
Waktu terus berlalu, hingga berbulan-bulan Rayden tetap mencoba menghubungi Dinde, tapi seperti yang gadis itu bilang dia tidak akan merespon panggilan dari Rayden. terkadang Rayden ingin menyerah saja tapi setelah dia mencoba ada rasa tidak rela untuk itu, tapi karena seringkali diabaikan Rayden akhirnya mengurangi intensitasnya menghubungi Dinde dari yang sehari tiga kali seperti minum obat, dan sampai sekarang yang hanya terkadang saja kalau dia sedang rindu, "siapa tau di jawab, siapa tau dibalas" begitu terus menyemangati dirinya kala mencoba dan mencoba lagi mengejar cintanya.
Lalu bagaimana dengan Dinde, gadis itu sebenarnya dilema setiap kali Rayden mencoba menghubunginya baik pesan maupun telepon bahkan terkadang Vidio call, dia merasa tidak enak mengabaikan orang seperti itu, tapi mau bagaimana lagi rasa takut mengalahkan rasa empatinya.
" Lo masih aja ngejar tuh cewe Ray? Udah lah Bro masih banyak sumur di ladang." ucapan ngaco dari Bimo yang tiba-tiba muncul di belakang Rayden yang otomatis melihat Rayden yang sedang mencoba menelepon Dinde. " tuh si Amel dari kemarin kan dia nanyain Lo terus, sampai bosen gw dengernya, belom lagi cewe-cewe yang lain yang gw ga tau namanya."
Rayden tak memperdulikan Bimo dia sibuk menempelkan ponselnya ditelinga, masih berharap teleponnya dijawab oleh gadis pujaannya.
"Iihhh ga jelas nih Bang Bimo. Sumur di ladang boleh kita menumpang mandi kali..Haha." Meta yang sudah dari tadi duduk di dekat Rayden malah yang menyahuti Bimo.
" Acara sudah selesai semua kan, gw cabut duluan kalo begitu ya, nyokap barusan minta jemput nih." Rayden menyalami temannya satu persatu.
" GILA tuh bocah segitu penasarannya sama itu cewe, udah berbulan-bulan ga ditanggapin tetep aja masih ga nyerah juga." Bimo menggeleng-geleng kepala memandangi punggung Rayden yang semakin menjauh.
" Lo tuh Bang yang gila, Lo tuh yang bocah, itu namanya laki-laki sejati yang berani mengejar cintanya." Meta menjawab sedikit berteriak, tidak rela Bimo berkata seperti itu tentang Rayden.
" Aaahhh...Lo yang bocah. " Bimo mengacak rambut Meta gemas kemudian berlari.
๐งก๐งก๐งก๐งก๐งก๐งก๐งก๐งก๐งก๐งก๐งก๐งก๐งก๐งก๐งก
Sepanjang perjalanan menuju pasar untuk menjemput Ibunya, Rayden memikirkan ucapan Bimo tadi, apa benar dia harus menyerah kali ini, sudah tidak ada harapan lagi sepertinya Dinde akan menjadi kekasihnya seperti harapannya.
Sampai di tempat tujuan Rayden mencoba mencari ibunya, namun belum juga ketemu, mencoba menelepon tapi juga tidak diangkat.
__ADS_1
" Ibu di mana sih ini nunggunya biasanya juga di sini, apa belum selesai ya belanjanya." Rayden bergumam sendiri kebingungan, dia sedikit cemas.
Rayden mencoba mengelilingi pasar siapa tau bisa bertemu dengan ibunya, sambil terus mencoba menelpon.
Di tempat lain, tepatnya dekat parkiran yang letaknya ada di belakang pasar, Dinde yang baru sampai berjalan menyusuri pasar mencari toko bahan kue untuk membeli beberapa bahan kue yang ibunya minta untuk dibelikan.
Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seorang ibu sedang duduk, mulutnya meringis mendesis sambil memijat-mijat kakinya.
" Ibu kenapa ?" Dinde yang tidak tega menghampiri ibu tersebut.
ibu itu sedikit terkejut kemudian mendongak ke atas melihat siapa yang bertanya padanya.
" Ini tadi kepeleset di situ, becek dan sandal ibu kayanya licin." Melirik lantai pasar yang becek menunjuknya dengan dagu, Ibu itu menjawab sambil terus memijat kakinya.
Dinde berjongkok mensejajarkan dirinya dengan si ibu, " Ayo Ibu saya bantu berdiri, ibu mau kemana? Apa perlu saya antar ? "
" Apa yang jemput ibu kira-kira sudah sampai? " Dinde coba bertanya lagi.
" Ya sepertinya sudah, Ibu takut dia nyariin Ibu." Si ibu teringat sang anak yang mungkin sedang kebingungan mencarinya.
" Kebetulan saya bawa power bank ini Bu, mana hp nya biar saya isi, biar bisa hubungin anak Ibu." Dinde berkata sambil mengacak tasnya mengambil power bank yang ada di dalamnya.
Setelah beberapa saat akhirnya hand phone si Ibu bisa menyala, dan mencoba menghubungi anaknya yang juga sedang mencari-cari sang Ibu.
__ADS_1
" Halo...Halo... IBUUU...Ibu di mana? Ibu baik-baik aja kan? " Begitu telepon tersambung Rayden langsung menyerbu pertanyaan dengan panik.
" Iya Abang ini Ibu tadi kepeleset terus teleponnya mati, Alhamdulillah ada neng geulis yang nolongin ibu ini." Ibu menjelaskan dengan perlahan agar anaknya tidak bertambah panik.
" Tapi ibu ga apa- apa kan Bu? Ibu di mana biar aku jemput sekarang, aku sudah keliling pasar ini dari tadi." Rayden menjawab semakin panik mendengar kecelakaan yang di alami ibunya.
" Alhamdulillah ga apa-apa Bang cuma sakit aja kakinya, ya sudah cepet jemput ibu ya Bang, ibu ada di dekat parkiran yang arah toko bahan kue itu loh, Abang tau kan?." Ibu menjawab sambil terus menatap Dinde tidak enak hati karena membuat gadis itu menungguinya dari tadi.
" Ya sudah tunggu sebentar ya Bu, soalnya aku sudah di depan lagi ini." jawab Rayden sambil berjalan tergesa ke tempat Ibunya menunggu.
Sepanjang menunggu Rayden tiba Ibu mengajak Dinde mengobrol, dia cukup penasaran dengan gadis baik hati yang mau menolong nya ini.
" Aduuh..makasih banyak ya neng ibu sudah di bantu, kalau ga ada si eneng Ibu ga tau sampai kapan Ibu ada di sini." Ibu tersenyum tulus mengambil dan mengelus punggung tangan Dinde. " Nama ibu Devi, nama si Neng siapa kalau Ibu boleh tau?"
" Sama-sama Ibu, nama saya Dinde ibu, saya cuma bantu yang saya bisa aja ko Bu, mana tega saya lihat Ibu kesakitan sendirian di sini, saya ingat Ibu saya takut kalau-kalau dia kesusahan kaya ibu begini ga ada yang bantu bagaimana." Dinde tersenyum tulus.
" Ibu...Alhamdulillah ketemu juga." Rayden yang baru saja menemukan Ibunya menangkup wajahnya kemudian mengusapnya, bersyukur sekali bisa segera menemukan Ibunya.
Deg...
Begitu telapak tangannya terlepas dari wajah Rayden seketika membeku melihat siapa yang bersama dengan Ibunya.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐
__ADS_1
Semoga suka๐
Terimakasih