
Bryan meraba-raba keseluruhan tubuhnya sendiri. Ekspresi wajahnya terlihat aneh seperti panik mencari sesuatu pada tubuhnya itu.
Risya yang memandanginya heran, semakin menghampirinya.
"Cari apaan kak?"
"Kunci." Jawabnya ketus, merogoh saku pakaiannya. "Kunci motornya gak ada." Imbuhnya.
"Kok bisa? Coba cari baik-baik kak.."
"Gak ada. Kuncinya hilang, Ris..." Lirihnya dengan wajah yang terlihat pias, masih memeriksa keseluruhan saku di celana bahannya yang sudah setengah kering. "Astaga, ponselku. Ponselku juga gak ada!" Lanjutnya dengan wajah yang semakin pias.
"Kok bisa?"
"Ya ampunnnn!!! pasti terjatuh waktu dilaut tadi." Ujarnya, menepuk gemas keningnya.
"Kok bisa?"
Bryan melirik kesal ke Risya. "Kok bisa, kok bisa!ini semua gara-gara kamu nih!" Hardiknya dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.
Risya balik menatap tajam Bryan. "Ihh...Kok gara-gara Risya sih?"
"Kan aku nyariin kamu disana!"
"Risya kan gak minta di cariin!"
"Ihhhhh...." Bryan menjulurkan kedua tangannya, gemas ingin mencekik Risya saking kesalnya. Namun sebelum sampai di leher Risya, tangannya mengepal kuat lalu meninju ke udara sembarang arah guna melampiaskan kekesalannya.
Risya hanya mengernyit heran sambil mengedip-ngedipkan matanya memandangi Bryan.
"Apa? Mau bilang aku kesambet lagi?" Ketusnya sembari menendang-nendang kasar ke udara. Risya menggeleng cepat dengan tampan tak berdosanya.
"Terus, pu..pulangnya gimana kak?" Tanyanya takut-takut sembari mengamati keadaan sekitarnya yang sudah mulai menggelap dan orang-orang terlihat sudah beranjak dari tempat itu.
"Yah, gak bisa pulang lah. Kecuali kamu mau cari kuncinya ke sana." Menunjuk dengan dagunya ke arah laut.
"Sampai Risya jadi duyung juga gak bakalan ketemulah kak." Jawabnya dengan polos. "Udah malam gini juga.... "
"Yah, minta tolong SpongeBob sana!" Seru Bryan teramat kesal yang justru direspon Risya dengan kekehan.
"Ih, kak Bry ada-ada saja. Memangnya dibawah sana ada Bikini Bottom? Yak kali ada Squidward sama patrick yang bantu nyari ponsel dan kunci motornya kak Bry." Terangnya masih terkekeh-kekeh.
Bryan berkacak pinggang. Matanya melotot tajam Risya yang sangat terlihat santai tanpa beban, sangat berbanding terbalik dengannya yang sudah sangat gusar dan tampak sangat berantakan.
Merasa dipelototi tajam, Risya akhirnya mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat hingga kemudian memanyunkan bibirnya itu kedepan.
"Bawa ponsel?"
Risya mengangguk lalu segera mengeluarkan ponselnya dari slingbag-nya. "Nih..."
Bryan segera menarik ponsel itu untuk mencari bantuan. Tapi lagi-lagi Bryan berdecak kesal karena ternyata ponsel gadis itu sudah kehabisan daya. Saking emosinya Bryan hendak melempar ponsel itu.
"EHHH...KAK, PONSEL RISYA ITU....!!!" Teriaknya, melompat menarik tangan Bryan dan buru-buru menarik ponselnya. "Enak aja mau main lempar gitu aja! Ini ponsel baru taukk...., Seri terbaru!! Baru seminggu dibeliin sama kakak Rey. Lihat, casingnya aja masih mulus." Celotehnya sembari mengusap-usap ponselnya lalu memasukkannya kembali ke dalam slingbag-nya.
Bryan menghela nafasnya kasar lalu berjongkok di depan motornya. Terdiam cukup lama seakan mencari ide untuk motornya. Risya pun ikut terdiam di dekat Bryan sambil memainkan tali slingbag-nya sampai akhirnya keadaan sekitar semakin sunyi dan temaram dengan sedikit pencahayaan, membuatnya mulai panik.
