Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 58.Kepanikan Bryan.


__ADS_3

Risya terus memberontak berusaha melepas tangan Bryan. Tubuhnya seakan melayang, sementara kedua kakinya yang bergelantungan terus menghentak-hentak di udara.


Tangan kanan Bryan masih saja membekap mulut Risya, sementara tangan kirinya melingkar di pinggang Risya dan mengangkatnya hingga menjauh dari kantor Rachel. Saat dirasanya sudah berada dalam wilayah aman, Bryan pun melepaskan bekapannya pada Risya dan menurunkannya.


Begitu terlepas dari tangan Bryan dan kakinya menyentuh permukaan aspal, Risya langsung menendang tulang kering Bryan dengan sekuat tenaga.


"AAWWWW..." Teriak Bryan meringis kesakitan, mengangkat dan menekuk kakinya lalu mengusap tulang keringnya.


"Kenapa mulut Risya di bekap? Risya hampir mati gak bisa bernafas tahu!! Kenapa juga Risya diangkat seperti itu? Risya kan bukan karung beras!" Pekik Risya dengan wajah memerah karena emosi.


Bryan melepaskan tangannya dari tulang keringnya lalu menarik telinga Risya. "Siapa suruh jadi bocah mulut ember?"


Kembali Risya menendang tulang kering Bryan tapi dengan lincahnya Bryan menghindar. "Siapa yang mulut ember?"


"Eh, masih belum sadar juga?" Semakin menarik telinga Risya.


"Aww.. Aww.. Sakit kak.. Ampun, lepaskan."


"Tadi kamu hampir saja memberitahu kak Rachel soal sapu tangan itu!"


"Saputangan?" Menautkan kedua alisnya dan mengingat kembali perkataannya tadi. Begitu tersadar Risya langsung tersenyum malu dan memasang raut wajah memelas.


"Sudah sadar?" Menarik lagi telinga Risya.


"Aww, Aww sakit kak!" Mencoba melepas tangan Bryan. "Risya minta maaf, Risya keceplosan, Risya tidak sadar."


Bryan melepaskan tangannya dari telinga Risya lalu mendengus kesal. "Untung aku lincah menutup mulutmu. Kalau saja tadi ketahuan kak Rachel, beribu-ribu kali pun kamu minta maaf tidak akan aku maafkan."


"Maaf..." Menunduk dan menghentak-hentakkan kakinya ke atas jalan beraspal. "Memangnya kalau sampai kak Rachel tahu kenapa? Itukan milik kak Rachel, jadi apa masalahnya?"


"Aku jelaskanpun bocah sepertimu tidak akan mengerti. Pokoknya lain kali jangan sampai keceplosan, kamu bisa bikin Kak Vir dan kak Rachel saling benci nanti."


Risya menaikkan kedua alisnya, terkejut. "Separah itu?"


"Bahkan mungkin bisa lebih parah!"


Risya melototkan matanya lalu memukul-mukul kedua bibirnya. "Astaga hampir saja mulut ini membuat masalah." Kembali memukul-mukul bibirnya.


"Sudah, nanti bibirmu luka." Menarik tangan Risya dan menggenggamnya. "Ayo, kita cari makan, katanya mau Burger kan? Tak jauh dari belokan sana ada MCD*NALD." Melangkah dan menarik tangan Risya berjalan bersamanya. Risya pun mengikut tanpa protes karena perutnya memang sudah minta diisi dari siang tadi.


Sesampainya di Resto siap saji itu, Bryan langsung memesan dua porsi Big Mac, dua gelas minuman bersoda serta dua porsi kentang goreng ukuran medium. Merekapun menikmati makanan pada meja yang berada di samping jendela yang memperlihatkan suasana jalan yang riuh dengan para pejalan kaki.


Diam-diam Risya mengamati Bryan memakan makanannya sedari tadi.


"Apa lihat-lihat?" Tanya Bryan yang menyadari kalau Risya curi-curi memandanginya.


