
“Lepaskan beta, kalian tidak bisa melakukan ini pada beta!”
Para pengunjung memperhatikan seorang pria berbadan gemuk, tengah diseret oleh dua orang petugas. Dia didorong kasar, hampir terjungkal, namun berhasil berdiri tegak. Mande namanya, pria asal ambon sekaligus ayah kandung Ivano.
“Silahkan pergi, jangan membuat keributan di sini, Tuan!” salah satu petugas berseru tegas, tetap berdiri di depan pintu masuk.
Mande terpaksa mundur, dia tidak mungkin memaksa masuk. Sepertinya petugas-petugas itu tidak akan segan menjebloskan dirinya ke penjara jika menerobos masuk. Laki-laki itu melangkah gontai, menjauh dari pintu masuk dengan perasaan gusar.
Seminggu yang lalu, ketika dia berada di jalan, tidur dengan perut kelaparan. Seseorang memberikannya sebungkus roti. Mande menerima dan makan dengan lahap, pria asing itu bahkan memberikannya segepok uang tunai. Dengan satu syarat, yaitu membawa anaknya, Ivano ke dunia bawah.
'Aku tertarik dengan anakmu, dia bisa menjadi bidak di permainan Sabung Suku. Bawa dia kehadapanku, jika tidak maka kau yang akan menggantikannya.'
Mande menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan ingatan malam itu. Seharusnya dia tidak setuju, ataupun terbuai. Bagaimana cara dia mengajak putranya untuk datang ke lokasi yang dijanjikan? Anak itu jelas dilindungi oleh pewaris Serikat Nusantara.
“Bagaimana ini? beta tidak mau jadi bidak Sabung Suku! belum lima menit beta pasti sudah mati!”
Mande menggigit kuku dengan gelisah, sebelum tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala. Pria itu menyeringai lebar, mengapa dia tidak kepikiran sejak tadi. Jika dia tidak bisa membawa Ivano, maka biar anak itu yang datang kepadanya.
“Ale tunggu saja, dasar ana durhaka!”
***
Pertandingan persahabatan sudah dimulai sejak dua jam yang lalu. Posisi saat ini 3 kemenangan jawara senior dan 2 kemenangan jawara junior. Ivano dan Langit berhasil memenangkan pertandingan dan kini menonton dari kursi VIP, menemani Yatna.
“Kalian berdua sungguh luar biasa!” puji gadis manis itu.
Ivano membusungkan dada, “Tidak ada yang bisa mengalahkan beta!”
“Jangan sombong, kau tidak lupa kalau Yatna berhasil membuatmu menyerah?” Langit meledek dan terbahak saat temannya itu meringis pelan.
“Benar juga, ale belajar dari mana?”
Yatna sedikit gugup ketika ditanya, dia tampak berpikir sejenak sebelum menjawab dengan ragu. “O-otodidak?”
Ivano mengerutkan kening, tidak percaya. “Kalau tidak mau memberitahu, bilang saja. Tidak usah bohong!”
“Ma-maaf,”
“Sudah, jangan bertengkar.” Langit yang duduk di antara Yatna dan Ivano berusaha melerai.
Seorang staff laki-laki tiba-tiba menghampiri mereka bertiga. Langit segera mendekatkan kuping, mendengar dengan seksama apa yang disampaikan pemuda itu. Manik biru sontak membulat sebelum dia mengangguk paham.
“Ada apa?” Yatna bertanya penasaran.
Langit hanya menggeleng, tersenyum tipis. “Ada masalah kecil, kalau tidak keberatan aku tinggal dulu, yah! Ivano ikut aku,”
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Yatna, remaja itu sudah menarik tangan temannya. Ivano mengekor di belakang, mesti tidak mengerti dengan situasi yang terjadi. Remaja itu sudah terbiasa mengikuti Langit lebih dulu tanpa bertanya lebih dulu. Mereka berdua berjalan tergesa-gesa dan memasuki ruang tunggu.
“Tuan Muda,” Endang segera beranjak dari duduk, terlihat gelisah. “Saya sudah mengirim orang untuk mengecek kondisi dulu.”
“Apa yang terjadi?” akhirnya Ivano bertanya, terkejut melihat pelatihnya terlihat cemas.
Endang menatap Ivano dengan perasaan bersalah. Pria itu segera menghampiri anak didiknya, dan memegang bahu Ivano.
“Dengarkan ini baik-baik, Ano.” Endang menelan ludah gugup, “Kami baru saja menerima surat pemberitahuan dan isi surat itu ditujukan untukmu.”
Manik hitam itu memicing tajam, “Apa isi suratnya?”
“Mereka menculik Dino dan Bayan,” Langit menjawab di belakang Endang. “Dan mereka memintamu datang seorang diri jika tidak mau adik-adikmu terluka.”
Seperti sambaran petir di siang bolong, Ivano membulatkan mata tidak percaya. Dia menatap Langit dan Endang bergantian, kedua tangan terkepal erat. Rasanya darahnya bergejolak penuh amarah dan juga cemas.
“Di mana lokasinya?” Ivano bertanya lambat-lambat.
“Kau tidak bisa pergi ke sana. Tidak sebelum aku memastikan Dino dan Bayan benar-benar diculik.” Langit menghampiri Ivano, menepuk pelan pundak sahabatnya. “Untuk sekarang, mari tenang dulu.”
