
Sepanjang waktu makan Rayden terus memperhatikan Dinde, rasanya sayang kalau sampai dia melewatkan sedetik saja momen berharga itu, mereka bisa makan bersama walaupun acara makan ini dengan keluarganya bukan mereka berdua saja seperti angan-angan nya selama ini.
Dinde tentu menyadari seluruh keluarga itu berfokus padanya terutama tatapan aneh laki-laki yang ada di hadapannya itu. Ibu Devi yang sedikit-sedikit menawarinya lauk, tambah nasi atau minum, bapak yang selalu menanyakannya rasa dari masakan Istrinya yang tadi katanya dia ikut bantu memasak, dan Della yang selalu berceloteh random, kadang menggoda kakaknya, kadang bercerita kampusnya, dan kadang juga menanyakan Dinda banyak hal.
" Kakak bisa masak?" Della bertanya kepada Dinde, yang tengah mengunyah makanannya sambil terus menunduk malu, tidak mau mengangkat kepala nya kalau tidak di tanya, karena risih dengan tatapan laki-laki yang ada di depannya.
" hmm... bisa sih kalau cuma masakan yang mudah aja, kalau yang ribet aku harus di arahin Ibu atau liat YouTube dulu ." Dinda menjawab dengan di akhiri senyuman lebar sedikit malu mengakui kemampuannya memasak yang tidak seberapa itu.
" Bisa masak jengkol ga? itu makanan kesukaan Abang tau, cuma dia gengsi sekarang ka ga pernah makan itu." Della tanpa dosa menceritakan Kakak nya.
"uhuk..uhuk..."
Rayden seketika tersedak mendengar ocehan adik nya itu yang hari ini kenapa jadi super menyebalkan. matanya sudah mendelik ke arah Della, sedangkan Della cuek saja.
" Bukan gengsi de, ga enak lah kalau Abang makan jengkol pas kerja atau manggung kan ganggu bau nya, apalagi kalau harus ketemu orang penting, kan jadi ga enak lah pokoknya..." Rayden menjelaskan dengan malu yang ditahan wajahnya dia atur sebisa mungkin tetap santai, sebenarnya penjelasan itu dia tunjukkan ke Dinde, agar perempuan itu tidak menganggapnya laki-laki gengsian.
Dinde yang mendengar perdebatan kakak adik itu dimeja makan hanya diam memperhatikan, bibirnya dia paksa tarik agar terkesan dia tersenyum, Tapi dalam hati nya membatin, apa hubungan dengan dia yang bisa masak, dan di tanyai bisa masak makanan kesukaannya Rayden.
.
.
" Aku anter kamu ya Din, ini sore banget loh, nanti kemagriban dijalan kan sepi sama gelap." Rayden yang tahu Dinde akan pulang langsung mengajukan diri untuk mengantar." Please aku ga terima penolakan kali ini ya Din."
" hmm..tapi mas aku kan bawa motor sendiri." Dinda mengigit sedikit bibir dalam bagian bawah nya, meremat tangannya gusar, dia tidak mau laki-laki ini tau tempat tinggalnya. Entahlah Dinde merasa tidak nyaman saja.
" Ya kamu naik motor kamu, aku ikutin di belakang." Rayden tak hilang akal, enak saja dia harus mengalah. Ini adalah kesempatan emas untuk dia mengetahui rumah sang pujaan hati, tanpa harus menguntit.
" Iya neng ibu juga lebih tenang kalo si Abang nganterin kamu." Ibu Devi jelas tahu modus anaknya itu, maka dia merayu Dinde agar setuju dengan ide anaknya itu.
__ADS_1
" Rumah saya Deket ko Bu ga akan sampe magrib, kalo ga macet paling 10 menit." Dinde mencoba lagi menolak.
" Yaa ga apa-apa aku tetep anter kamu. Sekali lagi ga ada penolakan ya Din. Kamu itu dari rumah aku, harus aku pastiin kamu sampai rumah tanpa kurang satu apapun." Rayden terdengar memaksa, tidak mau sampai gagal kali ini.
"Hmm...lebay banget Lo Bang, modus aja itu si gw tau banget..haha."
Della mencebikkan bibirnya, meledek abangnya dalam hati. Kali ini dia tidak berani mengganggu Abang nya, karena dia tahu ini adalah hal yang akan membuat Abang nya marah jika sampai dia sampai mengganggu dan membuatnya rencana Abang nya gagal.
Dan pada akhirnya Dinde tidak bisa menolak lagi, dan mereka beriringan mengantar dinde pulang ke rumahnya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Tiba di rumah Dinde, mereka berhenti di gerbang, namun tidak ada yang keluar rumah setelah beberapa saat Dinde memberi salam. pagar rumah pun terkunci.
