
Setelah 14,5 jam penerbangan tanpa transit Rachel, Mahavir dan Bryan akhirnya tiba dengan selamat di London pada pukul 19.40 malam hari.
Embusan angin di suhu 8 derajat celcius langsung menyapa mereka saat keluar dari pintu bandara. Di luar sana sudah ada Stuart sang asisten Mahavir yang sudah menunggu kedatangan mereka sedari tadi.
"Selamat datang Mrs Alister." Stuart langsung menyapa Rachel sambil mengulurkan tangan kanannya tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Mahavir.
Rachel sejenak memindai penampilan laki-laki bule berketurunan Skotlandia yang berdiri di hadapannya dengan setelan jas rapi. Berusia sekitar 35 tahunan ke atas. Rachel merasa seperti pernah melihatnya beberapa kali, tapi tidak mengingat dimana dia bertemu dengannya.
Mahavir masih sedikit terheran, dia menepis tangan Stuart sebelum Rachel menjabatnya. Setahunya, selama ini Stuart tak pernah terdengar berbahasa Indonesia. "You can speak Indonesian?"
"Kira-kira begitu." Stuart santai menjawab dengan aksen bahasa yang masih kaku, seakan sengaja untuk mengusili atasannya.
Mahavir terperangah, "Jadi selama ini...?"
"Anda kan tidak pernah bertanya." Stuart tersenyum tipis tanpa merasa bersalah lalu kembali mengulurkan tangannya kepada Rachel.
Rachel turut mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat, tapi langsung di tarik oleh Mahavir.
"Jangan modus-modus mau pegang tangan! Sana bawa barang bawaan saja." Perintah Mahavir dengan kesalnya. Tangan Rachel yang dipegangnya langsung dimasukkan ke dalam saku longcoat-nya.
Rachel hanya menghela nafas, dia sudah malas berdebat. Perjalanan panjang sungguh membuatnya lelah.
Stuart kembali tersenyum tipis dan berpaling menyapa Bryan. Setelah sedikit berbasa-basi, Stuart menggiring mereka menuju sedan hitam keluaran terbaru yang sudah terparkir rapi di depan pintu keluar. Dengan cepat mereka masuk ke dalam mobil itu, sebelum hawa dingin semakin menyergap.
Setelah menyalakan mesin mobil, Stuart langsung melajukan kendaraan meninggalkan kawasan Bandara. Melewati beberapa ikon-ikon kota London yang terlihat jelas dari balik jendela mobil.
"Vir kita ke rumah Granny yah?"
"Tidak, kita tidak kesana."
"Lalu kita kemana?"
"Ke tempatku."
"Hotel Alister? atau kediaman Ayahmu?"
"Bukan keduanya."
"lalu kemana?"
"Ke tempatku."
Rachel menepuk paha Mahavir kesal, "Iya tempatnya dimana?"
"Ikut saja dengan tenang. Aku bukannya mau menculikmu."
Rachel merengut, berbalik membuang muka menghadap ke jendela. Mengunci rapat-rapat mulutnya sambil memperhatikan jalan-jalan yang tampak sedikit basah.
Meski malam hari tapi keramaian masih saja terlihat di beberapa titik.
Setelah beberapa menit berkendara dalam keheningan diantara penumpangnya, sedan hitam itu akhirnya memasuki basement dari salah satu gedung pencakar langit. Kemudian berhenti saat sudah berada di ruang private car park yang sebelumnya sudah terparkir rapi dua mobil sport mewah.
Dari ruang itu, mereka memasuki lift yang langsung membawa mereka ke salah satu penthouse yang terletak di lantai teratas gedung itu. Hunian mewah yang letaknya di atas Sungai Thames yang menjanjikan pemandangan menakjubkan.
"Maaf kalau sedikit berantakan, soalnya selama ini aku kebanyakan menginap di hotel Alister." Mahavir berucap sambil membuka sandi Penthouse-nya. "Stuart kopernya langsung bawa ke lantai dua." Lanjutnya. Yang langsung dijalankan oleh Stuart.
Beberapa lampu di ruangan itu menyala dengan sendirinya akibat sensor yang membaca pergerakan manusia.
Tanpa dipersilahkan, Bryan langsung berjalan menuju jendela kaca besar yang sengaja dijadikan sebagai dinding pembatas dari dunia luar, yang memperlihatkan ikon London Eye yang gemerlapan berwarna merah dan sangat terkenal di kalangan wisatawan itu.
