
Rachel dan Mahavir kini meninggalkan hotel Calister. Dengan kecepatan sedang Mahavir mengendarai Porsche Boxter berwarna putih menerobos jalan-jalan sore hari itu. Jalanan tampak ramai hingga beberapa kali mereka terjebak kemacetan.
"Vir, bagaimana menurut mu dengan Bryan dan Raya?" Rachel membuka percakapan untuk mengisi keheningan diantara kemacetan yang terjadi. Sejujurnya dia masih sedikit kepikiran dengan hubungan adik dan sahabatnya. Bagaimana pun dia ingin yang terbaik untuk dua orang yang disayanginya itu.
"Apanya yang bagaimana?" Mahavir menanggapi dengan cuek, pandangan nya fokus melihat jalan, mencari celah agar mobil yang dikendarai nya bisa lolos dari kemacetan.
"Yah tentang hubungan mereka, Kira-kira mereka betulan menjalin hubungan? speechless juga sih sebenarnya. Gak nyangka gitu, biasanya kan cuma dibawa bercanda, eh malah kejadian."
"Maybe yes maybe no." jawab Mahavir asal.
"Aku takut kalau Bryan hanya mau main-main, aku takut Raya yang masih tidak bisa menyadari isi hatinya sendiri malah salah mengartikan perasaan nya ke Bryan!" Celoteh Rachel. Dia masih ingat ekspresi Raya saat akan meninggalkan hotel tadi. Demi menghindari Bryan, Raya malah meminta Rey untuk mengantarnya pulang. Sementara Bryan juga dengan cueknya langsung menaiki motornya yang masih tersimpan di hotel sejak acara pesta pernikahan.
"Jangan terlalu menghawatirkan mereka, mereka sudah sama-sama dewasa. Bryan itu pemikiran jauh lebih dewasa dari usia nya."
"Justru karena itu, tadi kan kamu lihat sendiri. Bisa-bisa nya mereka berciuman di dalam lift tanpa ada kejelasan hubungan mereka. Bryan itu masih dalam masa yang menggebu-gebu, walaupun Raya itu sudah berusia matang, tapi sejujurnya dia sangat polos. Bagaimana kalau sudah pacaran? Bisa-bisa kelepasan mereka berdua." Cerocos Rachel panjang lebar.
Mahavir yang duduk di balik kemudi hanya dapat tersenyum melihat betapa cerewet nya istrinya itu bila menyangkut orang lain. Sungguh sangat menggemaskan. Andaikan mereka tidak di jalan saat ini, Mahavir pasti akan membungkam mulut yang berceloteh itu dengan ciuman yang bertubi-tubi.
Rachel yang merasa tidak dihiraukan oleh Mahavir pun menoleh, "Kok kamu malah tersenyum? Apanya yang lucu?"
"Kamu"
"Aku?" Rachel menunjuk ke dirinya sendiri.
"Iyya, kamu mikirnya kejauhan. Bryan tahu batasannya, Raya juga tidak seperti yang kamu pikirkan. Biarpun yang satunya adikmu dan yang satunya sahabat mu, mereka punya kehidupan sendiri, Jangan mencampuri urusan mereka."
Rachel termenung sejenak memikirkannya.
Mahavir yang sedari tadi memperhatikan Rachel melepaskan tangan kirinya dari stir dan bergerak menarik tangan Rachel lalu menautkan jari-jarinya diantara jari jemari Rachel. Menggenggamnya dengan erat. "Daripada memikirkan urusan orang lain, bagaimana kalau memikirkan soal kita?"
Rachel menoleh, menatap wajah Mahavir. "Soal kita?"
Mahavir mengangguk.
"Memangnya kenapa dengan kita?"
"Rachel sayang... Kita kan sudah menikah, kita sudah sah menjadi suami istri."
"Memang iya, Lalu?"
"Sejujurnya aku sangat ingin begitu kita kembali ke London kita bisa menjalani hubungan pernikahan yang sesungguhnya. Tapi sebelum itu..."
Rachel mengernyit, "Tapi sebelum itu apa?"
"Sebelum itu... Aku ingin tahu isi hati mu untukku, aku ingin memastikan apakah aku sudah bisa menempati hatimu atau tidak? Aku tidak ingin kita saling berhubungan fisik hanya karena hasrat akan kebutuhan biologis, aku ingin kita melakukannya karena saling menyayangi dan mencintai"
Rachel tertegun mendengar perkataan Mahavir. Sejenak tercipta keheningan diantara mereka berdua selama beberapa detik, hingga akhirnya Rachel bersuara. "Beri aku waktu, Aku masih berusaha membuka hati untukmu....." Lirih Rachel masih dengan nada keraguan.
