Rindu Tiada Akhir

Rindu Tiada Akhir
Pertemuan


__ADS_3

Besok pagi, Taqi dan Salwa berangkat setelah sarapan ke hotel tempat wedding, sarapan dan makan malam moment yang mereka nikmati berdua, tempat dimana mereka berdebat dan bercanda, Salwa bisa menceritakan kerjaannya, begitu pun Taqi.


Saat perjalanan ke tempat wedding, Kriing,,, kriing,,, hp Salwa berbunyi,


"Halo, assalamualaikum teu"


"Waalaikum salam, Sal sehat? lagi sibuk wedding ya?"


"Iya biasa teu, nemenin AA, ateu sehat?"


"Alhamdulillah sehat, ini minta doanya Om Hari dirawat Sal"


"Innalilahi dimana teu? kenapa?"


"Udah seminggu kemarin ngeluh pusing, tadi habis sholat subuh pingsan langsung dibawa ke IGD RS Harapan Kasih, sekarang lagi menunggu ruang rawat inap"


"Gimana keadaan Om, udah sadar teu?"


"Belum, ini lagi diinfus, gimana kabar ibu Sal?"


"emmmh,,, Ibu belum Salwa telepon lagi, nanti dikabarin"


"Gini Salwa sebenarnya Om pingsan gak lama dari ibumu telepon, ateu juga belum tahu apa yang d obrolin, ateu telefon balik no ibu udah ga aktif Sal" ateu Hana pun menangis


"Oh begitu, ibu juga udah lama ga ngobrol sama Salwa, sekarang coba Salwa hubungi ya teu ibunya, nanti Salwa kabarin lagi, ateu sama siapa di RS?"


"Iya maaf ya Salwa jadi ngerepotin, Ini sama Ridho, kebetulan pulang dulu nyiapin keperluan di RS"


"Gak apa apa teu, nanti Insya Allah Salwa ke RS ya nengok Om Hari"


"Iya makasih Salwa, assalamualaikum"


"waalaikum salam"


"Kenapa de? Om Hari sakit?" tanya Taqi dengan wajah cemas


"Iya a dirawat, bentar ya a, Ade telepon ibu dulu"


"Oke gimana mau berhenti dulu nih mobilnya?"


"Ga usah a sambil jalan aja"


Om Hari adalah adik ibu satu-satunya, Tiba-tiba Salwa merasa begitu gelisah, karena selama ini sosok ibu selalu membuat tidak nyaman. Salwa anak tunggal, awalnya tinggal di Bandung dari lahir dengan ibu dan bapak, waktu SMP kelas 2 pindah ke Bogor dijemput om Hari. Sejak itu om Hari dan ateu Hana menjadi wali Salwa. Om dan ateu mempunyai 3 orang anak dibawah Salwa, Sani, Raihan dan Ridho. Tidak ingin menjadi beban, akhirnya Salwa melanjutkan kuliah di kampus ikatan dinas dengan beasiswa mengambil jurusan akuntansi. Berjodoh dengan a Taqi pun semuanya diatur oleh ateu Hana dan anaknya Sani dulu teman kerja Taqi.


Beberapa kali Salwa menghubungi no ibu masih tidak aktif. Taqi memperhatikan Salwa yang mulai gelisah, dia mengusap kepala dan bahu Salwa berusaha menenangkan, dari dulu kalau berhubungan dengan mertuanya pasti saja membuat Salwa terluka. Salwa melirik Taqi dan tersenyum "kenapa a?" tanya Salwa


"engga, liat kamu gelisah gitu jadi khawatir, telepon ibu susah?"


"iya nomornya ga aktif"


"ya nanti juga aktif, kenapa nelfon ibu de?" tanya Taqi, karena setahunya, ibu Salwa tidak pernah ke Bogor atau menghubungi Salwa kecuali urgent.


"hmmm,,, mau kabarin om aja ke ibu" ucap Salwa tidak ingin menambah pikiran Taqi


"nanti juga aktif de, ibu kan memang gitu, kita ke mini market dulu ya, mau titip apa de?"


"hmm apa ya, gimana aa aja deh". Mereka pun parkir di mini market terdekat.


