SABUNG SUKU

SABUNG SUKU
Bab. 22 - Teman Baru -


__ADS_3

Sinar lampu menyerang tiba-tiba, membuat silau Langit yang berhasil keluar. Manik biru memperhatikan sekitar, sepertinya dia berada di bangunan tua yang terbengkalai. Dinding kusam berhias lumut, atapnya bocor sehingga membuat beberapa tetes air jatuh dan menggenangi lantai semen.


Langit mengerjap, menoleh ke kanan dan ke kiri, ada dua jalan. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia memilih belok kanan. Bocah itu melangkah hati-hati, mencoba tidak membuat suara agar tidak ketahuan para penculik. Setiba di persimpangan, Langit hendak belok kiri, tapi sebuah benda keras terantuk di belakang kepalanya.


“Bagaimana caranya kau keluar?” suara berat dan serak itu bertanya.


Langit membeku, dia ketahuan, dan yang berada di belakang kepalanya pastilah pistol. kepalanya berpikir keras, mengingat ajaran Yohan tentang cara menghadapi situasi dimana kepalanya ditodong senjata api dari belakang.


‘Ketika menghadapi pistol yang ditodong dari belakang, kau harus bergerak cepat. Dorong badanmu ke belakang, dengan begitu kau bisa menghentikan mekanisme tembakan dari pistol otomatis.’


Akibat Langit yang tiba-tiba mendorong tubuhnya ke belakang, orang itu kehilangan keseimbangannya. Dengan gerakan cepat, bocah itu segera memelintir pistol dan lengan lawannya. Kemudian Langit memukul dengan siku tepat di rahang lawannya. Badan besar lawan limbung dan jatuh ke lantai, tidak sadarkan diri.


Langit menghela napas lega, lalu mengamankan senjata api di tangan. Dia harus bergerak cepat, mencari jalan keluar sebelum para penculik lainnya sadar kalau dia berhasil kabur. Ketika melihat ada lubang berukuran sedang, Langit buru-buru masuk ke sana. Ternyata itu adalah lubang ventilasi, ukurannya lumayan besar untuk badan Langit yang kecil.


Bocah itu merangkak pelan-pelan, menyusuri lorong ventilasi. Sampai akhirnya dia menemukan ruangan kosong dan melompat masuk ke dalam. Langit mencoba mengatur nafas, dia sedikit terengah akibat adrenalin yang dia rasakan.


“Ale sudah bangun ternyata!”


Suara tinggi itu mengejutkan Langit, dia sampai memasang kuda-kuda karena kaget. Namun saat manik birunya melihat Ivano, bocah itu seketika mengendurkan kewaspadaannya.


“Kau rupanya, No!” kata Langit, menghela napas lega. “Bagaimana bisa kau disini? dan…, apa itu di tanganmu?”


Langit menunjuk botol di tangan ivano, kemudian baru sadar kalau bocah ambon itu tidak sendirian. Ada pria berbadan besar di sampingnya, tapi dalam keadaan mabuk berat. Ivano tertawa riang, menggoyangkan botol di tangan.


“Ini Alkohol! beta sudah tunggu ale dari tadi!” Ivano meloncat dari kursinya, lalu menendang tubuh besar yang tertidur sampai jatuh.


Pria itu mengerang pelan, berceloteh tak jelas. “Lagi, berikan aku arak lagi!”


“Cih, badan besar mar seng kuat minum!” ejek Ivano, lalu mendekati Langit. “Ale baik?”


Langit mengangguk patah-patah, “Kau diculik juga?”


“Ya, beta seng sengaja lihat ale diculik mereka.”


Tidak enak hati dan merasa bersalah pada Ivano, bocah bermata biru itu membungkuk dalam-dalam, meminta maaf. Bocah ambon itu hanya tertawa, mengibaskan tangan dan kembali menegak alkohol dari mulut botol.


“Kita dimana?” akhirnya Langit bertanya.


Ivano mengangguk, “Selama beta tidur, ale coba tanya sama om yang di sana.” katanya sambil menunjuk pria yang masih mabuk di lantai. “Dia bilang kita ada di kota Bogor, sekitar tiga jam ke Joekarta!”

__ADS_1


“Kau tahu cara kabur dari sini?” tanya Langit lagi.


Langit menunggu jawaban Ivano dengan tidak sabar, bocah ambon itu lagi-lagi minum. Setelah tegukan terakhir, Ivano nyengir lebar.


*


“Dua sandera kabur! cepat tangkap mereka!”


Suara langkah kaki dan teriakan banyak orang menjadi pengiring Langit dan Ivano yang berusaha kabur. Lima menit sebelum kejadian, Langit menurut saja ketika bocah ambon itu bilang dia tahu cara kabur dari tempat ini. Seharusnya Langit tidak mempercayai kata-kata Ivano.


“Ini cara paling gila yang aku tahu!!” teriaknya sambil menghindar saat seorang pria mencoba menangkapnya.


Ivano melompat kemudian menjadikan badan penyerang sebagai batu loncatan. Bocah itu menghindar dengan lincahnya. Salah satu pria datang dan mengeluarkan belati. Ivano menangkis serangan dengan lengan, lalu meniru gerakan lawan beberapa kali sebelum meninju rahang sampai tumbang.


