
"Asti kenapa bisa begini? bagaimana Salwa nanti?" kata om, terdengar suara tangis ibunya
"kamu tahu kabar Dimas?" tanya om, dijawab dengan gelengan oleh ibu
"hhhh,,, dia pindah ke Semarang" kata Hari
"dia memang begitu ga bertanggung jawab" jawab ibu
"sudah,, sudah Dimas menitipkan Salwa padaku. sekarang keputusan ada sama kamu ibunya"
"kenapa dia pergi meninggalkan Salwa juga? padahal ajaklah Salwa" protes ibu
"udah Asti,,, bagaimana pun juga posisi kamu terpojok"
"Ri, kamu ga akan ngerti, karena Hananya baik sama kamu, nurut, keluarga kamu adem ayem"
"kamu belum jawab pertanyaan semua orang Asti, uangnya dipakai apa? kok jadi begini?"
"semuanya salah Dimas, dia selingkuh Hari, kenapa ga tanya ke dia?!" jawab ibu emosi
"oke Dimas selingkuh, semuanya memang salah mas Dimas, tapi pinjaman ini hanya kamu yang tahu jawabannya Ti,,, bukan Dimas" ibu terdiam
"aku kesini mau bilang kalau Salwa dititipkan padaku, rencananya dia akan satu sekolah sama Sani, Minggu depan biar aku yang urus pindahan Salwa"
"tega ya semua ninggalin aku"
"lalu apa yang terbaik dari semua ini Asti, kamu sekarang dipindahkan ke Pemkot, gaji kamu pun terpotong pinjaman yang ga jelas itu, gimana kamu bisa menghidupi Salwa?! Dan ibu sakit-sakitan, Dimas anggap aja dia udah ga ada. Apa yang terbaik setidaknya buat Salwa, bukan buat kamu" ibu hanya diam, om Hari melanjutkan
"Hana pun mengerti dia ga keberatan Salwa tinggal bareng kami, malah dia mengkhawatirkan kamu yang akan menghadapi persidangan dan mutasi di kantor. kamu tidak sendiri, ada kenalan pengacara yang akan mendampingi di persidangan"
"apa yang diminta Dimas?" tanya ibu
"tidak ada, hanya menitipkan Salwa padaku, rumah ini diserahkan sama kamu. udah ngobrol juga sama ibu, kalau rumah akan ibu lunasi biar kamu engga berat. kamu tinggal menghadapi urusan kamu nanti"
"aku akan jual rumah ini"
"terus nanti tinggal dimana? sudah jangan berpikiran macam-macam, sekarang hadapi yang ada, fokus sama masalah kamu, biar Salwa sama saya. Rumah ini dilunasi sama ibu"
Karena ibu diam, om Hari pun memanggil Salwa
"Salwa" panggil Om
"iya om" Salwa duduk sebelah ibu, terlihat ibunya begitu rapuh
"Sal, gini bapak pulang ke Semarang, kamu dititipkan di om dulu. kebetulan ibu masih ada urusan di Bandung"
"nanti ibu ikut ke Bogor om?" tanya Salwa
"gimana ibu saja, dan mudah-mudahan bisa pindah, karena ibu juga baru dimutasi ke Pemkot" jawab om Hari
"oooh, ibu nanti gimana?" tanya Salwa keibunya
"ikut saja dengan Om, ibu ga apa-apa" lalu ibu pergi ke kamar.
"om sebenernya ada apa?" tanya Salwa
__ADS_1
Hari melihat Salwa tidak tega, "om belum bisa menjelaskan, kita doakan yang terbaik untuk ibu dan bapak ya"
"apa bapak nanti pulang om?"
"tidak tahu" jawab om, Salwa menunduk merasakan kesedihan yang begitu dalam.
"Salwa, sudah jangan terlalu dipikirkan, sekarang fokus ke Salwa ya, karena nanti ikut om ada beberapa yang harus Salwa urusin" Salwa menyimak dia tidak ingin melakukan kesalahan takut om Hari akan meninggalkannya juga.
"pertama Salwa bilang ke wali kelas akan pindah ke Bogor, ini no hp om nanti Salwa kasih kegurunya biar telepon om. Salwa juga harus buat keterangan pindah ke pa RT, nanti om tulis alamat om ya, mudah-mudahan ibu bisa bantu tapi kalau engga Salwa bisa sendiri?"
"iya om bisa"
"Salwa tahu pa RT?"
"tahu om"
"nah nanti kasih uang saja biar pa RT yang urus suratnya, ini uangnya"
"om harus pulang ke Bogor karena besok kerja, weekend ini Om kesini lagi, tolong bawa berkas dari sekolah, mudah-mudahan surat pindah juga ada, mau om daftarin ke sekolahnya Sani"
"iya om"
"nanti kalau semua sudah siap om jemput Salwa ya"
"baik om"
Om Hari pamit, ibu masih dikamar. Berapa kali pun Salwa mengetuk, pintunya tak pernah dibuka. Salwa tahu ibunya pasti sedih dan kecewa karena Salwa akan ke Bogor, ditambah Bapak yang sudah meninggalkan mereka. Tapi mau bagaimana, sepertinya untuk saat ini om Hari lah yang bisa Salwa andalkan. Lama ibunya diam Salwa memutuskan membeli nasi goreng. Perutnya butuh amunisi untuk menghadapi kebingungan ini.