"Kak... "
"Kak Bry..."
"Kakak Bryan......" Panggilnya manja.
Bryan mendongak memandangi Risya dengan kesal. "Apa?" Tanyanya ketus.
"Ki... Kita pulangnya gimana?"
"Yah gak bisa pulanglah! Jam segini sudah gak ada kendaraan umum yang masuk ke daerah sini. Liat sendiri kan tadi, pantai ini bukan tempat wisata umum. Kecuali kalau kita jalan sampai ke jalan raya."
"Terus...?"
"Kamu sanggup berjalan jauh?"
"Daripada cuma diam berdiri disini! Masa mau nginap disini?"
Bryan terdiam sesesaat. Lalu bangkit berdiri. "Ya, sudah. Ayo!"
"Motornya?"
"Kamu mau bawa?"
Risya menggeleng lalu mengangguk. "Maksud Risya, kan bisa didorong kak."
"Gak bisa. Aku kunci leher. Gak bisa gerak-gerak."
"Terus?"
"Coba titip ke warung itu saja." Tunjuknya ke arah warung tadi yang sudah akan ditutup oleh pemiliknya. Risya hanya mengangguk kemudian membantu Bryan yang menyeret paksa motornya susah payah dengan ikut mendorong dari belakang. Membuat keduanya terengah-engah dan bermandi peluh.
Setelah menitip motornya pada pemilik warung yang kebetulan tinggal di kawasan pantai itu, Bryan dan Risya pun beranjak dari sana.
Berjalan bersama menyusuri ruas jalan yang sangat lengang. Hanya sesekali nampak pengendara motor yang lewat, dan bisa dihitung jari semenjak mereka berjalan tadi. Sementara di samping kiri dan kanannya hanya ada ada pepohonan dan beberapa rumah kecil milik warga sekitar yang jaraknya saling berjauhan antara rumah satu dan rumah lainnya.
Malam semakin pekat. Beruntung di sepanjang jalan itu berjejer lampu-lampu jalan yang menyinari walaupun cahayanya sedikit temaram.
__ADS_1
"Kak Bry... Masih jauh gak?" Keluh Risya dengan nada suara yang terdengar sudah kelelahan.
"Seperempatnya saja belum Ris...."
Risya menghela nafasnya berat. Melangkah dengan menghentak-hentakkan kakinya sembari meracau tidak jelas. Bryan mengabaikan keluhan Risya yang tak bisa diam sepanjang jalan, dan malah semakin mempercepat langkahnya meninggalkan gadis itu sedikit berjarak dibelakangnya.
"Cepetan, Ris. Sepertinya mau hujan!" Seru Bryan menengadahkan kepalanya mengamati langit yang menggelap. "Lama amat sih jalannya! Kamu lagi ngitung langkahmu yah?" Lanjutnya lagi menoleh memandangi Risya yang berjalan menunduk seakan mengamati sepasang sepatunya yang melangkah bergantian kedepan . Begitu sangat lamban.
Risya mengangkat kepalanya dan mendelikkan matanya. "Ishh, makanya tungguin! kak Bry enak kakinya panjang, langkahnya lebar. Nah kaki Riska pendek, imut-imut gitu. Wajar dong tertinggal." Sungutnya kesal dengan wajah merengut. Sembari sesekali menarik dedaunan tumbuhan liar yang tumbuh di pinggir jalan.
Bryan memutar bola matanya malas lalu kembali melangkah.
Angin malam memang mulai berembus kuat. Dahan dan ranting pohon yang tumbuh di sepanjang ruas jalan itu bergoyang-goyang dan saling bergesekan hingga menimbulkan suara gemerisik yang terdengar seperti mendesis, ditambah beberapa lampu jalan yang tiba-tiba berkelap kelip mati menyala persis seperti adegan di film-film horor, sukses membuat bulu kuduk Risya merinding.
"KAK BRY....!!" Teriaknya, berlari kencang mendekat ke Bryan lalu merangkul erat lengan pemuda itu.
