
Pagi hari kembali menyapa, namun kegelapan malam belum berangsur memudar. Cakrawala tampak masih kelabu, menjadikan pagi yang malas untuk beringsut dari peraduan.
Begitu pun dengan sosok cantik yang masih bergelung dibawah selimut tebalnya, saat suara dering ponselnya tiba-tiba menyadarkannya dari alam mimpi.
Sedikit menggeliat-liat, Rachel pun membuka kedua matanya. Tangan putih mulus terjulur meraih ponselnya dari atas nakas, tanpa beranjak sedikitpun dari ranjang berukuran king size nan empuk yang menjadi pembaringannya.
Tanpa melihat tampilan layar ponselnya, Rachel langsung menerima panggilan itu walau kesadarannya belum pulih sepenuhnya.
"Morning.... Eh, sayang ini panggilan video. Jauhkan dari telingamu." Ujar Mahavir di ujung sana.
Rachel mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, lalu refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. Sejenak memandangi layar ponsel dengan tatapan bingungnya.
"Jauhkan sedikit lagi sayang, aku hanya melihat lubang hidungmu." Mahavir menggoda diiringi suara kekehan dari sana.
"Lubang hi....??" Rachel tersadar lalu menghentikan ucapannya. Menutupi hidungnya dengan tangan kirinya sambil melototkan matanya dengan tajam.
Menyadari tatapan tajam istrinya, Mahavir meralat perkataannya. "Ah.. Maksudku wajah cantikmu tidak terlihat keseluruhannya sayang"
Rachel mendengus, lalu mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya yang memegangi ponsel menjauh dari wajahnya yang merengut. Namun sebaliknya, dari tampilan layar ponsel itu Mahavir justru terlihat tersenyum riang gembira.
"Morning my Sleeping beauty... Mmmuaccchh..."
Sapanya dengan penuh semangat seraya memberikan kecupan jarak jauh.
"Semangat sekali pagi-pagi buta begini? Ada apa?"
"Aku sudah tak bisa tidur, dari semalam tidak sabar ingin bertemu denganmu."
"Astaga Vir...." Rachel tertawa kecil.
"Hari ini kamu kerja?"
"Iyya, justru lagi sibuk-sibuknya. Kenapa?"
"Rencana sore nanti aku akan pulang. Kalau begitu aku langsung ke kantor mu saja."
"Hmmm...Tidak usah. Langsung pulang kerumah saja."
"Kenapa? Aku sangat merindukanmu."
"Sepertinya sore nanti aku tidak di kantor."
"Mau kemana?"
"Rencananya hari ini aku mau ke lokasi Runway besok. Para model mau Gladi resik."
"Oh begitu!" Terdiam menghela nafas sejenak. "Kalau begitu aku akan langsung menjemputmu disana."
"Langsung ke rumah saja."
"Tidak, aku mau langsung melihatmu."
"Sekarang kan kamu sudah melihatku?"
Mahavir menggeleng lalu mendekatkan wajahnya ke layar ponselnya, bergaya seakan berbisik ke Rachel sambil berucap dengan nada sensual. "sayang...Rachel yang sekarang cuma bisa dilihat, Rachel yang sore nanti bisa di jamah..."
Wajah Rachel seketika merona lalu menarik selimut dan menyembunyikan sebagian wajahnya yang hanya menampakkan batang hidung beserta kedua matanya.
"Astaga, ada-ada saja kamu Vir....!" Ucap Rachel di balik selimut.
"Kenapa? Tidak suka?" tanyanya menggoda.
Rachel tak menjawab, ia semakin menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.
"Sayang singkirkan selimut itu, aku tidak bisa melihat wajahmu."
Rachel menyipitkan kedua matanya pertanda ia sedang tertawa di balik selimut itu. Melihat wajah kesal Mahavir, pelan-pelan Rachel menurunkan selimutnya. "Ada apa?"
"Kamu tidak merindukanku?"
"Mulai lagi deh..!"
"Aku kan cuma bertanya."
"Sudah, sudah, aku tidak mau berdebat pagi-pagi denganmu. Aku matikan yah..."
"Yah, aku kan masih ingin bicara denganmu sayang..."
"Apalagi? Sudah ah, aku masih ngantuk nih. Masih ada waktu, aku mau tidur lagi."
"Dasar putri tidur! Ya udah, lanjut lagi tidurnya."
"Hmmm..." Rachel menjawab malas.
"Mimpikan aku yah..."
"Iya Bawel.."
Mahavir terkekeh lalu kembali memberikan kecupan jarak jauhnya. Begitu sambungan telepon terputus, Rachel kembali memejamkan kedua matanya.
