Rindu Tiada Akhir

Rindu Tiada Akhir
2 Tahun Lalu Part 4 - Aku akan menemanimu


__ADS_3

Salwa membereskan laporan auditnya dengan teliti. Pikirannya tidak terlalu fokus karena Taqi.


"bantuin jadi pengantinnya ya?"


Kata-kata itu lebih terdengar jelas sekarang. Gimana ini apa yang harus dilakukan, sambil memijit kepalanya yang terasa berat, Salwa teringat Afi, Salwa mengecek Hpnya dia bersyukur karena sempat tukeran no Hp sama Afi.


Assalamualaikum fi sibuk? ini Salwa


Waalaikum salam hei teh kemana aja?


Afi lagi disalon aja nunggu pelanggan. teteh main sini yuk nanti ada spesial diskon.


Wuah boleh tuh, mau potong rambut sama facial, sore buka kan?


Iya dong teh, sini sini udah lama kita ga ketemu Afi kangen


Oke shareloc ya fi


Sudah waktunya Salwa mencari tahu tentang Taqi. Sambil nyalon bisa nih sekalian


Di salon Afi sedang menelepon


"beneran bah teh Salwa nanti sore mau kesini hehehe"


"emang Salwa tahu salon kamu?"


"iya dong baru aja ini wa an"


"ayo bah sini dong sekalian ketemu hehehe"


"iya iya kabarin ya kalau Salwa udah datang"


"kenapa ga ditemenin?"


"aaahh lama apalagi ke salon bisa bosen aku"


"perjuangan bah"


"aah belum tahu dia perjuangan aku kayak gimana. udah udah mau kerja lagi nih"


Taqi pun kembali ke designnya, ayo cepat kerjain biar bisa ketemu Salwa hehehe


"heh ngapain senyum-senyum" kata Sani sambil menghampiri mejanya


"ganggu aja apaan?"


"nih design yang udah dibuat ya tinggal dicocokin soft filenya udah dikirim ke email" Taqi serius melihat design dari Sani "oke thanks, entar di cek ya"


"Salwa udah tahu" kata Sani


"apaan? om sama ateu udah ngomong?" Sani mengangguk


"terus Salwa gimana?"


"dia mau mikirin dulu" Taqi mengangguk


"kasih dia waktu Qi, kasihan. dia itu senang sebenarnya, cuma galau karena dia baru tahu tentang bapaknya"


"oke San, makasih ya" kabar dari Sani membuat Taqi pusing. Akhirnya dia memutuskan untuk ke salon Afi jemput Salwa nanti magrib.


...*******...


Salwa sampai disalon Afi sekitar jam 4 sore. Sengaja pulang cepat karena merasa sudah penat.

__ADS_1


"hai teh" Afi langsung memeluknya "kangen ih, sibuk ya teh?"


"ya biasa fi"


"masuk-masuk, kita didalam aja biar lebih privat" Salwa mengikuti Afi.


"teteh mau facial sama potong ya?"


"iya plus creambath ya capek nih"


"oke, kita facial dulu ya teh"


Sambil meladeni Salwa, mereka bercerita banyak.


"Afi udah lama kenal ka Taqi?"


"lumayan teh, kenal dari Tami adiknya abah, kan langganan disini, pas mau bikin WO ya ikut gabung aja lumayan teh"


"udah lama WO?"


"Baru mau dua tahun teh"


"kata Afi ka Taqi orangnya gimana?"


"Abah itu orangnya dewasa teh selalu bisa diandelin, maklum pengganti ayahnya. WO ini juga pasti kedepannya bakal jadi bisnis keluarga karena Tansi yang bungsu sering diajak terjun. Malah Abah pengen ngembangin kateringnya"


"iyaa sibuk pasti ya ka Taqi, apa pernah ka Taqi dekat sama cewek?"


"Engga teh setahu Afi, kan kerja dan WO sambil bantuin kuliahnya Tami sama Tansi. Makanya susah Abah tuh Deket cewek sibuk banyak yang diurusin hehe. Kenapa teh naksir ya?"


"Engga malah lebih serius Fi"


"Ciee teteh naksir berat ya hehehe"


"oooh serius amat sih teh"


"ya emang serius Fi, Salwa lagi cari jawaban buat ka Taqi"


"wuaaah hebat Abah akhirnya nembak yeeee,,,"


"bukan nembak Fi tapi ngelamar"


"apppaaa?!" Afi engga percaya, terus teteh jawab apa"


"belum"


"kok belum pasti Abah sedih"


"ya gimana mau jawab Fi, ngelamarnya ke om Hari sama ateu Hana"


"haaahhh?!! ihhh Abah kereeen"


Dan percakapan mereka berakhir dengan kekaguman Afi, tak henti-hentinya Afi memuji Taqi, sampai Salwa geleng-geleng, mungkin dia salah orang.


