
Mendengar penjelasan Hari, Asti sama sekali tidak percaya "beraninya kamu mas ninggalin aku, disaat aku kondisinya begini, jahat ga tanggung jawab, di Jakarta malah senang-senang sama wanita lain, aaahh Jefri, Rukman juga beraninya tipu aku" ucap Asti dalam hati, Jefri kenalan Asti di dinas kepegawaian mereka dekat karena kerjanya saling berkaitan. Tak habis pikir rencana Asti bisa berantakan seperti ini. "aku sudah susah payah membangun karir, tapi mas Dimas malah berpaling, wanita macam apa dia, aku lebih baik"
"Asti kamu ga apa-apa?!" tanya ibu
"iya Bu, apa yang harus Asti lakukan Bu, bingung sekali"
"sekarang coba jelasin persoalan kamu tuh apa" pinta ibu.
"ya Asti kepepet Bu, harus bayar hutang" jawab Asti
"hutang kartu kredit yang 25juta kan?" tebak Hari
"iyaaa,,, ke uang kas kantor juga 10juta, harus dibereskan Minggu depan" ujar Asti sambil menunduk
"lalu tadi pinjam 40juta buat apa?" tanya ibu
"ya buat itu semua"
"5juta lagi?"
"buat koperasi dikantor"
Ibu dan Hari saling bertatapan, "apa kartu kredit itu atas nama Dimas? kamu yang buat?" Asti mengangguk
"yang 25juta kartu kredit mau diberesin sama Dimas berarti tinggal 15juta kan ya?" tanya Hari "terus ini gaji kamu tinggal 1juta lagi, semuanya habis dipakai cicilan?" tanya Hari sambil menyerahkan dokumen yang dia peroleh dari Dimas.
"ya"
"sampai kapan?"
"10 tahun lagi"
"ada lagi Asti?" tanya ibu memastikan.
"ya beberapa ke teman pribadi"
__ADS_1
"coba dihitung Har"
Setelah dihitung muncul nominal 100juta
"katanya Dimas mau beresin kartu kredit yang atas nama dia berarti sisanya 75juta lagi" ungkap Hari
"gimana dengan rumah Asti, Har?" tanya ibu
"Dimas ga akan menuntut rumah, itu semua diserahkan ke Asti"
"masih cicil?"
"ya Bu, 1 tahun lagi"
"Har coba ibu lihat dokumen yang Dimas kasih ke kamu"
Saat Hari menyerahkan dokumen, dan ibu mengecek semua, Asti membuang muka.
Hhhhh, mas Dimas menyelidiki semua kapan? dan kenapa mas Dimas ga ngobrol dulu denganku? Malah mengadu pada Hari dan Ibu. Dasar, rupanya dia menemukan alasan untuk meninggalkanku. apa dia setega itu meninggalkan Salwa. Kurang ajar kamu mas.
...*******...
"Ingat ya, ini rumah kita biar Mas yang berjuang, mas titip hanya gaji mas saja yang dijaminkan ya, gaji kamu apa pun yang terjadi jangan"
Dua tahun kemudian Dimas pindah kerja ke Jakarta, mereka menjalani LDR. Semuanya baik-baik saja, karir Dimas maupun Asti sama-sama berkembang. Asti menjabat sebagai bendahara dan Dimas assisten manager. Asti sedang diatas puncak karirnya, tiba-tiba
"Ti, pas Salwa SD, gimana kalau kita pindah ke Jakarta, coba cari celah mutasi ke sana"
"Mas, kalau aku mutasi sayang dong"
"ya ga apa-apa, kok sayang kenapa?"
"ya aku kan udah jadi bendahara mas, kalau mutasi susah lagi"
"ohhh, tapi mas capek tiap weekend Bandung Jakarta"
__ADS_1
"hmmm,,, iya deh nanti Asti cek ya"
Bertahun-tahun tak pernah Asti menanggapi keinginan Dimas. Sampai akhirnya ditengah kesibukan Asti, Dimas ketahuan dekat dengan wanita lain di Jakarta. Saat itulah Asti kehilangan arah. Asti lupa sejak kapan keluarganya tak hangat lagi. Dia benar-benar sibuk dengan pekerjaannya, Dimas benar-benar menghiraukannya. Sampai akhirnya Asti ketemu Jefri.
Jefri bagian kepegawaian, yang baru mutasi dari tempat dinas sebelumnya ke kantor Asti. Pembawaan Jefri yang ramah dan hangat, serta Asti yang kehilangan sosok suami membuat mereka dekat. Awalnya rekan kerja, menjadi teman. Sampai akhirnya Jefri mengenalkannya pada Rukman. Rukman menawarkan bisnis, yang membuat Asti tertarik. Asti sempat mengobrol dengan Dimas, tapi tidak terlalu ditanggapi. Akhirnya dengan bantuan Jefri, Asti bisa menggadaikan gajinya untuk pinjaman modal bisnis tersebut.
