
Sambungan telepon dari ponsel Rey yang tergeletak diatas meja sedari tadi masih saja berlangsung.
Seseorang nan jauh diujung sambungan itu masih saja menunggu dengan tidak sabaran, berkali-kali terdengar suaranya dari cela-cela lubang speaker audio ponsel memaki-maki nama Rey namun tidak ada seorangpun yang menggubris nya, hingga membuat nya kesal setengah mati.
"Halo, sorry boss!! Tadi dari antar nyonya boss dulu." Ujar Rey segera mengangkat ponselnya sesaat setelah mengantar kepergian dua wanita tadi.
"Ada apa dengan Rachel?" Tanya Mahavir tidak sabaran menuntut penjelasan dari Rey.
Tadi dia hanya mendengar percakapan mereka dari awal hingga akhir dengan samar-samar.
"Dia mencari Dirman! Sepertinya istrimu itu mencari tahu kejadian 10 tahun lalu lewat teman-teman nya. Tadi dia datang bersama Raya, kamu masih ingat kan?"
"Raya??"
"Diraya Sabila, yang wajah nya kearab-araban itu. Sahabat karib Rachel yang dulu duduk sebangku dengannya." Ujar Rey menjelaskan. Tapi Mahavir terdengar masih mengingat-ingat.
"Yang dulu menolak ku karena aku akrab dengan mu." Sambung Rey kesal, mencoba memperjelas.
"Hmm, ya aku mengingat nya!!...Lalu??"
"Sepertinya Raya menjadi saksi kuncimu, malam itu ternyata Raya melihat mu di hotel dan dia meyakinkan Rachel bahwa kamu tidak bersalah."
"Lalu bagaimana tanggapan Rachel?"
"Sepertinya dia masih belum bisa mempercayai nya, makanya dia ingin bertemu langsung dengan Dirman."
"Lalu apa yang kamu katakan?"
"Yah aku bilang saja kalau kemanapun dia mencari tidak akan bertemu lagi dengan Dirman."
"ASTAGA REY!!!!" Teriak Mahavir membuat gendang telinga Rey berdengung.
"Apa aku salah bicara lagi?"
"Itu sama saja kalau kamu bilang Dirman sudah mati, Bodohhh!!
Rey tertegun, baru menyadari kecerobohan nya. Pantas dua wanita tadi terlihat sangat syok.
Rey memukul-mukul kepala nya sendiri setelah mendengar teriakan frustasi dari sahabat nya. Hingga kemudian sambungan telepon itupun terputus.
Akibat kecerobohan Rey, Rencana yang dibuat Mahavir menjadi berantakan. Kalau sampai Rachel menganggap Dirman telah tiada itu sama saja membuat nya tidak bisa mengungkapkan jati dirinya yang asli, bahkan mungkin akan menumbuhkan kebencian dan kesalahpahaman yang baru lagi pada Rachel.
* * *
Setelah keluar dari Hotel Calister, Rachel melajukan kendaraannya tanpa tujuan. Dia masih terlihat syok. Raya menyusul nya dibelakang menjadi khawatir takut kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diharapkan nya.
Mobil yang dikendarai Rachel terus melaju mengitari sudut-sudut kota, menerobos jalan-jalan sore hari itu hingga berakhir disebuah Pantai dipinggiran kota. Raya yang masih setia dan berhasil menyusulnya akhirnya bisa bernafas lega.
Rachel turun dari mobilnya dan berjalan mendekati bibir pantai. Menghempaskan tubuhnya diatas hamparan pasir. Dia mencoba menenangkan pikirannya yang sempat syok dengan melihat pemandangan laut.
Raya berjalan perlahan mendekati Rachel, kemudian ikut terduduk disamping nya. Dia tahu saat ini sahabatnya itu hanya butuh ketenangan.
Mereka saling terdiam, hanya suara desiran ombak laut yang terdengar memecah keheningan diantara mereka. Kedua pasang mata itu menatap ke depan menyaksikan indahnya panorama saat sang mentari turun ke peraduannya dan menghilang.
Sinar cahaya dari Rembulan telah menggantikan posisi sang mentari. Bintang-bintang mulai berkelap-kelip memancarkan cahaya.
Raya meraih punggung sahabatnya, kemudian merangkulnya.
"Hari sudah gelap, keluarga mu pasti sedang mencarimu." Ucap Raya menepuk-nepuk bahu Rachel.
Rachel melirik ponselnya, sudah ada 85 panggilan tak terjawab dari Bryan seharian ini.
"Kamu benar, mereka sudah mencari ku."
"Terima kasih sudah menemaniku. You are my best friend." Ujar Rachel membuat Raya terharu. 10 tahun lamanya tak bersua tetapi tak ada yang berubah dari persahabatan mereka.
Kendaraan mereka pun kembali melaju. Raya masih tetap mengikuti sahabatnya itu hingga ke rumahnya. Begitu memastikan Rachel betul-betul telah masuk ke dalam halaman rumahnya, dia pun kembali menjalankan Mini Cooper nya menuju ke klinik tempatnya praktek malam.
