
Langit bergerak cepat, dia memukul keris terbang milik Malik. Kemudian melompat menyerang lawannya tanpa memberi celah untuk bertahan. Gerakannya cepat dan kuat, dia memelintir lengan Malik dan menjatuhkannya ke tanah.
Pertarungan pun selesai, Joko segera menghentikannya setelah melihat Malik tidak bisa berkutik. Langit segera berdiri dari tubuh Malik dan mengulurkan tangan, hendak membantu lawannya berdiri.
“Terima kasih,” ucap Malik pelan, lebih mirip berbisik.
Dia menerima uluran tangan Langit, kemudian pergi begitu saja. Ivano berlari menghampiri temannya, lalu menyikut pelan agar Langit berhenti menatap punggung Malik yang menjauh.
“Dia benar-benar berbeda dari saat kita bertemu di ujian masuk.” Langit akhirnya menyatakan pemikirannya, setengah cemas. “Apa dia baik-baik saja?”
“Untuk apa kita peduli?” Ivano mengangkat bahu, “Beta tetap tidak suka dia, entah apa yang ada dipikirannya, beta tidak suka dengan orang yang sulit dibaca.”
Langit masih memandang ke arah Malik, remaja itu kini duduk menyendiri, terlihat lesu. Ivano segera memukul tangannya, menyadarkannya agar mengikutinya.
***
Seminggu berlalu tanpa ada insiden perundungan ataupun pertengkaran. Langit mengajak Yatna saat mereka makan siang bersama, dan mendapatkan respon baik. Gadis itu setuju, senang malah dan menerima tiket kursi VIP pemberian Langit.
Gedung tempat dilangsungkan pertandingan Serikat Nusantara melawan Serikat Bandung cukup luas. Sejak pagi kondisi sudah ramai, rombongan jawara dari luar kota sudah datang sejak pukul delapan pagi. Begitu pula dengan rombongan Serikat Nusantara.
Langit datang bersama jawara lainnya menggunakan bus, dan bertemu dengan Yatna di depan lobby. Gadis itu berangkat dari asrama menggunakan mobil yang sudah dipesankan oleh Langit. Yatna sempat meledeknya, ‘Tuan Muda’ seperti yang dilakukan Ivano.
“Aku tegang sekali,” ucap Yatna sambil menarik nafas panjang.
Langit tertawa kecil, “Terima kasih sudah tegang untukku.”
Yatna menatap teman karibnya, tersenyum miring mendengar candaan Langit yang tak biasa baginya.
“Aku lupa bilang sebelumnya,” mulai Yatna. “Selain kita dapat bertemu lagi, melihatmu tumbuh sehat dan tidak lagi gagap, membuatku senang. Keputusanku tepat karena berpegang teguh pada janji kecil kita dulu.”
Langit tersenyum cerah, sambil mengangkat kelilingnya dia berucap. “Janji tetaplah janji, kalau kau menyerah, atau lupa. Maka biar aku yang mengejar dan mengingatkanmu.”
Yatna mengangguk, tersenyum lebih lebar dan hangat. “Aku tahu itu, melihatmu ada di sini, itu artinya kau tidak lupa janjimu dengan Nyoman.”
“Ayo, kita masuk!” Langit menarik tangan Yatna, memasuki gedung tempat pertandingan berlangsung.
***
__ADS_1
Ivano memutar badan ketika dia melihat sosok Yatna dan Langit datang. Sebelum pertandingan dimulai, Langit sengaja membawa Yatna ke ruang tunggu. DI sana sudah berkumpul jawara-jawara Serikat Nusantara, termasuk Ivano.
“Siapa ini?” salah satu jawara senior datang dengan wajah penasaran.
“Wah~ anak gadis!” timpal yang lain.
Yatna menyapa dengan senyum tipis, dan Langit berdehem pelan sebelum memperkenalkan. Ivano juga berdiri di samping Yatna, memasang raut seakan tengah menyombongkan diri.
“Kenalkan, dia Yatna. Temanku saat masih di panti asuhan dulu, dia juga sudah membangkitkan Darah Suku.”
Ivano ikut menimpali, “Yatna ini anak beasiswa dan ranking tiga seangkatan kami!”
“Lagakmu, No! kau tidak malu, calon ajudan Langit tapi ranking di tengah-tengah?” Salah satu jawara senior celetuk tiba-tiba.
Suara tawa pecah seketika, Langit dan Yatna menyeringai tipis. Ivano menggaruk tengkuknya, nyengir dengan pipi memerah.
“Setidaknya masa depan beta sudah pasti. Pensi dari sini beta ikut Langit! tidak seperti kakak, cuma dirumah saja sambil makan kerupuk!”
“Wah, anak ini sudah berani ngelunjak!”
Ivano terbahak, tidak mencoba melepaskan diri dari kuncian seniornya ataupun menepis tangan yang mengacak rambutnya. Ketika suasana semakin ramai, tiba-tiba pintu ruang tunggu terbuka, salah satu staff acara masuk lalu membungkuk meminta maaf.
Ivano segera melepaskan diri, “Ale cari beta?”
Staff perempuan itu segera menyingkir dari daun pintu, “Ada yang mencari Anda, silahkan masuk.”
