
Rachel terbangun saat hari sudah mulai beranjak malam, tubuhnya masih terasa lemas dengan kepala yang juga masih terasa pening. Tapi walaupun begitu, ia tetap menguatkan dirinya. Diangkatnya tubuhnya dari pembaringan kemudian bergegas membersihkan diri. Ia membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam bathup dan hanya menyisakan wajahnya saja di permukaan air. Memejamkan kedua matanya dan merilekskan tubuhnya. Berlama-lama disana hingga perasaannya bisa sedikit lebih baik.
Hampir sejam waktu yang dihabiskannya untuk berendam. Setelahnya, Rachel berhias diri. Menggunakan gaun panjang berwarna merah terang berbahan chiffon dengan bagian terbuka di bagian punggung hingga ke pinggang yang terlihat berani serta sentuhan make-up smokey eyes untuk menyamarkan mata sembabnya. Tak lupa pula ia menggunakan kalung berlian ruby berwarna merah pemberian dari Mahavir tempo hari. Terlihat begitu kontras di kulit putihnya.
Di lantai bawah, Stuart sudah menunggunya sejak tiga puluh menit yang lalu. Raut wajahnya sudah sangat gelisah karena Nyonya Mudanya belum juga turun. Saat baru saja akan menyuruh Bik Inah mengecek Rachel ke atas, Rachel pun terlihat menuruni tangga sambil memegangi longcoat-nya.
Kedua mata Stuart sesaat terpana melihat dandanan Nyonya Mudanya itu. Ia bahkan sempat menelan ludahnya sebanyak dua kali. Tak bisa dipungkirinya bahwa istri Tuan Mudanya itu begitu sangat cantik dan seksi. Pantas saja kalau Tuan Mudanya sangat tergila-gila padanya.
Bik Inah segera membantu Rachel memakai longcoat-nya lalu berlalu dengan cepat dari hadapan Stuart.
"Sebaiknya kita jalan sekarang Mrs. Alister, Tuan James tak suka menunggu." Ujar Stuart menunduk, menjaga pandangannya sembari mempersilahkan Rachel berjalan di depan, keluar dari bangunan Penthouse tersebut.
Sepanjang jalan dari Penthouse menuju Alister Hotel, Stuart sesekali melirik Rachel dari pantulan cermin di depannya. Sebenarnya Stuart sedikit speechless dengan penampilan Rachel yang terlihat berbeda dari biasanya. Wanita itu terpaku di tempatnya, dengan sorot matanya yang terlihat begitu dingin dan tak bersahabat. Namun walaupun begitu, Stuart masih menepis segala kecurigaannya.
Rachel hanya terdiam sepanjang jalan hingga sampai di hotel. Sesampainya di Alister hotel pun ia turun dari mobil tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun. Kaki jenjangnya yang menggunakan heels berwarna senada dengan gaunnya melangkah dengan begitu anggunnya memasuki loby Alister Hotel yang megah. Beberapa staff hotel yang mengenalinya karena insiden yang pernah terjadi di hotel beberapa bulan yang lalu itu tampak menunduk memberi hormat.
Stuart memandunya di depan, berjalan menuju sebuah ruangan VVIP di restoran hotel tersebut.
Tampak dua orang berjas hitam rapi dengan sepatu pentofel yang berkilat-kilat berjaga di depan pintu. Begitu Rachel mendekat, Salah seorang diantaranya membukakan pintu dan mempersilahkan Stuart dan Rachel masuk ke dalam. Stuart membantu Rachel membuka longcoat-nya dan menggantungnya di tempat yang tersedia di samping pintu masuk.
Di dalam ruangan itu, di balik meja besar dengan berbagai hidangan mewah, terduduk seorang laki-laki paruh baya dengan setelan jas berwarna abu gelap yang berkelas, jenis single breasted dengan kancing terbuka dan memperlihatkan rompi berwarna senada. Mata Hazel-nya berkilat-kilat memandangi penampilan Rachel yang dianggapnya cukup berani.
Rachel sendiri sengaja berpenampilan berani seperti itu. Ia ingin melihat respon orang tua itu padanya.
Stuart menarik kursi dan mempersilahkan Rachel untuk duduk. Setelahnya, Stuart membungkukkan badannya di depan Presdir kemudian beranjak keluar dari ruangan itu tanpa berbicara sedikitpun.
