
❤️
❤️
" Ok aku mau jujur semuanya ke kamu malem ini biar clear semua tentang perasaan aku ke kamu, ." Rayden sungguh ingin mengakui semuanya malam ini.
" Tapi ini sudah malam, apa kamu ga apa-apa pulang terlalu malam."
Mendengar ucapan Rayden Dinde baru tersadar dan segera melihat handphone nya, jam sudah menunjukkan pukul 22:10 WIB, dan juga ternyata panggilan dari ibunya yang tidak terjawab sudah ada 5 , belum lagi pesan yang menanyakan kapan Dinde akan pulang? Apa sudah di jalan?
Dinde membuang nafasnya sedikit kasar hingga terdengar jelas di telinga semua orang yang ada di ruangan itu.
" Iya mas sepertinya saya ga bisa, dengerin cerita mas kali ini, saya harus pulang ibu saya sudah telepon terus dari tadi ternyata." Dinde memutuskan untuk segera pulang.
" Ya sudah aku anter ini sudah malem banget soalnya." Rayden seperti biasa tidak mau kehilangan kesempatan mengantar Dinde pulang.
" Makasih Mas tawarannya, tapi saya sudah sama Wulan." Dinde dan Wulan memang rumahnya searah, hanya saja rumah Dinde lebih jauh kalau dari arah Kafe.
" Ga apa-apa Din, kan rumah kamu lebih jauh lagian aku sama Meta juga, kebetulan dia motornya lagi kempes. " Mendengar ucapan Wulan meta jelas sudah mau protes, karena nyatanya motornya baik-baik saja di parkiran Karyawan Kafe X. Namun seketika mengangguk kaku karena melihat kode yang diberikan Wulan." Kan enak tuh ada yang ngiringin dah malem banget tau ini." Wulan menambahi yang terkesan menakuti Dinde.
__ADS_1
Akhirnya dengan berbagai drama membujuk Dinde, Wulan serta Meta beriringan pulang dengan Rayden.
Rayden yang tau Wulan mencoba membantunya dengan spontan memberi ide mengajak Meta pulang agar Dinde mau dia antar olehnya. Akhirnya menyudahi acara perform di Kafe yang seharusnya masih berlangsung itu. Kafe Rayden tutup tengah malam, jika sedang week end atau menyambut hari libur seperti saat ini.
Sebelum keberangkatan nya mengiringi tiga gadis itu pulang, Rayden sudah pamit kepada rekan-rekannya, acara musik berjalan hanya dengan Bimo dan Raka dan yang menyanyi di persilahkan siapa saja yang mau menyumbang suaranya.
❤️
❤️
Jalanan cukup padat malam ini karena besok adalah libur panjang, Dinde sampai ke rumahnya sekitar 30 menit, yang seharusnya hanya memakan waktu 15-20 menit saja dengan motor nya.
" Assalamu'alaikum." Dinde sudah sampai ke rumahnya, dia memasukkan motor nya ke gerbang dan Rayden mengikutinya.
" Din sudah pulang, Kamu... " Ucapan ibu Dinde menggantung.
Belum sempat Rayden menanggapi ucapan Dinde, sang nyonya rumah keburu keluar.
Ibu Dinde jelas kaget melihat putrinya sedang berhadapan dengan laki-laki yang dia liat dari atas ke bawah ke atas lagi ( tidak sopan memang ) Tapi itu reflek Ibu Dinde langsung keluar mode mama-mama detektifnya.
__ADS_1
" Malam Bu." Rayden menyalami Ibu Dinde setelah Dinde menyalami Ibunya.
" Ah iya malam, ini siapa ya." Pertanyaan nya untuk Rayden tapi matanya ibu Dinde jelas meminta penjelasan ke anaknya.
" Saya Ray Bu, teman dekat Dinde." Dengan pede nya Rayden mengaku teman dekat Dinde.
Dinde yang kaget mendengar itu reflek mengangkat kepalanya menatap ibu nya sambil menggeleng kecil, menyangkal. Bibir bawah bagian dalamnya sudah dia gigit gemas dengan orang yang di depannya ini, seenaknya saja mengaku teman dekat, apa nanti yang harus dia jelaskan ke ibunya, sedangkan mendengar penjelasan dari laki-laki ini saja tidak jadi.
" Owh iya terimakasih ya nak Ray, sudah mau anterin anak ibu sampe depan pintu. Tapi ini sudah malam, ga enak kalo dilihat tetangga, mereka suka gosip kalau lihat anak gadis sama laki-laki masih ngobrol di luar di jam segini." Ibu Dinde memberi pengertian dengan sedikit menyindir memberi penekanan pada Rayden agar laki-laki itu segera pulang.
" ah iya ibu, maaf ya Bu kalo saya kurang sopan, saya sebenarnya masih ada perlu sama Dinde boleh saya ketemuan lagi sama Dinde Bu besok?" Rayden mencoba meminta izin langsung kepada orang tua Dinde untuk bisa bertemu lagi dengan gadis itu besok untuk menyelesaikan segala cerita mereka.
" iya ga apa-apa kalau Dinde nya mau ibu ga akan larang, tapi kalau bisa siang atau sore jangan sampe malem ya." Ibu Dinde memberikan izin dengan syarat, beliau berusaha sesopan mungkin dengan tamunya yang yang jika di lihat dari penampilannya seperti anak metal. ibu Dinde berdecak dalam hati.
" Ok sampai besok ya Din, aku akan jelasin semua ke kamu besok, tunggu aku ya.!" Dasar Rayden di depan ibu dari Dinde saja dia tidak segan menggoda Dinde.
Dinde hanya diam, otaknya berfikir bagaimana nanti kalau ibunya marah, mananyainya macam-macam, apa yang harus dia jelaskan.
"Assalamu'alaikum." Rayden mengambil tangan ibu Dinde, pamit pulang. dan melambaikan tangan kepada Dinde yang jelas-jelas tidak menggubris nya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam." Ibu dan Dinde menyahut serempak, meskipun tak menggubris lambayan Rayden tapi telinganya tetap mendengar salam, Dinde tetap menjawab salam Rayden. Karan menjawab salam adalah wajib hukumnya.
" Ayo masuk Ka, sudah malem. besok lagi saja ceritanya." Dinde menghembuskan nafasnya lega mendengar ucapan ibu nya. Dia sungguh bersyukur sang ibu begitu pengertian.