SABUNG SUKU

SABUNG SUKU
Bab. 28 - Ujian Masuk Bag. 3 -


__ADS_3

Ujian masuk tahap kedua adalah adu tanding. Ruangan A melawan Ruangan B, Ruangan C melawan Ruangan D. Tempat pertandingan terletak di bagian barat daya dan tenggara. Tepat satu menit sebelum ujian dimulai, Langit dan Ivano tiba. Kedua remaja itu memperhatikan arena di depan mereka yang cukup luas dan bersih. Bentuknya seperti podium dengan tinggi sekitar setengah meter dengan dua anak tangga di kedua sisi.


Tidak berapa lama kemudian, dari balik pintu masuk yang terletak di seberang mereka. Muncul seratus kandidat dari Ruangan B. Langit memperhatikan lekat-lekat, kandidat dari ruangan sebelah terlihat cukup tangguh. Dan manik biru itu menangkap sosok Malik dan teman-temannya.


“Heh! akan menarik jika beta sampai adu tanding dengannya!” bisik Ivano di samping Langit yang ternyata juga melihat Malik di antara kerumunan.


“kalau itu terjadi, berarti hoki dia sudah habis!” Langit terkekeh pelan, lalu menunjuk kursi paling depan untuk mereka tempati.


Setelah sekitar sepuluh menit, para peserta ujian sudah duduk dengan rapi dan suasana mulai kondusif. Seorang wanita muda berjalan menuju ke tengah podium, pakaian yang dia kenakan cukup mencolok. Bagian atas berwarna kuning cerah dengan bagian bawah memakai kain menyerupai sarung berwarna merah dengan hiasan emas.


“Itu pakaian adat suku nias, kalau tidak salah namanya…,”


Langit yang tidak sengaja mendengar omongan orang di depannya, menyahut. “Õröba Si’öli, itu pakaian adat mempelai wanita.”


Dua orang di depan otomatis menengok, mereka menatap Langit dengan kening berkerut. Tidak enak ditatap seperti itu, pewaris keluarga Sanjaya mulai keringat dingin.


“Hanya memberitahu,” ujarnya pelan dan berusaha kembali fokus ke depan.


“Selamat siang anak-anak. Namaku Sirici Baeha, pengawas ujian tahap kedua siang ini.”


Ivano mendekatkan diri pada Langit, berbisik pelan. “Seratus lawan seratus, ale tidak boleh melarang beta pulang setelah tanding. Gila saja harus menunggu sampai selesai!”


“Tidak mungkin selama itu, paling juga lima menit selesai!” Langit terkekeh pelan.


Untunglah apa yang ditakutkan Ivano tidak terjadi, nyatanya sekali gong berbunyi, terdapat lima pertarungan terjadi bersamaan. Tidak hanya Ibu Sirici, ternyata dia memiliki tiga asisten untuk membantunya mengawasi. Sepertinya mereka adalah murid-murid senior tingkat atas, melihat dari seragam yang dikenakan.


Pertandingan berlangsung dengan lancar, para peserta melakukan yang terbaik. Beberapa kali Langit sempat dibuat kecewa karena jagoannya harus kalah. Kadang juga dibuat kaget dengan serangan balik lawan yang tidak disangka-sangka.


“Beta yakin, hanya ale yang menikmati ujian masuk tahap kedua. Tidak ada yang bersikap seperti penonton, kecuali ale.” Ivano menyeringai lebar, meledek Langit yang baru saja mengeluh kecewa karena peserta favoritnya kalah.


“Daripada tegang, lebih baik aku menonton mereka dengan serius. Siapa tahu ada calon jawara yang bisa aku undang ke Serikat Nusantara.”


Mendengar jawaban Langit yang tidak sesuai ekspektasi, Ivano berdecak sebal. Isi kepala sahabatnya ini benar-benar sudah penuh dengan segala hal tentang Serikat. Saat dia hendak mengomel, Ibu Sirici memanggil namanya.

__ADS_1


“Semoga beruntung, Ano!” Langit memberi semangat.


“Ini akan selesai dalam satu detik!”


Langit terkekeh pelan melihat sikap percaya diri Ivano. Remaja ambon menuruni anak tangga, kemudian naik ke atas podium.


“Ka-kau?!”


Ternyata lawan Ivano adalah remaja yang sempat adu mulut dengannya di kantin akademi. Kalau tidak salah, namanya Fandi, kacung dari Malik Waruk yang mengaku keturunan dari Kerajaan Majapahit.


“Wah, beta seng sangka akan jumpa ale begitu cepat!” serunya sambil tersenyum miring.


Wajah anak itu sudah merah seperti kepiting rebus. Sementara Langit yang juga mengenalinya sudah menepuk dahi. Memang bukan Malik, namun tetap saja keberuntungan Fandi habis begitu melawan Ivano.


“Siap, mulai!”


