
Taqi menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja, penat rasanya meeting tadi ketemu klien yang lumayan cerewet. Sambil memijit keningnya Taqi menghirup kopi hitam, aromanya mengingatkan Taqi saat di Bandung bersama Salwa. Hhhh, apa kabar anak itu ya. Setelah dari Bandung dan mempunyai no HP Salwa, kedekatan mereka biasa saja. Taqi dan Salwa sama sibuk dengan kerjaan, weekend Taqi full acara WO. Sesekali mereka chatting tapi dibalas seadanya, bahkan terkadang telat karena kesibukan. Sani pun bilang kalau Salwa lagi banyak projek dikantornya. Ingin rasanya berhenti kerja, tapi mama belum setuju.
Ya Taqi memang tulang punggung keluarga, ayahnya meninggal saat Taqi kuliah tingkat akhir di Jakarta, ibunya sekarang pensiunan guru. Tami adiknya harus bekerja dulu dan mengambil cuti kuliah, Tansi adik bungsunya masih SMA. Akhirnya setelah Taqi lulus dan mendapat pekerjaan, Tami melanjutkan kuliahnya. Taqi merintis WO saat Tami menikah, Tansi kalau tidak ada kesibukan dikampusnya sekarang pun selalu membantu. Capek rasanya harus bekerja dan menjalankan WO, apalagi saat ini Taqi ingin mengembangkan usaha kateringnya. Tapi Taqi begitu lelah menjalankan semuanya sendiri, dia ingin mempunyai partner, bukan dia merindukan seseorang disisinya, ya seperti Aldo dan Sani. Dia ingin menikah.
"Melamun aja nih" kata Sani
"iyaa penat San"
"sama jalan yuk" ajak Sani
"ayo kita makan siang diluar"
Mereka berangkat ke restoran terdekat. Sani menelepon Aldo meminta izin, dari dulu hubungan mereka bertiga memang dekat, malah Taqi selalu menjadi penengah diantara mereka.
Setelah mereka memesan makanan
"Qi mau curhat"
"gimana?"
"aku pengen Aldo pindah ke Bogor, ayah ga mau aku LDRan, trauma dia gara-gara liat ortu Salwa"
"bukannya Aldo lagi cari kerja"
"iyaaa tapi dia selalu merasa gajinya ga sebesar dia di Jakarta"
"cepetan hamil gih, pasti mau pindah" kata Taqi, Sani melempar kerupuknya ke mangkuk Taqi
"becanda San, hahaha"
"Taqi juga lagi banyak pikiran"
"apa?"
"Taqi pengen nikah San, ga tahu ya seperti udah waktunya gitu nikah, udah bener-bener perlu seseorang, ya kayak kamu sama Aldo"
"yakin langsung nikah ga akan pacaran dulu?"
"aaahh susah San, kan tahu sendiri kondisi Taqi, dulu juga pdkt tetep aja makhluk seperti kamu itu nuntut perhatian, nuntut waktu sedang Taqi kan terbatas"
"enaknya aja makhluk, emangnya jadi-jadian hahaha, tapi cewek seperti itu kok Qi"
"Salwa juga?"
"seriusan kamu tuh mau sama Salwa?"
"ya ga tahu, aku perhatiin dia ga ribet aja, baru ketemu orang kayak Salwa"
"ya kalau kamu pikir Salwa ga ribet masa nikah cuma gara-gara itu, kamu belum tahu kan cerita Salwa?"
"tentang orang tuanya, ya garis besarnya tahu, Salwa cerita"
"itu baru garis besar, detailnya?" Taqi menggeleng
"ya intinya Qi, aku seneng kalau kamu mau sama Salwa. Aku yakin dan tahu banget Salwa itu baik, dia ga pernah pacaran. Menurutku sih karena kejadian orang tuanya, buat Salwa jadi kurang terbuka, dia merasa insecure sendiri. Cuma kalau Salwa sampe mau cerita ke kamu walau dikit menurutku itu keren lho"
__ADS_1
"iyaa dan ga tahu mesti gimana deketin dia San, dia itu belum kepikiran mau nikah, simple banget kalau ada yang mau asal om Hari ateu Hana dan ibunya setuju ya dia setuju, dia itu kayak ga mikirin perasaan dia, apa dia suka atau engga, apa dia cinta atau engga"
"Hmmm,,, mungkin dia masih bingung sama perasaannya sendiri, ya Qi bayangin bapanya ninggalin dia gitu aja pergi didepan dia, ibunya kalau mau melakukan sesuatu ga pernah mikirin dia ya sesuka ibunya. Makanya Salwa itu sayang banget sama ayah dan mama, bahkan dia lebih ngutamain mereka daripada dirinya, Sani aja anaknya kalah. Mungkin karena Salwa pernah kehilangan ibu dan bapaknya, dia ga mau kehilangan ayah dan mama aku, yang menemani Salwa seperti anaknya sendiri" Taqi menyimak
"makanya Qi, bukan kehidupan mudah yang udah Salwa lewatin, kalau kamu yakin sama pilihan kamu, Sani harap kamu yakin sama diri kamu apa bisa kamu jadi orang yang selalu diandalkan Salwa"
"oke San makasih"
"istikharah gih"
"sama Aldo juga kamu istikharah?"
