
ting...ting...
Terdengar bunyi pesan masuk dari hp Rayden, yang tergeletak begitu saja di karpet bulu yang jadi tempat favorit rayden untuk santai saat di rumah.
Rayden yang berada di dapur mendengar notif pesan masuk, tergesa ke ruang TV, berharap itu balasan pesan dari si manis Dinde.
Dan benar saja saat dia membuka aplikasi, sesuai harapan.
^^^Dinde : ^^^^^^
^^^[ Maaf ini siapa ya? ada perlu apa? ]^^^
"Yesss....dibales." Kegirangan, senyumnya sudah macam iklan pasta gigi.
"Aaah...ko gw jadi kaya ABG labil sih cuma dapet balasan chat aja sampe kaya gini senengnya."
Rayden menepuk mukanya, lalu memukul-mukul udara, reflek tak sadar Raka masih ada di sana ditambah bimo yang baru datang.
"Kenapa itu anak bang bro?"
Bimo yang sedang mengunyah bakwan sampai menghentikan kunyahannya, berbisik pada Raka yang terlihat menahan tawanya karna tingkah Rayden yang ajaib.
" Lagi sakit cinta...HaHaHa..." Raka tak tahan lagi menyembuhkan tawanya saat menjawab pertanyaan Bimo.
Mendengar tawa Raka dan Bimo, Rayden tersadar dengan tingkahnya yang konyol. Ditonton dua orang sahabatnya itu, malu itulah yang Rayden rasakan, tapi ya mau bagaimana lagi mereka sudah terlanjur melihat. Dia menghampiri Bimo bertingkah seolah semua biasa saja baginya.
"Lo kapan sampe Bim, ga denger gw ada yang kasih salam."
__ADS_1
"Ya lo mana denger, mana lihat gw datang, mata sama kuping lo tuh lagi terserang sakit cinta ye kan...HaHaHa." Ledek Bimo tertawa puas.
"SI***L... jangan ngeledek lo, ntar klo lo kena sakit cinta juga baru tau lo..."
"Yaelah Ray gw mah udah sering kali. lo aja yang ganteng doang sakit cinta baru tau dia...HaHaHa..." Mata Bimo sampai berair menertawakan Rayden.
Rayden melempar bantal sofa yang ada di sana pada Bimo.
Raka lebih memilih menonton saja keributan mereka tak berhenti tertawa, perutnya yang sudah sakit tambah melilit rasanya.
...****************...
Karena dua sahabatnya yang rusuh tadi Rayden sampai belum membalas pesan dari Dinde yang tadi jadi bahan ejekan.
Dia sengaja ke kamarnya untuk membalas pesan tersebut agar tak diganggu dua mahluk yang menyebalkan yang sekarang sedang asyik ngobrol sambil nonton TV.
^^^[ ini aku Rayden, save nomor aku ya din..^^^
^^^dan aku maafin ko biarpun belum lebaran...hehe...]^^^
satu menit.....
dua menit....
sepuluh menit...
tiga puluh menit...
__ADS_1
Tak ada balasan dari Dinde, Rayden bolak balik dikasur, buka tutup Hp nya, bosan akhirnya dia tertidur.
...****************...
"Buu...lihat charger aku ga ya? Hpku mati dari pulang kajian tadi."
Dinde akhirnya bertanya pada ibunya setelah lama mencari charger Hp yang tak kunjung ketemu, padahal sudah dicari kemana-mana dan dia harus segera mengisi daya HPnya, takut kalau-kalau ada pesan penting yang masuk dan dia terlambat mengetahuinya.
"O..itu tadi dipinjam sama adek dibawa kayanya deh din, ga tau itu punya adek kayanya hilang, makannya pijam punya kamu." Ibu menyahut dari dapur dengan berteriak karna takut tak terdengar oleh Dinde.
"Ya klo pinjem jangan dibawa dong harusnya bu, di rumah aja, kalau gini kan aku jadinya yang susah." Dinda sudah ada di samping Ibunya cemberut, jengkel dengan adiknya.
"Memang ga ada cadangan kamu din, atau kamu pinjam lah sama sepupu mu sana, bilang aja penting punya kamu di bawa ade gitu..." Ibu memberi solusi.
" Ya kalau ada ga usah cari-cari lah bu dari tadi kan udah aku pake," Dinde manyun " kalau harus pinjam malu lah bu ga enak aku ini kan dah malam. Si adek pulangnya kapan memangnya bu, dah malem gini belum juga pulang."
" Sebentar lagi sepertinya din, sabar ya cantik, nanti cantiknya hilang kalau manyun gitu terus." Ibu merayu menatap dinda.
"ya sudah lah bu semoga ga ada pesan penting buat aku, klo adek pulang tolong langsung charger Hp aku ya bu. biar besok bisa di bawa kerja." Dinde pergi ke kamarnya bersiap tidur.
"Asiap Kakak Dinde yang cantik..."
...****************...
💕💕💕
like..like..like...👍
__ADS_1