
Dinde berbaring di kasurnya dengan nyaman, namun hatinya resah setiap mengingat semua tingkah dan ucapan laki-laki yang tempo hari mengantarnya pulang.
" Apa maksud laki-laki itu ya, semua sikap, tindakan dan kata-katanya seperti dia punya maksud sama aku...Aahh tapi ga mungkin lah, secara ketemu aja baru kan, dah gitu dia anak band pasti cewe-cewe yang ngefans sama dia banyak dan pasti cantik-cantik. Biar pun dia urakan gayanya, tapi tampangnya jelas-jelas ganteng, badannya juga bagus." Dinde bicara sendiri membayangkan sosok Rayden yang di kenal sebagai Mas Ray itu. " Astagfirullah..sadar Din...sadar, jangan mikirin cowo kaya gitu...haduuh." Dinde yang sadar segera mengenyahkan bayangan Rocker tampan itu dari fikiran ya, menepuk-nepuk kepalanya pelan seolah itu bisa membantu menghilangkan bayangan Rayden dari kepalanya.
Dia tahu sekilas tentang dunia Rayden karena cerita dari Ibu Devi dan dari keluarganya saat mereka berbincang di Rumah Ibu Devi tempo hari, untungnya tidak ada yang menyinggung nama panggung Rayden di hadapan Dinde sampai saat ini.
Hal seperti itu sering kali terjadi semenjak Dinde pulang dari rumah Ibu Devi. Rayden dengan segala tingkah, ucapan dan bahkan nyanyiannya selalu membayangi keseharian Dinde.Dia sampai merasa perlu bertanya dengan sahabatnya Ninuk, dia ceritakan semua hal yang terjadi pada saat dia memenuhi undangan Bu Devi ke rumahnya. masih terngiang-ngiang ucapan Ninuk padanya waktu itu.
" Kalau ada laki-laki kelihatan tertarik sama kamu, dan kamu takut dia cuma mau main-main aja, ya sudah to the poin aja sama dia."Ninuk berujar enteng.
" Maksudnya to the poin gimana Nin?" Dinde sungguh tidak faham ucapan sahabatnya itu.
__ADS_1
" Ya bilang aja begini..maaf ya mas saya ga bisa dan ga mau 'Dekat' laki-laki yang bukan mahram, kalo mas mau Deketin saya, mas bisa minta izin ke orang tua saya." Ninuk menjelaskan dengan berakting dia sebagai Dinde, dan Dinde sebagain laki-laki yang mereka maksud. " Nah kalo dia laki-laki sejati yang ga main-main bakal tertantang kan dia, tapi kalau dia cuma main-main aku yakin dia mundur teratur, ga akan gangguin kamu lagi." Ninuk berkata dengan yakin, membuat Dinde membenarkan ucapan temannya itu.
" Nah kalo menurut kamu dia tipe yang mana?" Ninuk kemudian spontan saja bertanya demikian. tampak Dinde Hannya menggelengkan kepalanya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Setelah acara makan di rumahnya, Ibu Devi dan Dinde masih terus intens berhubungan, Ibu Devi berharap hubungan mereka suatu hari akan berubah menjadi mertua dan menantu.
malam ini Dinde ikut pengajian yang masih ada di kotanya, berhubung besok hari libur akhirnya dia punya kesempatan untuk mengikuti nya. karena biasanya dia tidak pernah bisa ikut karna acaranya pada week day dan pulangnya lumayan malam sedangkan esok paginya harus berangkat kerja.
" Din bisa temenin aku ke kafe X, aku mau ketemu saudara aku di sana ada perlu." begitu pulang dari kajian Wulan salah satu teman Dinde yang ikut kajian bersama mengajak Dinde ke suatu tempat.
__ADS_1
" Lah Ninuk gimana? masa perginya bertiga, pulangnya mencar sih, ga seru ah." Dinde malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. kebetulan Ninuk sedang ke kamar kecil, seperti nya mengantri panjang karena sedari tadi belum kembali juga.
" Dia bilang ga bisa tadi pas di toilet, makannya aku ajak kamu, dan kamu harus mau ya..ya.. please..aku ga bisa kalo ga sama temen, dan ini penting makannya harus malam ini jga aku ketemunya, dan dia bilang malam ini dia ada di kafe X buat manggung. " Wulan memaksa, panjang lebar menjelaskan, dia tidak menerima penolakan. " Ninuk bilang kalau kamu mau, kita bisa langsung pergi aja ga usah nunggu dia balik dari toilet." Wulan bicara kemudian sambil menarik tangan Dinde , untuk beranjak dari tempat dimana Dinde menunggu dia dan Ninuk yang pergi ke kamar mandi.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
kira-kira siapa ya yang ditemuin Wulan di kafe X
akankah Rayden dan Dinde berjumpa lagi?
Thank's😘
__ADS_1