
"Berarti kak Vir belum beruntung." Ucap Bryan dengan terkekeh.
"Memangnya lagi lucky draw yah...." Mahavir sedikit mendengus sambil mengamati ponsel yang ada di tangannya.
"Kak Vir, kalau bermesraan tau tempat dikit dong. Untung kemarin-kemarin itu aku cukup peka, gimana coba kalau Risya yang lihat."
"Iya, iya... Aku minta maaf. Lain kali akan lebih berhati-hati lagi." Ucap Mahavir sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran jok mobil.
"Aku ikut senang, kak Rachel sudah menerima kakak. Yah, semoga saja aku bisa cepat dapat keponakan."
"Doakan saja, aku masih berusaha." Ucap Mahavir dengan tersenyum-senyum. "Oh iya, aku mau tanya sesuatu. Kamu jawab dengan jujur."
"Apa kak Vir?"
"Soal Raya, bagaimana sebenarnya perasaanmu padanya? Kalian kan hanya pernah bertemu beberapa kali. Apa kamu serius padanya, sampai berjanji mau menikahinya?"
"Sebenarnya, aku sudah kagum sama kak Raya sejak masih kecil kak. Mungkin kak Raya sudah lupa, tapi aku masih ingat saat dia sering datang dan menginap di kamar kak Rachel dulu. Setiap kali datang dia selalu menyapa dengan ramah, membawakanku hadiah-hadiah maupun permen kesukaanku. Jadi saat bertemu kembali, aku jadi salah tingkah tiap di dekatnya."
"Hanya karena itu?"
"Maksud kak Vir?"
"Yakin kamu betul-betul menyukainya? Bukan karena kagum atau apa?"
Bryan terdiam. Kedua tangannya terlihat saling meremas. Dia sendiri bingung menjawabnya.
"Lalu bagaiman dengan Risya? apa yang sudah kamu lakukan padanya? Sepertinya dia sengaja menjauhimu."
"Ti..tidak kok kak, dia hanya malu padaku, soalnya sudah merepotkanku saat dia datang bulan. Mungkin juga dia kesal karena ternyata aku merebut cewek kakaknya."
"Yakin cuma itu?" Mahavir memandangi Bryan dengan tatapan menyelidik. "Kamu tidak bisa bohong padaku, aku bisa mengetahuinya." Lanjutnya. Tangannya terangkat meremas bahu Bryan.
"Aku... Aku..." Menjeda ucapannya dengan menelan ludahnya berkali-kali. "Aku sudah menciumnya kak...."
"Astaga Bryan....."
"Tapi Risya gak tahu kak. Dia selalu tertidur saat ku cium."
"Selalu?" Kedua alis Mahavir terangkat dengan tatapan penuh curiga. "Jadi sudah berapa kali?"
'GLEK... Sekali lagi Bryan menelan ludahnya dengan susah payah. Baru tersadar kalau sudah salah bicara.
"Bryan! Risya itu masih kecil. Jangan berbuat seperti itu lagi. Dan apa kamu yakin dia tidak mengetahuinya? Dari gelagatnya sepertinya kamu salah."
"Maksud kak Vir?"
"Mungkin saja Risya menyadarinya."
"Tidak mungkin kak."
"Yah, terserah kamu mau percaya atau tidak." Kembali Mahavir meremas pundak Bryan. "Harusnya kamu sudah bisa sadar, jika kamu tulus menyukai Raya, kamu tidak akan pernah berani menyentuh perempuan lain."
Bryan masih terdiam, ia menunduk merenungi perkataan kakak iparnya.
"Bryan, Rey itu sungguh-sungguh mencintai Raya. Kalau kamu hanya setengah hati padanya, maka lepaskan dan biarkan Rey memperjuangkan kembali cintanya."
"Tapi kak...."
"Usia kalian juga terlalu terpaut jauh. Biarpun yang lainnya menyetujui hubungan kalian, tapi aku sarankan untuk tidak melanjutkannya. Maafkan kakak, tapi sepertinya kamu juga bisa menilainya sendiri."
Bryan mendesah pelan. "Iya kak....semakin jauh, aku juga semakin menyadarinya. Setiap kali menelfon kami juga sering berselisih paham. Kami selalu miskomunikasi."
"Maka dari itu sebelum terlalu jauh, putuskanlah. Saat ini juga hatimu tidak bersama Raya kan?"
Bryan kembali terdiam. Hanya hembusan nafasnya yang terdengar.
Mahavir merangkul bahu Bryan dan menepuk pelan disana. "Ya sudah, ayo kita naik kembali. Rachel pasti sudah menunggu ponselnya." Ucapnya lalu keluar mobil, diikuti oleh Bryan. Kemudian kembali masuk ke dalam lift dan membawanya naik ke lantai teratas.
