Rindu Tiada Akhir

Rindu Tiada Akhir
12 Tahun Yang Lalu Part 4 - Takdir


__ADS_3

"Ada apa yah?" tanya Hana penasaran


"engga mah" jawab Hari


Hana membawa segelas teh hangat "nih minum dulu biar tenang" sambil menunggu Hari minum Hana berkata "tumben Dimas kesini sendirian ga bareng teh Asti sama Salwa"


"ya biasa mau ngobrol"


"ada apa yah" Hana tidak bisa membendung rasa penasarannya


"Dimas mau menceraikan Asti dan ingin menitipkan Salwa pada kita mah"


"Innalilahi kok bisa? kasian Salwa" jawab Hana cemas. Lalu Hari menjelaskan masalah yang terjadi dikeluarga kakaknya, "gimana menurut kamu permintaan Dimas"


"ya asal dibicarakan baik-baik aja sama teh Asti, Sani pasti seneng kan dari kecil mereka Deket, cuma dipastikan lagi aja yah" jawab Hana


"ya baru itu aja yang diomongin, Sani ya pasti seneng lah,, kamu gimana mah? jadi ngurus 4 anak?"


"ya pokoknya diomongin yang jelas aja Yah, biar ga ada masalah kedepannya"


"nanti aku mau ke ibu mah, ikut ya" pinta Hari


"baik yah"


"nih Asti telepon bentar ya" Hana mendekat ke arah Hari dia benar-benar penasaran apa yang terjadi


"Har sehat?" tanya Asti ditelepon


"Alhamdulillah, gimana Salwa sehat? udah lama ga main kesini"


"sehat, Har gini boleh ga aku pinjam 10juta kalau ga ada 8juta deh"


"buat apa Asti?"


"buat cicilan rumah ini Mas Dimas belum transfer, sisanya buat sekolah Salwa"


"ohhh kok bisa belum transfer, nanti coba aku tanyain Mas Dimas ya" jawab Hari


"eehh ga usah Har, tadi hpnya mas ga aktif, jadi gimana Har bisa pinjam?"


"aku ga ada segitu, coba ke ibu"


"oohhh ke ibu ya"


"kenapa ga enak ya, karena tadi baru pinjam 25juta ke ibu" ungkap Hari

__ADS_1


"eehhh, kamu tahu Har?"


"iya ibu cerita"


"terus sekarang jadinya cuma pinjem 10juta Asti?"


"iya segitu aja Har, nanti kalau mas udah transfer saya kembalikan"


"tadi juga aku udah ngobrol sama mas Dimas, katanya mau membereskan yang 25juta"


"hah?! membereskan gimana?" tanya Asti bingung


"mas Dimas rencana melunasi yang kartu kredit kamu Asti"


"ooohh gitu,,,, ya udah nanti ditelepon deh mas nya, kalau pinjam yang 10juta bisa?"


"buat apa Asti kan mau dilunasi sama mas Dimas, coba nanti sekalian ngobrolnya biar cicilan rumah dan sekolah Salwa juga diberesin"


"duh bukan begitu Har, yang 10juta ini sebenernya uang kantor, uangnya mau dipake lusa depan, ya kalau ga ada 10juta 8 deh gimana? tolongin ya" kata Asti sambil memohon


"memangnya uang kantor dipake juga sama kamu Asti? kok bisa? kenapa?"


"ya udah kalau ga bisa pinjemin ga apa-apa"


"tunggu Asti, emangnya kamu udah ga punya uang? kan sekarang belum akhir bulan"


Hana dan Hari saling bertatapan, mencoba mencerna yang dilakukan kakaknya. "sepertinya harus diobrolin sama ibu yah"


"iyaaa,,," jawab Hari sambil berpikir


"gimana kalau mas Dimas sama teh Asti juga disuruh datang yah?"


"kerumah ibu ya?"


"iyaaa biar diskusi semuanya" usul Hana, Hari hanya mengangguk


Melihat Hari kebingungan, Hana mengusap tangan Hari


"udah yah jangan dipikirkan, kita istirahat dulu ya"


"ayah memikirkan ibu Han. kita itu ke ibu pas ada masalah saja, apalagi melihat kondisi ibu yang kurang sehat juga"


"iya, coba nanti kesana bujuk ibu biar mau tinggal disini ga apa-apa sama mbak Yum nya juga, biar kita temani"


"kasihan kamu nanti ditambah Salwa gimana, banyak yang kamu urusin" jawab Hari

__ADS_1


"ya coba aja dulu yah kan ga tahu, bisa dibantu mbak Yum nanti"


"kamu juga jangan banyak pikiran, ayo kita istirahat" ucap Hari sambil mengajak Hana ke kamar.


...*******...


