
Dua Minggu lamanya Salwa mengurus pindahan. Berfoto box dulu bersama Lia dan Fitri, mengucapkan perpisahan dikelas. Jalan - jalan sama ibu. Memang sudah bertahun-tahun ibunya sibuk, dia menjadi bendahara di Pemprov Jabar, semenjak itu ibunya jarang ada waktu, dinas sampe malam kadang weekend juga meeting mendadak. Dan baru kali ini Salwa menikmati waktu berdua dengan ibu. Salwa ingin rasanya mengabari Bapak, tapi tidak berani, takut menambah luka ibu. Salwa juga belum punya HP dan tidak tahu no Hp bapak. Tidak tega rasanya melihat tatapan sendu ibu setiap membahas Bapak.
Om Hari tiba bersama Raihan, adiknya Sani kelas 5 SD. Setelah semua barang masuk, Salwa pamit
"Bu, maaf kalau ade ke Bogor, nanti kalau SMA atau kuliah ade usahakan pulang ke Bandung lagi ya" ibu memeluk Salwa
"maafin ibu ya,,," bisik ibu
"hmmm, sebenarnya apa yang terjadi Bu? ade belum mengerti"
"ga apa-apa de, inget baik-baik disana, jangan ngerepotin ateu Hana dan om Hari, kalau ada apa-apa hubungi ibu"
"ibu nanti ke sana kan?"
"tidak tahu, ada yang harus ibu bereskan"
"persidangan itu Bu?"
"ga hanya itu sih, ibu sulit menjelaskannya"
"masalah ibu dikantor?" tebak Salwa
"sudah jangan dipikirkan, ikuti saja saran om Hari, Bapak udah ngobrol banyak sama om" ucap ibu sambil mengusap kepala Salwa.
"Asti, kami pamit ya" ucap om
"Hari, jaga Salwa. maaf udah ngerepotin, kalau sudah beres aku janji tengok Ibu"
"ya, ingat ibu Asti, kasihan apalagi sekarang sakit-sakitan"
"iya Ri, maaf" ucap ibu, terlihat jelas raut penyesalan diwajahnya
"Rai, pamit dulu gih sama uwa"
Raihan mencium tangan ibu "pamit ya wa, teh Salwa biar Raihan jagain" ucapnya sambil menepuk dada
"hebat ponakan uwa, kalau ada yang macam-macam sama teh Salwa jagain ya"
"oke wa, hayu teh mana tasnya biar Raihan bawa"
"ga apa-apa Rai ini berat"
"udah ga apa-apa, teh Salwa baik ga pernah nyuruh, coba teh Sani baweeel abis"
"hahaha" Salwa dan Raihan jalan bersama menuju mobil
"sekali lagi makasih ya Hari, salam ke Hana" kata ibu
__ADS_1
"mainlah ke Bogor kan ada Salwa"
"malu rasanya Ri"
"Ga apa-apa kok, Salwa di Bogor aja Hana senang, apalagi Sani semangat banget nyambut Salwa"
"makasih Ri, sudah meringankan bebanku"
"sabar ini ujian" ucap Hari sambil menepuk bahu Asti
... *******...
Diperjalanan, Salwa duduk didepan, Raihan mau tidur katanya dia duduk dibelakang.
"sekolahnya Mutiara Hikmah kamu dan Sani di SMP, Raihan dan Ridho di SD, memang bukan sekolah negeri, tapi jaraknya terjangkau sama ateu dan om, biasanya yang suka mengantar ateu Hana, dia kerjanya jam 9 kalau om masuk pagi" Salwa mendengarkan om tentang sekolah barunya
"di sana ada makan siang karena full day sampe jam 4 sekolahnya, kegiatan ekskulnya setiap hari Kamis dan Jumat siang. Sani ikut Mading dan renang, Raihan futsal dan renang, kalau Ridho karate sama broadcast. Salwa ikut apa ekskulnya?"
"di SMP kemarin ga ikut ekskul om, cuma aktif di OSIS aja"
"bagus dong OSIS juga, nih liat brosurnya ada foto kegiatan ekskul disana, mungkin ada yang disuka?"
Salwa membolak balik brosur sekolahnya, kurang berminat. Dari tadi yang dipikirkan Salwa masalah orang tuanya. Salwa ingin tahu yang sebenarnya tapi om Hari tidak membahas.