"Tiiiidaaakkkk...." Jawab Risya dengan nada dibuat manja sambil tersenyum-senyum dan kini malah terang-terangan memandangi Bryan dengan lekat. Satu tangannya terangkat ke atas meja sambil menopang dagunya, serta memasang senyumnya yang termanis.


Bryan mulai salah tingkah hingga merasakan aliran darah di wajahnya memanas. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya, berusaha tidak menatap mata Risya yang terlihat semakin mengamatinya. Makannya pun semakin di percepat saking groginya.


"Kak Bry...."


"Hmmm" Menjawab tanpa menoleh.


"Ternyata kak Bry sangat tampan yah..." Goda Risya, sukses membuat Bryan tersedak.


"Astaga, makanya makannya pelan-pelan kak." Risya bangkit dari duduknya dan berpindah ke samping Bryan lalu menepuk-nepuk pundaknya dan tangan satunya lagi menyodorkan cup minuman bersoda.


Bryan langsung meneguknya dan menormalkan tenggorokannya, kemudian berbalik melihat Risya. "Sudah kembali ke tempatmu."


"Tunggu kak." Semakin merapatkan tubuhnya pada Bryan seiring dengan wajahnya yang kian mendekat ke wajah Bryan.


Bryan memundurkan wajahnya, tapi Risya semakin mendekat.


Dekat...


Semakin dekat...


Dan semakin dekat...


Hingga hanya beberapa centi jarak diantara kulit wajah mereka. Kedua mata Risya mengerjap-ngerjap dan berfokus pada kedua bibir Bryan, membuat aliran darah pemuda itu sedikit berdesir. Bryan terpaku ditempat, nafasnya tertahan dengan wajah yang mulai memerah, diiringi degupan jantung yang entah mengapa tiba-tiba berdetak lebih cepat saat jari-jari dingin Risya menyentuh dan mengusap area sekitar bibirnya.


"Itu ada saos yang menempel kak." Ucap Risya dengan polosnya.


Bryan semakin salah tingkah, menggeser duduknya sedikit lebih jauh dan memunggungi Risya. Menyembunyikan rona malu yang masih tersisa di wajahnya.


Risya tersenyum-senyum memandangi punggung Bryan. "Astaga, kak Bry lucu yah. Digoda sedikit langsung grogi..." Ejek Risya menepuk-nepuk pundak Bryan.


"Gak lucu!" Seru Bryan dengan ketusnya, menggerakkan bahunya agar tangan Risya tak lagi menepuk pundaknya, lalu ia pun kembali fokus dengan makanannya.


Risya tersenyum-senyum menahan tawa. Kembali ide aneh terlintas di benaknya untuk menggoda Bryan.


"Kak.." Panggil Risya, tapi Bryan tak menanggapi.

__ADS_1


Risya pun menarik-narik lengan jaket Bryan hingga akhirnya mau tidak mau Bryan berbalik. Begitu berbalik, sontak Bryan langsung tertawa mendapati wajah lucu Risya yang dengan konyolnya membuat kentang menjadi gigi-giginya sambil menjulingkan kedua matanya.


"Astaga, bocah. Sudah jelek, kamu begitu lagi, yah tambah jeleklah..." Tertawa-tawa mengejek Risya. "Seperti boneka Annabelle. Serem!"


PAKK'....


Risya menepuk keras paha Bryan, membuat Bryan kembali meringis kesekian kalinya dalam seharian ini.


"Hei bocah. Jadi cewek jangan ringan tangan. Nanti gak ada yang mau sama kamu, baru tahu rasa." Mengusap-usap pahanya. "Barbar amat sih jadi cewek."


"Biarin, kan ada kak Bry. Kalau tidak ada cowok yang mau sama Risya, nanti Risya cari kak Bry hingga ke ujung dunia."


"Ihh, Amit-amit...." Menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ihh, kakak pikir Risya mau gitu sama kak Bry? Ihh najis Risya sama cowok petakilan kayak kak Bry!"