* * * *
"Vir, gimana? Ponselku ketemu?" Tanya Rachel saat Mahavir baru saja masuk ke dalam kamar.
"Nih.." Mengangkat ponsel Rachel ke udara, sambil berjalan menghampiri Rachel yang baru saja selesai mandi dan masih mengenakan bathrobe serta handuk yang melilit membungkus rambutnya. "Sepertinya butuh di charger." Lanjutnya sembari terus memandangi Rachel. Jakunnya terlihat naik turun menelan ludahnya susah payah.
Rachel buru-buru meraih ponselnya, namun Mahavir menahannya dan malah memasukkan ponsel Rachel ke dalam laci nakas di samping tempat tidur.
"Loh, kenapa...." Berbalik membuka laci dan meraih ponselnya, tapi tangan Mahavir menahannya dan kembali menutup laci.
"Biarkan seperti itu dulu, kalau ponselmu aktif kamu akan kembali sibuk." Mahavir mendekat dan memeluk Rachel dari belakang, menghirup aroma sabun yang menguar dari tubuh Rachel.
"Biarkan hari ini kita berdua bebas dari gangguan apapun." Bisiknya sambil mulai mengecupi leher Rachel.
Jantung Rachel kembali berdetak kencang, hembusan nafas Mahavir membuat seluruh tubuhnya meremang. Rachel mengurai pelukan Mahavir dan berbalik. "Ya sudah, kamu mandi dulu sana."
"Kenapa tidak menungguku? Kita kan bisa mandi bersama?" Mahavir berucap dengan nada sensual diikuti kerlingan nakalnya.
Rachel tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Vir, kamu kenapa jadi mesum begini sih! Sana, mandi dulu..."
"Mandiin yah...."
"Astaga Vir, kok makin manja. Sana ihhh..." Usirnya dengan mendorong pelan dada Mahavir menjauh. Bukannya menjauh, Mahavir malah mendorong Rachel hingga terjungkal kebelakang dan terhempas ke atas kasur. Dengan cepat Mahavir menyergap Rachel dengan menindihnya.
"Vir....." Tangan Rachel terangkat menahan dada Mahavir yang kian menindihnya.
__ADS_1
"Sayang aku sudah menahannya selama tiga hari. Biarkan aku berbuat semauku untuk hari ini." Lirihnya, kedua mata hazel-nya yang penuh hasrat menatap wajah Rachel secara keseluruhan seakan mengabsen setiap inchi yang ada pada wajah cantik istrinya itu.
Tak kuasa mendapat tatapan yang semakin membuatnya terpesona, Rachel memilih pasrah dengan memejamkan kedua matanya. Kemudian dirasakannya sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh keningnya, kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya hingga merapat di bibirnya dan berlama-lama disana.
Hembusan nafas yang terasa menyapu permukaan kulitnya, disertai usapan lembut tangan Mahavir di bagian tubuh sensitifnya membuat Rachel tak kuasa menahan debaran serta gejolak pada dirinya. Gairahnya ikut bangkit dan membalas setiap perlakuan suaminya. Menikmati setiap sentuhan dan penyatuan yang Mahavir berikan padanya.
Senyum keduanya merekah diiringi nafas yang masih saling memburu tatkala pergulatan panas mereka selesai.
"Masih terasa sakit?" Mahavir bertanya sambil mengusap-usap pipi Rachel dengan punggung tangannya.
Rachel menyunggingkan senyumnya dan mengangguk pelan. "Sedikit" Jawabnya.
Mahavir ikut tersenyum lalu menarik pinggang Rachel, membuat lengannya menjadi penyangga kepala Rachel dan semakin merapatkan pelukannya di balik selimut tebal yang menutupi keduanya. Jari-jarinya terangkat memainkan anak-anak rambut Rachel yang masih sedikit basah dengan mata yang tak berkedip sedikitpun memandangi istrinya.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Karena kamu cantik sayang....."
Rachel terkekeh dan menarik hidung Mahavir, "Dasar gombal."
"Aku serius." Menarik tangan Rachel yang menarik hidungnya dan mengecup punggung tangan itu. "Aku sangat mencintaimu....tak ada lagi yang kuharapkan di dunia ini selain cintamu." Lanjutnya lagi.
Aura kegembiraan begitu terpancar di wajah Mahavir, dan Rachel dapat merasakannya. Bibirnya mengulas senyum lalu mendaratkan kecupan lembut dibibir Mahavir sebagai jawaban.
Pagutan penuh gairah pun kembali terjadi, dan berhenti saat keduanya sudah mulai kehabisan nafas.
"Kapan kita bisa honeymoon?" Mahavir bertanya sembari mengusap bibir Rachel yang masih basah karenanya.
