
"Find.... find out what happened!!!" Dengan suara bergetar dan tercekat, Tuan James memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Tuan James memejamkan matanya. Merapatkan giginya hingga terdengar suara saling bergemelatuk. Urat-urat yang menonjol di rahang nya tampak berdenyut-denyut. Ia membuang kasar napasnya seraya kembali membuka mata. Melayangkan tatapan tajam ke arah Mr. Forrer yang merupakan sekretarisnya.
"Did you miss something when I ordered to keep an eye on that woman?" (apa kau melewatkan sesuatu saat kuperintahkan untuk mengawasi wanita itu) Tanyanya dengan menggeram menahan amarah.
Mr. Forrer menunduk takut. Menelan ludahnya berkali-kali karena takut salah menjawab. "Sorry for my negligence." (Maaf atas kelalaian saya) hanya itu yang dapat keluar dari mulut lelaki itu.
Tuan James lalu mengayunkan tongkatnya beriringan dengan kedua kakinya. Berjalan tertatih-tatih menuju lift. Dengan cepat Mr. Forrer menyusulnya dalam diam.
***
Rey yang baru saja keluar dari ruang IGD langsung mendudukkan tubuhnya pada bangku panjang yang terbuat dari besi logam yang di cat putih yang terpasang di sepanjang koridor di depan ruang IGD. Mengeluarkan ponselnya dan mengabari Raya akan apa yang terjadi. Sejak tadi ponselnya itu bergetar di dalam sakunya. Tapi ia mengabaikannya karena masih terselimuti kepanikan.
Setelah berbicara panjang dengan Raya serta meminta tolong pada istrinya itu untuk mengabarkan keadaan Rachel kepada orang tuanya, Rey pun mematikan ponselnya dan kembali memasukkannya ke dalam saku Coatnya.
Rey menarik punggungnya, mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangannya yang menumpu di atas pahanya, menopang kepalanya yang menunduk menatap permukaan lantai keramik berwarna abu terang, seraya menghela napas panjang berkali-kali.
"Vir... Apa yang terjadi padamu saat ini?" Desahnya dengan frustasi seraya memijat-mijat pelipisnya.
'TUK'
Suara ketukan di permukaan lantai dari sebuah tongkat membuat lelaki itu mengerutkan alis dan refleks mengangkat wajahnya.
'PLAKK!'
Belum sempat melihat jelas orang yang berdiri di depannya, sebuah tamparan keras sudah mendarat mulus di pipinya. Kedua mata Rey membulat penuh mendapati presiden direktur tempatnya bekerja sudah berada di hadapannya dengan tangan yang terkepal kuat setelah menamparnya.
"Presdir.." Rey langsung bangkit berdiri dan setengah menunduk.
"Apa yang kau lakukan pada istri sahabatmu sendiri?"
Kening Rey mengernyit lalu mengangkat wajahnya. Memandangi lelaki paruh baya yang sepertinya salah paham terhadapnya.
"Sepertinya anda salah paham."
"Salah paham seperti apa?" Tuan James semakin melototkan matanya. "Apa kau menyukai istri sahabat mu itu? Apa kau benar-benar ingin menjadi suami pengganti dari Mahavir?"
Mata Rey semakin membulat maksimal. Kepalanya menggeleng cepat seraya menelan ludahnya susah payah. "Tidak. Itu tak mungkin, Tuan. Mahavir sudah seperti saudara saya sendiri. Saya tak mungkin menghianatinya. Apapun akan saya lakukan untuk kebaikan dan kebahagiaannya. Tadi itu saya hanya ingin membantu istrinya di dalam sana sehingga saya mengaku sebagai suaminya. Saya sama sekali tid..."
"Lalu mengapa kau menyembunyikan kehamilan istrinya?" Tuan James langsung menyela perkataan Rey yang panjang dan terkesan membela diri.
"Hah?" Kedua alis Rey semakin tertaut. Merasa bingung arah tujuan pertanyaan lelaki tua itu.
"Apa janin yang dikandungnya anak Mahavir?" Tanya lelaki tua itu skeptis.
"Tentu, tentu saja, Tuan."
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Karena Rachel bukan wanita yang seperti itu. Memang dia wanita yang sedikit angkuh dan sombong. Tapi dia bukan wanita yang mudah berhubungan dengan banyak pria. Hanya Mahavir satu-satunya lelaki yang ada di dalam hidupnya. Yang dicintainya."