“Di mana lokasinya, Langit!” Ivano membentak tidak sabar, air mata sudah jatuh setitik di ekor mata. “Ale jelas tahu, beta tidak bisa hidup tanpa ade-ade beta!”
“Aku tahu!” sahut Langit, tanpa melepaskan tatapannya dari Ivano. “Kalau aku jadi dirimu, jelas aku tidak akan bisa tenang dan mencari mereka. Tapi asal bergerak juga tidak ada gunanya.”
“Kau tunggu di sini. Kita akan bergerak jika sudah tahu kondisi lokasi di sana, kau mengerti?”
Ivano tidak menjawab, hanya mengangguk kecil. Langit tersenyum tipis, dia segera beranjak dan mengajak Endang untuk bicara empat mata.
“Tolong perintahkan beberapa penjaga untuk melindungi Yatna.”
“Baik, Tuan Muda.”
Sejenak Langit diam sebelum bertanya lagi pada Endang. “Sudah berapa lama sejak surat ini ditemukan?”
“Setengah jam yang lalu, Tuan Muda.”
Langit menghela nafas gusar, seandainya saja staff menemukan surat ini lebih cepat. Mereka tidak tahu, kapan tepatnya surat yang hanya berupa kertas dilipat itu duduk manis di meja ruang tunggu. Tiga puluh menit terbuang percuma karena kepanikan para staff sebelum melaporkan hal ini padanya.
Remaja itu memijat pelipisnya yang berkedut pelan, “Lain kali beritahu aku lebih cepat jika hal seperti ini terjadi lagi.”
“Ba-baik, saya mohon maaf, Tuan Muda!” Endang membungkuk dalam-dalam, merasa bersalah.
Tiba-tiba sebuah suara keras terdengar, membuat kaget Langit dan Endang. Mereka berdua sontak berbalik, dan menemukan pecahan kaca dari ventilasi yang pecah. Langit menatap sekitar dan tidak menemukan Ivano. Sial, anak itu tidak bisa menunggu lebih lama dan bertindak sendiri.
“Hubungi aku jika ada berita terbaru!”
__ADS_1
“Tuan Muda!”
Langit mengindahkan seruan Endang, dia sudah berlari dan naik ke atas ventilasi untuk mengejar Ivano. Setelah berhasil keluar, remaja itu mengedarkan atensi ke sekitar. Dia berada di belakang gedung, dan segera mengejar ketika melihat punggung Ivano.
“Ano, berhenti! Hei!”
“Beta tidak bisa menunggu!” teriak remaja itu, di tangannya terdapat surat yang dia curi saat Langit bicara dengan Endang. “Ale tidak perlu ikut, ini urusan beta!”
Langit mengeraskan rahang, marah. Bagaimana bisa ini bukan urusannya, ketika Ivano bukan hanya seorang teman. Pewaris keluarga Sanjaya sudah menganggap Ivano, DIno dan Bayan sebagai saudaranya. Penculikan ini tentu saja membuat Langit marah, dan cemas. Tapi dia sudah dilatih oleh Yohan untuk bersikap tenang apapun masalahnya.
“Baik, kalau itu maumu!” Langit berseru, semakin meningkatkan kecepatan berlari dan melompat menghadang Ivano. “Aku tidak akan menghentikanmu, tapi aku pergi denganmu.”
“..., beta bisa sendiri!”
“Dan membuatku kehilangan saudaraku?”
Ivano terdiam, menatap lekat pada sepasang iris biru di depannya. Langit menghela napas pelan, menghampiri teman karibnya.
“Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Kita akan menyelamatkan Dino dan Bayan bersama dan ini keputusan final, mengerti?”
Ivano mendengus pelan, sudut bibirnya tertarik ke atas. “Beta mengerti Tuan Muda.”
“Bagus!”
Setiba mereka di jalan besar, sebuah motor tiba-tiba berhenti tepat di depan mereka. Seorang remaja perempuan membuka helm dan tersenyum lebar.
“Butuh ojek?”
Langit membulatkan mata sementara Ivano berdecak kagum, “Yatna?!”
“Aku tahu kalian ada masalah serius,” Yatna menurunkan standar motor dan bersedekap dada. “Tapi aku tidak suka ditinggal sendiri, apalagi kalau karena aku perempuan.”
“Tidak, bukan begitu…,” Langit seketika kelimpungan mencari alasan. “Kami hanya tidak sempat memberitahumu.”
Tatapan menusuk dari gadis itu seakan mampu membuat Langit menciut. Ivano terbahak, tanpa menunggu lagi dia segera melompat ke jok belakang.
“Kapan aku menyuruhmu naik?” Pertanyaan Yatna seketika membuat Ivano salah tingkah. Hendak turun kembali sebelum gadis itu tertawa. “Bercanda. Apa lagi yang kau tunggu, Langit?”
“Bukannya tidak boleh naik motor bertiga?” Langit malah balik bertanya dengan raut polos. “Itu melanggar aturan dan berbahaya.”
Yatna dan Ivano saling adu tatap, keduanya memasang raut jengah sebelum Ivano kembali turun dan mengangkat badan Langit. Remaja ambon itu menaruh Langit di jok tengah, sementara dia di belakang. Setelah semua siap, Yatna menutup kembali helm dan menarik gas motor.
“Kita berangkat!”
Continue…
__ADS_1