
"Taqi juga ga tahu, tapi apa salahnya mencoba, apa Salwa mau selamanya sendiri?"
Malamnya Salwa ga bisa tidur, kata-kata Taqi selalu ada dipikirannya. Salwa ingin menelepon ibu, tapi selama ini dia ragu dan kurang terbuka dengannya.
"sampai Taqi menyadari kalau Taqi juga perlu seseorang"
Dari dulu Salwa sudah merindukan seseorang itu. Ibu Bapak sudah bukan dunianya lagi, om dan ateu pun walau selalu menjadi sosok yang bisa Salwa andalkan, tapi tetap saja dia bukan Sani, Raihan atau Ridho. Rasanya Salwa terasing di dunianya sendiri. Dia melihat foto keluarganya, pak Bu Ade rindu sekali, apa bapak ibu rindu juga? ada ka Taqi yang mau melamar, bagaimana kalau Ade menikah nanti?
Tak terasa air matanya menetes, biasanya Salwa bisa mengalihkannya lewat nonton anime, baca buku atau tidur. Tapi malam ini rasanya beda, dadanya terasa begitu sesak, kesepian, kemarahan, kecewa juga bahagia bercampur aduk dihatinya. Akhirnya Salwa mengerti hanya tangisan yang bisa mengeluarkan semua perasaan ini.
Tring,,, tring,,, dering notifikasi hp
"assalamualaikum Sal, maaf ganggu, Taqi beberapa Minggu kemarin istikharah, yang membuat Taqi yakin. Mungkin kalau Salwa bingung bisa dicoba. Jangan takut kalau keyakinan Salwa beda sama Taqi, apa pun itu Taqi terima"
Membaca chat dari Taqi, menghentikan tangisan Salwa, ia pun buru-buru mengambil air wudhu. Salwa hanya ingin ketenangan, apa pun itu yang pasti dia harus menenangkan hatinya dulu.
...*******...
Esoknya hari sabtu, Salwa pamit ke Bandung pada om dan ateu menggunakan travel. Mendengar Salwa mendadak ke Bandung, Sani mengajaknya bicara
"ga tunggu Aldo bangun aja Sal"
"kasihan San, pasti capek"
"minta anterin Dhodho gih" bujuk Sani
"ga usah lagian aku udah booking travel"
"hmmm kalau nyuruh Taqi pasti ayah marah"
"ga apa-apa San lagian udah biasa kan aku pakai travel, oh iya jangan kasih tahu Taqi aku ke Bandung ya"
"kenapa? kamu lagi marahan sama Taqi?"
"hahaha, ya enggaklah kenapa mesti marahan?"
"ya mungkin aja, kali aja kamu ga terima sama cara Taqi yang mendadak ngelamar kamu"
"malah aku kagum San, ga nyangka aja. cuma aku ga tahu bapak aku gimana San. Makanya pengen ketemu ibu sekalian ngobrolin bapak juga. kamu tahu sendiri gimana kondisinya. jujur aku bingung" kata Salwa sedih.
Sani memeluk Salwa, "kalau bapak sama ibu pasti kasih yang terbaik buat Salwa, karena Sani yakin wa Asti dan wa Dimas sayang kok sama Salwa. Tinggal kamunya yakin yang terbaik buat kamu sendiri"
"aku takut San"
"takut apa?"
__ADS_1
"takut Taqi tidak Nerima seutuhnya, atau suatu saat pas kita udah menikah masalah ortuku malah jadi Boomerang, kan kamu tahu sendiri ibu aku gimana"
"hmmm,, tapi Sal, kalau kamu terus mikirin itu, kapan mikirin buat hidup kamu sendiri. Kalau aku jadi kamu, ga akan peduli deh sama masalah ibu, aku pasti fokus sama kebahagiaanku sendiri. Karena gimana pun kondisi kamu, akhirnya kan wa Asti tetap bermasalah, ya masalahnya aja dia bikin sendiri, bukan karena kamu Sal. You deserve to be happy Sal" Salwa tersenyum mendengar kata-kata Sani.
Andai aku berani sepertimu San.
Sani membantu Salwa beres-beres sesekali dia mengecek Aldo dikamarnya yang tertidur pulas. Setelah Salwa siap berangkat, Sani mengantarnya ke pool travel. Sani dengan cerewet menceritakan apa pun untuk menghibur Salwa, dari SMP mereka bersama Sani tahu apa yang membuat Salwa nyaman begitu pun sebaliknya. Walau mereka beda setahun, Sani selalu merasa mereka anak kembar. Sani dan Salwa berpisah waktu kuliah saja, Sani di Jakarta sedang Salwa di Bogor.
