
Tak lama Taqi datang dengan dua box konsumsi dari catering, lalu mereka duduk di ruang tata rias agar lebih nyaman memakannya.
"gimana weddingnya?" tanya Taqi
"bagus ka makasih, aku gak terlalu ngerti soal event, tapi dari acara yang lancar dengan timing yang pas mantap banget"
"mau gabung jadi kru ga Sal? kamu telaten banget soalnya Afi aja kalah"
"haha,, Alhamdulillah kalau kepake kerjaan aku ka, tapi di kantor full banget nih, banyak lembur takut ga ke back up"
"jadi auditor dimana?" tanya Taqi
"di PT INVESTAMA"
"udah lama kerja disana"
"dari lulus kuliah udah 5 tahun"
"ohh, sama Taqi juga di The Rains Design dari lulus kuliah belum pindah-pindah"
"Sani juga ya ka sama, berarti udah lumayan lama ya bareng sama Sani"
"iya haha,, dari awal sopan banget tuh anak, sekarang wuaaahh udah berani dia sama senior"
"hehehe bagus berarti ka, Kaka senior yang baik, coba diaku bertahun-tahun senioritas masih kental"
"hehe,, tapi bertahun-tahun kenal sama Sani, baru tahu sama kamu Sal" Salwa hanya tersenyum
"Sani dan aku tuh satu almamater pas kuliah" lanjut Taqi "jadi udah Deket gitu, udah kenal, apalagi Aldo kan seangkatan sama aku"
"ooohh berarti dulu ka Taqi kuliah di UK Jakarta?"
"Iyaa, aku balik Bogor kerja sini kalau Aldo dia tetap di Jakarta sampe sekarang, hebat mereka bisa sampe nikah gini haha"
"iyaa, hubungan mereka tuh udah jungkir balik tahu ga ka?"
"ya tahulah hahaha, kan Aldo suka cerita sama Taqi"
"wuaaah Sani juga curhatnya ke Salwa, Ampe pusing dengernya"
"iyaa ada ada aja mereka, putus nyambunglah, drama LDR an hadeeuuuh ribetnya, makanya liat Aldo pacaran aja pusing, Taqi milih jomblo deh"
__ADS_1
"oohhh,, aahh masa ka Taqi belum punya pacar?!" ledek Salwa
"belum, Deket sih banyak, cuma keburu ribet gtu lho Sal, males deh. Salwa kapan nikah? jangan lupa WOnya pake yang Taqi ya"
"hahahaha, calon juga belum ada ka"
"emang belum punya pacar?"
"belum pernah"
"aahhh masa?! tapi yang Deket ada kan? yang disuka?"
"ya adalah ka, cuma secret admirer gitu"
"cieee secret segala, temen kantor?"
"enggalah, waktu kuliah, dia di Riau sekarang PNS"
"kenapa ga dikejar Sal?"
"malu ka hahaha, tapi bentar lagi dia nikah kok, nikah sama teman seangkatan juga di kampus"
"yaa ga rame, patah hati dong"
"kamu tuh, masa belum pernah Deket Sama cowok?" tanya Taqi penasaran
"ini Deket ka, normal kan?! hahaha" canda Salwa sambil menunjuk kearah mereka berdua
"bukaan, maksud Taqi masa ga punya yang lagi deket?!"
"yang Deket banyak, ka Taqi terus beberapa teman kerja yang satu bagian, ya Deket biasa aja ka"
"ga ada yang spesial gitu"
"martabak kali ka hahaha"
Sambil makan, mereka terus mengobrol, Taqi akhirnya dapat memastikan kalau Salwa tidak ada hubungan dengan siapa pun. Tinggal mengkonfirmasi ke Sani beres acara nanti, pikir Taqi. Dia harus berterima kasih nih ke Afi yang membantunya sekarang sampai bisa mengobrol banyak dengan Salwa. Sekarang Taqi perlu tahu orang tua Salwa, gimana ya memulai ke sana. Tiba-tiba,
"Dho haiii" panggil Salwa sambil melambaikan tangannya ke Ridho, adik bungsu Sani
"ihh teh Salwa dicariin dari tadi"
__ADS_1
"iya teteh makan sini cari yang adem bareng ka Taqi, ada apa Dho"
"ada wa Asti teh" kata Ridho
"ohhh ibu udah datang?" tanya Salwa
"iya teteh habisin dulu aja, Ridho ke gedung ya"
Kriing,,, kriing,,, dering hp Salwa
"Assalamualaikum Bu, dimana? kok baru ke Bogor sekarang? padahal Salwa udah mau jemput ibu kemaren"
"Iya de, maaf ibu banyak yang diurusin ini ibu udah di gedung kamu dimana?"