Pukul 09.00 pagi, Rachel yang sudah tampil rapi dan wangi baru keluar kamar. Di ruang santai lantai dua tampak Bryan sedang serius memainkan ponselnya.
"Bryan sudah sarapan?"
"Oh, kak Rachel bikin kaget saja! Iya tadi sudah bareng Risya."
"Risya nya kemana?"
"Tuh..." Menunjuk menggunakan sorot matanya ke arah balkon. "Lagi nelfon kakak-kakaknya." Lanjutnya memberi penjelasan.
__ADS_1
"Oh, kemarin dari mana saja?"
"Gak sempat ke banyak tempat, soalnya bocah itu pakai acara hilang segala."
"Hilang? Maksudnya?"
"Panjang ceritanya."
"Hari ini mau ajak dia jalan lagi?"
Bryan mengacak-acak rambutnya lalu mendengus. "Malas, orangnya merepotkan sekali. Mending dikurung di rumah saja." lanjutnya diikuti kekehan.
Rachel menggelengkan kepalanya, lalu merogoh tas tangannya. Membuka dompetnya dan kembali mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. "Nih..."
Bryan mengerutkan keningnya, "Buat apa?"
"Siapa tahu dia perlu sesuatu."
"Sebanyak ini?" Memandangi lembaran uang dengan nominal besar.
"Yah siapa tahu saja kamu berubah pikiran dan mau ajak dia jalan." Meletakkan uang itu di atas meja. "Kalau kurang pakai kartu Vir saja. Dia justru marah kalau kamu tidak menggunakannya."
"Iya kak, Liat nanti ajah..." Menyambar uang itu dengan malas lalu memasukkannya ke dalam saku celananya. "Oh iya, Mr. Stuart sudah menunggu kakak dari tadi di bawah."
"Astaga kenapa tidak bilang dari tadi."
Buru-buru Rachel melangkahkan kakinya menuju lantai bawah. Di sana sudah ada Stuart yang menunggunya dengan sabar.
"Pagi Mrs.Alister" Sapa Stuart menundukkan kepala.
"Maaf saya terlambat, tadi ketiduran setelah Mahavir menelepon."
"Tidak apa Mrs.Alister, silakan anda sarapan dulu. Saya akan menunggu di ruang kerja Tuan Mahavir." Izinnya sambil menundukkan kepala.
"Tidak ikut sarapan?"
"Terima kasih, tadi sudah waktu di hotel." menjawab penuh sopan.
"Oh, baiklah." Ucap Rachel lalu menyantap sarapan yang baru disajikan oleh Bik Inah untuknya.
Setelah beberapa menit, dengan mengendarai mobil sedan berwarna hitam. Stuart pun mengantarkan Rachel ke tempat kerjanya. Suasana sepanjang jalan tampak riuh, namun jauh dari kebisingan. Beberapa orang tampak lebih ramai dari biasanya, berlalu lalang di jalur khusus pejalan kaki. Mereka terlihat lebih nyaman berjalan kaki di pagi hari yang cerah.
* * * *
Rachel kembali memulai aktivitas nya di kantor seperti hari sebelumnya. Masih berkutat dan tenggelam dalam kesibukannya. Hari ini merupakan jadwal untuk meeting brainstorming beserta seluruh pekerja yang ikut andil dalam Runway yang akan di laksanakan esok hari.
Untuk itu semua Crew, tim make up, para model dan tak ketinggalan sang koreografer model juga sudah berkumpul di salah satu ruang di kantor Rachel yang cukup luas.
Mereka semua terduduk membentuk lingkaran mengelilingi meja berbentuk oval dengan Rachel yang berdiri di ujung lancipnya. Saling memberi ide, masukan, saran dan kritik untuk kelancaran acara besok. Setelah Rachel menerima segala masukan yang ada dan mengumpulkan semua ide-ide mereka, kegiatan pun berlanjut dengan membagi dua tim Crew.
Sebagian crew sudah ke tempat lokasi fashion show beserta para model untuk Gladi Resik, sementara sebagian lainnya tinggal di kantor untuk menyiapkan keperluan lainnya.
Hal itulah yang membuatnya sanggup berbolak-balik antara kantor dan lokasi untuk fashion show besok. Dia sengaja datang terlebih dahulu untuk meninjau persiapan segalanya.
Dari panggung stage terlihat para model dari desainer lain pun tampak sudah memulai terlebih dulu, berlenggak-lenggok dengan indahnya di atas Catwalk dengan arahan dari sang koreografer, lengkap dengan iringan musik dan tata lampu.
