Rindu Tiada Akhir

Rindu Tiada Akhir
12 Tahun Lalu End - Bogor


__ADS_3

Perjalanan Bandung Bogor selama 4 jam, tak terasa mobil om Hari sudah masuk kota Bogor. Mereka hanya isi bensin dan beli cemilan di rest area, karena ateu Hana sudah masak dan Sani dari tadi sudah cerewet telfon Hari kapan sampai, seperti sekarang ini, om Hari selalu menyuruh Salwa mengangkat telepon dari Sani "yang dia tanyain kamu" kata om Hari.


"Salwa kata ayah udah masuk Bogor ya?" Salwa sampai lupa sudah berapa kali Sani menelepon menanyakan lokasi terbaru


"iya San, bentar lagi sampai"


"yeeee aku kangen banget tahu, nanti kamu jadi kakak kelas aku, aku udah list senior mana yang baik dan nyebelin buat kamu haha,, oh iya Sal kamar kita dihias warna pink biar girly" dan seperti biasa Salwa menanggapi dengan iyaaa, wuaaah, hahaha. Membayangkannya saja membuat Hari tersenyum. Setelah telepon ditutup


"berisik banget ya teh?" kata Raihan


"iya, tapi teteh juga kangen banget soalnya terakhir ketemu kan lebaran kemarin" jawab Salwa


"harus siap-siap tutup telinga teh, apalagi teteh sekamar hahaha" canda Raihan


Salwa tersenyum mendengarnya, bertahun-tahun dirumahnya sendirian, Salwa merasa senang sekali ada teman dirumah, apalagi dia akan sekamar dengan Sani.


...*******...


Dirumah Sani membantu mamanya menyiapkan makan. Ridho sesekali disuruh mama angkut ini itu ke kamar Salwa dan Sani. Masih ingat tadi pagi sebelum ayah dan Raihan ke Bandung jemput Salwa. Ayah mereka berkata,


"Anak-anak, sudah tahukan mulai hari ini Salwa tinggal disini. Ada masalah sama wa Asti dan wa Dimas. Ayah dan mama minta tolong jangan bahas tentang uwa depan Salwa. Anggap saja Salwa teteh kalian paling besar. Biar Salwa cepat betah tinggal disini" kata ayah


"iya mama juga titip ya Sani, nantikan sekamar, coba jadi teman dekat, jadi tempat curhat Salwa, takutnya kalau sama mama Salwa masih canggung. Ingat jangan bahas tentang uwa duluan kecuali kalau Salwa yang cerita ya"


Sani, Raihan dan Ridho hanya mengangguk. Mereka sudah tahu apa yang terjadi antara wa Asti dan wa Dimas, ayah dan mama menceritakan uwa mereka akan berpisah sepulang dari rumah Eyang. Tak terbayang oleh Sani, kalau dia jadi Salwa, mana ga punya saudara. Sani sangat bersyukur dia mempunyai Raihan dan Ridho walau kadang suka jail dan nyebelin. Sani pun berharap ayah dan mamanya akan tetap bersama, sedih rasanya kalau berpisah seperti uwa. Sani berjanji dia tidak akan mengecewakan ayah dan mama, Salwa akan betah tinggal di sini.


Kemudian, terdengar suara mobil ayah didepan rumah, Ridho cepat-cepat membuka gerbang. Setelah mobil parkir Ayah, Salwa dan Raihan turun, Sani dan mama langsung memeluk Salwa dan mengajaknya masuk. Ridho, Raihan dan ayah langsung membawa barang-barang dari bagasi mobil.


Mereka bercengkrama diruang tamu lalu dilanjutkan acara makan bersama, menyambut penghuni baru alias Salwa kata mereka. Rumah om Hari dan ateu Hana lebih besar dari rumah Salwa. Ada 3 kamar dibawah dan 1 kamar diatas. Di bawah kamar om dan ateu, Salwa dan Sani serta kamar Ridho, sedangkan diatas kamar Raihan. Ada mbak pulang pergi yang suka bantu disini.


"Dho bawain barang teh Salwa ke kamar ya" kata ateu Hana "kasian Raihan sama ayah pasti pengen istirahat"


"oke mah" kata Ridho sambil membawa beberapa tas Salwa, diikuti Salwa dan Sani yang ikut membantu.


