
Seperti saat kali terakhir ke pemakaman itu, hujan juga kembali terjatuh. Hanya saja tidak sederas seperti waktu itu. Langit memang mendung, menampilkan awan pekat. Namun hujan yang turun hanya berupa gerimis-gerimis kecil.
Dari pemakaman itu, Rachel meminta diantar ke warung kopi. Setelah sebelumnya mereka singgah untuk makan siang pada warung yang sama saat dia dan Mahavir singgah mengisi perut. Dimana dulunya Rachel begitu enggan dan jijik untuk sekedar mencicipi nasi goreng di tempat itu.
Dan saat ini Rachel kembali mengenang saat-saat bersama Mahavir menunggu hujan reda di warung kopi tersebut. Membayangkan laki-laki itu berdiri dengan seulas senyum khasnya di depan sana. Mengingat bagaimana perhatiannya Mahavir waktu itu. Bagaimana khawatirnya laki-laki itu dengan keadaannya saat itu.
Semua kejadian saat itu kembali terulang dalam ingatannya. Seakan rol film yang memutar ulang semua memory tentang laki-laki itu.
Yah, Rachel mengunjungi semua tempat yang pernah dikunjungi bersama suaminya itu untuk sekedar melampiaskan kerinduannya.
Beberapa jam sudah terlewatkan di tempat itu. Semuanya larut dengan pikiran masing-masing sembari menikmati dinginnya udara yang berembus merasuk ke sendi-sendi mereka. Di temani dengan secangkir kopi di atas meja yang menguarkan aroma pekat di depan mereka masing-masing.
Tanpa terasa hari sudah berangsur sore dan langit diluar sana semakin menggelap.
Rey mengangkat wajahnya yang tertunduk, lalu memandangi Rachel yang masih menerawang jauh ke luar sana. Menatap kosong pada tiap tetesan hujan yang terjatuh. Seakan menghitung tiap jejak tetesan yang terkulai ke tanah dengan kedua mata yang tampak berkaca-kaca.
"Habis dari sini kemana lagi, Chel?" Tanya Rey membuyarkan lamunan Rachel, sembari menyeruput kopi hitamnya tepat di hadapan Rachel yang diantarai oleh sebuah meja panjang yang terbuat dari batang pohon. Sementara Lily duduk di samping Rey yang berhadapan dengan Raya yang terduduk di samping Rachel.
Rachel mengedipkan matanya, menyeka sudut matanya lalu mengalihkan pandangannya pada Rey. "Sebenarnya masih ada satu tempat lagi yang ingin aku kunjungi. Tapi sepertinya waktu tidak memungkinkan."
"Memangnya dimana?"
Rachel menghela nafas panjang.
"Hanya sebuah wisma. Tempatku dan Mahavir dulu menginap sewaktu kemari."
"Kalau kamu mau aku akan mengantarmu."
Rachel tersenyum lalu menggeleng pelan. "Tak usah. Tak mungkin juga kita kesana kalau tak mau menginap. Kalian besok juga harus kerjakan?" Tanyanya memandangi Rey dan Raya bergantian.
Kembali Raya dan Rey kompak mengangguk bersamaan.
"Ya sudah kita pulang saja sekarang." Ucap Rachel dengan tersenyum tipis.
"Langsung pulang? Tak kemana-mana lagi?" Tanya Raya dengan raut wajah herannya.
"Memangnya mau kemana lagi, Ra?"
"Bukannya Rey, Lily...." Raya mengedip-ngedipkan matanya. Melirik Rey dan Lily bergantian. Termangu sesaat.
Bukannya kata Bryan, Rey akan melamar Lily? Apa tak jadi yah? Atau malah sudah? Ah, apa aku melewatkan sesuatu?
Otak Raya terus menerka-nerka dengan batin yang terus bermonolog.
"Kenapa, Ra?" Tanya Rachel penasaran.
"Ah?" Raya mengangkat kedua alisnya kemudian akhirnya menggeleng. "Tidak. Bukan apa-apa. Ayo kita pulang sekarang." Ucapnya. Menghalau pikirannya.
Keempatnya lalu berlari kecil keluar dari warung kopi itu menuju mobil guna menghindari tetesan hujan yang terjatuh. Rachel yang berlari lebih dahulu bersama Lily langsung masuk di kursi penumpang belakang. Menyisakan Raya yang tertegun sejenak di sisi mobil.