... *******...
Esok pagi Salwa melihat bungkus nasi goreng yang masih utuh, ibu tidak menyentuhnya sama sekali, Salwa lalu menghangatkan nasi goreng ibu. Diketuknya kamar ibu
"buuu ade udah angetin ya nasgornya untuk sarapan, masih bagus kok, nanti ibu makan ya, ade sarapan dikantin sekolah saja, assalamualaikum"
... *******...
Disekolah Salwa menuruti kata-kata om Hari, sekarang dia diruang guru duduk didepan meja wali kelasnya. Menunggu percakapan guru dan omnya selesai lewat telepon. Wali kelasnya selalu memuji Salwa, ya dia memang bukan anak yang bermasalah, malah cenderung pendiam. Teman dekatnya hanya Fitri dan Lia, dari kelas 1 mereka selalu bertiga, walau kelas mereka terpisah. Jadi tidak banyak catatan Salwa disekolah, nilainya pun rata-rata, sesekali masuk 5 besar, banyaknya ya 10 besar. Dia memang tidak terlalu menonjol.
"Salwa, maaf lama menunggu, gimana kabar ibu sehat?"
"emmmh, ibu hari ini ga masuk kerja"
"oh begitu, gimana senang mau sekolah bareng Sani di Bogor?"
"ya lumayan Bu"
Bu guru tersenyum "baiknya sih ada ibu Salwa ke sekolah, tapi nanti saja kalau ibu sudah lebih baik kondisinya bisa ke sekolah"
"baik Bu"
"untuk pemberkasannya akan ibu urus ya, emmmh ibu juga sudah mendengar kondisi bapak dan ibu, ohhh iya, Salwa ga apa-apa?"
"iya ga apa-apa Bu"
"tenang aja Salwa ya, Salwa anak baik pasti bisa melewati ini. Apalagi nanti di Bogor ada om Hari dan ada temen juga kan Sani ya"
__ADS_1
"iya Bu"
"baik kalau begitu, silahkan Salwa bisa ke kelas, kalau ada apa-apa cerita saja ke ibu ya"
"iya Bu terima kasih"
Salwa berjalan ke kelas sambil memikirkan cara memberi tahu Fitri dan Lia sahabatnya. Mudah-mudahan mereka tidak terlalu sedih, sudah sedih begini, kalau ada yang sedih lagi sepertinya Salwa akan menangis.
... *******...
Pulang sekolah, ibu sedang menonton TV, Salwa melihat ada masakan ibu dimeja. Akhirnya ibu mau keluar kamar juga, gumamnya dalam hati.
"Bu Ade pulang" sambil mencium tangan ibu
"heiii makan dulu gih, ibu udah masak" Salwa langsung duduk dimeja makan, rindu sama masakan ibu
"ibu sakit? kok ga kerja?"
"besok ibu kerja, sekarang pengen istirahat"
"Bu sama wali kelas ibu disuruh ke sekolah"
"iya kapan?"
"bebas ibu bisanya kapan"
"baik besok deh ya, ibu izin telat dulu aja ke kantor"
"ibu kantornya pindah?"
"belum, masih nunggu SK"
"kenapa dipindah Bu?"
"tugas aja de"
"oh iya Bu hari ini ade mau ke pa RT ngurusin surat pindah"
"semangat sekali de" jawab ibu singkat
"emmmh ibu mau nemenin?"
"boleh"
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, ibu membukanya dan mempersilahkan masuk, lalu ke belakang menyiapkan minum,
"siapa Bu" tanya Salwa
"pengacara temennya om Hari"
"ohhh ada apa Bu?"
"nemenin ibu dipersidangan"
"ohhh ibu kenapa?"
__ADS_1
"persidangan cerai de, bapak menggugat cerai ibu" hati Salwa tersayat mendengarnya, semua hal yang terjadi membunuh harapannya, Salwa berharap tidak akan terpisah dari ibu dan bapak, Salwa berharap bapak pulang atau menjemputnya. Salwa tidak mengerti kenapa dia pantas ditinggalkan oleh Bapak. Apa karena bapak selingkuh dan mau berkeluarga lagi dengan wanita itu, apa dia lebih berarti daripada Salwa anak bapak. Begitupun ibu, kenapa ibu tidak melihat sosoknya. Coba saja kalau ibu lebih melihatnya, mungkin dia akan ada di setiap langkah dan keputusan ibu. Mungkin ibu akan lebih berhati-hati, tidak adakah yang ingin memperjuangkannya. Harus sepantas apa dirinya agar ibu dan bapak bersama. Apa dia harus lebih pintar, lebih cantik atau mungkin lebih cerewet, atau lebih manja minta ini dan itu ke bapak dan ibu.
Aaahhh semakin dipikirkan, sakitnya semakin terasa, lebih baik aku tidur saja, mudah-mudahan bisa lupa.