Magrib, selesai juga perawatan Salwa langsung ikut sholat dan makan karena Afi udah siapin makanan, tidak lama terdengar ketukan dipintu.


"eeeh ada Abah, kemana aja bah?" sapa Afi sambil berbisik "jangan bilang ke teh Salwa aku suruh Abah kesini ya" yang dijawab Taqi dengan mengangguk.


Taqi langsung duduk dan minta minuman dingin ke Afi


"lho kok ada Salwa"


"lagi perawatan bah, kan mau ketemu ehm ehm" Taqi dan Salwa hanya menggeleng

__ADS_1


"makan ka? Salwa pesenin lagi ya, soalnya Afi cuma pesan 2 porsi"


"ga usah Sal, anterin Taqi makan ya nanti sekalian pulang"


"ihhh Abah ga ajak Afi" sambil membawa minuman Taqi


"bosen sama kamu bikin pusing Abah" yang dibalas cubitan oleh Afi


"Fi pulang ya, hayu Sal"


"ihh cuma minum aja disini?" protes Afi


"terus mau ngapain? orang Taqi cuma mau ketemu Salwa"


"iya iya deh sana yang lagi jatuh cinta ga bisa diganggu" Taqi menjitak kepala Afi, Salwa hanya bisa tertawa melihat mereka berdua.


Taqi memilih restoran yang tidak jauh dari rumah Salwa. Dia memesan makanan, Salwa memesan kopi dan cemilan.


"harum gini yang baru beres nyalon"


"hehehe penat kerjaan ka"


"udah makan duluan sih tadi jadi makan sendiri"


"ga apa-apa ka, kan Salwa ngopi nih"


"Sal Minggu depan ada Aqiqah Firman, datang ya sekalian ketemu keluarga Taqi"


"boleh ka hari apa?"


"Minggu pagi, WO udah di handle sama Afi dan Edi, nanti Taqi jemput, kalau Sani sama Aldo mau ikut boleh juga"


"oke ka nanti coba Salwa ajak. ka maaf" ucap Salwa ragu "kalau Salwa belum jawab yang lamaran Kaka"


"it's ok, Taqi tunggu"


"sebenarnya ka, Salwa juga senang ka. Cuma masih ragu dengan bapak. Apalagi Salwa udah lama ga ketemu, kabar yang Salwa dengar juga belum jelas dan belum bisa dipastikan. Salwa takut malah ada apa-apa" Taqi memegang tangan Salwa berusaha menenangkan


"kalau kamu mau ke sana biar Taqi ikut, kalau kamu ragu bisa bareng sama yang lain, mungkin minta tolong Sani atau Aldo, kalau mereka ga bisa kita ajak Tansi"


"tapi ka Salwa sendiri belum tahu keadaan bapak disana"


"ga apa-apa nanti bisa via telepon dulu"


"apa Kaka beneran yakin"


"hehehe, entahlah Sal, tapi kamu tuh kayak magnet yang langsung menarik semua fokus dan perhatian Taqi, sampai Taqi menyadari kalau Taqi juga perlu seseorang"


"tapi ka, Salwa ga seperti yang lain"


"Taqi juga sama"


"Salwa takut masalah ortu jadi bomerang buat ka Taqi"


"Taqi juga ga tahu, tapi apa salahnya mencoba, apa Salwa mau selamanya sendiri?"


Salwa teringat Sani dan Aldo. Aaahh menikah, aku pikir akan menjomblo selamanya, mungkin kalau om atau ateu sudah tua nanti ditemenin sama aku. Apa ka Taqi tahu kalau banyak ketakutan dan keraguan, bukan sama ka Taqi tapi malah sama diri sendiri.


"Sudah jangan dipikirkan, ikutin aja arahan om Hari, kalau Salwa mau kita ke Semarang dulu hayu, Taqi ga masalah, sekalian silahturahmi" ucap Taqi sambil tersenyum.


Salwa terpana, tak terasa ada air mata disudut pipinya, Salwa menahan agar tidak menetes


"makasih ka"

__ADS_1


__ADS_2