"Salwa anggap saja rumah sendiri ya, maaf kamarnya penuh, jadi sekamar sama Sani" kata ateu Hana

__ADS_1


"ga apa-apa ateu makasih banget malah" jawab Salwa


"iya mama pasti Salwa seneng ya, kan kita bisa girls time" kata Sani


Dikamar, Sani menjelaskan mana lemari Salwa dan tempat tidurnya, untuk meja belajar ada diruang tengah "jadi kita bisa belajar sambil nonton" canda Sani


"dih alasan" kata Ridho


"kenapa iri ya karena meja belajarnya dikamar hahaha jadi yang menguasai tv malam hari adalah kami" jawab Sani, dibalas cibiran oleh Ridho


Salwa pun membereskan barang-barangnya. Dia sangat bersyukur mempunya paman dan tante seperti om Hari dan ateu Hana serta sepupu Sani, Raihan dan Ridho. Walau masih terasa kesedihan dalam hatinya. Sampai saat ini pun Salwa belum bisa menghubungi bapa. Apa dia harus ke kantor Bapak untuk bertemu dengannya. Tapi Salwa takut merepotkan semua. Apa boleh dia minta hp ya ke om?


"San, kamu punya hp?" tanya Salwa


"belum, kata ayah nanti pas SMA" jawab Sani sedih


"Salwa udah punya hp?" tanya Sani


"belum" duh gimana mintanya Sani aja belum dikasih


"oke"


"gimana kamarnya?" tanya Sani


"cewek banget San, pinky girl"


"hahaha kita kan girly, ihh seneng banget deh Salwa kita sekamar, aku udah bosan jadi korban kejahilan Rai sama dhodho itu"


"hahaha iya Rai banyak cerita di mobil"


"sekarang kita dua lawan dua, aku mau balas dendam hahaha" lanjut Sani "besok kan Minggu, mau lihat sekolahan ga?"


"emang boleh?" kata Salwa penasaran


"bisa, nanti deh aku minta tolong mama biar dianterin sama mama"

__ADS_1


"eeh iya udah tahukan tiap ke sekolah diantar mama?" tanya Sani


"iya om Hari tadi cerita dimobil"


"kita harus duduk dibelakang ya biar bisa bergosip"


"oke"


"eeh iya ini aku udah cariin buku untuk kelas 2, aku pinjam kesenior aku jelas 3" kata Sani


"wuaaah makasih banget San, aku bawa sih buku pelajaran dari rumah, tapi takut beda"


"nih dicek dulu aja mudah-mudahan kepakai"


"siap makasih ya"


"aku ke mama dulu" kata Sani


Salwa mengamati kamar barunya, semuanya serba pink. Dua kasur kecil dua lemari dan satu meja rias kecil, Salwa melihat keruang tengah ada dua rak buku disana dan dua meja belajar lipat. Dulu mungkin semua barang itu masuk kamar ini. Sani baik sekali mau berbagi kamar. Dinding bagian Sani udah penuh dengan foto-foto dan hiasan. Sedang dindingnya masih bersih, Sani bahkan menyisakan dinding untuknya dihiasi, apa boleh menempel sesuatu. Salwa mengeluarkan foto keluarganya, apa bapak membawa foto ini ga ya? kata Salwa dalam hati, teringat ibunya yang masih juga memasang foto keluarga dirumah. Salwa menempelkan foto tersebut diatas tempat tidurnya yang baru. Bapak ibu, aku belum tahu dan mengerti apa yang terjadi, menantikan kita kembali bersama adalah mimpi yang selalu kuinginkan. Tapi saat ini aku berharap dimana pun Bapa dan Ibu mudah-mudahan sehat, aku selalu menyayangi kalian.


"Salwa, bagus fotonya" kata ateu Hana sambil masuk ke kamar diikuti Sani


"Ateu udah ngabarin ibu, nanti magrib ibu mau telepon"


"iya ateu makasih"


"oh iya coba Salwa cek takutnya ada yang kurang, kalau ada yang kurang besok kita belanja ya bareng Sani" ajak ateu Hana


"sekalian lewat ke sekolah mah biar Salwa tahu" kata Sani


"boleh, oke ateu tinggal dulu bentar ya, Sani ayo bantu mama, kasian Salwa takutnya mau istirahat"


"oke nanti aku temenin ya Sal"


Hari itu, Salwa memulai kehidupannya di Bogor. Salwa berharap dia bisa SMA atau kuliah di Bandung. Tapi perjalanan memaksanya tetap tinggal di Bogor bahkan sampai dia menikah.

__ADS_1


__ADS_2