" Pada kemana Din ko sepi." Rayden bertanya karena sudah beberapa kali Dinde ketuk dan mengucap salam tetap tidak ada jawaban dari orang rumahnya.
" Ga tau mas, biasanya sih selalu ada orang, ya paling ga biasanya Ibu yang selalu di rumah." Dinde menyahut dengan bingung.
" De, dimana?" begitu telponnya di angkat Dinde langsung bertanya to the poin. bahkan dia lupa mengucapkan salam seperti kebiasaannya.
" aku lagi nugas ka, memangnya kenapa?" Adiknya menyahut dari sebrang.
" Orang rumah pada kemana ini aku baru pulang gerbang di kunci ga bisa masuk."
" Coba telepon ibu atau tanya tetangga sebelah siapa tau titip kunci." Adiknya memberi saran.
" Ya udah deh aku telepon ibu sambil ke rumah sebelah, pulangnya jangan kemalaman loh, kalau dah selesai langsung balik ya. Assalamu'alaikum."
"Asiap Kakak ku, Waalaikumsalam." telepon berakhir.
__ADS_1
Dinde segera menghubungi ibunya begitu selesai menelpon adiknya. Tersambung namun tidak di angkat.
" Mas Ray maaf ya, karena ga ada orang di rumah, saya ga bisa nawarin mampir, mas Ray pulang saja ya tidak usah menunggu saya sampai masuk rumah." Dinde berhicara dengan Ray sambil terus menghubungi Ibunya.
" Ga apa- apa aku tunggu kamu aja ya, magrib juga masih 30 menit lagi, masih bisa lah nunggu." Rayden tentu saja menolak, dia justru senang bisa berlama-lama dengan Dinde.
" Ya sudah saya tinggal ke tetangga sebelah ya mas siapa tau mereka di titip kunci rumah." Dinde izin pamit meninggalkan Ray sendirian depan gerbang rumahnya. Ya siapa suruh dia yang ga mau balik ya kan, fikir Dinde.
Baru membalikkan badannya, belum sampai melangkah kan kakinya telepon Dinde di jawab ibu.
" Hallo.. Assalamu'alaikum Din." Si Ibu akhirnya menjawab teleponnya.
" Waalaikumsalam, Bu pada kemana? rumah sepi dikunci aku ga bisa masuk." Dinde berkata manja kepada ibunya, dan itu terdengar jelas di telinga Rayden.
"Aduh Dindaa kamu bisa manja juga ternyata, lucu juga." Rayden mengulum senyumnya, membayangkan Dinde bermanja ria dengannya.
" Ibu sama bapak lagi takziah ini Din, ada temen kerja bapak dulu yang sudah kaya sodara sama bapak meninggal, makannya buru-buru berangkat nya sampe lupa hubungin kamu." Ibu menjelaskan dengan pelan seperti berbisik, karena situasi di sana tidak leluasa untuk bicara. " Tapi kunci rumah sudah ibu titip mama Adi, kamu minta aja ya." Lanjutnya.
" Innalilahi....ya sudah Bu. Nanti jangan malem-malem ya Bu pulangnya. aku sendirian ini loh." Sekali lagi Dinde tanpa sadar berucap manja, Rayden menikmati pemandangan ini, meskipun yang dia lihat hanya punggung Dinde, tapi dari gerakan tubuh serta nada bicaranya jelas gadis itu sedang merajuk manja kepada Ibunya. Bibir Rayden terlihat melengkungkan senyum mahalnya yang kini jadi obralan jika dekat dengan sang pujaan hati.
Telepon terputus, setelah sama-sama mengucapkan salam. Dinde segera menuju rumah mama Adi tetangga sebelahnya itu yang memang tadi dia hendak menanyakan kunci.
Setelah mendapatkan kunci rumah, Dinde membuka gerbang, kemudian Dia berbalik menghadap Rayden, sekali lagi dia pamit dan meminta laki-laki itu untuk pulang.
" Terimakasih ya mas Ray atas semuanya hari ini, saya masuk dulu kalo begitu. maaf saya ga nawarin masuk ya soalnya ga ada orang di rumah." Dinde merasa tidak enak sebenarnya karna Rayden sudah sangat baik dengannya.
" Iya ga apa-apa Din aku ngerti ko, tapi lain kali kalau aku ke sini di izinin masuk kan." Rayden nyengir melihat Dinde yang salah tingkah mendengar perkataan nya.
" Ya sudah aku pamit ya, kamu hati-hati ya sendirian di rumah, kalau ada apa-apa kamu bisa telepon Ibu, nanti aku ke sini. Assalamu'alaikum." melihat Dinde yang diam saja, mungkin bingung menanggapi ucapan nya, kemudian Rayden segera pamit pulang.
__ADS_1
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
terimakasih 😘