"Sebaiknya tunggu Bryan masuk kuliah dulu."
"Berarti minggu depan, Katanya dia sudah masuk asrama minggu depan."
"Oh yah?" Menengadahkan wajahnya dan menatap Mahavir dengan kilau mata yang berbinar-binar. "Jadi kita mau kemana?"
"Katamu mau ke Praha?" Tanyanya dengan menaikkan satu alisnya. "Memangnya ada apaan disana?"
"Hanya penasaran saja sih dengan kotanya...."
"Di london ini kan masih lebih banyak tempat wisatanya, bangunan-bangunan klasiknya juga hampir mirip. Kenapa bukan di Maldives atau tempat lainnya?"
"Terserah kamu mau dimana, aku mengikut saja." Ucapnya sambil menyusupkan kepalanya masuk ke celah leher Mahavir dan menghirup dalam aroma tubuh yang selalu menjadi candunya.
"Kalau terserah aku, berarti kita tak akan kemana-mana."
"Kenapa?"
"Iya, kita tidak akan kemana-mana."
"Karena tujuanku honeymoon hanya ingin terus berdua bersamamu seperti ini. Lalu buat apa jauh-jauh kalau di sini kita juga bisa melakukannya." Bisiknya lalu masuk ke dalam selimut dan kembali menerkam Rachel.
"AWW.. Vir, sudah..sudah aku lelah..." Teriak Rachel dari balik selimut diiringi suara tawanya, karena Mahavir menggelitiknya.
"Ingat, kamu pernah bilang akan membiarkan ku menempel terus padamu saat acara fashion show-mu selesai. Sekarang aku tagih janjimu..." Mahavir mengingatkan sambil terus menggelitik pinggang Rachel di bawah selimut.
"AWW, geli Vir...geli..."
"Pilih mana? Mau geli atau mau lelah sekali lagi?"
"Tidak keduanya."
"Kalau begitu kamu dapat keduanya." Kembali menggelitik Rachel, namun mulutnya membungkam mulut Rachel yang tertawa. Mahavir kembali bergerilya dan menerkam Rachel hingga berkali-kali. Dan baru keluar kamar saat siang hari.
"Bryan dan Risya kemana?" Rachel mengedarkan pandangan di setiap sudut ruangan di lantai dua.
"Mungkin sudah pergi mengantar Risya."
"Astaga, aku belum sempat membuatkan makan siang buat mereka."
"Mereka bukan orang bodoh. Mereka pasti singgah makan di luar kalau lapar."
"Iya juga sih. Terus kamu mau makan siang apa?"
"Kamu"
"Vir... Aku serius."
"iya, aku juga serius."
Rachel berdecak kesal, lalu berjalan menuruni anak tangga. Mahavir mengikut dan mengekor di belakang hingga sampai di Pantry. Rachel meraih apron yang tersampir di samping kitchen set bawah, lalu membuka kulkas empat pintunya.
"Vir, kamu mau aku buatkan apa?" Tanyanya sambil mengamati bahan-bahan makanan yang ada.
Kembali Mahavir memeluk Rachel dari belakang dan menjatuhkan kepalanya ke bahu istrinya. "Buatkan aku anak yang lucu-lucu."
"Astaga Vir, tadi kan kamu sudah membuatnya berkali-kali. Kita tinggal tunggu hasilnya." Ujar Rachel sambil mengacak rambut Mahavir.
"Jadi sekarang kamu mau apa?"
"Kamu."
"Vir...."
"Iya sayang..."
__ADS_1
"Mau makan siang apa."
"Mau kamu."
Rachel menutup pintu kulkas, melepaskan pelukan Mahavir dan menarik kedua pipi Mahavir. "Aku tanya sekali lagi, mau makan apa?"
"..mmaaaww...Hhaa...mmmuuuu....." Jawabnya karena kedua pipinya semakin di tarik oleh Rachel.
"Hah, susah bicara sama kamu. Ya sudah, kalau tidak lapar. Aku mau tidur saja." Ketusnya lalu mendorong dada Mahavir dan hendak melangkah.
"Eh.. Kok ngambek." Menarik tangan Rachel dan mengecup keningnya. "Masakkan aku apa saja, apapun yang kamu buatkan aku akan memakannya."
"Ya sudah." Kembali membuka kulkas dan mengambil daging ayam dan beberapa sayuran.
Rachel pun mulai mengolah masakannya dengan Mahavir yang terus-menerus menempel di belakangnya. Seakan takut istrinya itu akan lari meninggalkannya.
"Vir, kamu duduk saja sana. Aku tidak leluasa kalau kamu menempel terus seperti ini." Keluhnya sambil menyugar keseluruhan rambut panjangnya.