Melihat Raya yang mematung dibawah tetesan hujan, Rey segera membuka jaketnya dan menghampiri Raya. Menggunakan jaketnya untuk berteduh melindungi dirinya dan Raya dari tetesan hujan itu. "Ra, kenapa gak masuk?"
"Hah?" Raya menoleh, menatap Rey yang berdiri tepat di belakangnya dengan kedua tangan terangkat memegangi jaketnya di atas kepala guna menghalangi air hujan untuknya.
Ada getaran aneh yang tiba-tiba dirasakan oleh Raya. Tubuh Rey yang begitu dekat nyaris tak berjarak di belakangnya membuatnya berdebar-debar. Apalagi aroma maskulin dari tubuh Rey yang merasuk ke indra penciumannya sukses membuatnya terhipnotis.
"Mau sampai kapan berdiri hujan-hujanan disini?" Rey dengan cepat membuka pintu mobil dan mendorong Raya masuk kedalam. Lalu berlari memutar mobil dan naik di kursi kemudi dengan santainya.
Setelahnya, Rey langsung menyalakan mesin dan sesegera mungkin membawa mobilnya meninggalkan kawasan itu.
Mobil melaju pelan dengan keheningan di dalamnya. Namun hujan kecil yang masih turun di luar sana membuat suasana di dalam mobil menjadi semakin syahdu. Menciptakan kecanggungan diantara dua orang yang terduduk di bagian depan.
Raya melirik sekilas ke sampingnya. Tampak Rey yang begitu fokus menyetir. Kemudian Raya menoleh kebelakang, tampak pula Rachel dan Lily kompak tertidur di kursi belakang.
"Kenapa?" Tanya Rey yang menyadari kegelisahan Raya. Suara lembutnya membuat Raya menoleh kembali padanya.
"Hah?" Raya menggeleng pelan lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke depan.
Sejenak kembali hening diantara mereka. Tapi sesekali Raya masih melirik Rey saat laki-laki itu fokus menyetir. Diam-diam mengamati wajah tegas yang kini malah terlihat begitu tampan di matanya. Padahal sebelum-sebelumnya wajah itu terlihat begitu menyebalkan dimatanya.
Jangankan untuk memandangi wajahnya, berada dalam radius dua meter saja dari laki-laki itu membuatnya begitu tak nyaman. Tapi begitu laki-laki itu bersikap cuek dan dekat dengan wanita cantik lain. Hatinya merasa tak ikhlas. Semua pandangannya tentang laki-laki itu berubah. Tak ingin laki-laki itu dimiliki oleh wanita lain. Apalagi sejak bibir mereka tak sengaja saling bersentuhan. Hatinya semakin gelisah dan galau berkepanjangan. Selalu ingin melihat wajah itu.
Apakah saat ini dia sudah jatuh hati padanya?
Rey yang terlihat serius mengemudikan kendaraan itu, ternyata menyadari kalau sedari tadi wanita disampingnya itu tak berhenti mengamatinya. Membuatnya kini menyeringai tipis.
Saat Raya kembali melirik ke arah Rey, dengan cepat pula Rey menoleh hingga netra mereka saling bersitatap. Tapi dengan cepat Raya memutus tatapan itu dan membuang muka kesamping jendela.
Rey mengulas senyumnya melihat rona merah di kedua pipi Raya. Merasa gemas dengan sikap malu-malu wanita itu. Menelan ludah beberapa kali, Rey akhirnya memberanikan diri meraih tangan Raya. Membawa tangan mulus itu ke atas pahanya dan menggenggamnya.
Raya terkesiap. Terkejut dengan aksi tiba-tiba Rey. Berusaha menarik tangannya namun Rey menahannya dengan kuat.
"Le.. Lepas...." Lirihnya begitu pelan takut membangunkan Rachel dan Lily.
"Tak mau." Ucap Rey tegas. Semakin menautkan jari-jarinya di sela-sela jari Raya dan menggenggamnya erat.
"Lepas...."
Rey menggeleng. Menarik genggaman jangan itu kedepan wajahnya lalu mengecup punggung tangan Raya.
"Astaga Rey, nanti dilihat mereka."