Dan disini jurang sebenarnya, karena gaji Asti sudah tak utuh lagi, untuk kekurangan biaya sehari-hari uang kas kantor kadang terpakai, lalu diganti dengan uang lain, sampai mengenal peminjaman kartu kredit dan sebagainya. Tanpa disadari Asti benar-benar terjebak dengan hutang gali lubang tutup lubang. Saat Asti menyadari dirinya terjebak, bisnis yang dijanjikan Rukman pun tidak ada kabar. Asti menagih Jefri dan tidak ada gunanya. Karena Asti baru mengetahui kalau Jefri dimutasi dari tempat kerja sebelumnya dengan masalah yang sama. Dan sekarang titik dimana Asti tidak bisa melakukan apa pun, selain meminta pertolongan pada keluarganya. Tapi kalau dia menceritakan yang sebenarnya apa keluarganya akan langsung menolong. Padahal dia butuh uang itu secepatnya.
...*******...
"Asti, Hari dengar ibu baik-baik" ucap ibu "Hidup ibu tak akan lama lagi, tapi ibu sudah sangat menikmati apa yang ibu punya sekarang. Ibu tinggal menunggu waktu ibu saja. ibu ingin tenang. Alhamdulillah bapak punya tanah, beberapa bulan kemarin ada yang menawar tanah tersebut untuk dibangun villa. Ibu memang belum menjawab, karena belum diskusi dengan kalian"
"Tapi Bu bagaimana dengan ibu?" tanya Hari. Ibu menjelaskan orang yang akan membeli tanah tersebut, harga dan sebagainya kepada mereka berdua.
"melihat situasi sekarang, ga perlu ibu tahan tanah itu. bagi ibu yang terpenting semuanya selamat"
Mendengar itu Asti semakin tertunduk, Hari malah meneteskan air matanya.
"Jual tanah itu, nanti dibagi sesuai hak waris. sebagian punya ibu mau diberikan untuk cucu-cucu ibu, untuk Salwa, Sani, Raihan dan Ridho. ibu titip di kamu Har uang untuk cucu ya. Hak Asti segera lunasi hutang, kalau ada sisa, lunasi rumah, kalau kurang untuk pelunasan rumah biar dari bagian ibu saja ambil"
"tapi Bu,,,," ucap Hari
"Har, kamu tuh laki-laki tapi lembut hatinya, apa kamu punya solusi untuk masalah ini?" tanya ibu, Hari menggeleng
"Asti kamu perempuan tapi keras hatinya, sekarang coba lembutkan hati kamu, biar introspeksi. Sebelum semuanya beres Salwa akan tinggal sama omnya. Ibu khawatir kalau sama kamu Salwa engga ke handle"
"tapi Bu,,," ucap Asti
"Hari coba jelaskan obrolan kamu sama Dimas" pinta ibu
"Ya,,, Dimas menitipkan Salwa padaku, plus deposito tabungan pendidikan Salwa, yang hanya bisa diambil oleh Salwa"
Mendengar semua itu, Asti menangis. bagaimana bisa ini berakhir seperti ini. melihat ibunya semakin sakit hati Asti, apa yang telah kulakukan, sesalnya. Mas Dimas kenapa semuanya bisa berantakan seperti ini. Apa sudah tidak ada lagi cinta untukku, apa cintamu hanya untuk perempuan itu. Bagaimana dengan Salwa, apa yang harus kujelaskan. Asti teringat langkah dan keputusan yang diambilnya. Apa selama ini aku tidak berpikir akan kehilangan Salwa juga? atau sebenarnya bukan Salwa yang menghilang, tapi aku yang tidak pernah melihatnya, sampai tega mengambil langkah seperti ini.
Asti teringat bagaimana Salwa menunggunya dengan sabar setiap hari di rumah. Belajar memasak untuknya agar dia tak kelelahan dan bisa langsung makan sepulang kerja. Memijit kaki dan lengannya jika kelelahan. Ahhh anak itu, kenapa aku mengabaikannya. Apa karena aku diabaikan Dimas, sehingga aku membalasnya ke Salwa? Andai Dimas tak selingkuh. Bukan, andai aku tidak pernah bertemu dengan Jefri dan Rukman. Mungkin kita masih bersama nak, walau tanpa mas Dimas.
__ADS_1
Hari itu di rumah eyang, hanya terdengar tangisan. Tangisan dari ibu yang sulit diartikan, tangisan haru dari Hari dan tangisan penuh penyesalan dari Asti.