Rachel ikut melangkahkan kakinya masuk ke dalam menapaki lantai marmer berwarna abu gelap, mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mengagumi setiap inchi dari kemewahan Penthouse berlantai dua dengan dua teras rooftop. Dia sedikit tercengang, speechless lebih tepatnya. Dia sadar Mahavir itu kaya, tapi tetap saja selalu ada kejutan-kejutan kecil dari laki-laki yang masih dianggapnya misterius itu.
"Ini Penthouse milikmu?"
"Milik kita sayang..." Ralat Mahavir, menarik tangan Rachel dan membawanya berkeliling ke setiap sudut ruangan itu. Tak sampai disitu, dengan wajah berbinar-binar Mahavir pun membawa Rachel menaiki anak tangga ke lantai dua menuju salah satu kamar yang ada.
"Yang ini kamar kita. Furniturenya semua masih standar. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa menata ulang semuanya kembali sesuai seleramu." Belum sempat Rachel bereaksi, Mahavir kembali menariknya ke walking closet dan memperlihatkan keseluruhan isinya. "Di sini sudah ada beberapa baju dan aksesoris lainnya untukmu, aku tidak tahu kalau ini sesuai seleramu atau tidak, Stuart yang menyiapkan se...."
"Vir..." Rachel langsung menyela.
"Kenapa? Kalau ada yang kamu tidak suka kamu keluarkan saja dan kita ganti deng...."
"Virrr...!!" Kembali Rachel menyela, menarik tangan Mahavir dan membuatnya berhadapan dengannya. Rachel mengangkat kedua alisnya, memandangi Mahavir dengan tatapan yang sulit di mengertinya.
"Kenapa?"
"Ini sedikit berlebihan."
"Untuk wanita ku tak ada yang tidak bisa kulakukan."
Rachel tersenyum mendengarnya. "Dasar Gombal. Sebenarnya aku penasaran, sekaya apa suamiku ini?"
"Yang kaya bukan aku, tapi ayahku. Ini semua hasil keringatnya." Memamerkan senyuman khasnya sambil mengusap-usap tengkuknya, seakan malu dengan ucapannya sendiri.
"Sama saja...kamu kan anaknya. Calon penerusnya."
Mahavir lagi-lagi tersenyum, kemudian mengusap lembut kepala Rachel dan mengecup keningnya. "Kamu suka?"
__ADS_1
"Apanya?"
"Tempat ini, kalau kamu kurang nyaman aku bisa mencari rumah tunggal di kawasan pemukiman yang kamu suka."
"Tidak, justru ini terlalu nyaman. Bohong kalau kubilang tidak suka."
"Mulai sekarang apapun milikku menjadi milikmu juga. Aku bukannya menggombal atau apapun itu, tapi selagi aku mampu aku akan melakukan apapun untukmu, termasuk membahagiakanmu."
Mendengar itu Rachel terdiam, tertunduk melihat tangan Mahavir yang menggenggam tangannya dengan erat. Kedua matanya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa lagi?"
"Ah.. Tidak, tidak apa-apa." Memalingkan wajahnya ke arah jendela, menghindari tatapan Mahavir.
Mahavir menarik wajah yang berpaling itu, menatapnya dengan dalam, mencoba mencari tahu kegelisahan apa lagi yang ada pada dirinya.
"Kalau kamu tidak mau mengatakannya, aku tidak akan pernah tahu." Ucapnya dengan nada penuh kelembutan.
"Kamu...." Rachel menjeda sejenak, menghela nafas, kemudian kembali berucap. "kamu selalu penuh dengan kejutan. Setiap kali aku merasa sudah mengenalimu, lagi-lagi kamu memperlihatkan sisi mu yang lain. Ternyata masih banyak hal yang belum ku ketahui tentang mu. Apa alasanmu menikahiku? kenapa kamu memilihku? Kenapa harus aku diantara banyak wanita cantik di luar sana? Semuanya masih belum terjawab. Pemikiran-pemikiran itu membuatmu selalu misterius bagiku."
Terdengar suara menghela nafas dari keduanya.
Mahavir menarik bahu Rachel dan menenggelamkannya ke dalam dekapannya. Berusaha meyakinkan wanita melalui hatinya.
"Jangan mengenaliku melalui apa yang kamu lihat, tapi kenali aku melalui apa yang kamu rasakan. Sebanyak apapun kamu berusaha mengenaliku, kamu akan selalu terjebak dengan sisi ku yang lainnya, yang mungkin suatu saat akan membuatmu terkejut. Tapi ketahuilah bahwa aku tak pernah berniat buruk padamu, rasa sayang ku tulus untukmu sampai kapanpun."
"Apa aku bisa mempercayainya?"
