Rocker Bucin

Rocker Bucin
Karma


__ADS_3

Hari ini ini Rayden berada di rumah orang tuanya. Sebenarnya dia hanya mencari pelarian untuk mengalihkan fikirannya dari seorang gadis yang akhir-akhir ini selalu memenuhi kepalanya.


Setelah pagi itu dia berhasil menelpon Dinde, hampir setiap ada kesempatan dia selalu mencoba menghubungi gadis pujaannya itu, tapi selalu tidak mendapat tanggapan, tak putus asa diapun mencoba mengirim pesan, tapi apa yang didapat ? Nihil tak ada tanggapan sama sekali, bahkan kadang pesannya tak ada tanda-tanda telah dibaca.


"Sungguh tega kau Dinde, Abang Rayden pujaan kaum hawa kamu abaikan begitu saja."


mungkin hati Ray menjerit macam itu kala mengingat semua usahanya untuk berusaha mendekati Dinde yang berakhir mengenaskan.


Kadang Rayden juga memikirkan perkataan Meta dan kawan-kawannya saat mereka berbincang tempo hari di Kafe X.


" Kena KARMA kali lo Bang, selama ini lo kan kalau nanggepin cewe yang naksir sama lo selalu cuek, acuh, dingin malah kalau kata gw kadang kejam lo Bang. Nah sekarang giliran lo ngerasain gimana rasanya dicuekin, diacuhin, dijudesin sama cewe yang lo suka dan harus berjuang buat dapetin Dia." Dan Kawannya yang lain membenarkan ucapan Meta itu.


^^^.^^^


.


" Kamu tumben bang ada di rumah, biasanya ibu paksa aja buat ke sini susahnya minta ampun. " Ibu yang baru datang entah dari mana begitu melihat Rayden yang sedang duduk di sofa ruang TV langsung menyapa putranya dan ikut duduk di sampingnya.


" Kamu sakit ? " lagi Ibu bertanya sambil meletakkan telapak tangannya pada kening si anak, karena Rayden yang terlihat tidak bersemangat seperti biasanya.

__ADS_1


" Engga bu, Aku baik-baik aja ko. Yaa....cuma banyak fikiran aja aku akhir-akhir ini." Rayden menjawab malas sekenanya.


" Kamu itu anak Ibu bang, Ibu tau kalau kamu lagi ada masalah, cerita coba sama ibu, siapa tau walaupun ga bisa bantu banyak tapi kamu lebih plong begitu..!!" Ibu mencoba berbicara dari hati ke hati dengan Rayden karena dia tau Rayden tipe orang yang tertutup tapi kadang akan terbuka jika diajak bicara dari hati ke hati.


Rayden seketika menghadap ke arah Ibunya, kemudian menggenggam kedua tangannya.


" Intinya aku lagi suka sama cewe, tapi dia sudah banget buat dijangkau, Ibu doain aku aja ya biar aku bisa dapetin cinta aku itu.!!" Akhirnya hanya itu yang Rayden bisa ceritakan pada Ibunya.


Ibu sekita langsung tersenyum sumringah begitu mendengar kata-kata yang menurutnya luar biasa keluar dari anaknya itu.


" ALHAMDULILLAH YA ALLAH... anak saya masih normal ternyata masih suka perempuan."


Ibu heboh sendiri menepuk punggung putranya itu berkali-kali. Pasalnya anak laki-lakinya ini di usianya yang sudah memasuki 30 tahun belum pernah kelihatan menggandeng perempuan bahkan kalau di singgung soal pasangan Rayden memilih cuek bahkan pergi begitu saja.


" Kamu Ray belum apa-apa sudah sudah lemes, jangan lemah lah malu sama gaya mu itu loh, belum seberapa itu. Nih belajar sama ahlinya tanya ibumu itu, bagaimana susahnya bapak dapetin Ibumu. " Ayah berjalan mendekati Ibu dan anak itu sambil mencibir menggelengkan kepalanya berulang, sama gembira dan tak menyangka seperti Ibu tadi, hanya saja ayah harus lebih berwibawa, tidak akan memperlihatkan ekspresi berlebih dari yang dia rasa. Ternyata Bapak sedari tadi mendengarkan percakapan mereka itu dari kamar, lalu ikut bergabung bersama mereka .


" Rocker juga manusia ayah..." Jawab Rayden singkat sambil berlalu ke kamarnya.


...****************...

__ADS_1


Dinde yang setiap hari mendapat telepon dari Rayden bahkan terkadang vidio call yang tak pernah dia tanggapi juga pesan, yang untuk membacanya saja Dinde butuh menyiapkan mental, karena apa ?? karena Dinde masih menyangka kalau Rayden adalah penipu atau semacamnya.


Paranoid Dinde sungguh buat dia tersiksa karna mengabaikan orang dan dia tidak enak hati, takut kalau-kalau itu orang jahat dan penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, secara bersamaan semua perasaan itu muncul kala mengingat laki-laki bernama Rayden si pria meresahkan.


"Bagaimana kalau bener dia mau kenalan sama aku dan bukan orang jahat, kan kesannya aku yang jahat ya sudah berprasangka buruk ."


"Apa mungkin kita saling kenal, tapi di mana??"


" Kalau aku tanggapi tau-tau penipu gimana? tapi kalau bukan kan kasian ya aku sudah su'udzon sama dia."


" Coba jawab aja kali ya kalau dia telp lagi, biar tau yang sebenarnya ga nebak-nebak gini. tapi aku takut gimana donk."


Begitulah kiranya isi kepala seorang Dinde, dia galau sendiri....


...****************...


💕💕💕


Berharap ceritaku ini di sukai para pembaca NT, maaf kalo banyak typo...

__ADS_1


Buat yang tau-tau nyasar kesini Terimakasih 😘


dukungan dengan komentar dan like nya, aku sangat menghargai.😘


__ADS_2