Beberapa orang yang mengenal Rachel tampak menyapa dengan hangat, tak terkecuali dengan sang koreografer model yang saat ini sedang memantau pose para model.
"Haii.. Miss Rachel, how are you..." Sapa Ben, sang koreografer model dengan bahasa tubuh agak kemayu lemah gemulai saat melihat Rachel melewatinya.
"Fine..." Rachel menjawab singkat dengan sedikit menarik kedua ujung bibirnya hingga membentuk senyum tipis sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Congratulations dear on the wedding..." Ben antusias memberikan selamat atas pernikahan desainer yang dianggapnya dingin dan susah tersenyum itu.
(Selamat sayang atas pernikahannya)
"Thanks Ben." Tukas Rachel dengan menyunggingkan senyum samar-samar sambil menepuk bahu Ben.
Ben memutar kedua matanya, lalu memasang senyum masam atas tanggapan Rachel yang membalas seadanya padanya. "It turns out that your smile is still expensive" Ucapnya.
(*Ternyata senyummu masih mahal)
Mendengar gurauan gemulai dari Ben membuat Rachel menampilkan senyum manisnya.
Ben terkesiap melihat senyum manis Rachel hingga mematung selama beberapa detik, hingga sepersekian detik kemudian tersadar dan kembali fokus melihat para model berpose.
"Hi, Rachel...! After it's turn for your model..." Ujar Ben sambil memberi kode dengan tangannya menunjuk jalur Catwalk saat melihat Rachel sudah menjauh darinya.
(*Setelah ini giliran untuk model Anda)
"Okay..." Rachel menjawab singkat sambil melanjutkan langkahnya menuju BackStage.
Saat akan melangkah ke Backstage, Rachel bertubrukan dengan seorang wanita yang tampak seumuran dengannya membuat paper bag yang dipegangnya terjatuh dan beberapa aksesoris dari dalam paper bag itu tercecer keluar.
"Sorry....sorry I didn't see you.." Ujar Wanita itu berjongkok sambil memunguti barangnya yang berceceran.
(*Maaf aku tak melihatmu)
"It's okay...." Rachel ikut berjongkok membantu wanita itu, saat kedua mata mereka bertemu keduanya langsung saling menunjuk diiringi senyum yang terkembang.
(*Tak apa)
"Rachel..?" Tunjuk wanita itu dengan sumringah.
"Kimmy?" Rachel pun tak kalah antusiasnya ketika menyadari wanita itu adalah salah satu temannya saat kuliah dulu. Mereka pun saling berpelukan satu sama lain, saling melepaskan rindu dan tawa mereka.
"Aku dengar kamu sudah menikah? Dengan siapa?" Wanita itu menaik turunkan alisnya menggoda Rachel. "
"Iya..." menaikkan kelima jarinya dan menggoyangkan jari manisnya tempat sebuah cincin berlian melingkar dengan indahnya. "Dengan seorang pangeran tampan dan kaya raya..." Lanjut Rachel menanggapi pertanyaan kimmy sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Oh my god, who's he??" Kimmy bertanya sambil
mengamati cincin berlian Rachel dengan mata bersinar-sinar. "Apa salah satu dari pemuja rahasiamu dulu?"
"Hhhmmm... Maybe..."
"Oh iya, kamu masih penasaran dengan para fans mu yang sering mengirimkanmu bunga dan kue ke kampus?"
"Yah, sebenarnya aku masih penasaran sih?
"Aku sudah mendapatkan beberapa foto-foto dari mereka loh.."
"Serius? Dapat darimana?"
"Ternyata Sam, teman satu angkatan kita dulu ada yang sering memotret pemandangan jalan depan kampus."
"Sam? Bukannya itu pacar kamu yah?" Terka Rachel.
"Sekarang dia suamiku..." Menyengir malu pada Rachel.
"Wah, Congratulations...akhirnya jodoh juga sama dia."
"Thanks dear.." Ucap Kimmy tersenyum lebar, lalu kembali berucap. "Oh iya, terus setelah aku menikah, aku pindah keruma Sam. Dirumahnya banyak album koleksi foto hasil bidikannya. Saat aku melihat-lihat koleksi foto-fotonya itu, ada beberapa foto yang tampak aneh. Dari sekian banyak hasil jepretannya ada beberapa orang aneh yang selalu muncul di setiap foto itu. Pas ditelusuri ternyata orang-orang itu yang sering menitipkan bunga dan kue ke orang-orang di kampus kita."
"Ada yang kamu kenali?"