Kini hanya ada dua pasang mata dengan sorot mata yang sama-sama dingin saling bersitatap selama beberapa saat, hingga akhirnya Tuan James mengangkat tangan kirinya dan melihat jam tangan mewah yang terpasang di pergelangan tangannya. Satu sudut bibirnya terangkat dan memperlihatkan senyum sinis yang samar-samar.
"Ternyata anda hebat juga yah..." Suara bariton nya terdengar menggema, memantul ke tiap sudut ruang VVIP itu. Berucap dengan bahasa Indonesia yang masih kaku dan terbata-bata sembari menurunkan tangan kirinya. "Baru kali ini ada orang yang membuatku menunggunya." Lanjut lagi, pelan namun penuh penekanan.
Rachel tersenyum tipis dengan mata yang menatap tajam lawan bicaranya. "Maaf, butuh waktu lama buatku untuk berdandan karena akan bertemu dengan anda." Ucap Rachel dengan santai. Sementara di bawah meja kedua tangannya sudah gemetaran, berkeringat dingin sambil meremas bawahan gaunnya.
Presdir sedikit tersentak, ia sama sekali tak menyangka wanita di depannya bisa berbicara seberani itu padanya. "Wah... Saya merasa tersanjung mendengarnya..." Menjeda ucapannya dengan meyilangkan kedua tangannya di depan dada, sejenak memandangi Rachel dengan sorot mata tajamnya, kemudian kembali berucap. "Apa kamu tidak menanyakan keberadaan suamimu saat ini?"
"Bukankah anda sengaja menghalanginya karena ingin berbicara berdua denganku?"
Tuan James menaikkan satu alisnya dan menyunggingkan senyumnya. "Ternyata kamu memang wanita yang pandai seperti yang terlihat." Sindirnya.
"Terima kasih atas pujiannya
Lagi-lagi Tuan James terkesiap. Dia sunguh-sungguh menemukan lawan bicaranya kali ini. Ia berdehem sejenak kemudian kembali berucap. "Aku dengar, kalian akan honeymoon besok. Aku cukup senang mendengarnya. Terima kasih karena sudah mau membuka hatimu untuk putraku yang begitu tergila-gila padamu."
Rachel tersenyum sinis, ia memalingkan wajahnya ke samping, menatap kosong pada arah pintu. Menelan ludahnya susah payah lalu kembali memalingkan wajahnya ke depan, menatap ayah mertuanya dengan tajam. "Sepertinya putra anda bukan hanya tergila-gila padaku..." Menggantung ucapannya dengan terkekeh pelan. Kemudian lanjut berucap. "...tapi dia begitu terobsesi padaku."
Tuan James mengangkat kedua alisnya, tampak sedikit terkejut. Ia kembali mengamati raut wajah menantunya dengan seksama. Walaupun sorot mata wanita itu terlihat begitu tajam, tapi ia bisa menangkap ada luka yang berusaha disembunyikannya dibalik sorot matanya itu. Tuan James menghela nafas. "Ternyata kamu sudah mengetahuinya yah...., apa anak itu yang sudah mengakuinya?"
DEG....jantung Rachel langsung berdentam kuat. Pernyataan ayah mertuanya barusan sudah membuatnya yakin akan sosok suaminya. Kedua tangannya semakin meremas gaunnya yang berbahan Chiffon. Entah sudah sekusut apa gaunnya bawah sana, atau bahkan mungkin sudah sobek akibat kerasnya remasan tangannya. Tuan James terlihat masih menunggu jawabannya.
"Apa anda pikir putra anda punya keberanian itu?" Mengangkat kedua alisnya sesaat, kemudian tersenyum getir. "Sayangnya putra anda terlalu pengecut."
Rahang Tuan James tiba-tiba terlihat mengeras setelah mendengar hinaan Rachel barusan. Ia menggeram dan terdengar giginya yang saling menggertak menahan amarahnya. "Apa dia tahu kalau kamu sudah mengenalinya?"
__ADS_1
"Menurut anda?"
Tuan James terdiam sejenak. Jari-jarinya bergerak-gerak mengetuk meja berbahan kaca tebal di hadapannya. Tampaknya otaknya sedang bekerja menelaah pertanyaan Rachel barusan.