* * *
__ADS_1
Rachel menyeret-nyeret kakinya memasuki mansion tempat tinggalnya. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Sampai saat ini dia masih tidak percaya dengan apa yang didengar nya hari ini, informasi yang diterimanya sangat berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan dan dilihatnya saat kejadian itu.
Memang saat itu keluarga nya berulang-ulang memberitahunya tapi kekeras kepalaannya dan kebenciannya yang sudah mendarah daging membuatnya tak mau mendengar berbagai alasan.
"Apa benar selama ini aku telah salah??"
Rachel masih butuh kejelasan. Dia mempercepat langkahnya masuk ke dalam mencari keberadaan daddy nya.
"Daddy mana?" Tanya Rachel kepada Ny Amitha yang sedang menyemprot-nyemprot tanaman Anggrek membelakangi dirinya.
Ny Amitha berbalik dan memandangi Rachel kemudian menggeleng-geleng kan kepalanya.
"Dari mana saja kamu, adik mu mencarimu kemana-mana." Ujar Ny Amitha kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi ponsel Bryan.
"Kakakmu sudah pulang." Ucap Ny Amitha singkat pada orang dalam sambungan telepon itu.
"Daddy mu lagi di ruang baca, ada apa sayang? Kok lesu begitu?" Tanya Ny Amitha memerhatikan wajah Rachel yang tertekuk tak bersemangat.
"Aku mau bicara sama daddy dulu." Rachel berbalik dan berjalan menuju ruang baca meninggalkan Ny Amitha yang masih menatapnya.
Tok.. Tok... Tok..
Rachel mengetuk pintu ruang baca, kemudian perlahan membukanya.
"Dad...." Rachel melangkah masuk kemudian menutup pintu kembali
"Hemmm?" Sahut Pak Wijaya, pandangannya serius tertuju ke buku jurnal yang dibaca nya.
Rachel memposisikan tubuhnya duduk ke kursi yang berada di depan meja kerja Pak Wijaya. Dia memperhatikan aktivitas daddy nya yang kini berhadapan dengannya.
Pak Wijaya mendongakkan kepalanya sekilas, memandangi Rachel yang masih membungkam mulutnya kemudian kembali tertunduk.
"Ada apa?" Tanya Pak Wijaya karena Rachel hanya terdiam sedari tadi.
"Aku.... Mau tanya sesuatu...!"
"Tanya apa?" Ucap Pak Wijaya tanpa melihat wajah Rachel, pandangan nya masih tertunduk membaca buku yang dipegangnya.
Pak Wijaya hanya mengangkat kedua alisnya.
"Apa benar Dirman....." Pertanyaan Rachel terhenti. Dia menatap ragu wajah daddy nya.
Mendengar Rachel menyebut nama Dirman dengan tiba-tiba membuat Pak Wijaya tertegun sejenak. Tak percaya akhirnya Rachel mau membahas kejadian itu lagi. Buku jurnal yang tadi dibaca nya langsung ditutup nya dan disingkirkannya ke rak buku yang berada di samping meja nya.
Pak Wijaya memandangi wajah putrinya itu yang terlihat sayu tak bersemangat.
"Apa yang ingin kamu ketahui nak?"
"Soal itu... Apa betul bukan Dirman pelakunya?"
Pak Wijaya menarik napas panjang kemudian menunjukkan ekspresi sayangnya kepada Putri nya.
"Jawaban seperti apa yang kamu cari?"
Rachel menunduk, "Apa betul Dirman yang telah menyelamatkan ku saat itu?"
Pak Wijaya melepaskan kacamatanya secara perlahan kemudian mengusap wajahnya.
"Daddy kan sudah berkali-kali menjelaskannya padamu waktu itu, tapi kamu tidak mau mendengarkannya."
"Daddy sendiri tahu saat itu aku masih sangat syok."
"Iya, daddy mengerti. Karena itu kami semua yang ada dirumah ini sudah tidak pernah membahas nya lagi. Karena itu juga kan kamu memutuskan untuk pindah ke London dan menetap dirumah Grandma mu!"
"Jadi memang betul aku yang salah paham kepada Darmin?"
Pak Wijaya mengangguk pelan. "Kenapa tiba-tiba kamu membahasnya kembali?"
"Temanku, Raya melihat Darmin malam itu."
__ADS_1
"Jadi kamu lebih mendengar penjelasan temanmu dari pada daddy mu sendiri?"
"Bukannya begitu, aku tahu dulu daddy begitu menyayangi Dirman seperti anak sendiri, bahkan aku merasa daddy lebih menyayangi nya daripada aku. Aku menganggap daddy pasti akan membelanya mati-matian sama seperti saat Darmin mempermalukan ku di tengah lapangan waktu disekolah dulu."
"Rachel... Kecemburuanmu itu membuat hatimu menjadi buta, daddy tidak akan membelanya kalau memang dia bersalah."
"Tapi daddy lebih memperhatikan nya dari pada aku."
