Rindu Tiada Akhir

Rindu Tiada Akhir
12 Tahun Lalu Part 1 - Kepergian


__ADS_3

12 TAHUN SEBELUMNYA


Salwa duduk dikamar, mencoba menenangkan diri dan mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Terdengar percakapan om dan ibu yang sedang berdebat. Salwa mencoba merunutkan hal-hal yang Salwa ketahui belakangan ini. Ingatannya kembali saat om Hari bertanya "gimana dirumah Sal, apa ada orang yang datang beberapa hari ini?"


ya memang ada yang datang, seminggu yang lalu hari Senin sore tepatnya, waktu Salwa sedang menyiapkan makan malam.


...*******...


"De mana ibu?" tanya bapa, bapa selalu membawa kunci rumah jadi bisa masuk kapan saja.


"lho bapa udah pulang?" tanya Salwa heran, karena baru Minggu sore kemarin Bapa pergi ke Jakarta


"iya mana ibu" sambil terus mencari ke setiap ruangan


"ibu belum pulang pa"


"belum pulang? kamu lagi apa?"


"masak makan malam pa, ade siapin ya"


"memang ibumu ga pernah masak"


"suka pa pagi-pagi, kalau malam udh beberapa bulan ini Ade yang siapin" bapa datang bersama seseorang. Aku buru-buru menghidangkan minuman dan kue di ruang tamu.


Saat ke ruang makan terlihat Bapa duduk sedang menelepon ibu,


"Asti kamu dimana?" tanya bapa dengan nada marah. Aku meneruskan memasak sambil memasang telinga baik-baik. Terdengar jelas suara bapa,


"kamu dimana?,,,,jelaskan jelaskan bagaimana kamu itu,,,,udah jangan bawa-bawa aku, kenapa jadi begini, memangnya habis dipakai apa?,,,, saya bawa orang yang di Jakarta kesini,,, saya ga ngerti sama kamu Asti,,,, kalau kamu mempersulit saya minta cerai!!!,,, kamu harus datang sekarang juga!!!!"


Mendengar kata cerai dari bapa membuat ku kaget tidak percaya, tapi memang tidak aneh kalau orang tuanya mau berpisah. Sudah dari kelas 5 SD, Memang sudah lama sekali ibu dan bapak seperti sedang bermusuhan, ibu lebih memilih tidur di kamarnya. Bapak pulang dari Jakarta juga, besoknya selalu mengajak Salwa jalan-jalan sampe malam. Baru Salwa sadari, bapak sepertinya tidak mau bertemu ibu. Berkali-kali bapak juga mengajaknya ke Jawa. Dan semenjak itu, ibu selalu pulang malam, sampai Salwa harus menyiapkan makan malam sendiri.


"pa,,,," panggilku


hhhh,,, terdengar bapa menarik nafas dalam, dan menyuruhku duduk disampingnya.


"maaf De, sepertinya bapa tidak bisa bersama ibu lagi" ucap Bapak, tanpa perlu menjelaskan lebih jauh aku mengerti maksud bapa.

__ADS_1


"bapa mau tinggal di Jakarta?"


"tidak, bapa mau pulang kampung saja"


"Ade ikut bapa?" tanyaku


Tiba-tiba Bapa memelukku


"ada yang harus bapa kerjakan di Jakarta, sementara bapa tidak bisa tinggal di Bandung, kalau urusan di Jakarta beres, Bapa pulang ke Jawa, sekarang bapa belum bisa membawa ade, bapa sudah minta tolong ke om Hari, ada tabungan deposito bapa untuk kamu kalau harus tinggal di Bogor, jangan bilang ibu ya, uang itu buat kamu"


"kenapa Ade harus ikut om Hari? ibu gimana pa? apa nanti Ade juga tinggal sama bapa di Jawa?"


"Tanyalah sama ibu mu, bapa bingung menjelaskannya" jawab bapa frustasi


"kenapa Ade ga bisa tinggal sama bapa atau ibu aja?" tanyaku lirih.


Terdengar suara langkah ibu, memang pintu ruang tamu tidak ditutup oleh Bapak. Ibu masuk ke rumah


"Sore pa saya Asti yang tinggal disini, saya kedalam dulu ya" kata ibu menyapa orang yang datang bersama Bapa di ruang tamu. Lalu ibu menghampiri kami


"kok kamu tanya balik mas?" jawab bapa "jelaskan semuanya Asti" ibunya kebingungan


"siapa didepan mas?"


bapa berdiri dan langsung ke ruang tamu diikuti ibu dan Salwa.