"Biarkan saja. Mereka akan mengerti."
"Bukannya kamu dan Lily...."
Rey menoleh sekilas, mengangkat kedua alisnya. "Aku dan Lily kenapa?"
"Bu..bukannya kalian saling suka?"
"Aku dan Lily?"
"Iya..."
__ADS_1
"Kamu mau aku bersama Lily?" Tanya Rey dengan setengah berbisik. Sengaja menggoda Raya.
"Ka.. Kamu menyukainya?" Ragu-ragu Raya bertanya dengan sedikit berbisik dan melirik kebelakang.
Rey tersenyum dan mengangguk. "Tak ada alasan untuk tak menyukainya. Dia cantik, pintar, dan ramah."
"Ma.. Maksudku bukan seperti itu."
"Lalu yang bagaimana? Suka sebagai pasangan maksudmu? Kalau iya, memangnya kenapa?"
"Ah, tidak..tidak. Bukan apa-apa sih. Yah, itu terserah kamu."
"Tapi aku ingin mengetahui pendapatmu."
"Apa hubungannya denganku?"
"Ya jelas ada. Banyak malah."
Raya melotot tajam, kembali menarik tangannya. Tapi Rey menahannya sekuat tenaga. "Kamu sudah puas tadi menatapku terus menerus. Jadi sekarang giliranku. Biarkan aku menggenggam tanganmu."
"Nanti dilihat mereka."
Rey melirik ke cermin depannya untuk melihat kondisi dua orang dibelakang sana, lalu tersenyum. "Mereka terlelap, jadi tak akan melihat kita. Jadi alasan apa lagi yang bisa kamu gunakan untuk menolak?"
Raya mendelik kesal. Namun akhirnya memasrahkan tangannya dalam genggaman Rey. Walaupun saat ini jantungnya seperti ingin loncat keluar dari tempatnya.
"Kamu belum jawab pertanyaanku."
"Apa?"
"Kamu setuju aku bersama Lily?"
"Harus yah aku jawab?"
"Sepertinya begitu."
"Kalau aku bilang aku keberatan?"
"Apa alasannya?"
Raya terdiam. Kembali membuang wajahnya ke samping jendela. Merasa enggan menjawab pertanyaan itu. Harga dirinya masih begitu tinggi. Tak ingin membuat laki-laki itu kegeeran.
"Kalau kamu diam berarti tak ada alasan buatku untuk menerima keberatanmu itu."
Lagi-lagi Raya diam membisu.
"Kalau tak ada alasan darimu berarti aku boleh bersama Lily bukan?"
Raya menghela nafas, namun tetap tak menjawab. Bergeming di posisinya dan terus memandangi jalan yang seperti berlarian mundur dari jendela di sampingnya. Raya hanya merasakan sentuhan lembut dan hangat dari benda kenyal yang terus menempel di punggung tangannya. Membuat jantungnya semakin berdebar-debar tak karuan.
Rey tersenyum puas. Hatinya menghangat melihat Raya yang tak menolaknya untuk menggenggam tangannya. Kini ia kembali fokus menyetir dengan tangan kanan yang memegang penuh kendali stir. Sementara tangan kirinya enggan melepaskan tangan yang begitu terasa dingin dalam genggamannya.
Beberapa jam pun berlalu. Mereka akhirnya sampai di kediaman Rachel jam sembilan malam hari.
Setelah memasuki halaman mansion Rachel, Rey akhirnya melepaskan genggamannya sesaat sebelum membangunkan Rachel dan Lily, yang sebenarnya keduanya berpura-pura tertidur pada awalnya hingga akhirnya keterusan tertidur.
"Gak deh. Sudah larut malam."
"Ra?"
"Aku juga langsung saja deh." Jawab Raya.
"Oke deh. Makasih yah untuk hari ini." Ujar Rachel.
"Iya sama-sama."
"Thanks for today, Rey. See you tomorrow." Imbuh Lily dengan mengedipkan matanya, sengaja memanas-manasi Raya.
Rey mengulas senyumnya pada Lily dan mengangguk paham dengan isyarat matanya itu.
Rachel dan Lily bergegas turun lalu beranjak masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Raya dan Rey yang masih terduduk di atas mobil yang terparkir di halaman luas mansion Rachel.