Bryan hanya menoleh kesampingnya dan menunduk menatap gadis itu yang tingginya hanya sebatas dadanya.
"Risya takut kak...." Lirihnya menjawab tatapan Bryan sembari semakin menempel ke tubuh Bryan.
"Justru orang yang takut melihatmu." Ujarnya mengamati keseluruhan penampilan Risya. "Lihat saja, rambut hitam panjangmu, pake gaun putih lagi, untung pendek coba kalau panjang. Terus berada di tempat gelap dan sepi pula. Macam setan perawan yang lagi mencari mangsa!"
'PAK!
Sontak Risya menepuk kasar lengan Bryan. "Masa cantik-cantik gini disamain dengan setan sih..!"
"Emang kamu cantik?"
Risya mendongak dan menatap kesal Bryan. Baru akan membuka mulut, suara gesekan dedaunan yang dibawa embusan angin membuat Risya spontan melompat naik ke tubuh Bryan. Menggelantung manja di depan pemuda yang bertubuh tinggi itu.
"Kak... Kak... Suara apa tuh?" Lirihnya ketakutan dengan suara serak menahan tangis.
"Itu cuma suara angin."
"Risya takut kak...." Lirihnya terisak sambil menyembunyikan wajahnya di dada Bryan.
Bryan menghela napas, mengacak rambutnya kasar. Merasakan lekuk tubuh gadis itu yang menempel rapat di tubuhnya, yang walaupun ukurannya terbilang masih kecil tapi gumpalannya cukup terasa di dada ratanya.
"Ris....Ris...." Mencoba melepaskan rangkulan tangan gadis itu di lehernya.
"Takut kak..." Isaknya dengan semakin mengencangkan pelukannya dan melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Bryan.
Bryan bisa merasakan tubuh kecil itu gemetaran, membuktikan bahwa ia memang benar-benar ketakutan. Bryan jadi tak tega dan kasihan pada gadis belia itu.
Astaga... Cobaan apa lagi ini? Rutuk batin Bryan
"Ka.. Kalau gini aku gak bisa jalan, Ris. Mau kita tetap tinggal disini?"
Risya mengangkat wajahnya dari ceruk leher Bryan. Sejenak memandangi Bryan lalu perlahan melepaskan rangkulannya dan turun dari tubuh pemuda itu. Namun kedua tangannya kembali melingkar di perut Bryan dan mencengkram kuat kemejanya.
"Takut kak..." Lirihnya masih terisak.
Bryan merasa tak tega pada gadis itu. Segera ia melepaskan pegangan Risya lalu berjongkok dan menepuk pundaknya. "Naiklah....aku bisa menggendongmu kalau dibelakang. Kalau di depan bahaya."
Risya mengusap kedua pipinya yang basah kemudian langsung naik di punggung Bryan tanpa merespon perkataan pemuda itu, melingkarkan kedua tangannya di leher Bryan lalu menyembunyikan wajahnya di perpotongan bahu dan leher Bryan.
Bryan menarik kaki Risya ke depan dan menahannya dengan kedua lengannya, lalu bangkit berdiri dan kembali berjalan.
Belum hilang ketakutan Risya, kembali gadis itu dibuat takut oleh segerombolan lelaki berpakaian acak-acakan yang berjalan berlawanan arah dengan mereka dan bersiul genit padanya.
"Kak..." Lirihnya pelan.
"Jangan dilihat. Diam saja. Jangan meresponnya." Bryan berucap setengah berbisik karena ia sendiri sedikit takut kalau orang-orang itu berniat jahat pada mereka, sembari merapalkan berbagai doa dalam hatinya.
Walaupun lututnya sedikit gemetar menahan rasa takutnya, tapi akhirnya Bryan bisa bernafas lega begitu orang-orang itu terus berjalan menjauh.
Selama beberapa saat hening diantara mereka. Bryan terus saja berjalan tanpa henti sambil sesekali memperbaiki gendongan Risya di punggungnya.
"Kak.... Kak Bry...." Panggilnya lirih.
"Hmm?"
"Risya merepotkan yah?"
