Rocker Bucin

Rocker Bucin
Masih masalah sakit cinta


__ADS_3

tuut..tuut...


Dinde yang sedang sibuk bersiap kerja melirik telepon genggamnya yang sedari tadi terus berbunyi.


" Aduh... siapa sih pagi-pagi udah telepon terus dari tadi ga tau apa ini orang lagi pada sibuk, nomornya asing lagi."


" Hallo Assalamualaikum." akhirnya setelah sekian banyak panggilan Dinde menjawab teleponnya.


" Waalaikumsalam." Suara jawaban salam dari seberang.


deg..


"Laki-laki? suaranya ko ga asing kaya ya. kaya penipu kemarin deh..." Dinde bergumam dalam hati. merasa was-was.


" Maaf Mas, ini siapa ya, ada perlu apa ? saya harus berangkat kerja ini soalnya." Dinde bicara cepat karna memang tidak memiliki banyak waktu.


" Aku Rayden yang kemarin, masih ingat kan? Tadi kamu bilang Kamu mau berangkat kerja ya din, aku anter aja ya, kamu kasih tau aja kamu lokasinya biar aku jemput." Dengan percaya diri Rayden menawarkan mengantar Dinde berangkat kerja.


Dinde mengernyitkan dahinya heran dengan jawaban laki-laki yang saat ini sedang berbicara lewat telepon dengannya.


" Aduh jangan aneh-aneh ya Mas...Rayden ya tadi namanya, saya kenal juga enggak ga sama Masnya, memangnya Mas ga kerja pagi-pagi gini udah teleponin orang, terus segala mau anter saya lagi." Dinde mulai tidak sabar, terus melirik jam dinding kamarnya.


" SOMBONG...saya juga punya kerjaan kali din, saya cuma niat baik aja ko mau anterin kamu." Rayden sedikit tersinggung dengan perkataan Dinde yang seolah-olah dia adalah penggangguran yang tidak punya kerjaan, sensi.

__ADS_1


" Ya Allah...saya ga punya apa-apa mas yang bisa disombongkan, saya cuma orang biasa yang ga pantes buat sombong, cuma Allah yang boleh sombong, mahluk kaya saya ga pantes." Dinde sungguh kesal sekaligus tidak enak hati dengan perkataan laki-laki yang dia bahkan tidak kenal. Apa iya dia kedengaran sombong ditelinga laki-laki itu fikirnya.


" Eh...eh...Din jangan marah dong, iya maafin aku ya, aku salah." Rayden seketika takut kalau sampai Dinde marah dan tidak mau lagi bicara dengannya.


" Sudah dulu ya Mas, seriusan saya ini mau berangkat kerja." Dinde memutuskan menyudahi pembicaraan mereka.


" Eh...tunggu jangan diputus dulu din." Rayden setengah memaksa. " Nanti aku hubungi kamu lagi ya kamu harus anggkat telepon dari aku ya, aku cuma mau kenal kamu aja ko, serius aku bukan penipu." Rayden mengangkat jari telunjuk dan tenganya membentuk V seolah-olah Dinde dapat melihatnya.


" Ya terserah Masnya saja lah..Assalamualaikum." Dinde menekan tombol merah pada layar tanpa menunggu balasan salam dari sebrang.


...----------------...


Setelah perbincangan dengan Dion akhirnya Rayden tetap memutuskan terus mengejar cintanya, selama masih belum tahu kebenaran tentang status Dinde dia masih merasa perlu berjuang lebih untuk mencari tahu semuanya tentang wanita yang saat ini menguasai hati dan fikirannya.


"Aaaggrrh...GW GILAA..."


...****************...


Sinar matahari sudah mulai meredup, waktu sore memang terasa lebih sejuk. Rayden sudah berada di Kafe X dengan formasi lengkap Sky band.


" Gimana bro, ada kemajuan?" Raka yang melihat sedari tadi Rayden yang duduk dengan pandangan menerawang ke luar jendela.


Raka tau tentang masalah asmara temannya itu, merasa perlu berbicara.

__ADS_1


" Masalah apa? kamu ada masalah bang?" Meta yang mendengar pertanyaan raka barusan malah ikut bertanya.


"..." tak ada jawaban.


Rayden hanya menengok sebentar ke arah raka dan meta lalu kembali memandang ke arah yang sama.


Rayden sesungguhnya bukan tipe orang yang mudah cerita tentang masalahnya dengan orang lain, bahkan dia terkesan dingin. Tapi untuk masalahnya yang satu ini hampir semua teman terdekatnya tahu.


" Maksud abang masalah sakit cinta yang kemaren?" Bimo bertanya pada Raka.


" APAan? sakit cinta? siapa?" Meta terkejut dengan ucapan BIMO.


" Yaa siapa lagi Vocalis sekaligus gitaris handal nan ganteng ini lah, yang lagi sakit cinta, makannya mukanya begitu tuh, sebentar sumringah, sebentar galau...hahaha.." Bimo tertawa geli saat mengingat kelakuan ajaib Rayden kala itu.


Meta cuma melongo mendengar ucapan Bimo, sedikit tak percaya, karna selama mereka kenal Rayden tidak pernah terlihat tertarik atau menanggapi perempuan yang terlihat mendekatinya, bukannya tidak normal tapi memang begitulah Rayden, sulit didekati.


" Gw udah mulai usaha kenalan sama dia, cuma orangnya susah banget buat dideketin. Kaya nya gw mesti ektra usaha kalau mau dapetin dia." Tiba-tiba Rayden buka suara tanpa menoleh, pandangannya tetap menerawang ke luat jendela.


...****************...


💞💞💞


semoga suka😘

__ADS_1


Terimakasih...😊


__ADS_2