"Rachel, apa kamu masih belum mengenal daddy mu ini? Daddy memperhatikan semuanya sesuai dengan porsinya masing-masing. Saat itu kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman mu, kamu tidak kekurangan apapun, semuanya bisa kamu raih dengan mudah. Sementara Dirman anak yang tidak punya siapa-siapa, tidak ada orang yang mau menerima nya. Dia anak yang sangat pandai dan sopan sehingga hati daddy tergerak untuk merawat nya."
Rachel terdiam, dia menyadari awal mula kebencian nya pada Dirman hanya karena kecemburuan.
"Kalau memang Dirman yang menyelamatkan ku kenapa sangat berbeda dengan apa yang mataku lihat saat itu?"
"Rachel, waktu itu kamu dalam pengaruh obat bius, mungkin saja penglihatan mu menjadi samar. Atau ingatan mu yang saling tumpah tindih. Apalagi kamu tiba-tiba panik dan histeris."
"Kenapa daddy bisa seyakin itu?"
"Rachel, malam itu Daddy mendapat telepon dari Dirman, dia mengatakan kalau dia mendengar pembicaraan temannya, kalau salah satu anak disekolah barunya berniat jahat padamu. Daddy memberitahu Dirman kalau kamu baik-baik saja dan sedang berada di acara Promnight sekolah. Tapi dia masih saja khawatir dan menyusulmu ke hotel. Saat di hotel dia kembali menghubungi daddy lewat telepon resepsionis dan memberitahu daddy kalau kamu menghilang. Daddy langsung berangkat mencarimu, tapi saat dijalan daddy mendapatkan kabar kalau kamu sudah dibawa ke rumah sakit. Seorang saksi mengatakan kalau pelaku nya kabur setelah menghantam kepala Dirman dengan besi."
Rachel membekap mulut nya sendiri. Pupil matanya melebar saking terkejut nya.
"Terus bagaimana dengan Dirman saat itu?" Tanya Rachel dengan bibir yang bergetar.
Pak Wijaya terdiam, dia tidak sanggup mengingat keadaan Dirman yang terluka parah malam itu.
Rachel memperhatikan wajah daddy nya dan menangkap kesedihan mendalam di sorot matanya. Ada perasaan bersalah yang amat dalam tiba-tiba membanjiri hatinya.
"Daddy bagaimana keadaan Dirman setelah itu?"
"Dia baik-baik saja kan?"
"Daddy tahu dimana dia sekarang?"
Pertanyaan beruntun dilontarkan oleh Rachel kepada daddy nya.
Pak Wijaya masih terdiam, sekali lagi dia menarik napas panjang dan membuangnya dengan perlahan. Dia melihat ada guratan penyesalan di wajah putrinya. Tak pernah dia sangka kalau Rachel sendiri yang datang dan meminta penjelasan padanya, Ingin rasanya dia menceritakan semuanya tapi dia terlanjur melibatkan Mahavir, yakni Dirman yang sekarang dengan sosok yang baru.
Pak Wijaya tidak ingin mendahului Mahavir untuk menceritakan nya. Dia pun merasa belum waktu nya Rachel untuk tahu identitas asli dari suaminya.
"Cukup kamu tahu kalau Dirman yang telah menyelamatkan mu. Itu saja! Biar waktu yang menjawab pertanyaan mu."
Mendengar perkataan daddy nya Rachel menyimpulkan sendiri pemikiran nya.
"Jadi benar Dirman telah tiada, dia mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan ku?" Batin Rachel.
Perkataan daddy nya itu bagaikan sebuah tamparan di wajah nya.
"A..aku lelah, ...Aku mau istirahat dulu. Terima kasih dad......" Ucap Rachel terbata-bata, berusaha menahan sesuatu yang bergejolak di dadanya.
Setelah keluar dari ruang baca, Rachel langsung berlari ke kamarnya, mengunci pintu dan menghempas kan tubuhnya diatas kasur.
Ny Amitha yang melihat kesedihan putrinya tak henti-hentinya mengetok pintu meminta Rachel untuk membukanya. Tapi Putrinya itu sama sekali tidak menghiraukan nya.
Rachel menekan dada nya yang terasa sesak, memukul-mukulnya agar rasa panas yang bergejolak bisa berhenti. Tapi bukannya berhenti malah semakin menjadi-jadi.
Isak tangisnya pun pecah. Sepuluh tahun dia memendam amarah dan kebenciannya terhadap orang yang salah. Rasa cemburu dan dendam membutakan hatinya.
Semakin lama tangisnya semakin pecah, sesuatu yang berat mencekik di kerongkongan nya, membuatnya sulit untuk bernafas.
"Dirman maaf kan aku......." Lirihnya di sela-sela tangisnya.
Akhirnya segala kebenciannya sirna menjadi penyesalan yang teramat dalam.
Sepanjang malam Rachel mengurung diri, meringkuk dibalik selimutnya. Tertidur sambil sesenggukan memeluk erat lutut nya.
* * *
~Terima Kasih sudah membaca 🙏 jangan lupa like, vote dan komen yaa 🤗🤗 Supaya Author juga semangat nulisnya... 🥰🥰
__ADS_1
And Happy New Year 2021 🥰🤗
* * *