"Kalau seperti itu, mengapa kau tidak berusaha memberitahukan kabar kehamilannya itu padaku?"
Kepala Rey kembali menunduk. "Ma...maaf....saya sudah mencoba berkali-kali mencari tahu kabar tentang Mahavir. Tapi saya tidak bisa menemukan celah sedikitpun."
"Bodoh!! Stupid!! You really-really stupid!!!" Tuan James mengumpat keras seraya mengusap kasar wajahnya dengan satu tangan.
Rey terkesiap. Mematung dengan raut kebingungan.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Kembali Tuan James bertanya dengan luapan amarah. Rey membisu dengan kepala menunduk.
"Tentu saja kau tak akan mendapat aksea bila mencari tahu kabar dan keadaan temanmu itu, karena aku menutup semua celah mengenai Mahavir. Tapi kau kan bisa mencari tahu tentangku? Bukankah kau salah satu karyawan emas dalam perusahaanku? Kau dan Mahavir bersama-sama mempelajari perusahaanku. Tidak sulit bagimu untuk meretas dan mencari cara untuk menghubungi ku langsung bukan? Setidaknya kau bisa menjangkau Tuan Forrer dan memberitahukan masalah ini!"
Rey menelan ludahnya kembali. Sedikit merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya. Hal itu sama sekali tak terlintas di dalam pikirannya. Lagipula mana ia tahu kalau ia bisa melakukan hal itu.
"Sudah berapa lama?" Suara berat Tuan James kembali menarik Rey dari lamunan sesaat. "Sudah berapa bulan usianya?"
Rey menggeleng pelan. Ia juga tidak mengerti hal itu.
"Mrs.Rachel husband?" Seorang perawat berkulit hitam yang baru keluar dari pintu IGD mengalihkan perhatian kedua lelaki itu.
__ADS_1
Baru saja Rey hendak menyahut tapi sorot mata tajam Tuan James menghentikannya. Tuan James melangkah maju menggantikan Rey.
"How is the condition? how is her pregnancy?" Tuan James memberondong pertanyaan dengan tidak sabaran.
"Mrs. Rachel is awake, fortunately the womb is fine, but her still very weak." (Ny.Rachel sudah sadar, untung kehamilannya baik-baik saja, tapi dia masih sangat lemah.)
"Can i see it?"
"Sure, Sir. But she can't move too much yet.
Please don't talk too much with her just yet." (Tapi dia belum bisa banyak bergerak. Tolong jangan terlalu banyak bicara dengannya dulu.)
"Of course." Tuan James mengangguk dan langsung melangkah masuk setelah dipersilahkan oleh perawat itu. Meninggalkan Rey yang tertegun di tempatnya.
***
Rachel memicingkan matanya, mengedarkan pandangan pada ruangan serba putih dengan aroma desinfektan yang sangat kuat. Tangannya terangkat hendak menyentuh kepalanya yang terasa pening. Tapi jarum infus yang terbebat di punggung tangannya membuatnya meringis merasakan perih.
Melihat itu, kesadaran Rachel langsung pulih seutuhnya. Kejadian sebelum jatuh pingsan memenuhi kepalanya, kedua tangannya langsung menyentuh perutnya.
"Anakku....anakku!" Pekiknya dilingkupi kepanikan. Mengangkat tubuhnya hendak bangun dari brankar tempatnya berbaring.
"STOP, Don't wake up!"
Suara bariton berat dengan intonasi penuh ketegasan membuat kepala Rachel langsung menoleh ke sumber suara. Lelaki paruh baya itu berdiri diantara tirai yang memisahkan bed Rachel dan bed di sebelahnya.
Mata Rachel membulat dengan bola mata yang tiba-tiba terasa panas. Cairan bening mulai melapisi penglihatannya. "Pres...dir.....?" Tegur nya dengan kaku. Setetes airmata luruh begitu saja ke pipinya.
"Yes, that me." Tuan James melangkah maju hingga tubuh rentanya benar-benar mendekat di sisi brankar. Kepalanya menunduk menelusuri keadaan Rachel.
Rachel tergugu. Tak mampu berucap. Hanya airmatanya yang mampu menunjukkan bagaimana perasaannya saat ini. Sementara Tuan James berdiri mematung, kedua lututnya mendadak lemas hingga keseimbangannya goyah. Lelaki tua itu jatuh tersungkur dengan bersimpuh di depan Rachel yang dalam keadaan setengah berbaring di brankarnya. Lelaki tegas yang terakhir kali mengeluarkan air mata penuh penyesalan saat istrinya menghilang dulu itu, kini kembali mengeluarkan airmatanya setelah sekian lama hatinya membeku.