Sesampainya di pool travel Sani pamit pulang. Salwa benar-benar menikmati kesendiriannya saat ini. Apa reaksi ibu kalau tahu ada yang melamarnya, dan kalau ibu tahu Salwa berencana ke Semarang. Apa yang harus Salwa lakukan saat bertemu dengan bapak bagaimana reaksi keluarga bapaknya. Semuanya berkecamuk dibenak Salwa. Sambil melihat jalanan, Salwa berharap apa yang dia pikirkan bisa teralihkan, makanya dia memilih duduk dekat jendela.
"apa aku mau mencoba?!"
Salwa akhirnya mengabari Taqi via wa
"Assalamualaikum ka Taqi, maaf tadi malam chatnya belum dibalas. Salwa lagi dijalan ke Bandung, Minggu pulang"
Kriiing,,, kriiing,,, Taqi langsung menelepon
"Assalamualaikum Sal lagi ke Bandung?"
"iya ka ini lagi di travel"
"kok mendadak?"
"pulang Minggu jam berapa?"
"ga tahu pengennya sih sore udah di Bogor"
"ooh oke, nanti kabarin Taqi ya pulang jam berapa"
"oke ka, Kaka lagi wedding?"
"iya biasa Sal, kalau sempat besok Taqi rencana jemput Salwa ditravel"
"ga ngerepotin ka?"
"ya kabarin aja pulang jam berapa, mudah-mudahan sempat"
"baik ka"
"assalamualaikum"
"waalaikum salam"
...*******...
__ADS_1
Siang hari Salwa sudah dirumah ibu. Mereka sedang makan siang setelah masak bersama.
"De, ibu dengar Taqi melamar ya"
"Iya Bu"
"Alhamdulillah ibu senang sekali"
"ibu ga apa-apa?"
"enggalah malah senang kok. Kenapa murung? bukannya senang anak ibu ini ya"
"Ade belum jawab lamaran ka Taqi"
"ooohhh,,, kenapa? Ade ga suka?" Salwa menggeleng
"lalu?!"
"Ade bingung kasih tahu bapak, kata om Hari ga usah ada acara lamaran, langsung aja menikah, sebelum itu Ade harus ke bapak Bu"
"iya sih memang lebih simple seperti itu. Ade belum menghubungi bapak?"
"belum Bu"
"coba hubungi dulu" Salwa terlihat ragu.
"De,,, ibu mau kasih tahu sesuatu" kata ibu setelah makan, sambil membawa orange juice dan mengajak Salwa duduk di pekarangan rumah. Dulu waktu Salwa disini taman rumahnya tidak terawat, semenjak ibu tinggal sendiri sambil mengisi waktu ibu merawat tanaman hias, apalagi setelah pindah tempat kerja ibu tidak terlalu sibuk.
"De, bapak udah menikah lagi"
"kapan Bu?"
"ya pas kamu SMA, bapa mengabari ibu, tadinya mau minta no om Hari, mungkin mau menghubungi kamu, tapi ibu ga kasih" Salwa mendengar kabar ini tak percaya
"Berkali-kali bapa menanyakanmu, tapi selalu ibu bilang, kamu akan sakit hati karena bapa nikah lagi. Sebenarnya ibu ga mau kamu berhubungan lagi dengan bapa, tega sekali dia meninggalkan kita de, meninggalkan ibu saat ada masalah, menyerahkan kamu ke Hari, bahkan dia sanggup menikah lagi" kata ibu sambil menangis.
Salwa melihat tanaman ibu yang subur, Aaahh Bu, sebenarnya Ade juga sama sakitnya, Ade datang kesini mau minta sedikit semangat karena Ade mau melangkah, Ade mau menikah.
"ya udah Bu itu kan sudah terjadi, Ade juga berencana ke bapa, mungkin pas di Bogor nanti baru mau telfon bapa. Ya kalau ibu ga keberatan sama ka Taqi, berarti tinggal bapa"
"kalau kamu ke bapa terus ketemu ibu tiri kamu, ibu harap kamu ga mengundang dia, karena bapamu menikah dengan wanita selingkuhannya pas di Jakarta"
"iya Bu, Ade mau istirahat dulu ya capek" Salwa pun meninggalkan ibunya sendirian.
Hhhh,,, Bu andai aku bisa bersandar padamu, tapi ibu lebih membutuhkan sandaran. Maaf kalau ade belum kuat, sepertinya Ade juga bukan sandaran yang tepat untuk ibu.
__ADS_1