
Suara gong tanda pertandingan dimulai terdengar. Penyerang pertama adalah Malik, dia mengibaskan tangan, seperti melemparkan sesuatu. Ternyata sebilah keris emas meluncur cepat, tepat ke arah Radit. Remaja berkulit sawo matang itu bergegas menghindar. Namun keris itu mengikutinya, seperti lem, bergerak mengikuti kemanapun Radit pergi.
“Baru kali ini aku lihat orang memakai keris!” Langit berseru antusias.
“Bagaimana caranya dia membuat keris bergerak seperti itu?” Ivano yang semula setengah niat memperhatikan, kini ikutan fokus. “Aku tidak melihat dia memanggil khodam.”
Malik terus berkonsentrasi, dia seperti memiliki telepati dengan kerisnya. Sementara itu Radit tidak ada niat untuk terus menghindar. Remaja itu segera melompat menyerang Malik. Dia ternyata sejak tadi mencoba mengurangi jarak di antara mereka berdua.
Keris melawan pencak silat. Ilmu bela diri Radit ternyata tidak terlalu buruk. Langit mengangguk antusias, dia dan Ivano sama-sama memuji remaja itu. Namun sayangnya, hanya itu yang bisa Radit lakukan. Hampir lima menit pertandingan berlangsung, tidak ada tanda-tanda kekuatan suku. Alhasil pengawas menghentikan pertandingan sepihak.
“Pertandingan selesai, pemenangnya adalah Malik Waruk!”
Malik menatap Radit dengan tatapan mengejek dan senyum miring. Sungguh disayangkan, namun salah satu syarat lolos ujian masuk adalah dengan memperlihatkan salah satu kemampuan yang didapatkan setelah Darah Suku banget. Radit yang sejak awal pertandingan hanya mengerahkan kemampuan bela diri, tentu saja tidak lolos.
Remaja itu menunduk, nafasnya berderu dan tubuhnya banjir oleh keringat. Dia sudah mengeluarkan segala kemampuannya. Namun ternyata belum cukup, hatinya sakit. Membayangkan harus pulang dengan membawa berita kegagalan pada kedua orangtuanya.
Langit dan Ivano memperhatikan dalam diam, sosok Radit yang berjalan kembali ke tempat duduk sambil sesekali menghapus air matanya.
“Sangat disayangkan,” gumam Langit tanpa melepaskan pandangannya dari Radit.
Ivano menghela napas pelan, “Memang begitu, sudah hukum alam. Kau berhasil membangkitkan Darah Suku pun belum cukup untuk naik ke puncak. Apalagi jika sama sekali tidak bangkit, memang disayangkan. Kemampuan bela dirinya bagus, tapi hanya itu.”
Ucapan Ivano mungkin terkesan kasar, namun memang begitulah dunia suku. Setelah mengikuti perkembangan tentang Piala Suku Dunia, Langit mulai mengerti. Di dunia ini, mereka yang berasal dari suku terhebat, terpandang, akan selalu memiliki kejayaan dunia.
Tidak hanya itu, sisi lain dari dunia yang terlalu mengagungkan Darah Suku membuat sebagian bersikap rasis. Anak-anak pun tidak luput dari perilaku tersebut, seperti yang dialami Radit.
Sejenak Langit menyentuh mata kanannya, mata biru cerah ini menjadi pertanyaan baru. Selama ini dia tidak pernah pusing atau memikirkannya. Dia memang sudah merasa berbeda dari teman-temannya, dan menerima kondisinya yang unik. Tapi bagaimana kalau ternyata alasan Langit memiliki mata biru, karena dia berdarah campuran.
‘Aku baru lihat ada suku palembang sepertimu.’
__ADS_1
Bahkan Yohan pernah menyinggungnya saat Langit memulai latihannya. Bagaimana kalau ternyata benar, dia memang berdarah campuran. Apakah Langit akan menerima perlakuan kasar seperti yang dialami Radit?
“Langit” seruan dari Ivano seketika menyadarkan remaja itu.
Manik birunya mengerjap, kaget, melihat di ruangan sebesar itu tinggal dirinya dan Ivano. Sepertinya ujian tahap kedua sudah selesai dari tadi. Remaja itu segera berdiri, tersenyum malu pada Ivano.
“Ma-maaf, aku lagi memikirkan sesuatu tadi.”
Sejenak Ivano memandangnya lamat-lamat, seperti sedang membolongi kepala temannya. Hal itu membuat Langit keringat dingin, takut teman karibnya ini tahu apa yang menjadi kegelisahannya.
“Ale seng sedang memikirkan hal aneh, kan?”
Tepat sasaran seperti biasanya, terkadang Langit mengira Ivano benar bisa membaca pikiran seseorang. Remaja itu tertawa canggung, berusaha terlihat biasa saja.
“Hal aneh bagaimana, aku cuma kepikiran nanti malam makan apa.” Langit mencoba mengelak.
