Rindu Tiada Akhir

Rindu Tiada Akhir
Matahari dan Bulan


__ADS_3

SAAT INI


Kilau cahaya lampu gedung-gedung dari pantulan kaca hotel dimalam ini membuat Salwa termenung, "indah", sambil sesekali melihat langit malam yang bertaburan bintang tanpa awan mendung yang menghalangi. "Malam ini cerah", dia melirik Taqi yang sibuk gladi untuk acara besok. Dia selalu senang saat melihat gairah dan semangat Taqi. Salwa tidak pernah keberatan untuk menemani Taqi, baginya Taqi adalah magnet yang berlawanan dengan dirinya.


"Ahh apakah benar-benar kita saling melengkapi", hal itu selalu muncul di benaknya. Taqi bagaikan matahari yang bersinar terang menerangi sekelilingnya sehingga terasa lebih hidup. Dan dirinya bagaikan bulan yang tidak terlalu bersinar, terkadang keberadaannya tidak pernah begitu disadari.


"minum De, maaf ditinggal dulu masih diskusi" kata Taqi sambil membawa botol minum


"iya gak apa apa, gimana a lancar?!" tanya Salwa


"Alhamdulillah, hmmm,,, jalan-jalannya ke hotel aja ga apa apa ya? atau Ade mau kemana?"


"pulang aja a udah malam"


"sip aa cek sekali lagi ya buat persiapan besok"


Salwa mengangguk sambil kembali melihat jendela, kegiatan rutin tiap weekend menemani suaminya WO. WO Sakinah, didirikan Taqi dua tahun sebelum menikah dengan Salwa. Awalnya hanya sambilan, setahun kebelakang Taqi memutuskan resign dari pekerjaannya sebagai design produk, agar fokus di WO sambil menggarap usaha katering. Kru WO inti terdiri dari Taqi, Afi dan Edi. Taqi sebagai koordinator acara, mengurusi katering dan acara. Edi fotografer dan dekorasi, sedang Afi penata rias. Dibawah mereka ada kru lain yang bekerja secara rombongan, sesuai kebutuhan.


"teh Salwa, duh maaf ya dianggurin" kata Afi


"Iya ga apa apa, gimana lancar fi?"


"aaahhh tau deh teh, biasa kalau mau wedding ada aja yang tiba-tiba ini itu. Afi pengennya ada teteh bantuin Afi, tapi kata Abah ga boleh biar teteh istirahat"


"haha, iya padahal seru ya" kata Salwa


"ikut gabung yuk teh, kasian tiap weekend ga bisa quality time sama Abah"


Afi memanggil Taqi Abah, hampir semua kru WO juga sama, sebagai yang dituakan. Melihat peran Taqi memang cocok dipanggil Abah.


"duh otaknya keburu capek kerja fi, pengennya istirahat haha" jawab Salwa


"iya teteh juga weekday sibuk, eeh weekend abahnya sibuk"


"ya quality timenya kayak gini fi, nemenin aja"

__ADS_1


"sibuk apa fi, dari tadi ngobrol aja, bukannya kerja" kata Taqi tiba-tiba, sambil menghampirinya bersama Edi


"eehh Abah ini kasihan teh Salwa diem aja sendiri jadi ditemenin, lagian ngajak teteh malah ditinggal" jawab Afi


"ya makanya biar bisa nemenin Ade Abah tersayang ini, bantuin nih tinggal mastiin ini, itu,"


"Abah mah engga peka ah, kasian tahu tetehnya ya" kata Afi sambil merangkul Salwa


"aahh itu alasan kamu aja biar ga ngerjain apa-apa" kata Taqi sambil menjitak kepala Afi


"ihhh AA sakit tahu" bela Salwa


"kamu tuh de manjain Afi aja, jadi ga mau kerja dia"


"teh kalau Abah cuek dan galak biar sama Abang Edi aja" kata Edi sambil melirik Salwa


"eiits daripada godain de Salwa mending hayu cepetan bantuin nih" jawab Taqi ketus


"iya iya bah, bawel amat, baru juga disapa tetehnya"


"eehh ya bukan ngaca tapi diliat dulu ceweknya dodol, kalau kamu ga mau Abang juga"


"hehe, tapi yang digodanya udah terpikat sama yang lain" jawab Salwa ga mau kalah


"cieeee tuh liat Abah mukanya merah"


"hahahaha"


Beginilah kalau sudah kumpul bareng Afi dan Edi. Ditengah kesibukan Salwa sebagai auditor, berkumpul bersama mereka bisa melepas penat.


