
Di gedung, Salwa mencari sosok ibu, terlihat ibu duduk bersama ateu Hana dimeja makan VIP keluarga.
"Bu" sapa Salwa, sambil mencium tangan ibu
"kamu cantik de, maaf ya ibu kesini baru sekarang"
"iya ga apa apa Bu, ibu sehat?"
"Alhamdulillah"
"Salwa temenin ibu dulu ya, ateu mau ke pelaminan masih banyak tamu, teh Asti saya tinggal dulu ya" kata ateu Hana
"Baik teu" jawab Salwa
Salwa duduk bersama ibunya, kecanggungan masih terasa diantara mereka, tanpa Salwa sadari Taqi selalu memperhatikannya.
"Sani cantik ya de, padahal bedanya cuma setahun sama Ade, kapan menyusul de? kok ibu belum dikenalin sama pacar Ade?"
"Ade ga punya pacar Bu"
"hmmm, udah ada rencana menikah?"
"belum Bu"
"kenapa? emang ga ada yang suka sama Ade?"
Salwa diam dan tidak menjawab
"banyak anak temen ibu, kalau dijodohkan pasti mau de, gimana?"
"kok ibu semangat banget pengen Ade nikah?"
"yaaa,,, umur udah cukup, kerjaan ada, apalagi? liat Sani sekarang ibu jadi kepikiran kamu. dari dulu juga om Hari cerita kamu ga pernah bawa teman laki-laki ke rumahnya. kenapa takut sama om?"
"ya emang ga ada bu. Ibu pakai travel ke sini?" tanya Salwa mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iyaa"
"kenapa ga jawab chat Ade? kan rencananya Jumat pulang kerja mau ke Bandung jemput ibu"
"aahh buat apa jemput ibu kalau sama aja pakai travel"
"ya biar ibu ga sendirian aja"
"udah biasa ibu sendirian" Salwa semakin tidak enak,
"ibu nanti nginep di om?"
"engga mau pulang aja"
"Ibu sampe jam berapa disini?"
"ya istirahat sebentar saja de, jam 3 udah booking travel ke Bandung"
"masih ada waktu mungkin ibu mau cari oleh-oleh?"
"hmmm,, nanti liat sikon, ibu lelah sekali, jarang ketemu kamu juga, kita disini saja menikmati, sambil ngobrol-ngobrol"
"ibu mau apa? Ade bawa makanan dari stand dulu ya"
"boleh ibu mau jus sama buah ya de"
Salwa berlalu menuju stand makanan
__ADS_1
Taqi menghampiri ibu Salwa.
"assalamualaikum Bu, perkenalkan saya Taqi temennya Salwa dan Sani"
"waalaikum salam oh iya, saya Asti"
"Saya temen kantor Sani, baru sekarang ketemu ibunya Salwa, sehat Bu?"
"oh tahu darimana saya ibunya Salwa?"
"Salwa yang cerita"
"oohhh,," ibu terkejut mendengarnya
Tiba-tiba HT yang dipegang Taqi bunyi, "saya tinggal dulu ya Bu, kebetulan saya juga WO pernikahan Sani Bu, salam kenal" Ibu menjabat tangan Taqi, tak sengaja Salwa memperhatikannya.
"ibu kenal sama ka Taqi?" tanya Salwa sambil duduk
"pacar kamu ya?" tebak ibu
"bukan Bu ka Taqi temennya Sani di kantor, kebetulan WO pernikahan ini punya ka Taqi"
"ohhh, udah lama kenal?"
"beberapa bulan ini sambil persiapan pernikahan Sani"
"baik orangnya dan sopan, deket banget sama Ade?" tanya ibu penasaran
"engga baru kenal sekarang aja Bu"
"kerja sambil usaha ya Taqi?! hebat" gumam ibu sambil memperhatikan Taqi
"iya sekampus dan sekantor sama Sani, seangkatan juga sama Aldo suami Sani"
"belum Bu" ibu mengangguk
Lama mereka duduk dalam diam hanya menikmati makanan dari stand.
"De" "Bu" mereka memanggil bersamaan
"eh kamu aja de, ada apa?"
"engga ibu aja dulu"
"de, kalau sudah saatnya kamu menikah jangan lupa bawa calonmu ke Bandung ya. Dan ingat de bapa mu masih ada di Semarang, yang akan jadi wali nikahmu. ini no hp bapak, kalau mau menghubungi bilang saja ibu yang kasih"
Salwa terkejut, dari SMP, putus sudah komunikasinya dengan bapak. Sempat dia bertanya ke ibu, om dan ateunya bahkan Sani membantunya untuk cari kontak bapak, tapi tidak pernah berhasil. Dan sekarang setelah 12 tahun ibu memberi kontak bapak cuma-cuma.
"kenapa baru sekarang Bu?" tanya Salwa "padahal Ade sudah cari kontak bapa lama sekali"
"maaf mungkin sudah saatnya Ade menghubungi bapak"
"apa ibu selalu berhubungan sama bapa"
"tidak, hanya mengirim beberapa kabar dari om Hari tentang kamu aja de"
"lalu bapa bilang apa?"
"bapa senang dan bangga ya seperti ibu" Jawab ibu sambil menunduk melihat HP
Dia tidak tahu harus merasakan apa, ketidakhadiran bapak ibu dalam hidupnya tidak terlalu menyakitkan dibandingkan kabar ini. Aahh apa mereka tidak mengerti kalau aku rindu, hanya itu yang terbersit dalam hati Salwa.