Mahavir melepaskan genggaman tangannya lalu beralih mengusap pucuk kepala Rachel. "Aku ingin kamu bahagia, aku tidak ingin memaksakan bila kamu belum yakin. Aku akan sabar menunggu." Ucapnya lalu kembali fokus menyetir.
Keheningan kembali hadir. Rachel memilih memalingkan wajahnya ke jendela, melihat bangunan dan pepohonan di sepanjang jalan yang kian terlihat menjauh dengan cepat, menandakan laju kendaraan yang mulai normal terbebas dari kemacetan.
Beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai di kediaman Pak Wijaya. Mahavir langsung menghentikan kendaraan tepat di depan pintu masuk. Rachel langsung turun dari mobil dan melenggang masuk meninggalkan Mahavir yang mengeluarkan beberapa barang bawaan mereka dari bagasi mobil.
"Sini mas Vir, biar saya yang bawain masuk." Tawar Pak Maman yang tadi tampak sedang menikmati kopi di bangku taman yang tak jauh dari teras.
"Tak apa Pak Maman, ini Pak Maman masukkan mobil saja ke dalam garasi." Mahavir menyerahkan kunci mobilnya. Lalu menyusul Rachel masuk ke dalam mansion itu.
Bik Santi dan Bik sumi tergopoh-gopoh berlari kecil mengambil barang bawaan yang dipegang oleh Mahavir. Walaupun Mahavir menolak, tapi mereka tetap ngotot untuk membawanya. Akhirnya Mahavir menyerah dan membiarkan mereka membantunya.
"Daddy sama Mommy kemana Bik?" Tanya Mahavir karena tidak menemukan kehadiran mertuanya.
"Nyonya lagi Arisan dengan ibu-ibu kompleks sini, kalau Tuan sedang berada di ruang kerja." Jawab Bik Sumi.
"Tolong sampaikan ke Rachel kalau aku menemui Daddy dulu." Ucap Mahavir yang langsung diangguki oleh Bik Sumi.
Mahavir lalu berjalan menuju ruang kerja, mengetuk pintu terlebih dahulu lalu membukanya.
"Eh, Nak Vir. Sudah pulang dari berlibur?" Pak Wijaya bertanya sembari bangkit dari meja kerjanya dan menghampiri Mahavir. Mereka berdua lalu duduk berdampingan pada sofa panjang berbahan kulit Oscar berwarna cokelat gelap.
Pak Wijaya menangkap guratan kegelisahan pada raut wajah Mahavir. Tangannya lalu terulur mengusap lembut punggung menantunya itu.
"Ada apa? Apa Rachel bikin ulah?" tanyanya dengan nada penuh kelembutan, seolah berbicara dengan anaknya yang masih kecil.
Mahavir menggeleng pelan lalu menunduk, "Rachel sudah bertemu dengan laki-laki yang berusaha menodai nya dulu."
__ADS_1
Pak Wijaya sedikit tersentak kaget, lalu terdiam sejenak mencerna perkataan Mahavir.
"Ternyata laki-laki itu tunangan sahabatnya."
"Apa Rachel mengenalinya?"
"Awalnya tidak, tapi laki-laki itu bikin ulah dengan mencoba mengganggu Rachel kembali saat saya sedang lengah. Saya sudah mencoba memperingatinya, tapi dia masih nekat, hingga dia sendiri yang mengaku kepada Rachel dan mengingatkan Rachel kembali tentang kejadian itu. Dia juga ternyata mengenali siapa diriku yang sebenarnya."
"Astaga..., lalu bagaimana dengan keadaan Rachel? Dia baik-baik saja kan?"
Mahavir membungkuk, kedua tangannya terangkat memegang pelipisnya dengan siku yang menopang pada kedua pahanya.
"Sekarang Rachel sudah baik-baik saja, tapi sebelumnya dia sempat syok dan pingsan semalaman. Saya ingin segera memberi kabar tapi takut mommy akan terkejut seperti saat mengetahui Rachel berusaha menenggelamkan dirinya ke laut."
"Jadi Rachel sudah mengetahui dirimu sebenarnya?"
"Untuk saat ini dia belum tahu, Rachel jatuh pingsan sebelum laki-laki itu membongkar Identitasku. Tapi sahabat Rachel sudah mengetahuinya."
"Lalu apa yang terjadi setelah nya?"
"Laki-laki itu sudah saya bereskan dad, dia sudah mendekam di penjara, jadi tidak akan berani mengganggu Rachel lagi."
"Syukurlah, Terima kasih nak kamu selalu menjaga Rachel dengan baik. Rachel beruntung ada kamu di sisinya."
