
Dinde terpaku begitu mendengar ucapan Rayden matanya kini berfokus memandang laki-laki yang baru saja mengungkapkan perasaan cinta pada nya.
Sedangkan Wulan terus melotot ke arah Dinde dan kemudian ke arah panggung berulang kali. Dia cukup penasaran dengan hal ini, apakah ada kejutan lain. dia akan diam dan menonton saja untuk saat ini, lihat saja nanti dia akan menginterogasi Dinde sampai puas
Di tengah-tengah lagu ada satu pekerja kafe yang menghampiri Dinde, dia membawa sekuntum bunga mawar merah yang tadi sudah Rayden pesankan kepada pegawai nya untuk memberikannya ke Dinde.
" Mba ini ada titipan bunga mawar dari Mas Ray buat Mba Dinde katanya." Dinde tambah bingung dia malu sekali karna otomatis hampir semua mata tertuju padanya.
"Nih pegang, sayang mubazir kalo ga di ambil. Kasian juga Mas nya udah bawain kemari." Wulan yang akhirnya mengambil bunga itu dan memaksa Dinde menerimanya.
" Mas minta bill nya ya, cepet ya mas." Dinde yang bingung plus malu, ingin sesegera mungkin beranjak dari tempat itu.
" Kata Bos, bill meja ini nanti dia sendiri yang kasih, Mba disuruh tunggu." Pegawai Kafe itu menjelaskan sesuai instruksi yang Rayden perintahkan.
" Lah ko gitu sih Mas, aneh banget. saya mau bayar aja dipersulit. Ya sudah ini 300 ribu saya kasih Mas nya, saya yakin makanan saya sama temen saya ga akan lebih dari segitu, sisanya biasa buat mas aja." Dinde menyodorkan uang tiga lembar ratusan ribu kepada pegawai Kafe di depannya.
Sementara itu Wulan diam saja, dia asyik memperhatikan, seperti sedang menonton reality show katakan cinta menurutnya. Dan dia baru kali ini melihat ekspresi Dinde yang berbeda, gadis itu terlihat sedikit tidak sabaran, tidak seperti biasanya yang selalu sabar.
" Maaf Mba saya ga berani, tolong lah Mba nanti saya dipecat kalo sampe mba bayar ke saya." Pegawai itu memelas.
__ADS_1
Dinde yang dasarnya baik jelas tidak tega melihatnya.
" Wulan..ish...bantuin aku donk, kamu dari tadi diem aja sih." Dinde benar-benar frustasi kali ini.
" Ya sudah lihat aja mau nya apa nanti, kita ikutin aja permainan nya. Btw kamu memangnya kenal sama bos kafe ini Din, sampe dia yang mau bawain bill kita?" Wulan yang akhirnya berkomentar setelah Dinde menegur nya.
Mendengar pertanyaan dari Wulan Dinda jelas menggelengkan kepalanya. Mana mungkin dia tahu siapa bos Kafe X ini, ke tempat ini saja dia baru dan itu pun karna dipaksa Wulan.
" Aku ke sini aja kamu yang ajak, gimana bisa tau bosnya coba." Dinde menangkup wajahnya menahan segala rasa pada dirinya.
" Ya terus kenapa mas-mas tadi bilang katanya bosnya yang mau bawain bill meja kita, kan aneh." Wulan menopang dagunya dengan telunjuk, kepalanya menunduk seolah mencari fikiran ya yang tercecer.
Karena perdebatan mereka, tanpa sadar Rayden sudah menghampiri meja Dinde menggantikan posisi berdiri pegawai tadi.
Dinde yang merasa ada yang aneh dengan suara Wulan yang tiba-tiba tertahan dan berubah volume, seketika mengikuti arah yang di tunjuk Wulan. dia membalikan badannya.
Baa... Rayden ciluk ba menggoda Dinde dalam hati begitu Dinde menoleh. Dia tersenyum sumringah dan mengangkat lima jari tangan kanannya, mengucapkan hayy, namun tanpa suara hanya mulutnya saja yang bergerak.
" Maaf ya Din, pasti kamu kaget sama semua yang aku lakuin malam ini." Rayden membuka suaranya, dia harus tuntaskan perasaannya malam ini juga.
__ADS_1
" Mas Ray, bicara nya bisa di tempat lain aja, di sini terus terang aja saya ga nyaman. Semua orang ngeliatin kita." Dinde berucap dengan menahan suaranya hampir berbisik, karena takut tambah jadi perhatian.
" Ok kita ke ruangan aku aja yuk, kita bica empat mata." Rayden senang dengan ajakan Dinde yang mau bicara secara pribadi menurutnya.
" Ga mas ga boleh empat mata, aku mau ada Wulan sama Meta yang nemenin kita ngomong." Dinde jelas menolak hanya bicara berdua dengan Rayden.
"Ok ga masalah, ayo." Rayden berjalan terlebih dahulu, Dinde dan Wulan yang terpaksa ikut mengekor di belakang, karena tangan Wulan sudah ditarik oleh Dinde dan mendapat pelototan tajam dari sahabatnya itu.
" Met, ayo ikut." Rayden mengajak Meta sesuai permintaan Dinde.
❤️
" Ok sekarang kita bisa bicara, tapi sebelum itu, saya mau bayar makanan yang tadi saya order." mereka sudah duduk di ruangan Rayden. Dinde, Wulan dan meta duduk bertiga di sofa panjang yang ada di ruangan itu, sedangkan Rayden menarik bangku yang biasa dipakainya saat mengecek keuangan toko, selebihnya ruangan itu dipakai manajemen Kafe, yang tak lain adalah Dion.
" Kamu ga usah bayar Din, malah aku mau nawarin kamu makanan buat dibawa pulang, atau temen kamu kalau mau juga boleh." Wulan yang mendengar gratisan, matanya langsung berbinar, namun pudar begitu mendapat senggolan dari Dinde.
" Makasih mas Ray, kalau begitu bisa jelaskan semuanya ke saya. Jujur saya bingung." Dinde benar-benar tidak sabar ingin mendengarkan penjelasan dari laki-laki di hadapannya ini.
" Dan tadi meta bilang yang nyanyi namanya Bang Rayden, setau saya yang nyanyi itu ya mas Raynando, kenapa jadi Rayden."
__ADS_1
" Ok aku mau jujur semuanya ke kamu malem ini biar clear semua tentang perasaan aku ke kamu."