Taqi tahu Salwa memikirkan ibunya, mungkin terjadi sesuatu. Agar tidak terlalu memikirkan Taqi membeli kopi dan minuman kesukaan Salwa. Dari pertama mengenalnya, Taqi hapal semua makanan dan minuman favorit Salwa, karena kalau Salwa udah suka ya ga pernah ganti atau coba-coba. Sambil mengantri dikasir Taqi melirik Salwa di mobil, terlihat masih mencoba menelepon ibunya. Melihat Salwa sibuk dengan Hpnya mengingatkan Taqi saat pertama kenal dengan Salwa.


Awal bertemu Salwa saat mampir ke rumah Sani untuk membawa portofolio design yang harus dipresentasikan, namun Sani tidak bisa hadir karena sakit. Taqi mengira Salwa adiknya Sani. Dari awal bertemu, Taqi tertarik dengan Salwa, waktu itu hari Sabtu, masih jelas ingatan Taqi saat bertemu


...******...


DUA TAHUN SEBELUMNYA


Terdengar ketukan dipintu


"Iya sebentar" jawab Salwa


"Assalamualaikum" kata Taqi

__ADS_1


"Waalaikum salam, temannya Sani ya?" sapa Salwa, Taqi terpesona dengan wajah Salwa yang manis, bibirnya tipis, mata yang bulat dan hidung yang mungil seperti badannya


"oohhh, Iya perkenalkan saya Taqi mau ambil portofolio design, katanya Sani sakit"


"Iya ka Taqi sekarang sedang ke dokter, silahkan masuk dulu ka biar saya bawakan"


"Tidak usah kebetulan buru-buru mau lanjut meeting"


"Oh baik ditunggu ya ka"


Taqi memperhatikan kepergian Salwa, manis dan ramah langsung pangil Kaka, ujarnya sambil tersenyum. Tak lama Salwa datang dengan portofolio designnya,


"Ini ka, ada pesan dari Sani,,,"


"pasti pesannya design udah detail jangan diubah ya?!"


"oh iya pasti Sani udah hubungi Kaka"


"engga emang kebiasaan dia otoriter, sabar ya yang jadi adik Sani" canda Taqi


"maaf ka, saya sepupunya Sani" jawab Salwa sambil tersenyum


"oh maaf kirain adiknya terlihat lebih muda dari Sani, tinggal disini?"


"iya kebetulan dari SMP udah disini"


"oh ini sama Salwa bukan?! Sani pernah cerita tentang kamu, lagi libur?"


"iya ka"


"kerja apa?"


"saya auditor ka"


"oh iya harus pergi meeting salam kenal ya saya Taqi, pangil AA aja jangan Kaka assalamualaikum"


"waalaikum salam"


Taqi tak pernah menyangka bisa bertemu dengan Salwa, masih ingat percakapan Sani dua hari sebelumnya dikantor


...*******...


"oke kapan?"


"ya sekitar 4-5 bulan lagi"


"sama Aldo?"


"ya iyalah emang sama siapa lagi?"


"wuiiih mantap sampe pelaminan juga nih anak"


"haha kenapa iri ya Qi, makanya wedding beneran dong jangan WO aja diurusin"


"ya belum ada jodohnya cariin dong!!! bulan apa hari apa tanggal berapa"


"nanti deh tanggalnya hari yang pasti Sabtu atau Minggu, tanggal masih nunggu kabar dari gedungnya"


"gimana bisa kan?"


"ya asal tanggal secepatnya ya San"


"ehhh beneran kamu minta dicariin jodoh sama aku?" tanya Sani


"bolehlah, malas aku pacaran ga ada waktu"


"ya iyalah weekday kerja weekend juga kerja kamu tuh"


"ya makanya cariin jodoh yang bisa Nerima keadaanku ini San, ga bawel ga suka marah kayak kamu, sabar pengertian syukur-syukur cantik"


"itu kamunya nanti yang keenakan"

__ADS_1


"ya gimana lagi, habis kondisi akunya kayak gini"


Tiba-tiba hp Sani berdering, rupanya Salwa yang menelepon, Sani mengeraskan suara hp karena nanggung lagi bikin design


"Halo sal gimana?"


"Assalamualaikum San, masih lembur?"


"iya, kenapa mama nanyain ya?"