"Entahlah dad, apa Rachel juga merasakan hal yang sama. Apalagi kalau suatu hari dia mengenaliku....." Mahavir menarik nafas panjang untuk melegakan ruang hatinya.
Pak Wijaya kembali mengusap punggung Mahavir, memberikan dukungan dan kekuatan untuk bisa lebih semangat. "Daddy mohon kamu bisa lebih bersabar dengannya."
"Saya akan selalu bersabar dad..."
"Lalu bagaimana rencana kalian ke depannya?"
"Rachel meminta kembali ke London, tapi saya mau meminta pendapat daddy terlebih dahulu."
"Sebaiknya kalian memang harus kembali ke London, berada di sini terlalu riskan untuk hubungan kalian."
"Tapi bagaimana dengan Granny?"
"Jangan cemaskan hal itu, saya sudah menjelaskan semuanya kepada nenek Rachel itu. Dia mengerti kok, dia tidak akan memberitahukan Rachel. Cuma kamu tetap harus bersabar dengan sikapnya yang agak kasar. Itu semua dia lakukan karena dia sangat menyayangi cucunya."
"Kalau soal itu kamu pikirkan dulu baik-baik. Jangan gegabah. Biarkan hubungan kalian berjalan dulu, bangun pondasi yang kuat. Biarkan cinta dan kasih sayang kalian terbangun dengan sempurna dulu, kalau bisa sampai kalian memiliki buah hati kalian barulah Rachel mengetahuinya. Seorang anak akan mengikat kalian."
Mendengar perkataan mertuanya membuat Mahavir mengusap tengkuknya.
"Kenapa?"
"Mmm.. Itu... Saya berencana untuk tidak menyentuh Rachel dulu sebelum dia mengetahui yang sebenarnya. Kalau saya melakukannya itu sama saja dengan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saya tidak mau menipunya lebih jauh lagi. Saya merasa tidak tenang dan selalu merasa bersalah tiap berada di dekatnya."
"Astaga nak Vir...Berarti sampai sekarang kalian belum..?"
Mahavir mengangguk dan tersenyum malu.
"Padahal mommy mu sudah sangat antusias menunggu kehadiran seorang cucu. Berarti impian mommy masih sangat jauh."
"Maaf dad..."
"Yakin kamu sanggup?" Kembali Pak Wijaya bertanya, dia menatap heran kepada menantunya itu. "Sekarang kita bicara santai sesama laki-laki. Sebagai laki-laki, daddy tahu kebutuhanmu. Kamu sanggup tiap malam tidur satu ranjang dengan perempuan yang sudah sah sebagai istrimu? Rachel cantik loh, dia cukup sempurna di mata laki-laki."
Mahavir tersenyum tipis, inilah yang membuatnya senang mengobrol dengan laki-laki paruh baya itu. Dia selalu bisa bersikap sesuai keadaan. Tegas disaat memang harus tegas, santai di saat memang sedang santai. Dia bisa menjadi sosok seorang ayah dan sahabat sekaligus. Sangat beruntung Rachel dan Bryan memiliki Ayah sebaik dan sehebat ini. Terutama dirinya yang bisa bertemu dan menjadi bagian dari keluarganya.
"Kalau itu daddy tidak perlu jelaskan. Saya juga tahu..."
Pak Wijaya ikut tersenyum, lalu kembali berucap. "Rasa cinta dan sayang itu juga cepat tumbuh dengan kebiasaan. Terkadang orang yang tidak saling kenal yang dijodohkan akhirnya saling mencintai karena kebiasaan mereka hidup bersama. Karena kebiasaan saling bersentuhan dan saling memenuhi kebutuhan biologis membuat mereka saling membutuhkan. Membuat cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Jangan melihat nya dari sudut pandang negatif karena hasilnya juga akan negatif."
Pak Wijaya menjeda sejenak, meluruskan punggungnya lalu bersandar pada sofa dan melanjutkan perkataannya. "Justru kalau kamu punya pola pikir yang seperti tadi kamu justru memperlambat kemajuan hubungan kalian. Ingat, perempuan itu kadang lain di mulut lain di hati. Apa yang mereka ucapkan kadang tidak sesuai dengan isi hati mereka. Kalau kamu menunggu pernyataan lisan dari Rachel sepertinya kamu akan menunggu hingga kucing bertelur. Gadis angkuh itu tidak akan mudah mengakui isi hatinya. Daddy sangat mengenali sifatnya itu.
Mahavir ikut menyandarkan punggung nya ke sofa. "Tapi saya masih takut dad, memeluknya saja itu sudah suatu keajaiban."