Tanpa berucap pada Rey, Raya meraih handle pintu hendak membukanya. Namun tangan Rey dengan lincah menariknya lalu mengunci otomatis mobil itu melalui tombol pengaturan yang ada di sisi kanannya.
"Kamu belum jawab pertanyaan ku, Ra." Ucap Rey, masih menahan kedua tangan Raya.
Raya gelagapan. Jantungnya kembali berdetak kencang. Lidahnya kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan Rey.
"Ra, please..."
"Le.. Lepaskan dulu."
Rey melepaskan kedua tangan Raya. Tapi masih menatapnya dengan dalam.
"Apa kamu setuju kalau aku melamar Lily?" Tanya Rey memperjelas.
"Ter... Terserah kamu." Ucap Raya begitu lirih. Berusaha bersikap cuek dengan ekspresi datar.
Rey memandangi keseluruhan wajah Raya selama beberapa detik, hingga akhirnya menghela nafas panjang. Menyandarkan punggungnya ke sandaran jok mobil lalu membuka kunci pintu di samping Raya.
"Kamu boleh turun." Ucapnya tanpa semangat. Terlihat wajahnya begitu kecewa dengan jawaban Raya.
Raya tak lantas turun. Masih bergeming di posisinya. Memandangi Rey yang mematung di tempatnya. Entah mengapa hatinya berdenyut melihat Rey dengan wajah kecewanya.
Apakah ini saatnya Raya harus mengakui perasaannya? Perasaan yang sebenarnya pada laki-laki itu?
"Rey..."
"Turunlah. Tak usah merasa tak enak padaku." Ucapnya tanpa memandangi Raya.
Mengesampingkan ego dan harga dirinya, Raya akhirnya menarik Rey hingga laki-laki itu tertarik kedepannya. Dan tanpa disangka-sangka Rey, Raya mendaratkan kecupan di bibirnya. Kecupan singkat namun sukses membuat bola mata Rey membulat sempurna. Terkejut bukan main.
"Ra....?"
__ADS_1
"Itu alasanku." Ucapnya lalu berbalik dan hendak turun dari mobil. Tapi kembali Rey dengan lincah menariknya. Kembali mengunci otomatis pintu mobil itu.
"Apa la...." Belum selesai Raya menyelesaikan kalimatnya. Mulutnya sudah dibungkam oleh Rey.
Raya terbuai sesaat. Memejamkan kedua matanya dan tanpa sadar mengalungkan kedua tangannya di leher Rey. Rey tersenyum di sela ciumannya dan semakin mengecup bibir ranum itu dengan lembut. Menyesapinya secara bergantian atas dan bawah. Begitu pelan dan lembut.
"Ra, kumohon katakan kalau ini bukan mimpi?" Tanya Rey begitu pagutan mereka terpisah. Jarinya bergerak mengusap lembut bibir bawah Raya yang masih basah.
Raya hanya membisu. Kedua matanya bergerak-gerak memandangi garis-garis wajah tegas dari Rey. Pantulan sinar dari lampu halaman mansion itu menembus masuk melewati kaca depan mobil. Menimbulkan cahaya remang dalam mobil itu. Sinar yang jatuh tepat disisi wajah Rey membuat wajahnya terlihat begitu tampan dengan sorot mata yang begitu teduh, serta senyum yang terpatrit indah.
Dengan canggung Raya menggeleng pelan atas pertanyaan Rey.
Rey tersenyum puas dan hendak menarik Raya kedalam pelukannya. Tapi Raya menahan dadanya dengan kedua tangannya. Membuat Rey mengernyitkan keningnya.
"Sudah malam. Aku harus pulang." Ucap Raya mencoba menghindar. Saat ini ia betul-betul merasa malu. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa hampir meledak.
Rey menggeleng. Tersenyum dan menahan tangan Raya kuat-kuat. "Jangan kemana-mana dulu." Ucapnya lalu meraih ponsel dari dalam sakunya dan menghubungi seseorang.
"Apa yang kamu lakukan? Siapa yang kamu telfon?"
"Aku tak akan melepaskanmu saat ini sebelum semuanya pasti. Aku tak ingin begitu kamu turun dari mobil ini kamu lantas berubah pikiran."
Raya hendak bertanya kembali ketika kemudian panggilan telepon Rey tersambung. Dengan segera Rey me-loudspeaker ponselnya.