"lagi makan Bu di ruang tata rias, ibu mau ke sini?"
"ohh gitu, ibu mau ketemu om Hari dulu" jawab ibu
"baik nanti Salwa ke ibu ya"
"Ibu kamu Sal?" tanya Taqi penasaran, berbulan-bulan mengurusi pernikahan Sani baru kali ini Taqi tahu kalau ibu Salwa ada. Dikira Taqi Salwa anak yatim piatu.
"iya ka ibu di Bandung, dulu juga dari kecil aku tinggal disana, kelas 2 SMP baru pindah sini"
"oooh, kalau bapak juga d Bandung?" tanya Taqi
"emmhhh,,, jadi gini ka, bapak ibu aku cerai sewaktu SMP, kasusnya lumayan pelik sih ka. Akhirnya Bapak menitipkanku pada om Hari, karena Bapak langsung pulang ke Jawa, kerumah keluarganya di Semarang"
"ooh,, baru denger Sal, turut prihatin ya"
"iya ka ga apa-apa, memang Salwa juga ga pernah cerita sama siapa pun. Keluarga om juga ga pernah bahas masalah ortuku dengan anak-anaknya. Makanya om sama ateu udah jadi orang tua bagiku ka, tinggal dengan mereka setiap hari dan tidak pernah sedikitpun membahas bapak ibu membuatku sangat bersyukur, jadi ga kayak terbebani gitu. Kalau bahas masalah ortu, hanya bertiga aja antara om, ateu dan aku"
Taqi mengangguk dan tersenyum "hebat kamu Sal bisa tegar"
"duh maaf ya ka jadi banyak cerita gini hehe" jawab Salwa sambil menunduk
"it's oke, you can trust me. Tapi maaf nih waktunya ga lama Sal, nanti kalau santai I'll be there for you"
"iya maaf ya ka, mengalir aja nih langsung cerita mungkin karena suasananya enak"
"iya ga apa apa, Ayuk kita ke gedung" ajak Taqi sambil beranjak dan mengusap kepala Salwa.
__ADS_1
Hangat, itulah kesan pertama Salwa pada Taqi. Ahhh bodohnya aku, kenapa baru kali ini begitu aja cerita sama seseorang yang baru kukenal beberapa bulan ini. Tapi biarinlah, setelah pernikahan Sani bakal jarang ketemu lagi sama ka Taqi. Anggap aja angin lalu hehehe. Salwa menghibur dirinya sendiri.
Tanpa terasa, beban dihatinya sedikit berkurang. Mungkin memang ini yang kubutuhkan, seseorang yang mau mendengar hatiku. Ahhh rindu sekali. Tanpa terasa ada air mata menggenang disudut mata Salwa. Perih dan lelah akan kesepian yang selalu ada direlung hatinya semakin terasa. Selama ini Salwa tidak punya seseorang untuk berbagi cerita dan sebagainya, karena Salwa dari dulu memang susah bergaul. Teman dekatnya dari SD sampai sekarang hanya bisa dihitung jari. Sangat berbeda dengan Sani, Sani dan Salwa memang dekat. Salwa selalu menjadi tempat curhat Sani, tapi Sani tidak pernah memaksa Salwa untuk bercerita. Yang selalu Sani lakukan saat ayah mamanya mengobrol dengan Salwa adalah memeluk Salwa dikamar, ya mereka sekamar dari SMP. Setelah pelukan itu pasti Salwa menangis sampai tidur. Dan besoknya Sani ga pernah bertanya mengapa Salwa menangis. Perlakuan Sani sangat berharga bagi Salwa, dan sekarang Sani menikah dia merasa kehilangan.