SABUNG SUKU

SABUNG SUKU
Bab. 26 - Ujian Masuk Bag. 1 -


__ADS_3

Langit dan Ivano memasuki Ruangan B. Tempat ini luas, berdinding putih gading, dengan jendela panjang serta meja tulis memanjang membentuk setengah lingkaran. Di depan kelas terdapat sebuah papan tulis persegi panjang berwarna hitam dan meja lebar berwarna coklat keemasan.


Manik biru mengedarkan atensinya, melihat sekeliling sebelum memutuskan untuk duduk di bangku barisan ketiga dari depan. Ivano mengikuti di belakang, duduk di samping kiri Langit sambil menguap lebar.


Beberapa remaja ada yang sibuk belajar, mengobrol, bahkan tidur di pojok ruangan. Sebagian lagi ada yang menyendiri dan ada yang berkelompok. Beberapa peserta ujian juga memakai pakaian yang mempresentasikan suku mereka. Hal itu sontak membuat Langit melihat penampilannya sendiri dan Ivano yang tidak melambangkan sedikitpun suku mereka.


“Tidak usah dipikirkan,” tiba-tiba Ivano berujar, padahal dia tengah memejamkan mata sambil bertopang dagu. “Tidak ada ketentuan yang mengatakan, poin tambahan jika kita datang dengan lambang suku masing-masing.”


“Aku tahu itu!” Langit bersungut pelan. “Tapi bukankah itu artinya mereka bangga dengan suku mereka?”


Manik hitam yang semula tertutup itu akhirnya setengah terbuka. Memperhatikan lekat sahabat karibnya yang terlihat kagum dengan peserta ujian lain. Ivano akhirnya membenarkan posisi duduk dan mengeplak pelan belakang kepala Langit.


“Ya sudah, ale bisa ikutan pakai saat jadi wakil murid baru. Itu juga kalau ale bisa dapat rangking pertama ujian masuk.”


Langit terkekeh pelan, sama sekali tidak marah pada Ivano yang memukul kepala maupun seakan meremehkannya. Itu karena remaja bermata biru itu tahu, memang begitulah Ivano. Memberi dukungan dibalik sikap dan kata-katanya yang kasar.


“Berusahalah agar kau bukan rangking 1 dari bawah!”


“Itu sudah jelas. Beta seng perlu usaha, yang penting lulus!”


Langit hampir saja menepuk jidat, dia memang juga tidak berharap banyak. Tiga bulan mengajari Ivano benar-benar menguras tenaga. Namun tetap saja dia berharap mereka berdua bisa lulus dan menjalani kehidupan sekolah bersama.


Suara pintu terbuka terdengar nyaring, bersama ketukan langkah bertalu masuk. Dia berdiri di belakang meja, menatap puluhan anak di depan mata. Seorang pria berusia pertengahan tiga puluhan. Memiliki wajah lebar berbentuk persegi, bibir tipis dan hidung pesek.


Dia memakai busana laki-laki suku banjar, berbentuk kemeja berlengan panjang berwarna coklat tanah. Bagian leher berbentuk bundar tanpa kerah, dimana bagian leher terbelah sampai dada. Bagian terbelah itu diberi kancing sebanyak tiga buah, dijahit sebelah kanan. Di Bagian pinggang, terdapat kain batik yang dililit dengan panjang lima belas senti diatas lutut.


“Selamat pagi anak-anak, harap segera duduk rapi. Nama saya Hasan Bakri yang akan menjadi pengawas ujian masuk tahap satu.”


Tidak sampai satu menit, peserta ujian segera duduk di bangku masing-masing. Ruangan yang semula riuh kini tenang. Hasan mengangguk puas, lalu menyibak udara di depan dada dengan tangannya. Sebuah jendela status transparan berwarna putih muncul, mengejutkan para peserta.


“Ternyata rumor yang mengatakan teknologi di Akademi Wilayah Indonesia Barat lebih maju itu tidak bohong!”


Langit memasang telinganya ketika mendengar bisikan peserta lain di belakangnya. Peserta lain tiba-tiba menyahut.


“Kau ini tinggal di belahan Indonesia bagian mana? itu bukanlah hal baru di perkotaan!”

__ADS_1


“Tapi tidak semua orang bisa mendapatkan akses teknologi itu! Aku dengar perlu uang banyak untuk daftar dan memasangnya.”


Langit mengangguk tanpa dia sadari. Teknologi yang diperlihatkan Hasan, memang terbilang baru. Banyak orang berbondong-bondong ingin membelinya. Namun dikarenakan stok produknya terbatas, dan masih dalam tahap perkembangan, hanya segelintir yang memilikinya. Termasuk keluarga Sanjaya.


“Saya sudah membagikan soal ujian melalui kartu peserta. Kalian bisa membukanya dengan menempelkan ibu jari pada kolom di bawah foto kalian.” Hasan kembali bicara, sambil memberi contoh.


Para peserta mengikuti arahan Hasan, begitu juga dengan Langit dan Ivano. Ketika pewaris keluarga Sanjaya menempelkan ibu jari, cahaya biru tipis berpendar pelan. Setelah sinar tersebut padam, muncul sebuah layar di atas meja.


“Kalian cukup menekan tombol jawaban yang menurut kalian benar. Waktu pengerjaan dua jam, dimulai dari sekarang!”