Bukannya mendengar perkataan Rachel, Mahavir malah mengikuti pergerakan tangan Rachel. Dengan lincah ia menggantikan tangan Rachel yang hendak mengikat rambutnya. "Sini biar aku yang ikatkan." Ucapnya lalu mencepol rambut Rachel ke atas. "Ini ikatnya pakai apa?" Tanyanya sambil memegangi cepolan rambut Rachel. Belum sempat Rachel menjawab, ia langsung meraih sendok dan menyematkannya ke rambut Rachel.
"Kamu ikat pakai apa?" Tangan Rachel terangkat memegangi rambutnya.
"Eh, jangan di pegang, nanti terlepas." Ucapnya dengan menyengir.
Rachel menghampiri kulkas dan melihat pantulan bayangannya. "Astaga, tega kamu Vir. Masak sendok di taruh di kepalaku."
"Eitt, jangan dilepas. Itu maha karya ku." Menahan tangan Rachel dan mendorongnya kembali ke depan kompor listrik. "Sekarang lanjut masaknya, aku sudah lapar." Ucapnya dengan manja.
"Kalau mau cepat kamu duduk sana, biar aku menyelesaikannya dengan cepat." Usirnya sambil mengangkat spatula ke arah Mahavir.
"Iya, iya... Aku duduk, aku duduk." Mahavir langsung duduk di kursi minibar tinggi yang ada di depan meja pantry. Rachel tersenyum puas lalu berbalik dan menyelesaikan masakannya.
Sepanjang Rachel memasak, Mahavir terus menerus mengawasi istrinya dengan bertopang dagu di atas meja pantry hingga selesai. Dan saat masakan Rachel selesai, kembali Mahavir memangku istrinya itu dan menyuapinya serta dirinya secara bergantian.
Mahavir betul-betul menempel pada Rachel seharian itu.
* * * *
Mobil sport Aston Martin berwarna merah kini melaju pesat di tengah jalan kota London. Siang ini, Bryan mengantarkan Risya menuju tempat latihannya.
Sambil menyetir, Bryan tak henti-hentinya melirik Risya yang terduduk di kursi penumpang di sampingnya. Gadis belia itu memalingkan wajahnya menghadap ke jendela, dan mengamati setiap bangunan bergaya Victoria yang mereka lewati. Sedari tadi ia hanya terdiam, tidak cerewet seperti biasanya. Entah mengapa Bryan begitu merindukan celotehan Risya yang seperti biasanya, padahal sebelum-sebelumnya ia selalu kesal saat mendengar gadis itu tak bisa diam.
Hal ini semakin membuat Bryan sedikit yakin akan apa yang Mahavir ucapkan pagi tadi.
Apa dia sadar saat ku cium?
Sepertinya tidak deh... Dia kan tidur...
Tapi kenapa sikapnya berubah?
Kenapa dia seakan menghindariku?
Kemana gadis yang tak pernah diam itu?
Duhhh... Dedek Risya... Kamu membuat kakak ini semakin gila.....Batin Bryan terus meracau.
Bryan menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyapa Risya. "Ris, ini diantar kemana?"
"Oh, langsung ke gedung seni kak." Risya berbalik dan mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya. Kemudian melihat sebuah chat dari guru pembimbingnya. "Ke Queen Elizabeth Hall kak." Ucapnya membaca tulisan itu. Lalu memasukkan ponselnya ke saku jaketnya dan kembali memalingkan wajahnya ke kaca jendela.
Bryan kembali menghela nafas panjang melihat Risya yang irit bicara.
"Ris..."
"Ya kak?" Menoleh dan mengangkat kedua alisnya.
"Apa aku ada salah padamu?"
"Salah?" Berfikir sejenak. "Contohnya?"
"Yah, mungkin saja ada kesalahan yang tidak aku sengaja. Soalnya kamu tiba-tiba jadi dingin seperti itu padaku."
"Kak Bry sendiri merasa punya salah pada Risya atau tidak?"
"Kok nanya balik sih Ris."
"Yah kalau tidak merasa salah ya sudah." Kembali memalingkan wajahnya ke kaca jendela.
"Ris, kita singgah makan dulu yah...."
"Hmmm..." Mengguman sambil menganggukkan kepala tanpa berbalik.
"Mau makan apa?"
"Terserah kak Bry." Ucapnya masih dengan wajah yang menghadap ke jendela.
Bryan kembali menghela nafas dan menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Tangannya sudah gemas ingin menarik Risya dan memaksanya berceloteh seperti biasanya. Tapi Bryan sadar dan hanya mampu mencengkram stir mobil kuat-kuat sebagai bentuk pelampiasannya.
* * * *
Happy Reading All.... 🥰
Makasih masih setia disini....😘🤗
__ADS_1