Suara gong dipukul terdengar tiba-tiba, dan pertandingan pun dimulai. Ivano tidak membuang waktu, dia segera memanggil khodam miliknya. Seorang wanita tua dengan topi lebar, kebaya lusuh dengan kaki sebelahnya berbentuk kuda. Fandi terperanjat kaget, wajahnya sudah seputih kertas.


“Serang dia, Nek!” Ivano berseru sambil menunjuk Fandi yang ketakutan.


“Pertandingan selesai, pemenangnya adalah Ivano Nafali!” Ibu Sirici berseru lantang kemudian diiringi sorak sorai peserta yang merangkap jadi penonton.


Langit paling heboh bertepuk tangan, dia bahkan bersiul nyaring. Ivano berjalan kembali ke kursinya dengan dada dibusungkan. Remaja bermata biru itu tertawa, sebenarnya puas melihat kekalahan Fandi, terlebih tanpa perlawanan.


“Semoga lawan ale adalah si alis tebal!” kata Ivano setelah duduk di samping Langit.


“Tidak mungkin ada kebetulan seperti itu.” Langit mengibaskan tangan tidak yakin. “Aku malah berharap lawanku bukan dia.”


“Ale sama sekali tidak seru!”


Langit menghiraukan cibiran temannya dan kembali fokus ke depan. Selang dua pertandingan, kini giliran namanya yang dipanggil. Langit segera menuruni anak tangga dan naik ke podium. Seperti dia pikirkan, lawan tandingnya bukanlah Malik. Melainkan seorang remaja berkulit kuning langsat dengan rambut hitam lurus.


“Pertandingan ke-50, Langit Sanjaya melawan Indra Maulana.”

__ADS_1


Kedua peserta membungkuk dalam, memberi hormat. Tidak lama kemudian suara gong sebagai tanda dimulainya pertandingan pun terdengar. Indra lebih dulu maju, dia melompat menyerang ke arah Langit.


“Tidur!” Langit berseru sambil menunjuk Indra.


Detik itu juga lawannya terkapar di lantai dengan suara dengkuran halus. Sejenak hening menyelimuti, beberapa peserta tidak mengerti apa yang terjadi. Sirici mendekati Indra, mengecek kondisinya sebelum mengangguk paham.


“Pertandingan selesai, pemenangnya adalah Langit Sanjaya!”


Tidak seperti Ivano, kemenangan Langit membawa tanda tanya dan rasa penasaran. Mungkin sebagian dari mereka belum tahu, atau sekadar menebak kemampuan Langit. Tidak mau ambil pusing, remaja itu segera berlari menaiki anak tangga. Sekembalinya dia, Ivano tertawa mengejek.


“Beta seng sangka, ale akan pakai kekuatan macam obat itu.”


Langit nyengir lebar, “biar cepat selesai, dan tolong jangan memberi nama aneh-aneh pada kemampuan lidah pahitku.”


“Cocok, loh! batas ale itu tiga kali sehari, sudah seperti minum obat.” ivano terbahak, dia selalu suka meledek batas kemampuan Langit.


Wajah remaja bermata biru itu sudah memerah, malu. Terlebih sudah tiga tahun dia berlatih, batas kemampuannya masih tetap sama. Hanya bisa dipakai tiga kali dalam sehari. Setelah itu, Langit selalu mimisan dan pingsan.


Manik biru itu mengerjap ketika merasa mengenal sosok yang berjalan menuju podium. Remaja berkulit sawo matang dengan rambut hitam dan badan kurus. Sontak Langit menunjuknya.


“Bukannya itu Radit?”


Ivano menyipitkan mata, melihat ke arah yang ditunjuk Langit. “Loh, dia satu ruangan dengan kita rupanya!”


Langit mengangguk, sama seperti Ivano, dia juga tidak menyangka. Saat manik biru itu melihat siapa lawannya, dirinya seketika meringis pelan.


“Apes sekali dia, lawannya Malik.”


“Heh!” mendadak Ivano memukul pundak Langit, tidak hanya mengejutkan dirinya, melainkan beberapa peserta yang ada disekitar mereka. “Mulut ale itu, sudah tahu kalau ngomong suka benar. Bukannya hati-hati kalau bicara, nanti kalau Radit betulan kalah, bagaimana?”


Langit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mendadak merasa bersalah. Tapi, dia sudah bisa mengontrol kemampuannya. Omongan barusan tidak masuk hitungan, namun Ivano tidak pernah mau mendengarnya. Remaja itu memang sering menyuruhnya hati-hati dalam bicara.


“Pertandingan ke-60, Malik waruk melawan Radit Kencana.”

__ADS_1


Kedua peserta membungkuk, memberi hormat. Raut wajah Radit terlihat tidak baik, wajahnya berkeringat saking gugupnya. Sementara Malik, seluruh bahasa tubuhnya seakan berteriak keras bahwa dia adalah seorang bangsawan, berdarah biru, dan dia meremehkan lawannya.


Continue…


__ADS_2