
Lari pagi menjadi rutinitas Langit sejak bergabung dengan keluarga Sanjaya. Setiap hari bangun saat di luar jendela masih gelap. Berlari mengitari halaman sambil menikmati suasana pagi. Dan kembali saat bias mentari mengenai pintu asrama.
“Sudah selesai lari pagi, Langit?” sapa salah seorang pria muda, dia adalah penjaga kebun.
Langit melambaikan tangan, “Sudah, Kak Jay! aku lihat bunga di taman sudah mekar, indah sekali.”
“Kau selalu pintar memuji. Petiklah kalau kau mau, untuk hiasan kamar.” Jay menepuk akrab punggung Langit.
“Boleh, dua? satu lagi untuk temanku, Yatna. Dia juga penggemar taman bunga, Kak Jay!” Langit menaik-turunkan alisnya.
“Ambilah!”
Jay menepuk sekali lagi pundak Langit sebelum mereka berpisah. Remaja itu masuk ke ruang resepsionis, menyapa Bu Laras. Wanita paruh baya dengan kacamata bingkai hitam tersenyum ramah. Dia mengulurkan tangan, memberi sepucuk surat pada Langit.
“Baru tiba tadi malam, untukmu. Tapi tidak ada nama pengirimnya.”
Langit menerima surat itu, lalu mengucap terima kasih. Dia segera berlari menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Menyapa beberapa teman sekelas, sambil membolak balikan kertas berwarna kuning kusam. Setiba di kamar, Langit membuka dan membaca isi surat yang hanya memiliki sebaris kalimat.
‘Kacang lupa kulitnya.’
***
“Kacang lupa kulitnya?” Yatna membaca ulang isi surat yang diterima Langit pagi ini. Gadis itu mengerutkan kening, tidak mengerti. Begitu juga dengan Ivano, dan Langit.
Mereka bertiga berkumpul di kantin asrama, duduk di paling pojok ruangan. Langit memberikannya pada Yatna, dan Ivano. Berharap kedua temannya dapat memahami isi surat tersebut.
“Beta memang seng pintar, mar beta paham. Ini kiasan yang merajuk pada orang yang seng tahu diri.” Ivano menatap Langit dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Dan beta tahu, Tuan Muda Langit seng mungkin lupa kulitnya.”
“Terima kasih untuk pujiannya, Ano.” Langit tersenyum tipis.
Manik coklat itu menatap lekat-lekat goresan pena di atas kertas. Jari-jarinya menyentuh pelan, seakan tulisan itu akan hilang bila disentuh keras-keras. Sejenak Yatna terdiam, sudut hatinya seakan menjerit. Berseru di kepala, mengatakan kalau dia kenal dengan gaya tulisan ini.
“Nyoman…,”
Perkataan Yatna sontak menarik perhatian Langit dan Ivano. Remaja ambon memiringkan kepalanya. Dia tidak kenal nama itu, jadilah manik hitamnya menatap Langit ingin tahu.
“Ka-kau pikir…, ini tulisan Nyoman?” tanya Langit ragu.
Yatna mengangguk pelan, “Aku kenal betul tulisan Nyoman. Kasar, jelek, dan berantakan.”
“Bukan bermaksud seng percaya,” Ivano memotong tiba-tiba. “Tapi tulisan anak laki-laki memang mirip ceker ayam.”
Langit memutar kepala, menatap jengah pada Ivano. Memahami tatapan temannya, Jawara ambon pun terdiam. Pemilik mata biru itu kembali menaruh atensinya pada Yatna. Sebenarnya ada pertanyaan besar yang sudah Langit simpan sejak bertemu kembali dengan teman sepantinya.
__ADS_1
“Aku tidak tanya lagi, karena ingin menunggu kau siap cerita.” Langit berujar pelan, lalu menggenggam tangan Yatna. “Tapi aku juga yakin. Nyoman hanya akan kirim surat padaku, jika itu benar-benar penting.”
Yatna sontak menatap manik biru itu lekat-lekat. “Kau tahu sendiri, mana mau dia bicara denganku jika tidak perlu.”
“Benar…, memang begitu sifat Nyoman.” Yatna menghela napas kasar. “Apa kau sering berkunjung ke panti?”
Pertanyaan itu membuat Langit salah tingkah. Ada rasa bersalah terpancar dari iris birunya. Melihat temannya kesulitan menjawab, Ivano sebagai teman yang baik dan tidak peka. Menjawabnya singkat, padat dan jelas.
“Tidak pernah.”
Langit sontak menyikut perut Ivano. Keduanya saling adu tatap beberapa detik.
“I-itu ada alasannya!” mulai Langit mencari alasan. “Beberapa kali aku ingin berkunjung. Tapi pelajaran sebagai ahli waris dan juga latihan bersama Pak Yohan. Selalu membuatku batal berkunjung sampai saat ini.”
