
Langit bergerak lebih dulu, menyerang dengan tinju yang sudah dia latih bersama Yohan selama dua bulan. Pukulannya kali ini lebih kuat, lebih akurat dan bertenaga. Ivano beberapa kali menghindar, badannya limbung ketika kakinya dijegal Langit. Nenek Luhu datang membantu, mengayunkan tangan, membuat parang terbang melesat ke arah Langit.
“Berhenti!” perintah Langit.
Ivano membulatkan mata melihat parang tiba-tiba berhenti di udara. Langit menunjuk ke arah Nenek Luhu, bersiap mengutuk. Namun sebelum bocah itu membuka mulut, Ivano lebih dulu mengangkat kedua tangan.
“Beta menyerah!” serunya.
“Eh?” Langit mengerjap tidak mengerti.
“Pelatih, beta sudah boleh pulang?” tanyanya sambil menoleh ke arah Endang. “Kekuatan si pahit lidah bukan main, Beta seng tahan deng disuruh nyerah!”
Endang yang sudah kepalang semangat dengan kelanjutan adu tanding akhirnya naik darah mendengar perkataan Ivano.
“Kapan Langit menyuruhmu menyerah? dia bahkan belum bilang apa-apa, dasar bocah parlente!”
“Pelatih seng dengar apa-apa, tapi beta jelas dengar!” Ivano masih bersikeras bahwa Langit telah menyuruhnya untuk menyerah. “Jadi pertandingan telah usai, beta izin pulang ya!”
“Bocah ini…,” Endang tanpa sadar sudah melepas salah satu sepatunya, bersiap melemparnya ke kepala Ivano.
Sebelum Endang berhasil melempar sepatunya, Ivano lebih dulu lari kencang meninggalkan arena. Para penonton yang merupakan atlet senior dan sudah hafal kelakuan juniornya itu hanya tertawa. Mereka terbahak melihat Ivano dan Endang saling kejar-kejaran seperti tom and jerry.
Langit masih mematung di arena latihan, menatap kepergian Ivano yang diiringi gelak amarah pelatihnya. Regi menepuk pundak Langit, diam-diam memberikan jempol atas kemenangan putra angkatnya. Langit nyengir lebar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Saya minta maaf atas kelakuan Ivano, Pak!” Endang akhirnya kembali, sepertinya dia gagal menangkap Ivano dan kembali sambil terengah-engah.
“Tidak masalah, namanya juga anak-anak. Tapi tolong diingatkan kembali agar dia berhenti minum-minum, tidak baik anak dibawah umur minum alkohol.”
Langit mengerutkan kening mendengar perkataan ayah angkatnya. Tidak mengerti mengapa anak kecil minum alkohol yang seharusnya digunakan untuk mengobati luka. Endang membungkuk beberapa kali, kemudian mereka kembali membicarakan evaluasi atau perkembangan para atlet.
“Ma-maaf, Om. La-Langit boleh ke kamar kecil?”
Sebelum percakapan semakin panjang, Langit buru-buru meminta izin untuk pergi ke kamar kecil. Sudah sejak tadi dia menahan diri untuk buang air, dan setelah mendapatkan izin dari Regi, anak itu melesat cepat.
Keran air mengalir deras saat Langit mencuci tangan, usai menyelesaikan urusannya. Bocah itu memuji dirinya sendiri karena berhasil bertahan. Selesai mematikan keran, Langit hendak mengambil tisu untuk mengeringkan tangannya. Namun sesuatu terjadi, sepasang tangan tiba-tiba membekapnya dari belakang.
Aroma manis menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Tidak sampai dua kali tarikan nafas, Langit segera kehilangan kesadaran, pingsan.
__ADS_1
*
Suara klak! terdengar pelan, sebelum bagian atas tempat sampah besi terbuka. Dari dalam kotak sampah berukuran besar itu, muncul kepala Ivano yang mengintip ke kanan ke kiri. Dia baru saja sembunyi dari Endang di dalam tempat sampah, untungnya hari ini jadwal petugas kebersihan datang sehingga kotak besi berukuran persegi panjang dalam keadaan kosong dan bersih.
“Aman, waktunya beta pulang!” katanya sambil melompat keluar dari tong sampah.
“Hei! cepat buka mobilnya!” teriak seseorang tidak jauh dari Ivano.
Karena mereka bicara di waktu bersamaan, membuat keduanya menoleh dan saling adu tatap. Ivano melirik ke arah seorang bocah berusia sepuluh tahun dalam gendongan pria besar bertopi hitam. Lalu menaikan atensinya pada mobil van hitam yang pintunya sudah terbuka lebar.
“Kemana perginya pelatih? apa ke kiri? atau ke kanan, aha ha ha!”
“Tangkap bocah itu!”
“Aaaah!!”
Ivano jelas tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Penculikan. Maka bocah itu berusaha lari, namun sialnya dia lebih dulu ditangkap dan ikut dimasukan ke dalam mobil van. Kedua tangan bocah itu diikat, kemudian mulutnya juga disumpal dengan kain saat kendaraan mereka keluar dari bangunan Serikat Nusantara.
Total penculik ada tiga orang, mereka bertubuh besar dengan pakaian serba hitam. Mengenai topi, kacamata dan masker hitam sehingga wajah mereka tidak kelihatan. Di samping Ivano yang sedang panik, Langit terbaring, masih dalam keadaan pingsan.