Langit menelan ludah gugup, dia segera membaca soal. Mengerjakan dengan hati-hati dan memastikan setiap jawaban tidak ada yang salah pencet. Sementara itu Ivano mengerjakannya dengan setengah niat. Dia membaca soalnya cepat, menekan tombol yang dirasa jawabannya benar. Kadang Ivano asal menjawab ketika merasa buntu, tidak mengerti soal ataupun tidak tahu jawabannya.


Setelah dua jam berlalu, tiba-tiba saja sebuah suara Bip! kecil terdengar dua kali. Langit sontak menjauhkan dirinya dari layar, menatap sekitar, bingung. Ternyata bukan hanya dia saja, beberapa anak juga mengangkat kepala dari soal ujian. Lalu tiba-tiba seorang peserta berteriak panik.


“Aku belum selesai!”


“Argh!”


Ternyata suara Bip kecil itu adalah tanda, bahwa waktu ujian telah selesai. Secara otomatis layar berisi soal ujian menutup dan menghilang. Tidak membiarkan peserta mengerjakan lebih dari waktu yang ditentukan.


Langit menghela napas lega, untung saja dia memang sudah selesai mengerjakan. Dia kemudian menoleh ke Ivano, hendak mengajaknya keluar ruangan. Namun teman karibnya itu sedang mematung dengan tatapan kosong. Sepertinya Langit tahu alasannya, dan merasa prihatin.


“Be-beta belum selesai…,” gumamnya pelan.


“Sudahlah, masih ada ujian tahap kedua.” Langit mencoba membesarkan hati Ivano sambil menepuk pelan pundaknya. “Ayo kita keluar!”


Kedua remaja itu menekan kembali kartu peserta, mencari fitur map untuk mencari tahu letak kantin. Setelah berjalan sekitar tiga menit, mereka tiba di sebuah ruangan luas penuh kaca. Bias mentari menembus jendela, membuat pemandangan kantin lebih indah.


“Hei! tidak salah kau ada di sini?”


Langit menoleh saat suara bernada ejekan terdengar. Sekitar satu meter darinya, terdapat tiga orang remaja tengah menghadang remaja lain. Anak itu memiliki rambut lurus hitam, berkulit sawo matang, berbadan tinggi kurus. Dia menunduk, menatap nampan berisi makan siang.


“Seharusnya kau itu berada di Ruangan D, bukan di sini!” herdik remaja berkulit putih sambil menunjuk dada lawan bicaranya dengan telunjuk. “Lumpur, tuh, harusnya di genangan lumpur! Berani sekali kau menjejakan kaki di tempat yang sama dengan Tuan Malik!”


Kening remaja berambut hitam itu berkerut samar, tidak suka dengan apa yang dia lihat. Namun ada pertanyaan yang lebih membuatnya penasaran. Jadilah Langit bertanya pada teman karibnya.

__ADS_1


“Hei, apa arti dari sebutan lumpur?”


“...”


Tidak mendapatkan jawaban, Langit memutar kepala. Ternyata Ivano sudah tidak ada disampingnya, kemana perginya dia?


“Ale cari siapa?” Ivano muncul tiba-tiba dan bertanya tanpa dosa.


“Kau darimana?” Langit bukannya menjawab, dia malah balik bertanya dengan nada kesal. “Jangan tiba-tiba menghilang seperti itu!”


Ivano nyengir lebar, dia lalu mengangkat nampan memperlihatkan banyak makanan di sana. “Apa lagi kalau bukan ambil makanan? ale kenapa masih berdiri dan bukannya cari tempat duduk?”


“Aku mau tanya,” Langit buru-buru merangkul pundak ivano, kemudian menunjuk empat orang dengan dagunya. “Mereka mengatai temannya lumpur, kau tahu artinya apa?”


Ivano seketika menoleh ke arahnya tidak percaya. “ALE SERIUS?!”


Langit berhus pelan karena suara Ivano terlalu keras. Dia lalu mengangguk, menatap temannya ingin tahu. Sementara remaja ambon sudah berdecak sebal, seakan tidak habis pikir dengan apa yang dia dengar.


“Mereka kasar sekali, atau harus beta bilang, mereka rasis!”


“Rasis?”


Ivano menghela nafas pelan, “Beta pasti tahu alasan Bahtera Nuh dibentuk adalah untuk menjaga kelestarian setiap suku. Menikah sesama suku itu adalah hal mutlak yang perlu dilakukan untuk menjaga keberlangsungan suku. Nah, lumpur adalah sebutan bagi mereka yang terlahir dengan membawa darah dari dua suku berbeda. Artinya orang tua anak itu menikah beda suku, dan itu hal tabu.”


Mendengar penjelasan Ivano membuat putra angkat Regi tercengang. Dia memang tahu suku sangat penting di Indonesia, namun tidak menyangka ada sisi negatif seperti itu.


“Apa salahnya memiliki darah campuran?” Ivano menatap tiga remaja itu dengan sinis. “Selama menikah dengan cinta, itu lebih baik daripada terpaksa karena harus mengikuti adat yang ada.”


Sejenak iris sebiru lautan menatap temannya lekat-lekat. Entah mengapa ada makna tersembunyi dari perkataan Ivano.


“Sudahlah, ayo kita cari tempat duduk!”


Langit menoleh, melihat Ivano sudah berjalan menjauh mencari tempat duduk. Remaja itu hendak mengikuti namun suara keras terdengar mengalihkan atensinya.


“Dasar Lumpur!”

__ADS_1


Continue…


__ADS_2