Langit merasa tiba-tiba perutnya mulas, dan rasa pahit di ujung lidah. “Ma-maaf. Sekarang aku terdengar seperti kacang lupa kulitnya.”
Menyadari perkataannya, Langit membulatkan mata. Dia lalu menoleh ke arah Yatna, seakan baru menyadari hal besar. Yatna mengangguk, membenarkan asumsi di kepala Langit.
“Menurutmu, Nyoman marah padaku karena tidak mengunjungi Panti?”
“Kita akan tahu jawabannya setelah pergi ke sana.”
“Apakah ini berbahaya?” Ivano akhirnya bicara lagi.”Apa beta perlu laporan ke Pak Yohan?”
Yatna mengangguk setuju. “Nyoman bukan orang yang seperti itu. Dan aku tahu betul,” ucapnya dengan mata merah.
Ivano mengangkat bahu, “Baiklah. Jadi kapan kita pergi ke panti?”
“Hari sabtu, saat sekolah libur.”
***
Langit mengambil beberapa stel pakaian ganti. Memasukkannya ke dalam ransel sambil tersenyum tipis. Ivano juga tengah berkemas, manik hitamnya kerap kali melirik sahabatnya.
“Ale senang bisa pulang?” Ivano duduk di tepi ranjang. “Tiga tahun itu cepat sekaligus lama.”
“Benar. Saat aku tiba sabar untuk berkunjung, rasanya lama sekali. Tapi ketika aku sibuk dengan kegiatanku, ternyata sudah tiga tahun.” Langit ikutan duduk di tepi ranjang, menghela napas pelan.
“Setiap memikirkan anak-anak panti. Aku jadi semakin kangen. Owen, Kak Salsa, Bibi Tun, dan anak lainnya.” Manik biru menatap ke luar jendela. Seakan dia bisa melihat bangunan berlantai dua dari sini.
“Bagaimana kabar mereka tiga tahun ini. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, dan aku juga ingin dengar cerita mereka.”
Ivano tersenyum jahil, “Apa kita liburan saja seminggu di sana?”
__ADS_1
“Jangan bercanda!” Langit melempar bantal duduk ke arah Ivano sambil tertawa. “Kalau tidak dihukum Pak Yohan, aku sih, mau saja!”
Ivano berdecak sebal, “Sudah beta bilang, Pak Yohan mencuci otakmu! bisa-bisanya ale takut sekali dengannya.”
“Hei! coba kau ikut latihan dengannya. Aku jamin, kau juga akan trauma dan takut melanggar aturannya.” Langit bergidik ngeri, saat teringat latihan neraka tiga tahun lalu.
“Setidaknya lebih seru daripada latihan dengan Pak Endang.”
Langit menatap lekat Ivano, tersenyum miring. “Apa kita baru saja adu pelatih?”
“Mungkin buat acara sabung pelatih akan seru!” Ivano menimpali.
“Jangan sampai mereka mendengarmu, No!”
***
Sebuah mobil jeep terparkir di depan halaman asrama. Langit menatap mobil itu tidak percaya sebelum melihat ke arah Ivano. Remaja itu sedang bicara dengan sopir yang akan mengantar mereka bertiga. Yatna baru saja selesai menaruh tas-tas ke dalam bagasi mobil.
“Wah, aku tidak menyangka Ivano paham cara pesan Gocar.” Langit berdecak kagum.
“Mudah kok, mau aku ajari?” tanya Yatna.
“Kalian mau pergi?”
Langit dan Yatna segera balik badan ketika suara Malik terdengar. Remaja itu dengan alis tebal itu berpakaian rapi. Dia juga memakai ransel, sepertinya hendak pulang ke rumah. Terkadang memang beberapa anak memilih untuk pulang saat libur sekolah.
“Ya, kami mau pergi ke Desa Tang-urang.” Jawab Langit. “Kau sendiri, mau pulang ke rumah?”
Malik mengangguk, dari raut wajah sepertinya anak itu enggan pulang. “Kalau begitu sampai jumpa hari senin. Selamat bersenang-senang dan hati-hati.”
Malik melambaikan tangan sekilas sebelum berjalan meninggalkan mereka. Sejenak manik biru itu memperhatikan, lalu balik menatap Yatna dan Ivano. Seakan tengah meminta persetujuan. Yatna mengangguk sementara Ivano mengangkat pundak tidak peduli.
“Hei!” akhirnya Langit memanggil Malik.
Remaja itu balik badan, mengerutkan kening saat Langit berlari ke arahnya.
“Apa kau pernah pergi ke pedesaan?”
Malik menggeleng pelan, “Belum ada kesempatan, kenapa?”
“Kalau begitu, ayo ikut dengan kami!”
Continue…
__ADS_1