
Ibu Devi yang melihat anaknya tiba-tiba diam dengan matanya yang terbuka lebar hampir melotot, juga mulutnya yang menganga begitu melihat gadis yang menolongnya merasa aneh. Apa lagi Dinde, ditatap laki-laki asing seperti itu membuatnya risih.
Nafas Rayden yang masih ngos-ngosan di tambah kini detak jantungnya yang sudah tidak karuan, melihat gadis yang selama ini mati-matian dia ajak bertemu, gadis yang hanya dengan satu senyuman telah mencuri hatinya lalu dengan seenaknya mengabaikannya, dan baru saja tadi dia berfikir tidak ada harapan lagi untuknya dan gadis ini, tapi kini gadis itu tengah berdiri tepat di hadapannya, seperti mimpi tapi ini nyata.
Apakah ini yang namanya takdir???
Seketika Rayden tersadar dari kebekuannya kala sang Ibu mengajaknya bicara memperkenalkan gadis itu.
" Bang...eeh ko malah bengong. Kenalin dulu atuh, ini neng Dinde yang tadi udah baik banget mau nolongin Ibu." Sang Ibu memperkenalkan dengan semangat, tumbuh harapan dihatinya semoga Dinde belum menikah dan akan berjodoh dengan putranya ini.
Sedangkan Rayden jangan ditanya, dia terus tersenyum sumringah matanya berbinar dengan tatapan yang yang sulit difahami sang Ibu, kalau diamati matanya yang berbinar itu menatap Dinde hampir tidak berkedip sama sekali.
Dinde yang di perkenalkan hanya tersenyum mengangguk sekilas lalu berpaling kembali menatap Ibu Devi, tidak mau bertatapan lama-lama dengan laki-laki yang di lihatnya sekilas tadi sangat tampan tapi tertutup dengan penampilannya yang urakan.
" Nah neng geulis ini anak saya yang paling ganteng namanya Ray...Raynando Devan." kali ini Ibu Devi memperkenalkan Rayden kepada Dinde.
Nama Asli dari Rayden adalah Raynando Devan. Sejak sekolah teman-temannya memanggilnya Rayden singkatan dari namanya itu. Hingga sekarang menjadi nama panggung dan jarang sekali ada yang tau nama asli dari Rayden kecuali dia teman sekolah atau pernah melihat KTP Rayden.
" Aah...untung Ibu ngenalin aku pakai nama asli..hehe." Rayden terkekeh dalam hati merasa senang Dinde tidak akan mengenalinya.
" hmm..iya Dinde saya Ray, terimakasih ya sudah mau nolong ibu saya." Ray mengulurkan tangannya ke Dinde.
" Sama-sama Mas, saya cuma bantu sebisa saya saja ko." Dinde menangkupkan tangannya di dada membalas uluran tangan Rayden, matanya terus menghindari tatapan Rayden. Dia terus merasa risih di tatap seperti itu oleh Rayden.
" Kalau begitu saya permisi Ibu, Mas Ray saya masih ada perlu." Dinda pamitan kemudian mengulurkan tangan mencium tangan Ibu Devi.
__ADS_1
" Iya neng sekali lagi makasih ya, hati-hati." jawab ibu Devi.
Dinde membalas dengan senyuman kemudian berlalu.
" Aduh bang... cari istri tuh yang begitu bang udah Solehah, cantik, manis baik lagi." Si ibu memborong pujian untuk Dinde, memulai jurusnya agar si anak tertarik pada Dinde dan memikirkan pernikahan.
tidak tahu saja si Ibu jika anaknya sudah tergila-gila pada gadis itu.
" Ibu tadi sempet minta nomor hp nya ga Bu?" Rayden menimpali ucapan Ibunya, sengaja bertanya padahal dia sudah punya nomor Dinde, dia memiliki rencana baru buat mendekati Dinde.
" Aduh lupa Ibu Bang, coba bang di kejar masih keliatan itu, mintain cepet...!!!" Rayden ber yes ria dalam hati rencananya berhasil, dengan cepat berlari mengejar Dinde.
" Din tunggu...!!!" Rayden Berlari sambil berteriak memanggil Dinde agar berhenti.
Deg..
" kaya pernah denger suaranya, tapi dimana ya ?" Dinde membatin mengingat-ingat dimana dan siapa yang berbicara dengan suara yang mirip dengan suara barusan.
" Din... sorry Ibu minta nomor telepon kamu." Rayden sudah berdiri didepan Dinde saat ini.
Dinde yang awalnya ragu pun akhirnya memberikan nomor teleponnya kepada Rayden.
" Terimakasih ya, sampai ketemu lagi DINDAaa..." Rayden berjalan sambil terus nengok ke arah Dinde sambil melambaikan tangannya, senyumnya sudah merekah seperti bunga di musim semi, Dia sengaja memelesetkan nama Dinde untuk menggoda gadis itu.
ππππππππ
__ADS_1
Sepanjang perjalan hati Rayden yang berbunga tergambarkan jelas dengan senyuman dan nyanyian yang tidak putus-putusnya dia nyanyikan, dan semuanya lagu cinta.
Ibu yang dibonceng hanya mendengarkan tanpa mau mengganggu putranya yang terdengar sangat bahagia itu. sesungguhnya dia penasaran dengan anaknya ini.
" Ayo Ibu pelan-pelan masuknya." Rayden memapah Ibunya untuk masuk ke dalam rumah begitu tiba.
" Assalamu'alaikum, Ayah..." mereka memberi salam saat masuk rumah dan mencari sosok Ayah yang tidak terlihat saat mereka masuk.
Ibu didudukan di sofa ruang TV sekaligus ruang keluarga, kemudian Rayden bergegas keluar untuk mengambil belanjaan ibu yang masih tertinggal di motor.
Selesai membereskan belanjaan di dapur, Rayden lalu mencari es batu untuk kompres kaki Ibu yang sakit tadi.
Sampai di ruangan di mana Ibu duduk tadi, sudah terlihat ayah yang sedang memijat kaki ibu, dan Rayden segera bergabung dan memberikan kompres es batu itu.
" Ini di kompres dulu Bu biar ga terlalu bengkak, apa aku panggil tukang urut aja ya Bu."
" Ga usah lah bang, ini sudah ayah pijitin pasti sudah enakan, iya kan Bu.?" Ayah yang menjawab. Sedangkan Ibu yang di tanya hanya mengangguk dengan mata terpejam mersai pijtan ayah.
" Sini kamu bang Ibu mau tanya Abang soal Dinde." tanpa membuka matanya Ibu meminta Rayden duduk di sampingnya.
ππππππ
Semoga yang membaca ini suka dan ikut merasakan kebahagiaan yang di rasakan Rayden.
minta dukungannya ya, komen-komen juga jangan lupa
__ADS_1
Terimakasihπ