"Kalau aku petakilan, berarti kamu pecicilan!" Tertawa-tawa sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di wajah Risya.


Risya tersenyum jahil lalu menggigit telunjuk Bryan, membuat Bryan refleks menarik rambut belakang Risya. Ketika tersadar bahwa kelakuannya jadi tontonan orang-orang, mereka pun saling melepaskan.


"Kamu tidak rabies kan?" mengibas-ngibaskan jari telunjuknya.


"Memangnya Risya gukguk?" balasnya sembari menyisir-nyisir rambutnya dengan jarinya, memperbaiki tatanan rambutnya yang sedikit berantakan karena ditarik oleh Bryan.


"Sudahlah, habiskan makananmu. Sekarang sudah jam 5 Sore, kamu mau ke Madame Tussauds kan? Tempat itu tutup jam 6. Kalau mau kesana cepatlah."


"Oke, oke Risya habiskan dulu." Kembali ke kursinya semula di hadapan Bryan lalu melahap burger dan kentang gorengnya sekaligus.


"Pelan-pelan nanti tersedak."


Risya hanya mengacungkan jempolnya tanpa bersuara, karena mulutnya sudah dipenuhi makanan.


Setelah selesai makan, mereka kembali menaiki bus berwarna merah. Sebelum ke Madame Tussauds, Bryan membawa Risya ke Museum Sherlock Holmes terlebih dahulu.


Disana Bryan menjadi fotografer pribadi Risya yang tak henti-hentinya minta di potret di segala penjuru sudut rumah dari tokoh Detektif Holmes dan Dr. Watson.


Kurang lebih 20 menit berada di tempat itu, mereka pun mengunjungi Madame Tussauds. Museum dimana dipamerkan patung-patung lilin dari tokoh-tokoh terkenal mancanegara. Lagi-lagi Bryan menjadi fotografer yang setia walaupun kadang ada pertengkaran kecil yang terjadi.


Waktu menunjukkan pukul 18.00, Museum pun ditutup. Mau tidak mau Bryan dan Risya angkat kaki dari tempat itu.


"Sekarang kita kemana lagi kak Bry?"


Bryan tak menjawab, netranya fokus mengamati tampilan peta kecil yang dibawanya.


"Berisik!!" Maki Bryan sambil mengorek-ngorek telinganya yang berdengung akibat suara nyaring Risya. "Siapa juga yang bakalan hilang? Aku hanya lihat tempat wisata yang terdekat dari sini." Lanjutnya, lalu melangkahkan kakinya menuju tempat pemberhentian Bus.


"Lalu kita kemana?" Ikut melangkah menyusul Bryan.


"Ikut saja!"


Risya yang masih panik, langsung bergelayut manja di lengan Bryan.


Bryan melirik tangan Risya dan menipisnya, "Gak usah Pegang-pegang. Katanya tadi malas jalan berdua denganku. Sana, jauh-jauh sana...!"


"Cih...!!" Melepas genggamannya dan menjaga jarak dengan Bryan.


Bryan semakin mempercepat langkahnya di depan tanpa menghiraukan Risya. Sementara Risya berjalan santai dibelakang. Sesekali mata Risya mengamati Daun-daun kering yang baru jatuh terbawa angin lalu terhempas oleh kendaraan yang lalu lalang. Beberapa dedaunan yang lolos dari hempasan kendaraan beterbangan entah kemana, sementara dedaunan yang terjatuh, tertempel di aspal karena terlindas oleh ban.


Pandangan Risya pun teralihkan dan tak lagi mengikut dibelakang Bryan. Ia memilih berhenti di tempat lalu berjongkok dan mengamati dedaunan yang menempel di ruas-ruas jalan. Tangan kecilnya nan putih terulur meraih dedaunan yang membentuk motif unik akibat terlindas ban kendaraan. Senyum manisnya mengembang dan terpatrit indah di wajahnya. Mengambil ponselnya dan mengarahkan kameranya ke hamparan dedaunan yang menempel di ruas jalan itu. Lama Risya berjongkok di tempat itu hingga saat tersadar Bryan sudah tak ada di dekatnya. Risya mengedarkan pandangannya dan hanya melihat Bus yang berhenti di dekatnya. Dengan cepat Risya berlari dan ikut naik ke Bus itu, mengira bahwa Bryan ada di Bus tersebut.