"engga udah lama aja kita ga makan bareng"


"tumben nih auditor udah pulang"


"hehe Alhamdulillah lagi ga banyak kerjaan"


"makan duluan aja ya Sal, mau beresin design nih biar cepet pulang"


"oke assalamualaikum Sani"


"yuuuu"


"hei itu salamnya dijawab coba" tegur Taqi


"hah?! nguping ya?"


"enggalah ngapain? adik kamu?"


"tadi tuh Salwa sepupu yang tinggal dirumah. oh iya mau ga sama Salwa Qi?! dia tipe cewek yang kalem, malah jarang banget deh marah atau bawel, cocoklah sama kepengen kamu, dia lebih tua setahun sama aku"


"hmmm" jawab Taqi


Dulu Taqi tidak terlalu menghiraukan omongan Sani, tapi sekarang apa perlu diprogress ya, ah tapi kan nanti urusin nikahnya Sani, ya nanti aja deh, gumam Taqi.


...*******...


Selanjutnya, pertemuan antara Taqi dan Salwa mulai sering terjadi karena persiapan nikahan Sani. Pertunangan Sani, Salwa ikut bantu-bantu dekorasi dan menyiapkan souvenir, Afi sangat terbantu karena kehadiran Salwa. Bantuannya pun terus berlanjut sampai acara pengajian dan pernikahan Sani. Ada kejadian memalukan, dihari pernikahan Sani, seperti biasa Taqi ke gedung dan mengecek semuanya, saat panitia meeting. Datang Salwa memakai seragam keluarga pengantin yang sudah dirias, tanpa disadari


"Subhanallah Salwa kamu cantik bangeeet" kata Taqi tiba-tiba dengan suaranya yang keras


Salwa langsung menunduk malu, dan cepet-cepet duduk samping Afi


"cieee cieee Abah terpesona" ledek kru WO nya


"udah-udah ayo kita mulai" jawab Taqi


"teh kayaknya Abah suka sama teteh" bisik Afi


"ahh semua cewek kalau didandani juga cantik fi"


"hmmm tapi Abah beda soalnya teh baru sekarang gugup liat cewek, biasanya cuek aja" Salwa pun senyum dan tidak terlalu menanggapi.


Taqi berusaha menyembunyikan malunya. Tapi memang Salwa berbeda dari yang lain, semakin sering Taqi memperhatikannya, semakin jelas kalau Salwa memang baik, sabar ga pernah rewel, apalagi menyangkut Sani dan keluarganya, Salwa selalu terdepan. Antara Sani dan Salwa memang lebih cantik Sani, tapi memandang wajah Salwa ga pernah bosan. Dia selalu tersenyum, tapi kalau didekati susah sekali, prediksi Taqi Salwa single. Sambil mengatur WO sebagai koordinator lapangan berkali-kali Taqi melihat Salwa, entah kenapa ide perjodohan dari Sani semakin terbayang. Gimana ya, usiaku bulan depan 28 tahun, Duh kenapa jadi mikirin umur gini, dan kenapa mikirin jodoh sama nikah sih haduuuh.


"ka makan dulu" kata Salwa,


duh yang dipikirin datang, bikin deg-degan aja kata Taqi dalam hati


"ehh Sal iya, nanti aja nanggung ini"


"iya ini Salwa bawain baso tahu dari stand, sekalian tadi bawa untuk om dan ateu"


"wuaah makasih banget, bagus kamu inget om sama ateu yang punya hajat biasanya makan terakhir aja" kata Taqi sambil melahap baso tahu dari Salwa "udah makan?" tanya Taqi merasa tidak enak, saking laparnya Taqi langsung makan tapi lupa sama Salwa.


"belum"


"eeh kenapa ga makan?"


Tiba-tiba Afi datang


"bah makan dulu gih, di take over sama Edi bah, kasian tadi juga Abah ga sempet sarapan. Sal temenin Abah ya" ucap Afi sambil mengedipkan mata ke Taqi.

__ADS_1


"nitip ya, yuk Sal kita makan, ga usah antri nanti Taqi bawa jatah panitia aja dari catering"


"oh iya ka" jawab Salwa sambil mengikuti Taqi.


__ADS_2