"de maaf ya lama, mau pulang aja ini?" tanya Taqi


"iya a udah malam"


"Minggu depan atau pas Ade pulang kerja, sore kita jalan yuk makan atau nonton gimana Ade aja"

__ADS_1


"hmmm boleh, tapi bukannya Minggu depan juga ada wedding"


"oh iya weekday ya, kapan Ade pulang cepet?"


"ah santai aja a, kan tadi juga kita habis jalan-jalan"


"hehe kan cuma ke rumah de, mana harus ngasuh Arif sama Firman" keponakan Taqi


"ya ga apa-apa apa hiburan buat Ade, soalnya tiap hari depan screen, main sama ponakan juga udah asyik"


Taqi pun mengusap kepala Salwa gemas


"kamu tuh dari dulu ga rewel ya, coba anak-anak WO aa kayak kamu de, adem rasanya"


Taqi sangat bersyukur ada Salwa disisinya, yang menghargai langkah dan keputusannya. Salwa juga selalu bersedia membantu mengatur keuangan WO dan usaha kateringnya tanpa pamrih. Bahkan, tidak pernah keberatan kalau sehari-hari Taqi masih menerima projek design. Taqi sibuk weekend, dan Salwa weekday. Taqi tidak pernah bolos antar jemput Salwa, kecuali kalau ada projek mendadak. Begitu pun Salwa selalu ikut disetiap weekend.


Sudah dua tahun menikah, Taqi dan Salwa belum dikaruniai anak. Keseharian Salwa bekerja sebagai auditor disalah satu perusahaan. Sebelum menikah, terkadang lembur sampai isya, sekarang selalu mengusahakan pulang jam 5.


Keputusan Taqi berhenti kerja pernah ditantang oleh orang tuanya bahkan sampai ribut dengan mama. Sekarang karena belum ada buah hati dari pernikahan mereka selalu dikaitkan oleh mama dengan kegiatan Taqi yang sibuk, "coba kalau Taqi kerja Salwa bisa berhenti dan bisa fokus promil", selalu itu yang diucap mama. Tapi Salwa tidak pernah menunjukkan kekesalan atau ketidaknyamanan. Dia tetap menjalani promil dan berobat ke dokter kandungan yang disarankan mama.


Taqi anak pertama dari tiga bersaudara. Tami adiknya yang kedua lebih dulu berkeluarga dan mempunyai 2 anak laki-laki. Sedang yang bungsu Tansi baru lulus kuliah. Mama Taqi ingin punya cucu perempuan, setiap mama ngomongin momongan Salwa selalu menghiburnya.


"jangan diambil hati A, Ade bersyukur kita masih dikasih waktu berdua, seperti lagi pacaran"


Taqi dan Salwa memang tidak pernah pacaran, mereka bertemu lalu dijodohkan dan akhirnya menikah. Waktu dua tahun pernikahan ini jadi fase perkenalan dan pendekatan mereka. Taqi sangat menghargai Salwa, karena selalu menenangkannya dalam situasi apa pun. Salwa pun sangat menikmati kehangatan dari sosok Taqi yang seperti matahari, Salwa berharap cahayanya tidak pernah padam karena selalu membuatnya lebih hidup. Dia takut energi cahaya dari Taqi habis, dan tidak meneranginya lagi.


"Alhamdulillah beres, de pulang yuk! fi Ed duluan ya" kata Taqi sambil mendorong Salwa.


"cieee yang mau pacaran" ledek Afi


"makanya buruan nyusul, nikahan orang lain aja diurusin" balas Taqi


"ini juga usaha bah, contohnya kan Abah sendiri dapat jodoh dari acara WO hahaha"


Taqi merangkul Salwa dan mencium kepalanya, Salwa tersenyum, walau seperti matahari dan bulan ia berharap terangnya mereka berdua dapat memperindah semesta.

__ADS_1


__ADS_2