Tubuh tuanya bergetar, airmatanya semakin menitik. Penuh penyesalan yang bersemayam di hatinya.
Tuan James lama dalam posisi berlutut seperti itu. Terdiam tertegun tanpa bereaksi apapun. Sementara Rachel hanya mampu terisak. Airmatanya pun semakin luruh tak terbendung.
Keduanya seakan larut dengan kesedihan dan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya orang tua itu berucap dengan lirih.
"Please...forgive me..." Ucapnya serak. Begitu banyak hinaan dan cacian yang ia lontarkan pada wanita itu, yang ternyata saat ini mengandung calon cucunya. Calon ahli warisnya. Penerus keturunan Alister. Hampir saja ia mengulang kisah lalunya. Memisahkan putranya dengan anaknya, seperti ayahnya yang memisahkan dirinya dengan Mahavir.
Tuan James bangkit berdiri dengan bantuan tongkatnya. Mendudukkan setengah tubuhnya di tepian brankar lalu meraih tangan Rachel. Mengusap pelan dan sedikit menepuk-nepuk disana. "Sure! Kalian pasti akan kembali bersama.
Rachel mengangkat tubuhnya, menghamburkan tubuhnya itu memeluk tubuh kamu di hadapannya. Tangisnya pecah di sana. "Saya merindukannya ayah....benar-benar sangat merindukannya."
"Maafkan Ayah. Maafkan ayah Nak." Dengan tangan bergetar, tuan James membalas pelukan Rachel. Menarik tubuh lemah Rachel ke dalam dekapannya. Mengusap lembut punggungnya.
"Bawa saya menemuinya sekarang juga. Tolong pertemukan kami secepatnya. Saya tak bisa tanpa dirinya Ayah...."
"Kalian pasti akan bertemu. Tapi tidak sekarang."
Mendengar itu Rachel langsung melepaskan pelukannya. Wajahnya mendongak, dengan kening yang mengerut dalam memandangi wajah Tuan James. "Apa anda masih ragu pada saya?"
"Tidak nak, bukan itu." Tangan Tuan James bergerak cepat mengusap lembut kepala Rachel. "Hanya saja saat ini kamu harus dalam perawatan total dulu. Kamu belum boleh banyak bergerak." Ucapnya dengan aksen bahasa Indonesia yang terpatah-patah.
Seketika Rachel kembali dipenuhi kepanikan. Memegang perutnya dengan jantung yang berdebar kencang.
"Kandunganmu baik-baik saja." Tuan James berucap melihat gestur tubuh Rachel yang panik.
"Benar? anakku...anakku masih ada di dalam sini?"
Tuan James mengangguk pelan.
Rachel mengulas senyum dalam tangisnya. "Mereka cucu anda, anak Mahavir."
"Mereka? what do you mean they are twins?"
Rachel mengangguk cepat. "Iya Ayah, mereka kembar. Anda akan memiliki dua orang cucu sekaligus. Mahavir akan memiliki dua orang anak."
Manik mata hazel milik Tuan James tiba-tiba berbinar. Tampak sangat terkejut sekaligus bahagia yang teramat sangat memenuhi hatinya.
"Bisa Ayah menyentuh mereka?"
__ADS_1
Rachel mengangguk dan menarik tangan Tuan James. Menempelkan telapak tangan besar itu pada perutnya yang sudah mulai membuncit.
Jari jemari besar Taun James bergerak-gerak mengusapnya. Senyumnya terbit dengan airmata penuh keharuan yang semakin menitik.
"Boy or a girl?"
Rachel tertawa kecil. "Kelamin mereka belum jelas terlihat. Mereka masih terlalu kecil."
Kedua alis Tuan James terangkat. "Berapa bulan, Nak?"
"Sudah masuk empat belas minggu. Sekitar tiga bulan lebih."
"Itu berarti sejak kalian berpisah?" Tuan James mengangkat satu alisnya. Sedikit tidak paham dengan perhitungannya.
Rachel menunduk. Menyatukan tangannya ke atas tangan Tuan James yang tiba-tiba berhenti bergerak.
"Malam sebelum kami kecelakaan, Mahavir menyentuh saya. Meninggalkan separuh dirinya di dalam rahim saya."