Butuh waktu sekitar satu minggu sampai pemberitahuan lebih lanjut. Selama menunggu hasil tes, Langit selalu menghabiskan waktunya di Serikat Nusantara. Berlatih bersama Jawara junior demi mempersiapkan pertandingan, maupun tes kenaikan tingkat. Sementara Jawara Senior berlatih lebih keras, mengingat Turnamen Piala Suku Dunia akan dimulai kembali tahun depan.
Sampai akhirnya tiba juga surat pemberitahuan hasil ujian. Langit segera berlari menuju ruang keluarga, Regi sudah ada di sana bersama Fuji. Kedua orang tuanya memang sudah sepakat untuk pulang lebih awal. Mereka ingin membaca hasil ujian masuk bersama-sama.
“Duduk di sini, sayang!” Fuji menepuk tempat duduk di sampingnya. Sementara Regi berdiri di belakangnya sang istri.
Langit menurut, duduk di samping sang ibu. Fuji segera membuka surat berwarna coklat dengan segel yang hanya bisa dibuka dengan stempel keluarga Sanjaya. Ini dilakukan demi menghindari pemalsuan isi surat. Mengingat surat yang dikirim atau diterima dari Akademi Wilayah Indonesia Barat bersifat rahasia.
“Ahem!” mulai Fuji tanpa bisa menyembunyikan senyum tegangnya. “Diberitahukan kepada kandidat Langit Sanjaya yang telah mengikuti ujian masuk penerimaan siswa baru gelombang I, bahwa kandidat dinyatakan lulus dengan nilai terbaik. Diharapkan untuk menyiapkan segala keperluan untuk masuk asrama akademi dan juga menyiapkan pidato sebagai wakil siswa baru di acara penerimaan murid baru pada hari–”
Langit segera bersorak gembira, dia melakukan high five dengan Regi. Kedua orang tuanya tersenyum dan menatapnya bangga. Fuji sudah mencium kening anaknya dan memeluk Langit erat.
“Kerja bagus, Langit.” Regi memuji putranya tulus.
__ADS_1
“Terima kasih, Papa!”
“Meski sebenarnya Mama sedikit sedih, karena kamu harus masuk asrama. Namun tidak sebesar rasa bangga dengan keberhasilanmu.”
***
Tidak hanya Langit, teman karibnya, Ivano juga lulus ujian. Mereka segera menyiapkan segala kebutuhan untuk tinggal di asrama. Selama bersekolah, kegiatan Langit dan Ivano sebagai salah satu Jawara di Serikat Nusantara akan sedikit longgar. Mereka hanya perlu datang latihan empat kali dalam sebulan.
Untuk hal ini, Ivano adalah yang paling senang. Remaja ambon itu memang kerap kali bolos latihan dan memilih tidur. Tepat satu hari sebelum upacara penerimaan murid baru, Langit dan Ivano sudah berada di asrama Akademi yang terletak di bagian belakang gedung.
Asrama dengan empat lantai, kamar perempuan dan kamar laki-laki dipisahkan oleh bangunan tengah, tempat ruang rekreasi berada. Untunglah murid-murid bebas menentukan kamar mereka sendiri, sehingga Langit dan Ivano bisa berada di kamar yang sama.
Setelah merapikan barang-barang, Langit dan Ivano memutuskan untuk turun ke lantai satu, pergi ke ruang rekreasi. Di sana sebagian murid-murid kelas satu yang lulus berkumpul untuk berkenalan. Langit menatap sekitar, barang kali bertemu dengan orang yang dia kenal walau kemungkinannya tipis.
“Heh! Langit, coba lihat kesana.” Tiba-tiba Ivano berbisik, menunjuk dengan dagu.
Remaja itu mengikuti arah yang ditunjuk, dan keningnya mengerut samar. Di depan perapian, berkumpul sekitar lima orang anak. Di tengah-tengah keramaian itu adalah Malik Waruk, duduk dengan wajah terangkat dan bersedekap dada.
“Ayo kita pergi,” ajak Langit yang tidak mau berurusan dengan Malik.
Ivano mengikuti, sebenarnya dia sudah tidak sabar melihat wajah sombong Malik berubah kesal. Namun dia mengikuti Langit menuju ke kantin asrama. Tempat makan di sini cukup luas, dengan banyak meja meja di tengah ruangan. Langit memperhatikan sekitar dengan cermat, lalu mengangguk puas.
“Ale seperti sedang inspeksi mendadak,” Ivano terkekeh pelan.
“Kita akan tinggal disini selama tiga tahun, tentu saja aku harus lihat-lihat!” Langit hendak berbelok, dia sudah puas melihat kantin.
Mereka berdua pergi menuju ke tempat lain, dan tidak menyadari seseorang masuk ke dalam kantin setelah mereka. Bayangan itu terlihat seperti seorang gadis, berpakaian serba hitam dengan bandana hitam. Sejenak dia memandang dua remaja itu, punggung yang mengingatkannya pada seseorang.
Continue…
__ADS_1