"Lalu, bagaimana sikapmu ke depannya? Tanyanya pada akhirnya.
"Apa anda berharap saya masih bisa bersikap manis padanya?" Rachel berucap dengan suara yang bergetar bahkan terasa tercekat di tenggorokannya.
Kembali Tuan James menghela nafas, raut wajahnya kini berubah lebih lembut. "Apa kamu akan meninggalkannya?" Tanyanya dengan hati-hati.
Rachel kembali menelan ludahnya, matanya mengerjap beberapa kali untuk menghalau sesuatu yang akan terjatuh dari pelupuk matanya. "Anda pikir saya akan sanggup bertahan hidup bersama dengan orang yang sudah menipuku?"
Kedua mata Tuan James membulat, tangannya bergerak meraih gelas berisi air putih di depannya dan meneguknya. Terlihat ia menghela nafas panjang hingga kemudian membuka mulutnya kembali. "Jadi kamu betul-betul akan meninggalkannya? Apa kamu lupa dengan yang kukatakan waktu resepsi pernikahan kalian?"
"Ingatan saya masih tajam, bahkan saya masih mengingat dengan detail setiap kata yang anda ucapkan saat itu."
"Aku tidak main-main dengan ucapanku saat itu."
"Dan saya akan berterima kasih bila anda bisa menjauhkannya dari saya" Rachel berucap sembari membuka kalung yang melingkar di leher jenjangnya, kemudian tangannya terjulur ke depan dan meletakkan kalung itu di atas meja.
"Apa ini?"
"Itu pemberian darinya. Saya tak bisa memakainya lagi, benda itu seperti mencekik leher saya hingga terasa sulit bagi saya untuk menghirup udara. Tolong anda kembalikan padanya." Ucapnya dengan berkaca-kaca, nyaris sudah tak mampu membendung tangisnya.
Tuan James menggeleng lalu dengan cepat meraih tangan Rachel dan mengusapnya. Ekspresi wajahnya terlihat begitu terluka. "Apa harus seperti ini? Tak bisakah kamu sedikit memahaminya?"
"Lalu bagaimana denganku Tuan? Apakah dia memahami perasaanku?"
Rachel memejamkan kedua matanya, air matanya begitu memaksa menerobos keluar, berjatuhan dengan bebasnya membasahi kedua pipinya. Ia menggigit bibir bawahnya dengan keras. Otaknya kembali mengingat saat-saat bersama dengan Mahavir, namun luka di hatinya begitu lebar dan mendominasi. Ia kembali merasa pening, sesuatu dirasakannya bergejolak dalam perutnya hingga membuatnya merasa mual.
"Hoekkk...." Rachel dengan cepat menutup mulutnya.
"Hoekkk..." Kembali Rachel merasakan mual yang amat sangat. Ia pun langsung berlari ke toilet yang ada di dalam ruang VVIP itu.
Setelah 15 menit, Rachel kembali dengan raut wajah yang terlihat lebih memutih, mungkin ia memucat, tapi polesan di wajahnya menyamarkannya.
"Maafkan saya....sepertinya saya kurang enak badan..."
Tuan James dengan segera menyodorkan air putih ke depan Rachel, Rachel menyambarnya dengan cepat dan meneguknya. Namun rasa mualnya tak jua berkurang. Tuan James memicingkan matanya melihat gerak-gerik Rachel dengan penuh curiga. "Are you pregnant?" (*apa kamu hamil) Tanyanya.
Kedua pupil mata Rachel melebar, membulat sempurna. Tangannya refleks bergerak memegang perut ratanya. Hamil? Tidak, itu tak boleh terjadi. Kalaupun terjadi Mahavir tak boleh mengetahuinya. Buru-buru Rachel menggelengkan kepalanya. "Saya tak mungkin hamil."
"Mengapa tak mungkin? Laki-laki dewasa dan wanita dewasa berhubungan, apanya yang tidak mungkin?"
"Saya pastikan itu tak akan terjadi." lirihnya namun masih bisa ditangkap oleh telinga Tuan James, membuat Tuan James seketika menjadi murka.
BRAKKKK....
Rachel refleks menutup kedua matanya begitu Tuan James menggebrak meja dengan kerasnya. Tubuhnya bergetar karena terkejut, jantungnya memompa dengan kerasnya begitu melihat ekspresi Tuan James yang memerah karena diliputi emosi.
