Rocker Bucin

Rocker Bucin
Dinde, I Love You


__ADS_3

❤️


❤️


" Eii...sudah makan aja, cepet juga ya pesanannya datang." Wulan yang baru kembali langsung duduk dan langsung menikmati makanan yang sudah tersedia di meja.


" Iya, maaf ya Lan aku makan duluan ga nunggu kamu." Karena Dinde mencari pengalihan atas kegugupannya tadi, jadilah dia makan tanpa menunggu Wulan.


" Ya kalo sudah laper makan aja, kenapa mesti nunggu aku, aku ga bakal nangis juga kalo cuma di tinggal makan ko..." Wulan nyengir, lucu mendengar ucapan Dinde tadi, temannya ini memang sangat sopan fikir nya.


"Hayy... Aku gabung ya." meta yang baru datang langsung bergabung di tempat Dinde dan Wulan duduk.


" Iya Din kenalin dulu nih, sepupu aku yang paling keren dia cewe tapi drumer namanya Meta. Dan meta, ini temen aku namanya Dinde." Dinde dan Meta saling berjabat tangan untuk berkenalan.


" Ini yang kamu minta." Meta menyodorkan flashdisk yang menjadi tujuan Wulan ke sana.


" Ok makasi ya. Besok-besok tuh, kalo aku perlu jangan sampe ngejar kamu kaya gini lah met, kasian kan jadi temen ku yang jadi korban, aku paksa harus nganterin aku malem-malem ke sini..hehe." Wulan melirik Dinde yang hanya tersenyum mendengar ocehan temannya itu. Padahal dari tadi pendengaran Dinde terpecah dengan lagu yang masih di lantunkan Rayden.


" Eh gimana makanan di sini, Enak?" Meta tidak menanggapi ocehan Wulan melainkan menanyakan hal lain.


" Iya enak, Alhamdulillah aku sudah habis aja ini." Dinde menunjukkan piring ya yang sudah bersih tak ada sisa makanannya. Wulan yang sedang mengunyah kali ini hanya mengangkat dua jempolnya.


" Wah percaya pasti enak itu klo sampe bersih gitu piringnya..hehe." Meta terkekeh, dia terkesan dengan gadis ini tidak jaim sama sekali.


" Dinde kalo makan itu memang selalu berusaha habis, apa lagi tadi dia lagi laper." Wulan malah yang menjawab ucapan Meta, sedangkan Dinde yang kali ini hanya manggut mengiyakan. Sebenarnya Dinde tidak terlalu mendengarkan Wulan, karna pendengarannya lebih berfokus pada nyanyian Rayden.


" Kata Dinde kalo ga habis kasian nasinya nangis..haha. uhuk..uhuk." Wulan jadi tersedak karena makan sambil terus mengoceh dan tertawa.


" Aduh kamu kebiasaan deh Wul." Meta menyodorkan minum sambil mengomel.


" Iya..iya..maaf kebiasaan buruk." Wulan meringis merasakan perih pedas di tenggorokan dan hidungnya karena tersedak.


Sementara bersaudara itu sedang ribut, Dinde makin berfokus pada suara Rayden di stage sana. Lagu Puspa telah selesai dinyanyikan saat ini tapi nampaknya Rayden masih mau menyanyikan lagu yang lain, karena terlihat dia belum juga turun dari panggung nya, dan kini terlihat sedang membisikkan sesuatu ke pegawai Kafe. Kemudian kini sudah bersiap kembali dengan gitar dan microphone nya.


❤️


"Din..woy." Melihat Dinde yang diam saja, Wulan memanggilnya. Padahal Dinde yang biasanya paling perhatian saat teman-temannya ada masalah.


" Ah iya kenapa?" Dinde gelagapan


" Ga kenapa-napa sih, tumben aja liat kamu tiba-tiba diem begitu, kamu kaya lagi ada fikiran. Takut di marahin ortu ya? Maaf ya nanti aku bantu ngomong deh." Wulan jadi berfikir ke arah sana melihat Dinde yang tiba-tiba diam.


" Ah ga ko Lan, aku sudah kabarin ibu tadi, kamu tenang aja. Kalau begitu cepetan habisin makanannya, biar bisa langsung pulang! Kamu sudah selesai kan urusannya sama Meta?" Dinde melihat ke arah Meta yang juga sedang melihat ke arahnya.


"Iya sudah." Wulan segera melanjutkan makannya, agar cepat habis dan bisa seger pulang.


" Ya sudah aku tinggal ya, aku masih ada perform nanti." Meta bangun dari duduknya menyalami Dinde.


" Oiya Din, malem ini kalian beruntung loh bisa denger Bang Rayden nyanyi solo, itu jarang banget loh. Have fun ya." Meta melambaikan tangannya, sekilas memperhatikan reaksi gadis itu, memastikan.

__ADS_1


" Ya sepertinya memang ini orangnya yang bikin Bang Ray Aneh malem ini. Apa dia juga yang dulu bikin Bang Ray sakit cinta ya?..haha." Meta bergumam dalam hati sambil berlalu


Dinde yang mendengar nama Rayden disebut, tentu saja kaget. Bukankah Rayden itu nama orang yang sering meneror nya dulu? Tapi yang bernyanyi di sana bukan nya Mas Ray, Raynando putra ibu Devi?


Tiba-tiba segala yang ada difikiran Dinde buyar kala mendengar namanya disebut.


" Dinde, I Love You " Sorakan, siulan dan riuh tawa dan suara dari pengunjung Kafe serentak terdengar. Dengan senyum khasnya Rayden dengan cool nya mengungkapkan perasaannya pada Dinde.


Wulan yang sudah selesai makan namun sedang minum tersedak untuk kedua kalinya mendengar ucapan cinta untuk seseorang bernama Dinde, bukan kah itu temannya?


Setelah ungkapan perasaannya itu mendapat respon dari seluruh pengunjung Kafe, terutama respon dari Dinde yang akhirnya melihat ke arahnya lagi dengan keterkejutan yang tampak jelas di matanya itu, Rayden kembali memainkan gitarnya dan bernyanyi.


🎼 Ku rasa ku sedang jatuh cinta...


🎶 Karena rasanya ini berbeda...


🎶 Oh apa kah ini memang cinta...


🎶 Selalu berbeda saat menatapnya...


🎶 Hu..u..u..


🎵


🎵


🎶 Hilang berani...


🎶 Dekat dengan mu...


🎶 Inginku memilikimu...


🎶 Tapi aku tak tahu....


🎶 Bagaimana caranya?


🎵


🎵


🎶 Tolong..


🎶 Kata kan pada dirinya...


🎶 Lagu ini ku tuliskan untuk nya...


🎶 Namanya selalu ku sebut dalam doa...


🎶 Sampai aku mampu...

__ADS_1


🎶 Ucap maukah dengan ku.


🎵


🎵


🎶 Ku rasa ku sedang jatuh cinta...


🎶 Karena rasanya ini berbeda...


🎶 oh apa kah ini memang cinta...


🎶 selalu berbeda saat menatapnya...


🎶 hu..u..u..


🎵


🎵


🎶 Di sini aku berdiri...


🎶 Menanti waktu yang tepat hingga...


🎶 Akhirnya ku mampu...


🎶 ungkapkan padamu..Oooo


🎵


🎵


🎶 Tolong..


🎶 katakan paa dirinya...


🎶 lagu..ini ku tuliskan untuknya...


🎶 namanya selalu ku sebut dalam doa...


🎶 sampai aku mampu...


🎶 ucap maukah dengan ku.


( Tolong, Budi Doremi )


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


semoga suka😘

__ADS_1


__ADS_2