Rocker Bucin

Rocker Bucin
Niat Mengejar


__ADS_3

"Aah...panas banget, tapi ga nyesel sih dapet senyum manis tadi kan."


Mendesah lega Rayden tersenyum memejamkan matanya membayangkan senyum manis seorang yang baru saja dia antar ke stasiun, tubuhnya di rebahkan pada karpet bulu di ruang TV rumahnya.


Ya Rayden adalah si abang ojol yang mengantar Dinde ke stasiun. Laki-laki itu sesungguhnya bukan lah driver ojek online, hanya saja tadi kebetulan menggantikan temannya yang tidak bisa mengantar karna sakit perut dan harus bolak balik ke toilet, terlanjur dapat orderan lalu dia minta tolong pada rayden untuk menggantikannya, sebenarnya ini bukan kali pertama Rayden membantu temannya itu.


"Thank's ya bro...udah mau tolongin gw ambil orderan tadi."


Raka yang baru keluar dari kamar mandi melihat rayden sudah kembali langsung menghampirinya.


"Santai Bang bro, gw juga makasi karna nolongin lo, gw jadi ketemu sama si manis hari ini."


Rayden terkekeh lucu mengingat Dinde yang dijulukinya si manis.


Rayden dan orang tuanya punya rumah masing-masing, walaupun begitu masih dalam satu komplek, karenanya rumah Rayden sering kali di jadikan tempat berkumpul teman-temannya, dan sudah tidak mengherankan lagi teman-teman rayden terlihat keluar masuk dengan bebas seperti rumah sendiri.


"Woaaah..Luar biasa seorang Rayden bisa ngomong soal cewe, cantik banget ya?"


Raka menanggapi penasaran sedikit tidak percaya, karna biasanya Rayden paling cuek soal perempuan.


"Cantik relatif bang, tapi senyumnya mana tahan bang, bikin diabetes, udah gitu perhatian bang..haha"


Rayden kembali terkekeh lucu, bisa-bisanya dia terus membayangkan senyum Dinde, yang sungguh tidak bisa dia lupakan, dia merasa aneh sekalugus lucu dengan dirinya sendiri.


"Oiya tadi aplikasinya langsung gw off ya bang. lo ga bisa ngojol kan hari ini? Eh...tunggu dulu!!"


seketika Rayden mengingat sesuatu, matanya terlihat berbinar. dia sepertinya menemukan harta karun.


"Bang di aplikasi biasanya ada nomor hpnya kan ya bang? minta dong gw, moga aja belum ada yg punya bang, gw mau kejaaar."


...****************...


Ditempat lain Dinde sedang bersama teman-temannya setelah selesai ikut kajian, terlihat keluar dari stasiun.

__ADS_1


"Makan dulu ya, laper bgt ini, ga sanggup aku kalo harus langsung pulang, perjalanan masih panjang banget lagi, belum macetnya."


Dinde bicara setengah merengek menepuk perutnya yang sungguh lapar, bagaimana tidak tadi pagi karna terburu-buru dia tidak sarapan, sampai masjid cuma sempat beli tahu sumedang dan lontong buat ganjal perut, dan sekarang jam sudah menunjukan pukul dua siang.


"Mau makan apa, di depan stasiun adanya paling bakso mie ayam, ada siomay sih sama nasi padang, agak jauh ada pempek."


Ninuk salah satu teman dinda menyahut menawarkan apa yang dia lihat arah depan stasiun.


"Gimana kalo kita ke mie ayam bakso aja, kita kan bisa pilih tuh, mau bakso apa mie ayam, atau mie ayam bakso biar lebih kenyang..hehe.."


Wulan satu lagi teman Dinde memberi saran.


"Ya udah ayo apa aja aku sih, yang penting makan."


Tersenyum Dinde menarik ninuk dan wulan ke tempat penjual mie ayam bakso, yang letaknya memang paling dekat dari tempat mereka berdiri saat ini, tepat di sebrang pintu keluar stasiun.


...****************...


drrrtt...drrrt...


^^^^^^08xxxxxxxx : ^^^^^^


^^^[ Assalamualaikum...^^^


^^^ini benar no. hp nya Dinde? ]^^^


^^^Dinde mengernyitkan dahi melihat pesan yang baru saja masuk di hp nya.^^^


"hmmm....Siapa ini ya??"


Dinde bergumam sendiri telunjukknya menyentuh atara bibir bawah dan dagunya sedang berfikir.


Ninuk dan Wulan yang berada di sebelah kanan dan kiri Dinde yang sedang asyik makan rempeyek sambil menunggu pesanan bakso mereka datang menoleh ke arah Dinde karna mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut temannya itu barusan, dan otomatis langsung menoleh ke arah Dinde yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


"Kenapa din? ko kaya bingung? siapa yang WA?" ninuk bertanya beruntun.


"Iya nih din, jadi Kepo..hehe"Wulan menimpali cengengesan.


Dinde yang ditanya begitu langsung menunjukan chat yang tadi dia baca kepada ninuk dan wulan.


"Woaah...aciee...kamu diem-diem punya penggemar ya din ternyata..."


Wulan langsung menanggapi dengan menggoda dinde, mencolek-colek dagu gadis itu dan yang langsung dinda tepis.


"Apa...coba itu fikiran mu Wulan, mana ada penggemar, sejak kapan aku jadi artis, tampang pas-pasan gini."


Dinde mengelengkan kepalanya tak habis fikir dengan perkataan temannya itu.


"Kamu ga punya hutang kan Din, keluarga atau kenalan kamu gitu, sekarang kan lagi zaman pinjaman online yang nagihnya sama siapa aja yang kenal orang yang punya hutang. Yang hutang siapa...yang kenal ikut kena teror."


Dinde meringis ngeri mendengarnya, Ninuk bertanya dengan raut wajah seriusnya, macam anak-anak sekolah yang sedang bercerita horor di dalam kelas.


"iiihh...haram pinjam online gitu aku sih ga pernah kefikiran, lagi aku buat apa ikutan pinjol begitu, hutang kredit baju sehari dua ribu aja aku ga berani nin, takut aku belom sempet bayar tau-tau mati...heee."


Ninuk dan wulan ikut meringis, mendengar perkataan dan melihatku cengengesan takut mati bawa hutang.


"Yaa... sudah kalo begitu tinggal bales aja sih din, tanyain siapa ada perlu apa ?" Wulan menimpali kemudian.


Dinde mengangguk tanda setuju dengan Wulan dari pada menerka-nerka tidak jelas lebih baik kan di perjelas.


^^^^^^Dinde : ^^^^^^


^^^[ Maaf ini siapa ya? ada perlu apa? ]^^^


...****************...


๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•

__ADS_1


semoga suka....


Terimakasih๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2