"Sayangnya tak ada." Terkekeh pelan, lalu mengeluarkan ponselnya. "Kamu mau lihat wajah-wajah fansmu itu? Aku memotret beberapa foto dari koleksi album foto Sam.
"Boleh, boleh..Mungkin saja suatu saat aku bertemu dengannya."
"Kalau bertemu mau diapakan?" Tanya kimmy dengan menautkan kedua alisnya.
"Memangnya mau aku apakan? Yah, berterima kasihlah..."
"Ohhh..." Kimmy tertawa lalu membuka sandi dan galeri ponselnya. "Nih foto orang yang pertama." Memperlihatkan tampilan gambar wajah laki-laki bule bermata biru dengan sedikit rambut-rambut halus di dagunya.
Rachel melebarkan bola matanya melihat foto itu. "Astaga ini kan Stuart."
"Stuart?"
"Iya, dia asisten suamiku..."
"Ohh, ternyata suamimu betulan fansmu dulu."
"Iya, dia sudah mengaku padaku." Rachel tersenyum dan tersipu malu.
"Oh iya, ada lagi foto orang lainnya..."
"Memangnya ada berapa orang?"
"Ada empat orang termasuk laki-laki yang kamu sebut namanya tadi, ada juga laki-laki berkulit hitam, dan ada juga yang seperti orang Indonesia."
"Coba lihat..." Rachel menarik ponsel Kimmy dan mencoba melihat wajah laki-laki itu. Namun tiba-tiba dari arah belakang Rachel, suara seseorang yang tidak asing di telinganya menyapanya dengan lembut seiring dengan tangan yang ikut melingkar di pinggang rampingnya.
"Lihat foto siapa sayang?" Tanya Mahavir diikuti dengan kecupan singkat di pipi Rachel. Namun netranya kini mencoba menengok foto-foto itu.
"Eh, Vir sudah sampai?" Dengan cepat Rachel mengembalikan ponsel kimmy.
"Baru saja, dan langsung kemari." Mendaratkan kembali kecupan singkat di pipi Rachel. "Aku merindukanmu." Bisiknya kemudian.
"Vir itu ada temanku." Menunjuk dengan sorotan matanya. Lalu menyentuh dagu Mahavir dan memalingkan wajahnya agar melihat keberadaan temannya. "Kenalkan dia Kimmy, teman kuliah ku dulu."
"Mahavir Alister." Mahavir mengulurkan tangan kanannya.
Kimmy yang sempat tertegun melihat kemesraan Rachel kini tercengang dan membekap mulutnya tak percaya. Saat tersadar kimmy langsung menyambar tangan Mahavir dan menjabatnya dengan antusias.
"Tuan Alister?" Kimmy meyakinkan sekali lagi. Kedua matanya tampak mengagumi Mahavir.
"Iya, dia putra James Alister." Ujar Rachel.
"Masih lama selesainya?" Bisik Mahavir di telinga Rachel menyela diantara percakapan istri dan temannya.
"Sedikit lagi." Jawab Rachel.
"Baiklah aku tunggu di luar yah." Mengecup singkat kepala Rachel lalu tersenyum ramah pada Kimmy, kemudian beranjak dari tempat itu.
"Astaga ternyata benar, suamimu pangeran yang tampan dan kaya raya. Aku kira tadi kamu bercanda."
Mendengar perkataan kimmy membuat Rachel menyunggingkan senyumnya. "Kamu mengenal suamiku?"
"Aku pernah melihatnya di majalah bisnis." Jawab Kimmy masih dengan mengagumi Mahavir. "Pemilik hotel Alister yang mewah itu kan?"
"Iyya..., aku kira kamu mengenalnya dimana. Lalu setelah ini kamu mau kemana?"
Kimmy menaikkan kedua alisnya, kemudian teringat sesuatu dan langsung menepuk keningnya. "Astaga, asyik ngobrol denganmu aku hampir lupa membawa barang-barang keperluan model ini." Memperlihatkan paper bag yang tadi terjatuh.
"Baiklah, sana lanjutkan pekerjaanmu. Kita bertemu lagi besok."
"Okay, bye Rachel." Melambaikan tangannya lalu melangkah menuju panggung stage. Namun dua langkah kemudian, Kimmy berbalik. "Rachel foto-foto yang tadi gimana?"
"Kirim ke ponsel ku saja."
"Nomor mu masih sama kan?"
"Iyya."
"Okay, see you tomorrow..." melambaikan kelima jarinya."
Rachel pun ikut melambaikan tangan sambil menampilkan senyum simpulmya . kembali beranjak mempersiapkan segalanya.
__ADS_1
* * * *