Tuan James bangkit berdiri, satu tangannya berkacak pinggang, sementara satu tangannya terangkat mengusap wajahnya lalu memijat pelipisnya. "I never thought you could be this arrogant!!" (*Aku tidak pernah mengira kamu bisa sesombong ini.) Gertaknya dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Rachel menunduk, isak tangisnya sudah mulai pecah. Air matanya sudah berjatuhan membasahi gaunnya.
"Apa kamu pikir bisa seperti sekarang ini karena siapa, Hah?" Tanyanya penuh amarah.
"Do you think you can be as successful as now because of your own efforts??" (*Apa kamu pikir kamu bisa sesukses sekarang karena usahamu sendiri??) menatap Rachel dan menyunggingkan senyum sinisnya. "BULLSHITT!!!!" (*Omong kosong) teriaknya.
Rachel kembali tersentak, ia menengadahkan kepalanya. Mengangkat wajahnya dan menatap Tuan James dengan tatapan bingungnya.
"Kamu ingin tahu yang sebenarnya?" Memandangi Rachel secara keseluruhan, kemudian kembali berucap, "Tanyakan pada orang-orang terdekatmu."
Seketika wajah Rachel terasa kaku. Seolah-olah aliran darahnya berpusat di wajahnya. Terasa panas dan kebas. Bola matanya pun ikut terasa memanas. Informasi yang baru di dengarnya membuatnya terkejut setengah mati.
Jadi karir ku pun ada campur tangan darinya?
Sebegitu besarkah ia berpengaruh dalam hidupku?
Sejauh mana ia ikut campur dalam kehidupanku?
Sejauh apa ia membelengguku?
Apakah aku memang sudah menjadi bonekanya sejak dulu?
Batin Rachel bermonolog, ia tertawa. Tertawa lepas menertawakan kebodohannya sendiri.
Kamu betul-betul hebat Vir.....!!!
Kedua tangan Rachel terangkat menutup wajahnya. Bahunya terlihat naik turun seiiring tangisannya. Lama ia dalam posisi seperti itu, hingga akhirnya perasaan Tuan James luluh dan menghampirinya, memutar tubuh Rachel agar berbalik ke arahnya. Tanpa sadar Rachel menyandarkan wajahnya pada perut Tuan James dengan kedua tangannya meremas jas laki-laki paruh baya itu.
Tangan Tuan James perlahan bergerak mengusap kepalanya. Menenangkan wanita yang sedang menangis sejadi-jadinya dalam dekapannya. "Aku mohon pertimbangkan lagi keputusanmu." Ucapnya.
Rachel tiba-tiba tersadar. Dengan cepat ia mendorong Tuan James dan bangkit berdiri. Kepalanya menggeleng pelan. "Saya....saya tak sanggup..." Lirihnya dengan menutupi kedua bibirnya menggunakan punggung tangannya.
Tuan James kembali mendekat lalu memegang kedua bahu Rachel. "Kamu tak bisa meninggalkannya bila kamu memang mengandung anaknya."
Rachel menggeleng cepat lalu menepis kedua tangan Tuan James yang memegangi bahunya.
"Aku tak akan membiarkan hal yang sama terjadi pada putraku. Cukup aku yang merasakan sakitnya saat istriku pergi meninggalkanku dalam keadaan mengandung anakku. Mengandung Mahavir, putra satu-satunya yang kumiliki."
"Maaf, saya sama sekali tidak mengerti apa yang anda bicarakan saat ini. Saya... Saya lelah.....Saya butuh beristirahat...maaf....."
"Tunggu sebentar lagi, Mahavir akan kemari."
"Tidak..., jangan panggil dia kemari, saya tak bisa melihat wajahnya saat ini."
"Tapi dia masih suamimu saat ini, orang yang berhak atas dirimu."
Rachel menggeleng lalu berlari secepat mungkin keluar dari ruangan VVIP itu, berlari melewati koridor VVIP restauran hotel dengan kepala tertunduk tanpa melihat ke depan, hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang juga berjalan di arah sebaliknya.
"Sorry, I didn't see you..." (*Maaf, aku tak melihat anda...) ucap Rachel dengan tertunduk menyembunyikan wajahnya yang dibanjiri airmata.
"Sayang....?"
__ADS_1
* * *