"om,,, om,,,!!!!" panggil Salwa. Hari tersentak, rupanya tadi dia melamun. Ya bukan masalah Salwa yang akan tinggal di Bogor. Hari bersyukur karena Salwa bukan anak yang bermasalah. Tapi Hari merasa tidak enak oleh Hana. aaahhh kenapa masalah Asti selalu membebaninya, dan tanpa sadar Hana pun ikut terbebani. walau Hana tidak pernah keberatan tapi tetap saja dia merasa bersalah.


"maaf Sal om melamun, gimana udah diputuskan mau ekskul apa?" Salwa mengerutkan dahi, sepertinya om tidak menyimak


"bukan om, Salwa nanya apa ibu ga apa-apa ditinggal di Bandung, sebenarnya ada apa Antara Bapak dan ibu om?"


Hari tertegun mendengar pertanyaan Salwa. "emangnya ibu atau bapak ga cerita?" tanya Hari


"engga, cuma Bapak memang bilang mau pisah sama ibu. ibu juga cerita lagi siap-siap persidangan dan pindah kantor. oh iya makasih ya om udah nemenin ibu di persidangan sama pengacara"


"sama-sama Sal, ya sudah kewajiban om juga menjaga ibu. terus ga ada obrolan lagi?"


"ya cuma minta maaf aja"


"hmmm,,, jadi gini, ibu dan bapak ada masalah, ibu masalah keuangan dikantornya dan bapak juga kan mau pindah kerjanya jadi sekarang lagi proses resign, karena bapak mau pulang kampung kerja disana"


"mengapa harus berpisah om? apa karena bapak selingkuh?" Hari kaget tahu darimana Salwa Dimas selingkuh.


"siapa yang bilang Sal?"


"ibu pas marahan sama bapa? om tahu selingkuhan bapa? orang Jakarta ya?" tanya Salwa penasaran


"engga Sal" jawab om, Hari bingung menjelaskannya


"tapi memang sudah bertahun-tahun hubungan bapa dan ibu ga harmonis om" Hari terdiam berusaha tidak ingin menanggapi


"kalau bapa mau pulang kampung kok Salwa ga dibawa om? bapa pasti mau nikah ya sama perempuan itu?" tanya Salwa sambil membuang muka ke jendela


Melihat Salwa termenung Hari berusaha mencari cara menjelaskan permasalahan ini


"Salwa tahu kan kalau kakek meninggal waktu om dan ibu masih SMA" Salwa mengangguk "apa yang terjadi sama bapak dan ibu ya seperti itu, seperti eyang yang udah ditakdirkan berpisah, bedanya perpisahan eyang itu berpisah dunia akhirat, sedang bapa dan ibu ditakdirkan berpisah di dunia" melihat Salwa menyimak om Hari melanjutkan


"perpisahan didunia salah satunya ya karena perceraian,,, hhhh,,, Salwa sebenarnya, kamu dibawa sama om ke Bogor permintaan bapa. om juga tidak tahu masalah perselingkuhan, tapi yang jelas bapa memang resign dari tempat kerjanya dan sekarang sudah ada panggilan dari tempat kerjanya yang baru di Mojokerto. mau membawa Salwa ke sana pun banyak yang harus bapa siapkan. begitupun ibu, sekarang lagi mengurusi permasalahannya di Bandung. susah juga pindah keluar kota tuh apalagi PNS" jelas om Hari


"lalu kenapa Salwa harus ikut om kalau ibu memang masih ada di Bandung?"


"karena ibu di kondisi yang tidak stabil, ditempat kerjanya pun bermasalah sampe dimutasi, belum lagi mengurusi persidangan yang perlu waktu berbulan-bulan. intinya kondisi ibu bapak Salwa semuanya ga stabil, makanya Salwa ikut om. Salwa doakan ibu bapak biar lancar menghadapi segalanya. keluarga om juga sehat biar bisa nemenin Salwa" jawab om sambil tersenyum ke arah Salwa


"makasih ya om" jawab Salwa, dia tidak berani lagi bertanya masalah ortunya, dia tidak ingin membebani om, sepertinya om Hari sudah terlalu banyak terbebani karena masalah ini. Salwa memutuskan tidur, dia berusaha memejamkan matanya, dia tidak ingin terus kepikiran ortunya yang menimbulkan pertanyaan dibenaknya.

__ADS_1


Hari lega rasanya melihat Salwa tidur. Entah apa yang akan dirasakan Sani kalau masalah ini menimpanya. Apa akan setenang dan setegar Salwa, makanya Hari berusaha tenang menjelaskan semua pada Salwa. Dia tidak ingin menambah luka pada anak itu. Cukuplah beban sekarang Hari, Hana dan ibu yang menanggung. Makasih banget Asti, kamu tuh memang bukan kakak yang bisa diandalkan. Seandainya bukan karena keberadaan Sani mungkin Hari tidak mau memikirkan Salwa. Ahhh Hana terima kasih karenamu aku bisa menerima posisiku. Teringat semua yang dilakukannya untuk memastikan masalah ini dan menentukan pilihan, bukan hal yang mudah


 


__ADS_2