"Sore Bu, dengan ibu Asti? Perkenalkan saya Doni dari Bank AN" orang yang datang bersama Bapa memperkenalkan diri, terlihat ibu semakin tegang. Melihat tidak ada yang menanggapi, Pak Doni melanjutkan penjelasannya


"begini Bu Asti, pihak bank sudah menghubungi ibu tapi belum ada jawaban, kasus ibu kebetulan sudah masuk ke pusat di Jakarta, karena sudah lebih 6 bulan Bu, kebetulan ini kan kartunya bapak dan bapak kerja disana, kami dari pusat langsung ke kantor Pak Dimas sekaligus mengkonfirmasi keadaan ibu,,,,," belum sekali menjelaskan ibu memotong


"ohhh begitu, iya iya kebetulan belum ada ya pa, apa bisa minta diperpanjang pembayarannya? nanti saya langsung ke kantor yang di Bandung saja" jawab ibu


"ibu kebetulan udah dilunasi sama bapa, tadi sebelum kesini, kami mampir dulu ke kantor yang di Bandung. Ini dokumen-dokumen yang dijaminkan oleh ibu, dan kami minta tanda tangan ibu disini, sebagai bukti pelunasan, karena bapa tidak mau tanda tangan bu"


Setelah proses tersebut, Pak Doni pamit. Di ruang tamu suasana menjadi hening dan tegang, baik bapa atau ibu sama-sama diam, aku seperti menunggu bom waktu yang akan meledak.


"Aku minta cerai" kata bapa tiba-tiba

__ADS_1


"mas ga bisa gini mas, ini bukan seperti yang mas kira" jawab ibu sambil menahan tangis


"Asti, lalu apa? bukankah mas udah titip untuk tidak sembarang meminjam uang, apalagi setelah penghasilan mas juga dipotong untuk rumah ini"


"ini Asti pinjam agar bisa mutasi ke Jakarta mas, kita tidak bisa polos aja ke bagian kepegawaian kalau mau diproses cepat"


"memangnya mas minta kamu dinasnya pindah?"


"bukan begitu mas ini kepengen Asti biar Deket sama mas"


"kenapa tidak dibicarakan sama mas dulu? terus kenapa pakai data mas, mas tidak pernah merasa menyetujui pinjaman ini, mas tidak pernah mengajukan kredit apa pun" tanya Bapa dengan nada tinggi


"maaf mas saya khilaf, kebetulan perlu"


"kenapa harus pengajuan kredit, memangnya gaji kamu kemana?, oke sekarang cicilan kredit kalau gaji kamu ada, kamu bisa bayar kan ga pake nunggak" ibu semakin menunduk, terlihat Bapak tidak sabar


"tadi juga mas nelfon Bu Uni bendahara kantormu, katanya gaji kamu juga sudah terpotong pinjaman ke Bank. Maksudnya apa ini? kok mas ga tahu? harusnya kan sama mas datang pas mengajukan pinjaman ke banknya. Dan sejak tahun berapa gaji kamu terpotong begini?"


Ibu menangis, tanpa kusadari, pelukanku pada bantal kursi semakin erat. Aku tidak mengerti, yang kutahu ibu telah melakukan kesalahan fatal.


"uang itu dipakai apa Asti? rumah mas yang bayar, kebutuhan mas di Jakarta pun ga usah kamu pikirin, kalau kurang dari mas kan bisa ngomong langsung kenapa harus pinjam-pinjam segala?"


tiba-tiba ibu berdiri, tidak tahan disudutkan,


"terus mas selama ini ngapain mas?!" tanya ibu sambil menangis "memangnya Asti ga tahu apa yang mas lakuin di belakang?!"


"apa?!" tantang Bapak


"mas selingkuh" jawab ibu dan pergi ke ruang makan sambil menangis. Aku melihat kepergian ibu lalu menatap Bapa bingung


Bapa menatapku lekat, "maaf De, maafin bapa Salwa, Bapa tidak bisa terus sama ibu" lalu berjalan memelukku "kamu harus bahagia dengan siapa pun itu, Salwa Hayati" bisik bapa. Seketika membuatku lemas dan tak berdaya.


Lalu bapa membawa koper, memasukkan baju-bajunya yang ada dilemari, mengumpulkan dokumen dan merapikannya ke tas punggung. Bapa sempat melihatku yang duduk termenung disofa. Aku ingin berlari dan menahan bapa, tapi aku hanya bisa diam dan melihat bapa pergi begitu saja meninggalkan kami. Akhirnya ku berdiri dengan sisa-sisa tenaga menghampiri ibu


"Bu,,, bapa pergi" kataku lirih, yang dijawab oleh ibu dengan tangisan.


Ya, saat itu bapa pergi, Salwa tidak mengerti mengapa dia ditinggalkan. Kesalahan ada pada ibu dan bapa, lalu kenapa Salwa harus sendirian. Lama berdiam diri dikamar, masih terdengar perdebatan antara om Hari dan ibu. Salwa membuka pintu kamarnya, agar suara mereka terdengar lebih jelas. Salwa harus tahu agar mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


__ADS_2