"Sangat..." jawabnya tegas, membuat Risya seketika mengangkat kepalanya dan mendengus.
"Ck, kok gitu?"
"Kan kamu nanya?"
"Bohong dikit kan bisa...!"
"Yeh.., kalau gitu ngapain nanya?"
Risya hanya mencebik lalu kembali menumpukan dagunya ke bahu Bryan.
"Risya berat gak kak?"
"Tau! aku kan gak pernah liat timbanganmu!"
"Ih, kok jawabnya gitu?"
"Trus maumu gimana? Entar aku bilang berat kamu marah, aku bilang ringan juga gak mungkin kan? Pinggangku aja mau patah rasanya." Keluhnya sembari kembali memperbaiki posisi Risya di punggungnya.
__ADS_1
"Maaf..." Lirihnya pelan lalu kembali membisu.
"Badan kecil tapi beratnya minta ampun." Guman Bryan yang masih didengar samar-samar oleh Risya tapi gadis itu memilih tak menanggapi karena sadar kalau pemuda itu sudah begitu lelah.
Angin semakin bertiup kencang, daun-daun dari ranting yang bergoyang saling berjatuhan hingga tak lama kemudian tetes demi tetes butiran air terjatuh dari langit.
"Kak Bry, hujan!" Pekik Risya menengadahkan tangannya menangkap tetesan hujan.
Bryan ikut mendongakkan kepalanya, mengamati intensitas tetesan hujan yang semakin lama semakin banyak.
"Pegangan yang kuat, Ris!" Perintahnya lalu mulai mempercepat langkahnya bahkan mulai sedikit berlari walau nampak sedikit kesusahan.
"Masih jauh gak kak?"
"Lumayan." Jawabnya asal, ia sendiri bingung sudah berada dimana. Bryan hanya terus berjalan dan berjalan, berharap segera tiba di perempatan jalan besar yang diingatnya berada di ujung jalan yang sedang ditempuhnya saat ini.
"Kak Bry, itu penginapan yah?" Menunjuk ke sebuah bangunan tingkat dua dengan papan lampu yang menjorok ke arah jalan yang berada sekitar sepuluh meter didepan mereka.
"Sepertinya begitu."
"Gimana kalau kita nginap disana saja kak? Sudah gelap kak, Risya takut kalau nanti ketemu lagi seperti orang-orang yang tadi."
Bryan nampak berfikir sejenak sambil terus melangkah dan memandangi jalan didepan sana yang seperti tak ada ujungnya.
"Kamu ada duit berapa?" Tanyanya pada akhirnya.
"Turunin Risya dulu kak!" Pintanya lalu segera melompat turun dan memeriksa dompetnya. "Cuma ada empat ratus ribuan kak. Cukup tidak yah?"
"Jadinya kita nginap dong?"
"Yah mau gak mau kak"
"Entar gimana kalau kamu dicariin?"
"Kak Bry yang tanggung jawab!" Ujarnya lalu segera berlari masuk ke penginapan itu.
Bryan menghela nafas panjang dan mengusap tengkuknya bingung. Namun akhirnya melangkah menyusul Risya.
"Kak Bry uang Risya cukup. Katanya semalam hanya dua ratus lima puluh ribu." Ucapnya semringah dan begitu polos tanpa ada beban sama sekali.
Bryan hanya mengangkat kedua alisnya sembari menghampiri karyawan itu. "Mas, bisa pinjam ponselnya sebentar? Mau kabari orang tua kalau saya dan adik saya tidak bisa pulang."
"Oh, iya. Bisa...bisa..." Segera menyodorkan ponselnya pada Bryan. Bryan segera menerimanya dan menghubungi keluarganya bergantian karena tak ada yang terhubung. Bryan terus mencoba menghubungi mereka berulang-ulang namun tetap tak ada yang terhubung. Hingga akhirnya Bryan menelpon ke rumahnya dan memberi kabar pada Bik Sumi.
"Gimana kak?"
"Mungkin mereka semua masih sibuk di rumah kak Raya, tapi aku sudah memberikan kabar pada Bik Sumi." Jelasnya. "Serius ini mau nginap disini?"