"Tanyakan pada hatimu. Sekeras apapun aku berusaha meyakinkanmu, kalau hatimu masih tertutup aku bisa apa. Hatimu sendiri yang paling tahu jawabannya."
Rachel tertegun menelaah perkataan Mahavir. Dia sendiri masih bingung dengan apa yang hatinya rasakan.
"Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya. Kita jalani dengan pelan-pelan." Kembali mengecup kening Rachel.
"Oh iya, kamu tidak lapar? Mau makan malam?"
Rachel mendesah pelan. "Masih kenyang, kan tadi sudah makan waktu di pesawat. Sepertinya aku hanya butuh mandi."
"Baiklah, kalau begitu aku menemui Bryan dan Stuart dulu."
"Hmm" Rachel menjawab singkat dan beranjak masuk ke kamar mandi.
Setelah melihat punggung Rachel yang menghilang di balik pintu kamar mandi, Mahavir juga beranjak keluar dari kamar itu. Kembali menuruni anak tangga dan menghampiri Bryan yang masih takjub dengan pemandangan yang dilihatnya dari balik kaca jendela.
"Bryan"
"Eh, kak Vir..."
"Sudah kak, barusan sudah ku telfon."
"Kalau Raya?"
"Tadi sudah aku chat. Tadinya mau nelfon tapi takut mengganggu, soalnya disana masih jam 3 subuh."
"Kamu serius dengannya?"
"Sepertinya begitu kak, aku bahkan sudah berjanji melamarnya saat lulus nanti."
"Wow...secepat itu?"
"Bagiku memang cepat, tapi baginya......."
"Hmm, betul juga. Kalau begitu kamu harus berusaha lulus dengan cepat. Aku lihat nilai-nilai mu bagus. Semoga kamu bisa lulus dengan predikat cumlaude."
"Amin, Terima kasih kak, aku akan belajar dengan tekun. Untuk masa depan ku sendiri."
"Bagus, ini baru adikku." Menepuk-nepuk pundak Bryan lalu mengusapnya pelan. Menyalurkan rasa sayang seorang kakak kepada adiknya. Pemuda itu tersenyum haru dibuatnya.
"Kamu tidak lapar?"
"Masih kenyang. Mau mandi dan istirahat saja."
"Baiklah, kamar ada di lantai dua. Diatas ada tiga kamar, yang sebelah kanan ada dua kamar kosong, kamu pilih saja salah satunya."
"Kalau begitu aku naik dulu kak Vir."
Mahavir mengangguk, lalu menemui Stuart yang duduk anteng pada salah satu kursi yang ada di minibar sambil meminum minuman kaleng yang baru diambilnya dari kulkas.
"Kenapa masih tinggal? lupa jalan pulang?" berjalan melewati Stuart, memasuki sebuah ruangan yang tampak seperti ruang kerja pribadi dengan berbagai macam buku pada rak-rak yang menempel di dinding.
Stuart mengikuti dibelakang. "Finally...congratulations on the wedding...."
Mahavir tidak menanggapi, dia justru menatap Stuart tajam, merasa kalau selama ini Stuart sudah mempermainkannya. "Berarti selama ini kalau aku memaki-makimu, kamu tahu artinya?"
"Begitu kira-kira."
"Dasar!! Ku kirim ke antartika sana baru tahu rasa."
"Sayang sekali, hanya Presdir yang bisa mengusirku."
"Karena itu kamu semakin kurang ajar."
__ADS_1
"Peace..." Stuart tertawa dan memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Presdir yang menyuruhku untuk selalu melatih kecakapan anda berbahasa Inggris."
"Yah, kamu pasti lebih mendengarkannya daripada aku." Mendengus kesal lalu duduk pada kursi yang ada di balik meja kerjanya. Membuka-buka beberapa kertas file dan beberapa buklet yang tergeletak di atas meja.
"Itu buklet orientasi Oxford University."
"Kamu sudah mengurus semuanya kan?"
"Sisa tempat tinggalnya. Mau di asrama kampus atau mencari flat di luar."
"Nanti aku tanyakan padanya."
"Sepertinya anda sangat menyayanginya. Aku pikir anda hanya bertanggung jawab karena menyukai kakaknya."
"Baru sadar?"
"Apa Mrs.Alister sudah tahu?"
Mahavir tak menjawab, tapi dari sorot matanya Stuart bisa mengetahuinya. "Dimana Presdir sekarang?"
"Dia di Amerika, minggu depan baru kembali."
"Kirim jadwalnya padaku."
"For what?"
"Supaya aku bisa cari alasan menghindarinya.
"Why?"
"Aku tidak mau Rachel sampai bertemu lagi dengannya. Sepertinya Rachel kurang nyaman."