Bryan yang sudah menaiki Bus sejak tadi tidak menyadari kalau Risya sudah tidak ada dibelakangnya. Dia baru tersadar setelah beberapa menit saat Bus berhenti di pemberhentian selanjutnya. Dengan paniknya, Bryan turun dan kembali menaiki Bus yang menuju ke tempat semula. Namun sesampainya di sana Risya sudah tak ada. Ingin menelepon Risya tapi ia sendiri tak tahu nomornya.


Bryan kalang kabut dan berlarian kesana kemari mencari Risya. Kembali menaiki Bus dengan mengedarkan pandangannya ke luar jendela, mengamati setiap orang yang berlalu lalang di jalan.


Hari sudah berganti malam, tapi Bryan belum menemukan Risya. Udara dingin yang berembus pun sudah tak mempan menghalau keringat Bryan yang bercucuran.


"Astaga, kenapa aku tidak minta nomor ponselnya dari kakaknya." Guman Bryan saat otaknya sudah berfikir jernih.


Bryan lalu ke halte tempat pemberhentian bus dan duduk disana, kemudian dengan cepat ia menelepon Rey, yang langsung terhubung pada dering kedua.


"Astaga bocah, kenapa nelfon dini hari begini?" Maki Rey diujung sana yang kembali tidurnya terganggu oleh Bryan.


"Berapa nomor ponsel Risya?"


"Minta sendiri padanya."


"Kalau aku bisa, aku tidak minta padamu. Cepatlah ini mendesak."


"Tunggu, tidak ada yang terjadi dengan adikku kan?"


"Tidak ada waktu menjelaskan, cepat berikan nomornya."


"Tunggu, aku kirim via Chat."

__ADS_1


Bryan langsung menutup panggilan itu, selang beberapa detik chat dari Rey pun masuk. Bryan pun langsung menelepon nomor ponsel itu.


"Halo Risya kamu dimana?" Tanya Bryan saat sambungan teleponnya terhubung. Tapi dari ujung sana hanya terdengar suara isakan tangis.


"Risya, berhenti menangis dulu. Katakan kamu dimana sekarang?"


"Hiks.. Aku... Hiks...tidak... Hiks..tahu kak... Hiks.. Hiks..." Ucapnya terisak-isak.


Bryan mengacak-acak kepalanya frustasi mendengar tangisan Risya. "Bisa tidak kamu tenang dulu?" Menjeda dengan menarik nafas kuat-kuat, mencoba berfikir jernih, lalu kembali berucap. "Coba foto tempat kamu sekarang dan kirim lokasimu sekarang juga."


Bryan mematikan sambungan telepon dan menunggu chat dari Risya. Kakinya bergerak naik turun terus menerus menghentak lantai semen tempat kakinya berpijak. Rasa cemas dan panik masih menderanya. Begitu foto dan lokasi Risya masuk di ponsenya Bryan langsung membukanya dan kembali menelepon Risya.


"Risya aku sudah tahu tempatnya, aku akan kesana, jangan kemana-mana sampai aku datang. Paham?"


Segera setelah menelepon dan mengetahui lokasi Risya berada, Bryan pun menaiki Bus yang membawanya ke Tower Bridge. Dari Tower Bridge Bryan berlari ke area Queens walk dimana Risya terduduk menekuk lututnya pada salah satu bangku taman sambil terisak-isak.


Melihat Risya, Bryan menghela nafas lega.


"Syukurlah....aku menemukanmu" Menarik nafas kembali, mencoba menetralkan nafasnya yang terengah-engah akibat berlari.