"Jangan terus-menerus merendahkan dirimu,
Buang jauh-jauh rasa tidak percaya dirimu itu. Sekarang kamu itu punya segalanya. Sombongkan sedikit dirimu untuk membuat Rachel bertekuk lutut. Jangan terlalu terlihat mengemis."
"Iya dad, Terima kasih untuk semua masukannya."
"Ya sudah, sana temui istrimu. Nanti dia cariin kamu." Ucap Pak Wijaya menepuk bahu Mahavir lalu bangkit dan kembali ke meja kerjanya.
__ADS_1
"Iyya dad. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Oh iya Vir, Bagaimana dengan administrasi kuliah Bryan?"
"Semuanya sudah beres dad, saya juga sudah memberitahukan ke Bryan untuk bersiap-siap."
"Makasih ya Vir. Kalau begitu kirimkan daddy rekening Universitas itu supaya daddy bisa langsung mentransfer semua biayanya."
"Itu juga sudah diselesaikan semuanya dad. Daddy tidak perlu cemas untuk selanjutnya biar saya yang mengurus semua kebutuhan Bryan selama di sana."
"Wah..Daddy merasa sudah merepotkanmu nak."
"Itu tidak seberapa dengan apa yang daddy berikan kepada saya selama ini. Lagipula Bryan sudah saya anggap seperti adik sendiri. Jadi daddy tidak perlu sungkan pada saya."
"Kamu memang anak yang baik, baiklah kalau begitu."
"Kalau begitu saya permisi dad."
"Hmm" Pak Wijaya mengangguk dengan senyum yang terkembang di bibirnya. Mahavir selalu sukses membuatnya bangga.
* * *
Rachel sedang duduk santai di sofa sambil membuka-buka halaman majalah dekat jendela kamarnya saat Mahavir mengetuk pintu.
Akhirnya tahu juga dia mengetuk pintu dulu. Guman Rachel dalam hati.
Setelah mendengar sahutan dari Rachel, Mahavir pun masuk. Dengan ekspresi yang sulit ditebak oleh Rachel. Mahavir langsung menahan pandangannya.
"Habis bertemu daddy? Ngapain?"
"Iyya, kami mengobrol sebentar." Jawab Mahavir tanpa melihat ke arah Rachel.
"Obrolin apa? Jangan bilang kamu melapor kejadian saat di Villa."
"Bagaimana pun mereka harus tahu."
"Kamu hanya akan membuat mereka khawatir."
"Kita tidak bisa menyembunyikannya. Lebih baik dia dengar dari aku daripada dari Bryan. Lagipula kami mengobrol lain kok. Daddy juga bertanya sesuatu tapi aku sulit menjawabnya, jadi aku bilang tanyakan langsung ke kamu saja."
"Memangnya bertanya apa?"
"Daddy bertanya bagaimana dengan proses pembuatan cucunya, sudah diproses apa belum. Jadi aku bila....."
'BRUKK'
Perkataan Mahavir terhenti karena majalah yang tadi dipegang oleh Rachel melayang dan mengenai dadanya. Rachel tersenyum puas.
Mahavir mengusap-ngusap dadanya lalu menunduk mengambil majalah yang terjatuh di kakinya. Pandangannya masih tetap menunduk enggan melihat ke arah Rachel.
"Ini bisa dilaporkan kekerasan KDRT loh." Ucapnya lalu meletakkan majalah itu ke atas nakas dengan wajah serius.
Rachel terkejut saat melihat ekspresi Mahavir yang seperti benang kusut. Dia kenapa lagi?? Masa marah cuma gara-gara dilempar majalah...
"Kamu marah?"
Mahavir hanya menggeleng kemudian berjalan mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa berbicara sedikitpun. Melepaskan semua yang melekat pada tubuhnya, lalu membuka kran shower yang airnya langsung mengucur membasahi seluruh tubuhnya.
Astaga, bisa gila aku kalau setiap saat melihatnya dengan semua pakaiannya yang kekurangan bahan.
Dia berpakaian tertutup saja, aku masih bisa membayangkan bentuk tubuhnya...
Betul yang daddy katakan... Apa aku sanggup menahannya kalau selalu disuguhkan dengan penampilan Rachel yang selalu terlihat cantik dan seksi?? Aku laki-laki normal, mau sampai kapan aku bertahan?
Beruntung waktu itu Bryan datang. Andai waktu itu Bryan tidak muncul, mungkin aku sudah melakukannya dan melupakan janjiku sendiri...
Tapi sampai kapan?
Aku harus bagaimana?
Apa aku ikuti saran daddy?
Arrghhh... Aku pusing memikirkan nya...
__ADS_1
* * *