Ingin rasanya menangis, menumpahkan segala sesak dalam dada. Tapi air mata ini tidak mau menjawab semuanya. Salwa minum 2 gelas jus sekaligus, berusaha meredakan sesaknya
__ADS_1
"Bu saya ke toilet dulu" hanya itu yang dipikirkan Salwa.
Taqi melihat semuanya, lalu dia berlari dan memberi HT ke Edi, "Ed titip sebentar mendadak ada perlu" langsung berlari mengejar Salwa.
Di luar gedung Salwa mencoba menelepon nomor Bapak, dia gugup sekali, beberapa kali nomor yang dipijitnya salah, akhirnya tersambung juga. Betapa senangnya Salwa karena terhubung dengan bapak
"halo assalamualaikum" jawab bapak
aaahh suara bapak, Salwa bingung apa yang harus dikatakan
"pa,,," bisik Salwa
"iya halo siapa ini?"
ini Ade, sebelum menjawab terdengar suara dari HP "Ayahh! Ayahh pinjam Hpnya mau main games" suara anak kecil
"haloo,,, haloo,,, ya sebentar Zan"
Salwa buru-buru menutup teleponnya. Siapa itu, apa benar itu Bapa, siapa anak itu?. Tanpa terasa air matanya menetes
Taqi menghampiri Salwa. Entah angin apa, Taqi merasa ada yang tidak beres dengan Salwa semenjak ibunya datang. "Sal" sambil menyentuh bahu Salwa. Salwa terkejut dan menoleh dengan air mata yang menetes d wajahnya. Taqi kaget, entah kenapa ada rasa ingin melindungi dan menghibur gadis ini.
"Sal kenapa?" Taqi menarik lengan Salwa dan merangkul bahunya "ayo masuk mobil aku" ajak Taqi. Salwa hanya diam menurut, kemunculan Taqi juga masih mengagetkannya.
Di mobil Taqi, Salwa mulai menangis, Taqi begitu khawatir melihat Salwa yang menangis, benar-benar terlihat menyedihkan, tidak bukan menyedihkan tapi Taqi tidak tega melihat Salwa dalam kesedihan. Hampir 20 menit, akhirnya Salwa terlihat lebih tenang. Taqi menyodorkan tissue dan air minum.
"makasih ya ka, maaf udah ngerepotin" kata Salwa
"sudah jangan dipikirkan, tenangin dulu aja Sal"
"ka Taqi kok ninggalin acara weddingnya?"
"ohh iya,, tadi udah dititip ke Edi" jawab Taqi cuek, Taqi mengangkat dagu Salwa dan memperhatikan wajahnya
"untung riasan wajah kamu ga rusak Sal, tapi mata sembap, gini aja kamu di mobil Taqi dulu, saya harus balik ke gedung, ini ada banyak playlist musik kali aja kamu mau dengerin musik. Kalau mau keluar kunci mobilnya yang bener ya Sal"
"tapi ka,,,"
"udah aku cabut dulu ya"
Salwa hanya bisa mengangguk, Taqi keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung.
Setelah agak tenang, Salwa ke toilet lalu memasuki gedung. Ibu sudah tidak terlihat lagi di meja makan VIP. Salwa menuju pelaminan,
"ateu Hana, apa ibu udah pulang?" tanya Salwa
"kirain ateu sama kamu Sal, ga tahu ya ateu, Yah teh Asti udah pulang?" tanya ateu Hana ke om Hari
"ga tahu, eh Salwa, Mah nitip pelaminan sebentar ayah mau bicara sama Salwa" om Hari merangkul Salwa dan mengajak duduk di meja makan VIP.
"Salwa, ga usah mikirin ibu, ibumu memang gitu datang dan pulang tidak terduga" kata om Hari
"iya om"
"gimana kalau kita foto keluarga di pelaminan? Salwa ikut ya" om Hari memanggil Taqi
"Qi foto keluarga om ya, disini udah ada Salwa coba cariin Raihan dan Ridho" kata om Hari sambil memandang sekeliling mencari anak-anaknya yang lain. Raihan kerja di Jakarta, sedang Ridho masih kuliah di IPB.
"baik om" jawab Taqi, sambil tersenyum pada Salwa yang dibalas dengan senyuman juga
"nah gitu senyum biar cantik" bisik Taqi sambil melewatinya. Salwa tertegun dan merasa bersyukur karena dipertemukan orang-orang yang peduli padanya.
Akhir acara pernikahan ditutup dengan pemotretan dimulai dari keluarga om Hari termasuk Salwa berlanjut dengan WO. Taqi menepuk bahunya "foto berdua yuk" ajak Taqi, Salwa tak menolak.
__ADS_1
Saat mereka wefie tanpa disadari foto mereka diabadikan banyak orang, oleh Sani, ateu Hana, Afi dan ibu Salwa yang sejak tadi memandang penuh kerinduan pada putrinya. Tapi nasi telah menjadi bubur, apa yang menjadi langkah dan keputusannya tidak bisa ditarik kembali yang ada hanya tinggal penyesalan. Ibu pun meninggalkan gedung dengan perasaan sedih, sesal dan marah yang ditujukan untuk dirinya sendiri.