“Pulang deng tangan kosong itu seng seru! sekalian kita tangkap mereka!” Ivano nyengir lebar, kemudian mengambil belati yang jatuh dan kembali berlari.


Langit mulai pusing, bukan ini yang dia harapkan. Seharusnya mereka lekas pergi dari tempat ini, mencari bantuan. Bukannya menyerbu semakin dalam markas penculik dan mencoba menjatuhkan bos mereka.


Tiga orang datang menghadang, Langit segera memutar badan, menghindar. Lalu melompat ke salah satu dari mereka dan mencekik leher lawan. Satu tumbang, dua lainnya menyerang.


“Diam ditempat!” perintah Langit, dia sudah mulai kehabisan tenaga.


Dua pria besar itu panik, berusaha bergerak namun gagal. Langit dan Ivano melewati mereka dengan mudah. Bocah ambon menoleh ke belakang, bersiul nyaring.


“Keren!”


“Kau yakin kita belok kiri?” Langit bertanya, tidak memedulikan pujian Ivano dan lebih fokus pada tujuan mereka.


“Yups!” jawab Ivano santai.


“Ya Tuhan, semoga aku tidak dimarahi, pak Yohan!” gumam Langit yang kelihatan lebih takut amukan guru privat daripada penculiknya.


Setelah mereka belok kiri, sebuah pintu kusam di ujung jalan terlihat. Mereka berdua segera mendobraknya dan disambut seorang pria berumur sekitar tiga puluhan. Pria itu memakai pakaian serba hitam, mata coklat dengan rambut hitam panjang sebahu. Ivano ingat pria itu, dia adalah orang yang membawa mobil ketika menculik mereka.


“Sudah beta duga, ale bos terakhirnya!”


Langit menoleh ke arah Ivano tidak mengerti, “Kau kenal dia?”


“Tidak, hanya asal tebak.” Jawab Ivano sambil mengangkat bahu.

__ADS_1


Pria di depan mereka bertepuk tangan, berjalan menuju tengah ruangan. Ivano dan Langit sama-sama menjaga kewaspadaan mereka.


“Entah aku harus menyebut kalian pemberani, atau bodoh.” kata pria tersebut dengan suara rendah, “Harusnya kalian kabur ketika ada kesempatan.”


“Dan melepaskan kalian?” Ivano mengherdik sinis.


“Ah! Ivano Nafali, bocah asli Maluku yang datang setelah diajak ajudan keluarga Sanjaya.” Perkataan itu membuat Ivano sedikit tersentak pelan.


“Aku pikir kau ini hanya kerikil, siapa sangka ternyata calon jawara yang dielu-elukan. Betapa beruntungnya aku mengambil pekerjaan ini! aku yakin, banyak sponsor Sabung Suku yang akan membelimu dengan harga mahal!”


“Kau mengerti apa yang dia bicarakan?” tanya Langit, berbisik pelan.


Ivano mengangkat bahu, tidak peduli. “Terima kasih atas pujiannya, ale bisa menyerah sekarang!”


“Tidak sekarang, bocah!”


Detik berikutnya pria itu melompat menyerang, kedua tangannya menyilang saat menarik dua golok yang terselip di pinggang. Warna senjata itu gelap, seperti terbuat dari campuran besi dan baja. Golok itu juga memiliki motif yang menyerupai urat kayu dari pangkal hingga ujungnya.


Benturan dari dua senjata terjadi, golok dengan parang kayu. Ivano harus mati-matian menahan daya serang dari lawannya. Setelah sepersekian detik bertahan, bocah ambon itu berhasil mempertahankan kuda-kudanya, lalu menangkis serangan. Lawan mundur dua langkah, lalu kembali melompat, menyerang ke arah Langit.


Manik biru berkilat, pemiliknya mulai berhitung. Tepat saat golok dihunus, Langit dengan cekatan memutar tangan, siap menjatuhkan senjata lawan. Namun gerakannya terbaca, penculik itu menarik kembali goloknya, kemudian menendang perut Langit hingga terbanting ke dinding.


“Bukan langkah yang buruk, Tuan Muda. Hanya saja terlalu gampang dibaca.” Si penculik memberikan komentar.


Langit terbatuk dua kali, “Terima kasih!” katanya lalu kembali berdiri.


“Hei! gunakan lidah pahit ale!” Ivano yang melesat menghampiri Langit berbisik tak sabar. “Kau bisa langsung mengalahkannya, apa lagi yang ale tunggu?”


“Aku punya batas penggunaan!” Langit berbisik, “Karena itu selalu aku pakai dengan hati-hati.”


Ivano menatap Langit seakan tidak percaya, bocah itu mengangguk singkat mempertegas perkataannya. Ivano menghela napas pelan, dia kembali menaruh perhatiannya pada penculik di depan.


“Berapa kali lagi?” tanyanya, dan Langit menjawab dengan gerakan tangan. Ivano mengangguk paham, lalu mulai berpikir cepat. “Beta coba pancing dia.”


Usai bicara, Ivano segera melesat dengan parang kayu. Dia juga memanggil Nene Luhu untuk membantunya. Nenek tua dengan kebaya lusuh bertopi lebar itu melesat cepat lebih dulu. Raut wajah tuanya terlihat menyeramkan saat dia meraung keras hingga rahangnya memanjang.


“Ini baru mulai menarik.”


Continue…

__ADS_1


__ADS_2