Tuan James terdiam sepersekian detik lalu mengangguk paham.
"Malam itu akhirnya saya bisa menurunkan ego dan menerimanya. Saya mengakui kalau saya memang sangat menyayangi dan mencintainya. Meminta maaf atas sikap keras saya selama ini. Dan Mahavir dengan hati terbuka memaafkan semua perbuatan saya yang selama ini mengabaikannya. Kami pun saling berjanji untuk saling bersama dan tak terpisahkan. Saling mengikrarkan cinta kami, yang detik kemudian kemalangan itu terjadi."
Airmata kembali menitik dari pelupuk mata Rachel mengingat kejadian naas itu. Dadanya sesak mengingat tampilan Mahavir terakhir kali yang terekam dalam ingatannya.
"Bagaimana keadaannya Ayah? Apa Vir ku baik-baik saja?"
Tuan James menarik napas panjang dan membuang pandangannya.
"Ayah, apa Vir baik-baik saja? Katakan ayah. Katakan bagaimana keadaannya?"
Pandangan Tuan James kembali ke arah Rachel, menatapnya dengan nanar.
"Ayah....bagaima....."
"Cukup buruk..." Lirih Tuan James berucap dengan kembali menghela napas.
Kedua tangan Rachel terangkat menutup mulutnya. Kepalanya menggeleng dengan airmata yang lagi-lagi meluncur bebas.
"Tidak, itu tak mungkin. Ayah pasti berdusta kan? Ayah tidak serius kan?"
"Sebelumnya ia sudah sempat membaik. Tapi kekeras kepalaannya mencari tahu kabarmu membuat kondisinya memburuk. Cedera tulang belakangnya bertambah besar, hingga ada kemungkinan dia akan mengalami kelumpuhan.
"Ap... Apa??" Mata Rachel membulat tak percaya.
"Apa kau masih mau menerimanya yang sudah dalam kondisi seperti itu?"
"Apa yang ayah katakan? Apa ayah pikir saya akhirnya menyukainya karena kesempurnaan yang dimilikinya?" Kepala Rachel menggeleng pelan. "Tidak, Ayah. Saya mencintainya dengan tulus. Apapun keadaan dan kondisinya saat ini."
Tuan James menganggukkan kepalanya. "Terima kasih. Dan maafkan ayah yang telah membuatmu menderita. Ayah akan sangat menyesal bila terlambat mengetahui semua ini. Ayah hampir saja mencelakai calon cucu Ayah. Untunglah mereka kuat di dalam sana."
"Itu karena mereka merindukan ayahnya. Mereka ingin bertemu dengan Mahavir."
Kembali kepala Tuan James mengangguk dengan tangan yang bergerak mengusap kepala Rachel.
"Sebaiknya sekarang kamu kembali istirahat. Kita sudah terlalu banyak bicara padahal perawat sudah memperingatkan ayah untuk tidak terlalu mengganggumu." Tuan James meraih tongkatnya dan bangkit dari duduknya.
"Saya senang Ayah mau menemui saya."
Tuan James mengangguk. "Beristirahatlah dulu, Ayah akan meminta dokter untuk memindahkan mu ruangan yang lebih nyaman." Mengecup puncak kepala Rachel dan tersenyum. "Jaga cucu-cucu Ayah dengan baik." Ucapnya. Setelah
Rachel membaringkan kembali tubuhnya dan tersenyum dengan menangis penuh haru. Lelaki paruh baya itu berbalik, menyingkap tirai-tirai penghalang dan melangkah keluar dengan tertatih-tatih.
Rachel menyeka airmatanya yang membasahi wajahnya. Mengulas senyum sembari mengusap lembut perutnya.
"Terima kasih sayang-sayangnya Mommy yang sudah mau bertahan. Usaha kita datang kemari tidak sia-sia nak. Kalian lihat kan Granpa tadi sudah berjanji untuk mempertemukan kita dengan daddy. Sekarang kita bersama-sama berdoa, semoga daddy disana baik-baik saja."
Airmata kebahagiaan luruh bersamaan dengan matanya yang terpejam. Mengistirahatkan hatinya yang dipenuhi kelegaan.
***
**Untuk saat ini Author belum mampu Up Tiap hari karena ada beberapa novel author juga yg berjalan di platform lain. tapi Author janji akan menyelesaikan cerita ini.
__ADS_1
ini adalah kumpulan novel Author di PF lainnya**.