Risya hanya mengangguk dan segera meminta kamar pada karyawan penginapan itu. Setelah mendapat Kunci, mereka berdua bergegas melangkah menuju kamar yang dimaksud.
"Ris, kamu gak takut kita berdua sekamar?" Tanya Bryan ketika mereka berdua sudah masuk kedalam ruangan berukuran 4x4 meter persegi dengan satu buah ranjang berukuran sedang yang ada di tengah dan sebuah kamar mandi yang ada di ujung kiri ruangan itu.
"Justru Risya takut kalau cuma sendiri di tempat ini kak Bry." Jawabnya polos seraya menjatuhkan slingbag-nya ke lantai lalu duduk di tepian ranjang itu dan segera membuka sepatunya. "Wah kakiku langsung terasa lega." Gumamnya melempar sepatunya ke sembarang arah.
Bryan menggaruk asal kepalanya, sejenak netranya menyapu keseluruhan kamar itu lalu ikut duduk di sisi tepian ranjang sebelahnya karena tak ada kursi atau apapun yang bisa ditempatinya duduk. Kemudian ikut membuka sepasang sneakers dari kedua kakinya. Kepalanya sontak menoleh saat merasakan Risya sudah melompat naik ke ranjang itu dan membaringkan tubuhnya begitu saja. Bryan menelan ludahnya susah payah saat netranya tak sengaja terjatuh pada paha putih dan mulus gadis itu yang terekspos bebas akibat rok gaunnya yang sedikit tersingkap ke atas. Buru-buru Bryan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Terus aku tidur dimana, Ris?" Tanyanya mencoba menjaga pandangannya.
"Yah disinilah kak, masa mau di kamar mandi." Risya menepuk-nepuk sisi ranjang disampingnya.
"Kamu gak takut sama aku?"
Risya memutar tubuhnya berbalik menghadap Bryan. "Takut? Kenapa harus takut kak?"
"Yah karena berdua saja denganku."
"Memangnya ini pertama kalinya kita berdua? kita kan sudah berkali-kali tidur bersama-sama. Kak Bry aneh-aneh saja deh." Polosnya sambil menepuk-nepuk asal pahanya yang mungkin terasa lelah akibat berjalan tadi.
"Aku laki-laki loh, Ris."
"Emang yang bilang kak Bry cewek siapa?" Tanyanya terkekeh.
"Maksudku, kamu gak takut aku apa-apain?"
"Apa-apain apa maksudnya kak?" Tanyanya polos dengan mata yang berkedip-kedip.
"Yah....yah itu...." Bryan menggaruk kepalanya bingung menjelaskannya.
"Ya ampun kak...! Kak Bry itu sudah seperti kakak Risya lagi. Jadi nyantai aja kak." Ujarnya lalu kembali memutar tubuhnya hingga berbaring tengkurap sembari mengayun-ayunkan kedua kakinya naik turun secara bergantian. "Kaki Risya sepertinya sudah berotot nih kak." Lanjutnya yang membuat mata Bryan refleks bergerak memandangi kakinya yang bergerak-gerak itu. Namun mata pemuda itu dengan nakalnya bergerak menyusuri kaki itu semakin naik ke paha mulusnya. Ia bahkan bisa melihat sekilas pangkal paha gadis itu yang menggunakan dalaman putih berenda
"Kak... Kak Bry?" Panggilnya yang membuat Bryan kembali pada kesadarannya.
"Apa?"
"Kak Bry gak mau mandi? Gak merasa lengket dengan air garam yang kering di badan?"
"Percuma mandi kalau akhirnya kembali pakai baju yang sama, Ris."
"Tapi kan setidaknya bisa sedikit segar." Gumamnya lalu kembali berbalik dan berguling-guling di kasur dengan tidak tenang. Membuat roknya berkali-kali tersingkap.
Astaga,.... Bocah ini benar-benar menguji keimanan....!
Kuatkan aku ya Tuhan......
__ADS_1
* * *
Hayo... hayo... apa yang terjadi dengan Bryan selanjutnya??? ðŸ¤ðŸ˜…😅