Sinar dari sepasang manik hitam berubah kelam sehitam arang. Darahnya berdesir cepat, mengalir ke kepala bersama amarah.
“Lama tidak bertemu, anakku!”
Seorang laki-laki paruh baya berkulit gelap dengan rambut keriting dan perut buncit masuk ke dalam. Ruangan ramai penuh hangat, mendadak hening dan dingin. Yatna menyadari perubahan itu, menatap sekitar dengan kening berkerut.
“DASAR BEDEBAH!”
Ivano mendorong tubuh gempal pria paruh baya itu hingga terbanting ke dinding. Mengejutkan seluruh orang di ruang tunggu, maupun di lorong. Staff perempuan menutup mulut, terkejut dan mundur membentur dinding.
“Berani sekali ale datang kemari!” Ivano mencengkram kerah pria yang mengaku sebagai ayahnya. “Apa ale lupa, kalau beta dan adik-adik sudah putus hubungan dengan ale?! bagaimana ale bisa datang ke Joekarta?!”
__ADS_1
Langit segera berlari untuk menahan tangan Ivano yang sudah mengambang di udara, siap memukul wajah pria itu. Beberapa senior juga ikut menahan, mengingat Ivano adalah salah satu jawara dengan tenaga cukup kuat.
“Kembali kau ke Ambon!”
Dengan susah payah, Langit dan beberapa jawara senior akhirnya berhasil memisahkan mereka berdua. Pria itu merapikan pakaiannya, tersenyum tipis tapi terlihat sekali raut kekesalannya. Mata hitam itu berkilat, menatap lamat-lamat pada putra sulungnya.
“Ale sudah besar, ale tidak rindu dengan bapa?” dia bertanya dengan nada sedih dibuat-buat. “Tiga tahun ale pergi meninggalkan bapa seorang, hidop enak, bahkan menjadi jawara. Seharusnya ale sebagai ana kirim doe ka bapa! ale tega biarkan bapa seng makang?”
“Mar bapa tega seng beri kami makan!” Ivano berseru memotong perkataan pria itu, menunjuknya penuh kebencian. “Bapa seng lupa? bapa suruh beta cari uang, demi beli alkohol untuk bapa! ade-ade ale paksa mengemis, demi bapa makang, mar bapa tetap pukuli mereka!”
“Cukup!” suara Langit terdengar memecah kericuhan antara Ivano dengan sang ayah.
Remaja bermata biru itu menatap keduanya dengan tegas, dia melangkah ke depan, seakan melindungi Ivano. Langit menatap lamat-lamat pria di depannya, dia adalah ayah Ivano, jelas bukan seorang ayah yang baik. Meski mereka berbagi darah yang sama, namun nyatanya hubungan keduanya tidak sekental darah seperti orang-orang bicarakan.
“Panggilkan penjaga, dan bawa orang itu keluar karena telah membuat kekacauan!” perintah Langit pada staff laki-laki yang baru saja datang.
“Tidak, aku masih perlu bicara dengan anakku!” pria itu mencoba berontak.
“Ivano bukan anakmu!” Langit berseru tegas, “Hubungan kalian sudah selesai sejak Ivano bergabung dengan Serikat Nusantara. Kau juga sudah menandatangani surat perjanjian untuk tidak muncul di hadapan Ivano dan adik-adiknya. Jika melanggar, maka kau akan ditahan dan didenda!”
Sepasang mata hitam itu mengerjap, memandang lekat pada sahabat karibnya. Dia tidak percaya, Langit akan membelanya, dan sudah mengetahui masalah keluarganya.
“Ivano adalah bagian dari Serikat Nusantara, dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu keluargaku!” Langit berujar lantang dan tegas, tidak menunjukan kalau dia hanyalah anak remaja biasa.
“Tuan, tolong tunggu! kau tidak bisa memisahkan aku dengan anakku!” pria itu masih berusaha melepaskan diri, meski tengah diseret paksa oleh petugas. “Kau tidak bisa melakukan ini, setidaknya berikan aku uang! aku butuh uang! aku tidak mau jadi properti sabung suku! tolong!”
Yatna memandang kepergian laki-laki itu dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan. Menatap kosong dan tidak mendengar suara Langit yang berusaha memanggilnya berulang kali.
“yatna, kau baik-baik saja?”
“Ah! a-aku baik,” akhirnya lamunan Yatna buyar dan segera tersenyum tipis. Gadis itu segera menoleh ke arah Ivano, remaja itu tengah duduk sambil menunduk. “Bagaimana dengannya?”
Langit mengikuti pandangan Yatna, sedikit menghela napas pendek. Tidak menjawab dan malah mengajak gadis itu untuk naik ke kursi penonton. Yatna tidak perlu diberitahu pesan tersirat dari temannya. Langit sedang mencoba memberikan ruang bagi Ivano untuk menenangkan diri.
“Jadi Serikat Nusantara adalah keluargamu?” Yatna bertanya dengan senyum tipis.
Manik biru itu menatap sepasang mata coklat penuh arti. “Lebih dari itu,” jawab Langit.
__ADS_1
Continue…