"Ada apa? Tumben?" Tanyanya di ujung sana.
"Kak, aku minta tolong."
"Apa? Apa sudah ada?" Tanyanya lagi seakan paham arah pembicaraan itu.
"Iya."
"Siapa?"
"Putri Dr. Manaf. Rekan sejawat kak Reinhard."
"Masih dia? Kamu tak lagi berkhayal-kan?"
"Tidak. Aku baru saja mendapatkan jawabannya. Dan baru saja aku sudah menciumnya dengan mesra. Jadi tolong kakak atur agar aku bisa bertanggung jawab." Ujar Rey yang membuat Raya melotot dan memukul lengannya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Ketus Raya semakin memukul lengan Rey dengan kesal dan berusaha meloloskan diri dari pegangan tangan laki-laki itu.
"Kakak dengar sendirikan barusan suaranya."
"Itu bisa saja kan akal-akalanmu? Ayolah, aku tahu kalau selama ini kamu hanya bertepuk sebelah tangan padanya. Jangan membuatku malu pada dokter Manaf."
Rey mendengus kesal lalu menyodorkan ponselnya di depan Raya.
"Apa?" Tanya Raya kebingungan.
"Bicaralah sesuatu. Perkenalkan dirimu atau apalah. Setidaknya buat orang ini percaya kalau kamu itu Raya."
Raya mengernyit bingung. Menatap kesal pada Rey.
"Kalau tak mau bicara, aku cium kembali sekarang juga."
Raya semakin mendengus kesal. Namun akhirnya mengikuti keinginan Rey.
"Ha.. Halo?"
"Putri Dokter Manaf? Betul?"
"Ah, iya saya Diraya Sabila. Putri dokter Manaf dan dokter Selly. Saya...."
"Oke, aku percaya. Sekarang berikan ponsel itu pada Rey."
Rey tersenyum puas lalu mengambil kembali ponselnya. "Gimana?"
"Kapan maumu?"
"Secepatnya."
"Rey, apa maksudmu?" Tanya Raya membulatkan matanya. Dia mengerti arah pembicaraan itu. Tapi Rey lagi-lagi hanya tersenyum dan mengabaikan pertanyaan Raya.
"Baru saja aku berpisah dengan dokter Manaf. Kami sama-sama ada seminar di hotel membahas pembedahan. Sepertinya beliau masih ada di laounge depan."
"Bisa bicarakan masalah ini dengannya sekarang?"
"Gila, mana bisa membahas masalah penting begitu tiba-tiba begini. Besoklah."
"Kalau bisa sekarang, kenapa harus besok. Aku tak mau menunggu lama. Takut dia berubah pikiran."
"Kamu tidak sedang memaksa atau mengancam anak orang kan?"
"Tidaklah. Kalau aku berani berbuat seperti itu, dari dulu-dulu saja aku lakukan. Pokoknya aku minta tolong kak."
"Oke, aku kedepan dulu. Berdoa saja semoga beliau masih ada di depan."
"Thanks, kak." Ucap Rey, lalu mematikan sambungan telepon itu. Sedetik kemudian pukulan bertubi-tubi mendarat di dada bidangnya. Bukannya mengeluh atau meringis kesakitan, Rey malah tersenyum-senyum.
"Apa yang ada dalam pikiranmu, hah?"
"Menikahimu."
"Gila kamu!"
"Kenapa? Bukannya barusan kita sudah berciuman. Itu artinya kamu sudah menerimaku-kan?"
"Ta, tapi kan..."
"Ra...!" Rey menahan tangan Raya. Menyatukan kedua tangan itu kedalam satu tangannya. Sementara tangan satunya terangkat menyibak anak-anak rambut yang berhamburan di wajah Raya dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Kamu tahukan, sudah berapa lama aku menyukaimu? Aku tak mau bermain-main, aku tak mau hanya sekedar menjalin hubungan yang tak pasti. Aku hanya perlu kamu mengakui perasaanmu padaku. Lalu menikahimu." Rey berucap tulus. Kemudian satu tangannya meraih sesuatu dari dalam dashboard mobil.
__ADS_1
Setangkai mawar merah diarahkannya ke hadapan Raya dengan menatap dalam-dalam manik mata wanita itu.
"So, will you marry me?"