kemudian tangan Mahavir kini terangkat memegangi tengkuknya, mendorong tubuhnya hingga merapat pada dinding kapsul itu kemudian kembali mengecupnya dengan sedikit lebih lama. Mahavir menyesapi permukaan bibirnya secara bergantian hingga dirasakannya lidah Mahavir yang sudah menjelajah ke dalam mulutnya. Dengan suka cita, ia membalas semua perlakuan Mahavir.


Nafas keduanya terengah-engah seiring dengan keadaan kapsul itu yang terlihat berembun. Ibu jari Mahavir bergerak mengusap bibir basah Rachel lalu perlahan kedua tangan Mahavir melingkar kembali ke pinggang Rachel, membuat tubuh Rachel tenggelam ke dalam dekapan Mahavir.


Pukul 23.00, mereka pun kembali ke Penthouse. Rachel yang punya kebiasaan tertidur di mobil akhirnya di gendong oleh Mahavir naik ke unit mereka. Dengan perlahan-lahan Mahavir membaringkan Rachel di atas kasur empuknya. Melepas heels yang selalu menemani istrinya itu kemudian menyelimutinya hingga ke dada.


Setelah membersihkan diri dan mengenakan piyamanya, Mahavir pun ikut berbaring dalam selimut di samping Rachel. Dan Kecupan singkat di kening Rachel menjadi penutup malam itu.


* * *


Terima kasih masih setia disini...

__ADS_1


Peluk cium dari Author 🤗😘


__ADS_2