Om Hari memperhatikan Salwa, memang dia tidak seperti anak-anaknya yang sangat aktif dan harus banyak kegiatan agar energinya tersalurkan. Salwa lebih murung dan pendiam, malah cenderung tenang menghadapi masalah orang tuanya. Teringat sebulan lalu saat mas Dimas, ayah Salwa bertamu ke rumahnya.
...*******...
"mas kasihan Salwa, apa benar-benar ga bisa dipertahankan, kalau masalahnya karena mas punya hubungan dengan wanita lain tolong kembalilah ke keluarga mas, kasihan Salwa"
"bukan hanya itu Har"
"lalu apa? saya tidak ikhlas kalau Asti dan Salwa ditinggalkan karena wanita lain" ucap Hari emosi
"Asti main uang Har"
"maksudnya gimana mas?"
"Asti engga terbuka aku susah mengoreknya, mungkin karena kesalahanku juga dekat dengan wanita lain, sebatas dekat saja jenuh Har. Asti bertahun-tahun sibuk dengan kerjaannya, mas tiap weekend pulang karena ingat Salwa. kemarin ada bank telepon menagih cicilan kartu kredit, mas bingung karena ga pernah buat Har. Jarang sekali mas buat kartu kredit, lagian buat apa. Lalu mas selidiki ke bank, ternyata yang bikin Asti, dia memalsukan tanda tanganku Har" Dimas menjelaskan sambil membawa bukti dari bank
"kok bisa mas?" tanya Hari "udah mas pastikan?" Dimas mengangguk tegas sambil menunjukkan dokumen yang dia ambil dari bank tersebut.
"dia bilang untuk kebutuhan sehari-hari, karena penasaran mas datang ke Pemprov bagian TU, ternyata SK gajinya udah digadai ke bank. tanpa sepengetahuan Mas" Dimas kembali menyerahkan dokumen dari TU dan bank yang bersangkutan.
"pantas saja Har, dia ga ada uang buat cicil kartu kredit, karena gajinya juga ga ada"
"maaf mas, kalau saya lancang. Memang mas ga pernah kasih bulanan ke Asti?"
__ADS_1
"ya kasih Har, kan uang mas buat cicilan rumah, akomodasi Mas di Jakarta, sisanya ya di kasih ke Asti"
"apa engga bisa dipertahankan mas?"
"ga bisa Har, tidak tahu lagi apa yang bisa diperjuangkan" kata Dimas frustasi
"bagaimana Salwa?"
"Mas minta tolong, ini ada tabungan pendidikan Salwa, Mas titip dikamu namanya atas nama Salwa jadi bisa diambil oleh Salwa sendiri. Tolong jaga Salwa kasihan di Bandung sama ibunya ga ada teman" Hari terkejut
"kenapa Salwa ga diambil sama Mas? apa Mas mau menikah lagi dengan wanita itu?"
Dimas menggeleng "Mas mau pulang kampung, mas sudah mengajukan resign, dan sudah melamar juga ke perusahaan di Semarang. Bawa Salwa ke sana sedang Mas pikirkan. Tapi situasinya tidak semudah itu buat Salwa, mas berjuang lagi dari nol Har" Dimas memohon
"kalau saya keberatan?!"
"Asti akan saya bawa ke hukum karena pemalsuan TTD, dan saya akan menuntut hak rumah"
"hhhhh,,,," Hari menarik nafas dalam-dalam "akan saya pikirkan dulu mas, saya perlu minta pendapat Hana"
Selang beberapa menit Dimas pamit, hp Hari berdering, rupanya dari mbak Yum penjaga ibu.
"assalamualaikum mba gimana?"
"mas hari ibu mau ngobrol" lalu telepon disambungkan ke ibu
"Har,,, Asti Har" jawab ibu gelisah
"ada apa Bu?"
"dia pinjam uang keibu katanya urusan kantor"
"berapa Bu?"
"25juta" Hari kaget, itu jumlah pelunasan kartu kredit yang akan dilunasi Dimas
"gimana Har? apa ibu kasih?"
"jangan Bu, tadi Dimas dari sini, katanya akan diselesaikan Dimas"
"Alhamdulillah"
"biar Hari yang ngabarin Asti ya Bu, ibu sehat?"
"Alhamdulillah ya udah tua segala kerasa biasa Har"
"Bu nanti Hari sama Hana ke ibu ya"
__ADS_1
"iya mainlah sini ibu kangen sama cucu"