"engga mama nyuruh aku istikharah, apa aku harus resign ikut suami ke Jakarta atau stay disini aja. kamu istikharah Salwa" Taqi mengangguk.
...*******...
assalamualaikum Sal
Siang itu Taqi mengechat Salwa, menunggu 1 jam 2 jam bahkan pesannya belum dibaca. Taqi mengalihkan pikirannya dengan terus meneliti dan memperbaiki designnya.
Jam 3 hpnya berdering, terlihat Salwa yang menelepon
"assalamualaikum ka Taqi, maaf baru baca wa nya, ini Salwa lagi dijalan baru beres meeting"
"oh oke Sal sorry ganggu"
"ada apa ka? ga bisa balas wa lagi pegang banyak dokumen nih"
"nanti pulang malam"
"mau dijemput?"
"ka Taqi tahu kantor Salwa?"
"gampang lah nanti juga bisa dicari"
"emmmh, nanti kabarin Salwa lagi ya ka ini baru sampe kantor, assalamualaikum"
"waalaikum salam" hhh sibuk sekali anak itu.
...*******...
Beres Maghrib Taqi langsung menuju kantor Salwa, dengan modal GPS perjalanan perlu waktu 1 jam karena macet. Saat parkir, Taqi sudah melihat Salwa sedang duduk di lobby bersama beberapa teman kerjanya. Taqi buru-buru menuju lobby.
"assalamualaikum Sal" sapa Taqi
"eh ka Taqi udah datang, Sa, Faj, Na duluan ya"
"cieee sama siapa nih ga dikenalin?"
"oooh iya ini kenalin ka Taqi temennya Sani" Taqi tersenyum dan menganggukkan kepalanya
"temennya Sani apa temen hehehe"
"aahh kalian ini hahaha, duluan ya" Salwa pamit
__ADS_1
"ka Taqi jagain Salwa yaaaa" canda mereka yang dibalas dengan gelengan Salwa
Dimobil,
"mau langsung pulang?"
"boleh ka kebetulan udah malam ya" jawab Salwa, terdengar bunyi perut Salwa
"UPS sorry ka" kata Salwa sambil tersenyum menahan malu
"mau makan?"
"hehe laper sih"
"ya wdah makan dulu yuk, Taqi juga belum makan" ajak Taqi
"emmmh, Salwa bilang ateu Hana dulu ya ka"
Setelah dapat izin, akhirnya mereka menuju restoran ramen, sesuai keinginan Salwa.
"Sal, sibuk banget ya"
"iyaa duh Salwa Ampe pusing nih pengen cepet-cepet beres audit ini itu hehe"
"Taqi juga weekday sibuk weekend sibuk"
"iya hebat banget ka Taqi double job gitu aku pasti udah kebelinger"
"terakhir kita makan gini pas di Bandung, gimana kabar ibu?"
"Alhamdulillah sehat, Salwa juga udah lama banget ga nelfon ibu, pulang kerja tuh pengennya selonjoran"
"iya sekarang Taqi lagi penat-penatnya"
"harus banyak refreshing ka, apalagi tiap weekend WO, Kaka bener-bener harus bisa ngatur"
"apa Taqi berhenti kerja aja?"
"wuah beneran Kaka mau berhenti kerja?"
"iya capek tahu Sal, double gini"
"iya kebayang sih, coba ka Taqi pikirkan baik-baik, terus harus punya planning juga ka"
"iya cuma mama keberatan" Taqi pun menceritakan keadaannya
"sabar ya ka, memang ga bisa sekaligus ngerti tapi kalau dijelaskan perlahan-lahan dengan lembut nanti juga mama mengerti"
"dulu juga ibu sama Salwa begitu, Salwa dan ibu banyak juga ketidakcocokan, kadang malah ibu yang marah caranya ya susah dihubungi sama Salwa ga pernah balas atau angkat telepon, tapi kalau ada sesuatu pasti melembut ka. Mungkin karena ibu hanya punya Salwa aja. Kalau ka Taqi masih ada saudara pasti mama juga ga fokus ke Kaka mungkin masih memikirkan Tansi"
"iya makasih ya Sal, duh maaf Taqi malah curhat"
"ga apa-apa ka, Salwa senang, dulu juga waktu nikahan Sani, Salwa yang curhat" Taqi tersenyum.
Mereka kembali larut dalam obrolan, jam 8 Taqi mengantar Salwa ke rumah dan langsung pulang. Malam itu pun Taqi mencoba saran Sani, istikharah.
__ADS_1