Mendengar suara Bryan, Risya yang tertunduk menyembunyikan wajahnya dalam pangkuannya langsung mendongak. Air matanya merembes dari kedua matanya. Kedua matanya tampak bengkak dan sembab dengan bibir membiru dan bergetar karena kedinginan. Melihat itu, Bryan melepas jaket tebalnya dan membalutkannya ke punggung Risya


"Kak Bry jahat ninggalin Risya sendiri." Teriaknya lalu melompat memeluk Bryan dengan eratnya. Meluapkan segala ketakutannya dan kekesalannya.


"Maaf.. Maaf." Desahnya merasa bersalah. Tangannya bergerak mengelus pelan punggung Risya untuk menenangkannya.


"Hiks...hiks..Risya kira kak Bry sengaja ninggalin Risya... Hiks... Hiks..." Memukul-mukul dada bidang Bryan.


"Mana mungkin aku meninggalkanmu. Sudah diam dulu. Aku mau duduk dulu, Aku capek tahu berlarian kesana kemari." Keluh Bryan lalu terduduk pada bangku taman. Nafasnya masih belum normal dengan keringat yang masih mengucur bebas membasahi kaos yang dipakainya dibalik sweater hoodie nya.


Risya ikut duduk di sebelah Bryan, tangisnya sudah reda melihat Bryan yang tampak kacau. Tangannya yang dingin bergerak mengusap kening dan leher Bryan yang dipenuhi keringat.


Bryan menoleh dan tersenyum, lalu menarik tangan Risya dan menggenggamnya. "Sudah bisa jalan sekarang?" Tanya Bryan, Risya hanya mengangguk pelan. "Ayo, sudah semakin larut. Kak Rachel nanti mencari kita." Imbuhnya lalu bangkit dari duduknya dan menarik tangan Risya, membuat gadis kecil itu mendekat padanya. Lalu menuntunnya berjalan.


"Kak..." Panggil Risya.


"Hmm..."


"Kak Bry khawatir padaku?" Ragu-ragu Risya bertanya.


"Pertanyaan apa itu?"


"Jawab saja kak..."


"Aku cuma tidak mau dibunuh sama kakakmu."


"Jadi kak Bry tidak khawatir?"


"Buat apa aku khawatir denganmu."


"Cih...!" Berdecak kesal lalu melepaskan tangannya dari genggaman Bryan. "Kalau tidak khawatir gak usah pegang-pegang."


Bryan menyunggingkan senyumnya lalu menarik Risya kembali dan merangkulkan tangannya ke bahu Risya. "Jangan jauh-jauh lagi. Aku sudah tidak sanggup berlari kalau kamu hilang lagi."


"Buat apa, kak Bry kan tidak mengkhawatirkan Risya? Menengadahkan wajahnya dan menatap wajah Bryan dengan alis yang saling tertaut.


Bryan menoleh, " Bodoh!" Ejeknya sambil mencubit hidung Risya.


Risya hanya mendengus kesal.


"Kak singgah minum coklat panas dong."


"Dirumah saja, duitku sudah habis dipakai naik Bus berulang kali dari tadi."


"Ih kak Bry kere..."


"Coba bilang sekali lagi?"


"Kere...."


Bryan langsung menggelitik pinggang Risya. Tak mau kalah Risya membalas menggelitik Bryan. Mereka pun saling berkejaran menyusuri jalur khusus pejalan kaki yang berada tepat di tepi sungai Thames. Tiang-tiang lampu klasik yang cantik berjejeran sepanjang jalur itu, memancarkan semburat cahaya yang menambah romantis pemandangan yang ada.


* * * *


Sorry ya, kali ini part nya Bryan dan Risya dulu 🤭🥰


Rachel dan Mahavir nya besok-besok ajah... 🤗😂


jangan bilang dikit lagi yah... soalnya ini sudah 2300 kata loh...🤗😂


Pengen Up lagi? please tekan like 👍 dulu..


tinggalkan komen dan votenya juga kalau bisa...

__ADS_1


Terima kasih😘💕 Peluk cium dari Author...


__ADS_2