Stuart mengernyitkan keningnya, butuh penjelasan lebih.
"Hah, sudahlah.. Pulang sana."
"Kapan anda kembali ke hotel?"
"Selama kamu masih bisa menanganinya, aku akan bersantai-santai dulu dengan istriku."
"Honeymoon??"
"Lebih tepatnya, mengejar cintanya...." Mahavir sedikit terkekeh selama beberapa detik kemudian terdiam, raut wajahnya berubah sendu. "Untuk honeymoon sepertinya masih jauh, hatinya masih tertutup untukku. Dia masih merasa terjebak dengan pernikahan ini."
"Aku harap Mrs.Alister bisa mengetahui betapa besar rasa cinta anda padanya. Tapi sebelum itu anda juga harus bersiap atas konsekuensinya."
"Yah, kamu benar..."
"Kalau begitu saya pamit dulu. Anda tinggal memanggilku kalau butuh sesuatu."
"Oh iya, aku hampir lupa. Istriku sepertinya akan ikut dalam event London Fashion week, tolong kamu bantu dia. Tapi tetap secara diam-diam seperti sebelumnya, dia jangan sampai tahu."
"Kenapa masih harus secara diam-diam? Kan anda sudah menikahinya, bukankah wajar kalau anda sekarang terang-terangan membantunya?"
"Kamu tidak mengenalnya, dia pasti bersikeras tidak membutuhkan bantuan orang lain."
"Hahh... Andai saja dia tahu siapa orang dibalik kesuksesannya. Sudah hampir sembilan tahun saya mendampingi anda, selama itu pula anda meminta saya untuk terus memantau wanita itu. Membantunya meraih cita-citanya hingga sukses seperti sekarang ini secara diam-diam. Saya tidak tahu dengan masa lalu kalian dulu, tapi saya benar-benar lelah dengan cara berfikir kalian berdua."
"Jadi sekarang kamu sudah mengeluh?"
"Bukan seperti itu, sudahlah! Bagaimanapun saya akan menjalankan semua perintah anda. Selain itu tak ada lagi kan?"
"Iya"
"Baik, saya undur diri dulu." Sedikit membungkuk, memutar tubuh dan berjalan menghampiri pintu. Tapi sebelum menarik handle pintu, Mahavir kembali memanggilnya.
"Satu lagi, tolong panggil salah satu pelayan dari rumah presdir untuk bekerja disini. Pilih yang paling rajin."
"Baik, tak ada lagi yang lain?" Tanyanya dengan tidak ikhlas.
"Untuk saat ini itu saja, maaf sudah merepotkan." Mahavir tertawa kecil menikmati raut wajah kesal Stuart.
"Memang sejak kapan anda tidak merepotkanku?" Gumamnya sambil menunduk memberi hormat, kemudian menarik handle pintu dan menghilang di baliknya.
* * *
Rachel sudah terlelap di balik selimut saat Mahavir memasuki kamar mereka. Dengan mengendap-endap Mahavir langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah beberapa menit, Mahavir keluar dengan perasaan lebih fresh dan perlahan ikut membenamkan diri dalam selimut yang sama dengan Rachel.
Dalam heningnya malam dan remangnya cahaya lampu tidur, Mahavir memandangi wajah cantik yang sedang terlelap di sampingnya. Jari-jarinya terangkat menyibak anak-anak rambut yang sedikit menutupi wajah cantik wanita itu.
Sebenarnya Rachel belum sampai terlelap, dia masih menyadari saat Mahavir tadi masuk ke dalam kamar. Sekuat tenaga Rachel menahan rasa geli saat jari-jari Mahavir menari di wajahnya, menyentuh alisnya, hidungnya, pipinya, dan kedua bibirnya. Jari-jari itu lama bermain pada kedua bibirnya. Hingga kemudian dirasakannya Mahavir semakin mendekat ke padanya, nafas hangat pun terasa menyentuh permukaan kulitnya, membuatnya tak bisa lagi berpura-pura tertidur. Rachel sedikit mengernyit dan berpura-pura menggeliat pelan.
Mahavir yang hendak mengecup bibir Rachel, urung dilakukannya saat melihat pergerakan dari istrinya itu. Dia takut, takut tak bisa menahan diri saat Rachel terjaga dan dia melihat kedua matanya. Pelan-pelan Mahavir memutar tubuhnya, berbalik membelakangi Rachel dan mencoba terpejam.
* * *
Mohon dukungan like, komen dan Vote nya.
peluk cium dari Author, Terima kasih 🙏
__ADS_1
Happy Reading 🤗😘🥰