
Pagi ini Dinde sudah siap akan berangkat kerja dan baru sempat mengaktifkan hp nya yang semalam baru bisa diisi oleh daya oleh ibunya setelah adik nya pulang kerumah.
Begitu hp menyala langsung keluar banyak pesan yang bermunculan, dari pesan Ninuk dan Wulan yang menanyakan dia sampai atau belum di rumah, juga isi pesan yang sama dari teman-teman nya yang lain yang ikut kajian tapi beda arah pulang, dari teman kerja, atasan dan dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Ini kan nomor yang kemarin ya ?" Dinda berguman, bertanya sendiri mengingat-ingat pesan yang Ninuk bilang bisa jadi teror pinjol.
Karna penasaran pesan itu yang pertama Dinde buka.
^^^08xxxxx:^^^
^^^[ ini aku Rayden, save nomor aku ya din..^^^
^^^dan aku maafin ko biarpun belum lebaran...hehe...]^^^
"Rayden??? Rayden siapa, perasaan aku ga pernah kenalan atau punya nama teman yang keren begitu deh..?????" Lagi Dinde bertanya-tanya sendiri, mencoba mengingat siapa tau ada kenalannya yang bernama Rayden, tapi memang rasanya tidak pernah.
Dinde yang tinggal dikalangan menengah di kampung yang sekarang sudah nampak kota karna gusuran, bersekolah, berteman, bergaul, bersosialisasi, bahkan sampai sekarang berkerja rasa-rasanya asing dengan nama itu. Kalau Joko, Zaki, Hilman, Imam, atau yang paling mendekati ya Rayhan atau Rayyan ada dalam daftar orang yang dia kenal, tapi Rayden terlalu keren menurutnya buat nama kampung..hehe, dinda tersenyum sendiri dengan pemikirannya.
Meskipun bingung tapi Dinde tetap membalas pesan dari Rayden tersebut.
^^^Dinde : ^^^
^^^[ Rayden yang mana ya, saya rasanya ga punya kenalan nama itu, salah orang kali mas, dapet nomor saya dari mana memangnya? ] ^^^
Karna waktu sudah siang akhirnya Dinde memutuskan berangkat kerja, dan memasukan hp nya ke dalam tas, tanpa menunggu balasan pesannya.
...****************...
__ADS_1
Mendapat balasan pesan dari Dinde, tentu saja Rayden yang baru bangun tidur langsung membuka matanya lebar, nyawanya langsung berkumpul bahkan rasanya bertambah, dengan cepat dia menghubungi nomor Dinde, dia ingin berbicara langsung lewat telpon karna lebih banyak bisa bicara dari pada lewat pesan.
tuut...tuut...tuut...
Berkali-kali Rayden mencoba menghubungi Dinde tapi tidak dijawab oleh gadis itu.
" Kenapa sih ga dijawab telpon gw, dia lagi ngapain ya kira-kira sampe ga bisa angkat telpon." Rayden sedikit jengkel lantaran telponnya diabaikan.
Tentu saja Dinde tidak bisa menjawab telpon karna saat Rayden menelpon gadis itu sudah posisi bekerja dan hp nya disimpan di loker karyawan.
Dan pada akhirnya Rayden terpaksa cuma bisa mengirim pesan untuk Dinde.
^^^Rayden: ^^^
^^^[ Dinde tadi aku coba telpon kamu berkali-kali tapi kamu nya ga angkat, kamu pengen tau kan aku siapa? ]^^^
....
Lagi Rayden mengirim pesan karna tidak juga di balas, karna memang pesannya hanya terkirim belum terbaca.
.....
Sudah berjam-jam Rayden bolak balik membuka pesan tapi tetap sama saja jangan kan dibalas pesannya dibacapun belum.
^^^[ nanti sore aku telp lagi ya, aku mau ngobrol banyak sama kamu ]^^^
^^^[ kalau kamu mau tau aku, kamu harus angkat telp aku nanti jangan sampe ga ya...^^^
__ADS_1
^^^sampe nanti sore ya..bye...😘]^^^
Membaca ulang pesan yang dikirimkannya barusan Rayden geli sendiri melihat emoticon yang dia sisipkan dalam pesan tersebut, aneh seorang rasanya Rayden yang dikenal garang di atas panggung dan dalam pergaulan tiba-tiba melakukan hal konyol semacam itu.
...****************...
Sementara itu Dinde yang sedang istirahat makan siang bersama Ninuk dan Wulan dan ada beberapa teman yang lain yang ikut satu meja dengan mereka, sedang asyik makan sambil mengobrol kadang diselingi guyonan canda yang membuat mereka tertawa bersama.
Iya Wulan dan Ninuk adalah teman satu kerjaan Dinde maka dari itu sering kali mereka pergi keluar bersama baik hanya untuk main, jalan jajan atau untuk acara-acara seperti kajian kemarin.
Tiba-tiba Wulan teringat pesan yang kemungkinan dari 'penggemar Dinde' atau yang menurut Nunik adalah teror pinjol kemarin.
" Oiya...Din gimana yang kemarin, beneran dari penggemar atau orang iseng teror pinjol?"
" Aku ga tau Lan, bukan dua-duanya lah yang pasti, penggemar ya ga mungkin lah, kalau teror pinjol...alhamdulillah kayanya aku ga ada urusan sama orang-orang begitu deh." Dinde menyahut yakin.
" Yaa...kan siapa tau penggemar Din, mungkin aja kali, kalau sampe bener...woaaah...ko aku yang seneng ya...hahaha." Wulan berbicara dengan mata yang berbinar dan kedua telapak tangan yang sudah menempel di pipinya yang dia goyang-goyang sendiri gemas sendiri.
Sementara teman-temannya yang lain yang ada di sana melihat wulan dengan tersenyum, sedangkan Dinde geleng-geleng kepala tak habis fikir dengan temannya yang satu ini.
" Sudah jangan ngomong terus ayo cepetan makannya itu waktunya sudah mau habis, kita belum solat kan." Ninuk yang memang selalu jadi penengah dikala teman-temannya ribut.
Yang lain mengangguk, dan melanjutkan makan lalu bersiap solat, sampai akhirnya jam istirahat selesai dan mereka harus kembali bekerja.
...****************...
💕💕💕
__ADS_1
like...like...like...👍