Salah satu dari penculik menempeleng rekannya sambil marah-marah, “Heh! bodoh! kenapa tidak kau sumpal mulut bocah satu itu?!”
“Sudah aku tutup mulutnya, entah bagaimana bisa lepas!” balas temannya membela diri.
“Ya kau tutup lagi lah, mulutnya!”
Pria bertubuh besar itu segera mengambil kain di dekat kaki Ivano, hendak menutup mulutnya lagi. Namun sebelum pria itu berhasil melakukannya, bocah ambon itu kembali bicara.
“Harusnya yang ale sumpal itu, bocah ini!” kata Ivano sambil menunjuk Langit dengan dagunya. “Kalian seng tahu, kalau bocah ini dari suku palembang? kena kutuk jadi batu, baru tahu rasa ale semua!”
Dua penculik saling tatap, sepertinya mereka tidak tahu informasi ini. Melihat mereka tampak ragu-ragu, Ivano kembali bicara.
“Percaya pada beta, sebagai gantinya jang lupa bagi beta uang tembusannya!”
sejenak hening, para penculik sedang mencerna perkataan Ivano yang tiba-tiba. Sampai salah satu penculik yang berada di kursi pengemudi terbahak keras. Dua temannya memandangnya tidak mengerti.
“Apa kau baru saja menjual temanmu sendiri?”
__ADS_1
Ivano balas menatap tatapan penculik di kaca spion mobil. Meski penculik itu memakai kacamata hitam, entah mengapa bocah ambon itu merasakan bulu kuduknya berdiri. Sepertinya diantara mereka bertiga, penculik yang duduk di kursi kemudi paling kuat.
“Beta ini anak rantau, butuh uang!” Katanya sambil tersenyum miring, “Lagi pula beta deng bocah ini bukan teman.”
Lagi-lagi mereka saling adu tatap. Sejujurnya Ivano sudah keringat dingin, berharap mereka semua menuruti saja apa katanya. Jika para penculik itu merasa Ivano bukanlah ancaman, mungkin dirinya akan dibuang dan dibiarkan mati membusuk entah dimana. Ivano tidak suka pemikiran itu, lebih baik membuat mereka berpikir kalau dia berada di pihak yang sama.
“Sumpal mulut target dengan kencang. Jangan sampai dia bebas bicara ketika sadar!” titah pria yang duduk di bangku kemudi.
Ivano sudah hampir menghela nafas lega, ketika penculik itu kembali bicara. “Ikat juga bocah yang satunya lagi. Bisa sakit kepalaku mendengar suara anak-anak!”
Dua penculik lain mengikuti perintah rekan mereka. Langit dan Ivano sama-sama disumpal mulut mereka. Ivano hanya bisa pasrah, setidaknya ini artinya dia tidak akan dibuang dan masuk berita besok pagi dengan headline konyol seperti;
‘DITEMUKANNYA JENAZAH BOCAH AMBON NYASAR DARI WILAYAH TIMUR KE BAGIAN BARAT INDONESIA’.
*
Langit mengerjapkan mata beberapa kali, kaget melihat sekitarnya gelap gulita. Untuk sesaat bocah itu mengira dirinya buta, sampai akhirnya matanya mulai terbiasa. Posisinya tengah duduk, dengan kedua tangan terikat. Setelah mencerna keadaannya sekarang, Langit sampai pada kesimpulan bahwa dia tengah diculik.
‘Keluarga Sanjaya adalah keluarga terkaya di Indonesia. Kamu sebagai penerus tentu saja akan sering menghadapi kondisi tidak terduga, contohnya penculikan.’
Pelajaran dari Yohan tiba-tiba terbesit dalam ingatannya. Langit terkekeh pelan, menertawakan kebodohannya dulu yang mengira dia tidak mungkin diculik karena statusnya yang masih calon anak angkat. Tapi lihatlah sekarang, dia di sini, duduk di ruang tertutup, gelap gulita dan entah sudah berapa lama dia tertidur.
“Hmph! Hmph!” Langit mencoba berteriak, tapi ternyata mulutnya disumpal.
Bocah itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba berbagai cara agar bisa melepaskan ikatan di mulutnya. Namun sepertinya penculik itu membuat simpul mati dan juga kuat sekali ikatannya. Setelah lima menit, Langit menyerah, dia memilih untuk membuka ikatan pada tangannya lebih dulu. Berbekal kemampuan yang diajarkan Yohan, bocah itu mengeluarkan jarum kecil yang disembunyikan di balik jam tangan.
Srak! Srek!
Suara kecil dari sobekan kain terdengar samar. Keringat dingin sebesar biji jagung turun di pelipis. Setelah berhasil membuat sobekan yang cukup lebar agar bisa ditarik, Langit memasukan kembali jarum dan mencoba merobek sekuat tenaga kain yang mengikatnya.
Srek! Sraaaak!
Akhirnya Langit berhasil membebaskan diri, dia segera melepas ikatan di mulut. Sekarang bagaimana caranya Langit bergerak di ruangan gelap gulita ini? Bocah itu mengemut jari telunjuknya, mencoba merasakan pergerakan udara sekitar. Perasaan dingin samar dan udara yang berhembus pelan dapat dia rasakan. Langit segera mengikuti pelan-pelan, takut kalau-kalau dia menabrak sesuatu.
Saat tangannya menyentuh benda dingin berbentuk bundar, Langit berseru senang. Dia segera memutar gagang pintu dan membukanya.
Continue…
__ADS_1